Berdiri dengan gugup, sesekali mondar-mandir tidak jelas. Itulah yang dilakukan Andra di dapur sementara Tari sibuk memasak sambil membelakanginya. Tangannya berulangkali ingin meraih pundak gadis yang sibuk dengan dunianya sendiri, tapi keraguan selalu menghampirinya. Berdehem sejenak meredakan kegugupan sekaligus memberi tahu akan eksistensinya.
"Ekhem, gue mau ngomong sesuatu"
"Ya udah, ngomong aja" masih sibuk dengan masakannya, Tari hanya menjawab seadanya. Lagian aneh banget si Andra, biasanya juga ngomong blak-blakan. Kalau mau izin kenapa gak sekalian izin aja sama pak kades.
"Gue udah lama pengen bilang ini" tegas Andra. Menggigit random bibir bawahnya, kelihatan banget kalau pemuda ini ingin mengatakan sesuatu yang serius.
"Ya tinggal ngomong aja, lu kan biasanya juga gitu. Sok-sokan izin segala" Tari masih membelakangi Andra tak ingin berpaling dari masakannya. Terakhir kali ia fokus ngobrol sambil masak, didapati masakannya gosong.
"Gue tau, keadilan sosial hanya berlaku bagi seluruh rakyat yang good looking. Dan itulah yang lo benci selama ini" ujar Andra santai, suaranya juga pelan banget. Pandangnya mengarah ke bawah pada lantai ubin.
"Lo baca pikiran gue, ya?" Tari sintak berbalik berhadapan dengan Andra setelah mematikan kompor. Jujur, ia penasaran kok Andra bisa tau ya keluhannya selama ini?
"Jangan potong omongan gue dulu, gue lagi serius nih!" Andra kembali mengangkat wajahnya bersitatap dengan lawan bicara tak lupa ekspresi jengkel ikut serta. Sedangkan lawan bicaranya cuma menaikkan sebelah alis pertanda bingung.
"Ka-karena itu gue...i-izinin gu-gue.." lanjut Andra. Tuh kan aneh banget, kenapa mesti gugup coba. Makin ke sini makin mencurigakan. Tari yakin sesuatu yang aneh pasti bakal terjadi.
"..Gue pengen nunjukin keadilan yang lo dambakan itu. Makanya tolong izinin gue ikut terlibat lebih jauh dalam hidup lo." Final Andra dengan keras dan jelas.
Loading...
Tari belum bisa mencerna kalimat yang baru saja didengarnya.
1 detik
2 detik
"HAH? Se-serius"
"Gue belum pernah seserius ini sebelumnya," ujar Andra, tatapannya lurus ke depan terlihat meyakinkan.
"Ta-tapi kan lo jijik sama gue, gu-gue juga gak pant-" balas Tari gugup lengkap dengan mencengkram ujung bajunya.
"Hush...please jangan ngomong gitu. Cukup dengan karakter lo yang ngebuat gue jatuh sedalam ini. Berhenti ngerendahin diri lo sendiri. Ngerendahin diri lo sendiri sama aja dengan nyakitin gue" ucapan Andra terdengar terlebih sangat meyakinkan didukung dengan ekspresi keseriusan yang tergambar di raut wajah gantengnya. Matanya memancarkan kejujuran yang amat mendalam di sana. Tutur katanya yang soft seakan menghipnotis siapa saja yang mendengarnya.
"Lo be-beneran serius? Lo kan selama ini selalu ngerendahin gue.." berusaha berpaling menatap Andra, takut terjerat pesona buaya. Gak lucu kalau dia baper padahal ini cuma mimpi.
"Iya, karena lo emang rendahan."
Lho? Kok lain lagi. Nada suara Andra kembali persis seperti semula ketika ia merendahkan Tari. Mana ekspresi matanya sekarang menusuk dan dingin, beda banget sama yang tadi.
"Ta-tapi tadi lo bi-bilang.."
"Itu cuma latihan buat adegan besok, njir"
"Oh sebenarnya udah gue tau sih, haha." Nah kan, aneh banget kalau si iblis ini tiba-tiba soft. Terpaksa deh Tari keluarin fake laughing andalannya. Ketawa palsu aja teros. Musyrik kalau percaya gitu aja sama Andra.
"Ngarep ya lo? Munduran dikit, ngarepnya kelewatan. Mana mau gue sama modelan kek lo!"
"Bacot!" Pokoknya kalem, gak boleh kelihatan salting. Lagian ini reaksi yang wajar, kan? Siapapun pasti bakal kaget awalnya.
.
Tari memutuskan melanjutkan kembali acara memasaknya yang terjeda. Sedangkan Andra tiduran di sofa sambil main game. Mereka baru akan memulai sarapan padahal sudah jam sebelas siang. Hari ini Andra dapat jatah libur, jadi cuma rebahan aja.
Aroma harum tercium dari masakan yang dibawa oleh Tari. Meletakkan nampan yang berisi nasi dan lauknya di atas meja sofa.
Andra seketika menghentikan kegiatannya, ia tadi cuma main game santai. Ia main game dinosaurus yang ada di chrome, tau kan? Soalnya di waktu-waktu sebelumnya mana sempet download game pas sibuk kerja.
"Kok cuma ini?" Menatap melas makanan di hadapannya. Padahal dia berharap akan dapat makanan spesial karena aromanya harum banget tadi. Rupanya cuma telur mata sapi yang ditumis kecap.
"Eits cobain dulu, gue jamin rasanya enak." Alasan kenapa Tari sangat percaya diri pada masakannya karena udah keseringan membuat makanan simpel kayak gini. Jangan lupa, dia itu miskin jadi cuma ikan, telur, dan sayur murah aja yang jadi makanan sehari-hari dia dan emaknya. Jadi tenang aja, kalo soal variasi masakan telur udah khatam dia mah.
Andra menampilkan ekspresi malas, tangannya tak henti menusuk-nusuk telur itu dengan sendok. Tapi kalau diperhatikan baik-baik, tampilan masakan Tari tidak buruk hanya saja ia tidak sedang ingin makan makanan sederhana.
Daripada membiarkan perutnya keroncongan, ia lebih memilih (terpaksa) memakan makanan itu. Disuapnya perlahan ke mulut sambil menutup hidung, takut risih mencium bau amis telur.
"Gimana rasanya?" Tari dengan antusias bertanya begitu Andra mulai mengunyah masakan buatannya.
"Enak banget, njir!" Batin Andra.
Mana mungkin ia mengucapkan kalimat itu, bisa runtuh harga dirinya nanti. Baru kali ini Andra memakan masakan seperti ini, sebelumnya ia hanya gemar memakan mie instan atau pesan online makanan mewah. Padahal cuma masakan biasa, tapi terasa sangat ramah di lidah.
Tari masih dengan setia menampilkan senyum penasaran sekaligus antusias menunggu jawaban sang majikan.
"Gak enak, gue gak suka bau telur dan kecapnya juga keliatan hitam banget," komentar Andra pada akhirnya.
"Ya emang lo kira kecap warnanya ungu gitu?!" Gadis itu tak terima masakannya dihina seperti ini. Tari mengambil masakannya kembali ingin membawanya ke dapur sebelum Andra menahan nampan itu.
"Gue laper, jadi gue bakal makan makanan sampah ini," meletakkan kembali makanan yang ingin diangkut Tari dan kembali memakannya dengan tenang.
"Ngaku aja, enak kan masakan gue?"
"Gak enak, rasanya kayak dahak kodok"
Rasa macam apa itu?
Terlalu jengah meladeni keangkuhan sang majikan, Tari memutuskan menuju ke dapur untuk makan. Tidak mungkin ia makan di meja yang sama dengan majikannya, Andra bisa ngamuk nanti.
"Enak banget masakan gue! Gimana nih? Gue takut nanti tiba-tiba direkrut jadi juri MasterChef. Gue belum siap!" Duduk di lantai dapur menikmati masakannya sendiri. Kan gak ada kursi jadinya duduk melantai, gapapa asalkan nyaman.
.
.
.
Begini jadinya kalau lagi sibuk kerja selalu minta waktu libur, tapi pas dapat libur justru tidak tau hal bagus apa yang bisa dilakukan. Kebanyakan orang akan menghabiskan harinya dengan tidur seharian, tapi itu tidak berlaku untuk Andra. Ia tidak suka tidur seharian karena walaupun kebanyakan tidur tapi nyatanya manusia akan tetap mengantuk. Mending mengisi hari dengan kenangan.
Bosan dengan bermain game, Andra kemudian membuka aplikasi media sosial. Begitu risih saat dilihatnya sekumpulan spam tak berguna dari orang tak dikenalnya. Mematikan handphone dan memikirkan kegiatan apa yang akan ia lakukan hari ini.
Tidak tahu harus melakukan apa, Andra memutuskan keluar menyusul Tari. Gadis itu ia suruh menggunting rumput di siang hari terik. Di depan sana, dilihatnya gadis itu memotong rumput di bawah naungan sinar matahari yang panas. Bodoh banget, padahal Andra nggak maksa. Kan bisa nego, maklum Andra kan malaikat. Gak suka memaksakan kehendak. Kalau kata Tari sih, 'heleh, t*i'.
Sesekali Tari mengelap keringat di wajahnya, bahkan kerudungnya sudah basah di beberapa bagian akibat keringat. Tari menghentikan aktivitasnya ketika mendengar suara Andra memanggilnya dari teras.
"Astaga, apa lagi yang ia inginkan?!" batin Tari.
.
.
"Apa lagi, Tuan bos terhormat?"
"Gue bosen, coba lo stand up comedy depan gue"
"Ogah!"
"Lo berani nolak?"
"Bukan gitu. Lo bosen, kan? Gimana kalo pergi refreshing ke tempat favorit gue? Di jamin lo gak bosen"
"Boleh juga, di mana emangnya?"
"Rahasia hehe, pokoknya ikut aja"