Di pagi buta nan dingin ini, Andra tengah bersidekap d**a lengkap dengan luapan amarah yang ia lampiaskan pada Tari yang tidak tahu apa-apa.
"Bersihin sampai mengkilap! Makanya lain kali jangan ngebo!" Andra beranjak masuk ke rumah sambil memegangi pinggangnya yang sakit persis seperti kakek tua renta. Berniat mengompres pinggangnya yang keseleo. Jangan tanya kenapa, tanyakan pada Tari yang tidur seperti orang mati.
Kebelet buang air dengan kondisi kamarnya yang masih terkunci membuat Andra nekat keluar lewat jendela. Sebenarnya jarak jendela dengan permukaan tanah tidaklah terlalu jauh, mungkin bisa mendarat jika melompat dengan hati-hati. Namun, penyangga jendela yang lepas membuatnya kaget hingga panik dan hilang keseimbangan. Berakhirlah ia jatuh di semak-semak sebelum membentur tanah keras. Kenapa juga ia malas memotong rumput liar di sekitar rumahnya. Andai saja ia rajin maka ia tak perlu jatuh menimpa tanaman putri malu liar.
.
Tari mendengus kesal sebelum mulai memindahkan ikan-ikan hias di kolam kecil di samping rumah Andra. Ia masih tidak terima dengan Andra yang mendorongnya jatuh ke kolam. Katanya sebagai balas dendam. Memangnya apa yang Tari lakukan? Dia hanya tidur sebelum terdengar gedoran pintu brutal dari luar. Ruang tamu tempatnya tidur sangat dekat dengan pintu luar sehingga gedoran brutal itu sukses mengguncang jiwanya yang baru bangun tidur.
Tadinya Tari mengira mantan Andra datang lagi. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat Andra dengan penampilan berantakan. Bahkan di rambutnya terdapat beberapa helai daun dan jangan lupakan muka garangnya dengan tangan terkepal kuat.
Apa dia habis mencari harta karun? batin Tari.
Sret
Dalam sepersekian detik Andra menarik ujung jilbab belakang Tari, menyeretnya entah kemana tanpa mengatakan apapun. Sesekali Andra memegangi pinggangnya yang encok. Tari sendiri berusaha melepaskannya. Dagunya tercekik! Berusaha mengimbangi langkah pemuda yang menyeretnya. Pikirnya Andra mengajaknya berpetualang seperti Dora.
Mereka berhenti tepat di depan sebuah kolam ikan kecil. Akan sangat indah jika saja kolam itu tidak dipenuhi lumut hijau.
Byur
Terlalu fokus meneliti kolam di depannya sampai tidak sadar ketika Andra mendorongnya jatuh ke sana. Tari sadar tepat setelah sekujur tubuhnya menyentuh air yang dingin. Mana masih jam tujuh pagi! Mencoba berdiri untuk muncul ke permukaan. Kolam ini setinggi lututnya, bahkan ia sempat menelan air yang sudah kotor itu.
"Uhukk! Lo gila, ya?!" Terbatuk-batuk mengeluarkan air yang masuk ke kerongkongan. Yang ditanya bukannya merasa bersalah malah menyeringai puas.
Andra mengatakan kalau kejadian ini setimpal. Tari jelas bingung, dia belum melakukan apa-apa pagi ini selain tidur. Lalu di mana letak kesalahannya? Sesuai kesepakatan kemarin, Andra menyuruh Tari membersihkan kolam ikannya. Dan itu adalah awal cerita kenapa Tari bisa basah kuyup, sekalian bersihin kolam supaya kebasahan dirinya jadi sedikit bermakna.
Tapi wajar saja Tari marah. Kalau ingin menyuruh ya kenapa tidak menyuruhnya dengan baik-baik. Tidak perlu menceburkan dirinya pada kolam! Gerutuan dalam hatinya terus keluar tanpa mengetahui kalau dia lah yang menjadi penyebab pinggang Andra encok.
Memindahkan ikan-ikan yang susah payah ditangkapnya ke baskom besar berisi air jernih. Ikan-ikan itu terlihat lebih berwarna berada di air jernih. Lagian kenapa Andra memelihara ikan jika tidak punya waktu merawatnya.
Ngomong-ngomong soal ikan, ia jadi teringat sahabatnya. Bagaimana kabarnya, apa sekarang Kepin sudah punya anak? Ngapain juga ia memikirkannya. Tapi tetap saja ia bayangkan. Coba lo bayangin orang yang lo bayangin lagi ngebayangin yang lo bayangin, coba bayangin. Eh jangan! Entar pusing.
Dengan sabar menyikat lumut-lumut yang menempel di dinding kolam. Bukan sabar sih karena ia selalu mengeluh mengeluarkan unek-uneknya ketika ada kesempatan. Sabar itukan adalah ketika hati tidak meratap dan mulut tidak mengeluh. Jadi yang dilakukan Tari belum bisa dikatakan sabar ya teman-teman.
Melakukan pekerjaan berat seperti ini membuatnya bosan. Sesekali melirik pada ikan yang bebas berenang dan mengajaknya bicara, walaupun tahu akan berakhir dikacangin. Jika manusia bisa memiliki kemampuan super, Tari lebih memilih bisa berbicara dengan hewan.
Melangkahkan kaki keluar dari kolam setelah kolamnya bersih kinclong. Mengusap peluh bahagia melihat hasil kerjanya yang memuaskan. Jilbab, baju, rok, dan kaos kakinya kini basah semua. Diperasnya agar mudah kering dan berjalan menuju sinar matahari mengingat sekarang sudah pukul sembilan pagi. Dua jam ia habiskan waktunya membersihkan kolam.
Menuju ke sumber panas, melepaskan kaos kaki guna menjemurnya. Tak lupa ia menjemur diri sendiri. Tidak mungkin ia melepas baju lalu dijemur. Jadi mending pakaiannya ia jemur bersama dirinya. Yang dipikirnya sekarang adalah alas kaki, sendal saja ia tak punya. Agak miris mengingat insiden sepatu favoritnya yang berakhir dengan anjing. Semua ini terjadi karena si bocah preman gila. Untung saja kalungnya bisa ia dapat.
.
.
Andra melangkahkan kaki keluar sambil memasang jam tangan mahal pada pergelangan tangannya. Pakaian kasual sudah melekat pada tubuh pemuda tampan itu. Menuju ke samping rumah berniat mencari Tari berhubung mereka akan segera berangkat.
Matanya melotot melihat Tari tiduran di bawah jemuran sinar matahari.
'Ck! Kenapa dia belum bersiap-siap?!' batinnya berdecak.
Mendatangi gadis yang sedang tiduran di rumput dengan membentangkan tangan seakan menikmati alam sekitar.
"Ngapain lo tiduran di sini? Lo lupa jadwal gue?" tanya Andra sembari melipat kedua tangannya.
Tari refleks bangun dan melotot heboh.
"ASTAGA! Ada syuting iklan jam sepuluh" teriak Tari heboh. Pasalnya ia benar-benar lupa tadinya. Terlalu menikmati kehidupan menjadi babu padahal pekerjaan sebenarnya adalah membantu mengatur keberlangsungan karir Andra.
"Bener. Dan apa yang lo lakuin di sini? Mau dipecat lo?!"
"Maaf, gue lupa"
"Yaudah cepetan sana!"
"Iya" Tari berjalan mendahului Andra menuju ke arah di mana mobil Andra terparkir. Baru saja ingin membuka pintu mobil sebelum teriakan Andra menghentikannya.
"HEH! Mau ngapain lo?!"
Tari menghela napas sebelum berbalik ke arah lawan bicaranya. Serba salah dia tuh, kan capek.
"Gue nebeng dulu, please. Gue capek banget habis bersihin kolam dua jam. Gue janji kalau pulang nanti bakal jalan kaki kayak kemaren," ucapnya sebelum Andra melarangnya naik ke mobil.
"Bukan itu maksud gue, lo boleh nebeng. Tapi ganti baju dulu sana! Lo gak risih pakai baju yang kemaren?" oh ternyata itu, Tari kira ia tidak diizinkan. Untunglah ia diizinkan.
"Gue gak punya baju lain, ini juga udah gue pake tiga hari," ya kan tasnya hilang di angkot. Jadi jelaslah gak punya baju, pas di hotel kemarin dia pake jubah mandi kalau di dalam kamar. Nah beda lagi sama yang sekarang, ia cuma punya pakaian yang melekat di tubuhnya.
Andra mengusap wajah kasar. Apa yang ada dipikiran cewek ini? Setahunya cewek itu suka memperhatikan penampilan, bukannya bersikap bodoamat seperti Tari.
Pemuda itu memutuskan naik ke mobil disusul oleh Tari setelahnya. Selama perjalanan mereka tidak berbicara sama sekali. Cuma terdengar suara klakson pengendara sekitar. Tak lama mobil berhenti, tapi ini bukan di lokasi syuting melainkan sebuah mall.
Andra berjalan lebih dulu memasuki tempat itu diikuti Tari dibelakangnya. Orang-orang memperhatikan mereka intens. Aneh saja melihat pemuda yang tampak keren berjalan beriringan bersama gadis yang kucel. Untunglah Andra menggunakan masker, kalau tidak maka tambah hebohlah mereka semua.
"Pilih pakaian yang cocok buat lo" perintah Andra yang diangguki oleh Tari. Gadis itu lalu pergi mencari baju yang kiranya cocok untuknya.
Berkali-kali memeriksa jam di pergelangan tangannya. Sudah 15 menit Andra menunggu Tari tapi gadis itu tak kunjung muncul. Ia merasa risih ketika gadis-gadis yang lewat mencuri pandang ke arahnya. Ia putuskan mencari gadis aneh itu.
Untunglah netranya dengan cepat menemukan Tari yang terlihat seperti berpikir keras. Kakinya melangkah menghampiri gadis itu.
"Ngapain aja lo sampe lama banget?!"
"Gue gak nemu yang cocok"
"Apa lagi yang lo cari emangnya? Di sini kualitasnya terjamin dan mereknya terkenal semua. Lo mau pakaian yang se-wow apa emang?!" huh pantas saja lama. Tari hanya menunduk bersalah. Andra melirik pajangan pakaian di depan Tari.
"Lo mau ini?" tanya Andra sembari mengambil baju itu.
"It-itu mahal," ciut Tari.
Andra memeriksa label harga pada baju itu. Hanya tertera angka dua ratus ribu lebih, ini yang Tari bilang mahal?
"Jangan ngaco! Kita udah telat. Ini pakaian termurah di sini"
Tari sontak mengangkat kepala kaget, paling murah katanya?
"Tapi gue biasa beli itu harga seratus ribu udah dapat tiga baju di pasar"
"Udah, ambil ini aja. Lagian gue yang bayar, lo cari yang lain kalo masih mau" Andra heran, mall sama pasar kok disamain?
Mereka kembali ke mobil setelah selesai berbelanja. Pakaian Tari juga sudah berganti. Alhamdulillah, sekarang ia sudah punya alas kaki plus baju baru.Suasana di dalam mobil sangat kikuk. Andra melepas maskernya lalu menyerahkannya pada Tari.
"Nih pake"
"Ogah, bau mulut lo nempel," bisakah Tari tidak membuatnya marah dalam sehari. Gadis lain bahkan berebutan mengambil botol air bekasnya minum. Andra kembali menarik masker itu dan membuangnya keluar ke pintu mobil.
"Heh! Buang sampah sembarangan!"
"Kita beli masker di sana," bukannya merasa bersalah, Andra malah mengalihkan topik pembicaraan.
"Gue gak mau!"
"Ck! jerawat lo banyak, lo gak malu diliat orang lain?!" Lah itu kan jerawatnya si Tari kenapa Andra yang pusing coba. Nyari pusing aja nih orang.
"Gue juga udah berusaha ngilangin jerawat. Tapi gue bisa apa kalau nyatanya jerawat yang gak mau ninggalin gue?"
Andra tidak tahu harus berkata apa-apa lagi. Cewek ini benar-benar agak lain.