Hayolo...

1442 Kata
"Kapan sampai sih ini? Jauh banget perasaan, mana panas lagi!" Tari mendengus jengah, daritadi Andra tidak berhenti mengeluh padahal baru jalan kaki lima menit. Tapi wajar aja sih kalau mengeluh mengingat matahari sejajar tepat di atas kepala. "Udah deket kok" "Lo udah ngomong itu tujuh belas kali tapi nyatanya gak sampai-sampai juga. Tau gini gue lebih milih naik mobil tadi" Andra si pemuda tampan, lulus sensor dan uji klinis tak hentinya menggerutu sesekali mengelap keringat di pelipisnya. Sedangkan gadis nyeleneh yang berjalan mendahuluinya tampak biasa saja. Malahan Tari bersenandung ria bak anak kecil sambil menenteng sebuah kantong kresek hitam. Kalau bisa memilih, maka Andra lebih memilih pulang. Tapi kalau dipikir-pikir perjalanan mereka sudah lumayan jauh, ia juga cukup penasaran dengan tempat luar biasa yang Tari ceritakan padanya. Berjalan lurus di bawah naungan sinar matahari yang sepertinya bahagia soalnya terik banget. Terbayang dipikiran Andra kini matahari tersenyum lebar persis seperti yang ia sering gambar saat masih di sekolah dasar. Dan kenapa juga hujan harus hibernasi saat ini? Terlalu sibuk berseteru dengan batin, Andra tidak sadar kalau Tari sudah berhenti berjalan sedari tadi dan memperhatikan Andra menyelidik. "Kenapa? Lanjut aja, masih kurang jauh nih. Jalan kaki kayak gini udah biasa buat gue," tanya Andra jengah taoi nyinyir dikit. Bukannya menjawab perkataan Andra, gadis berhidung pesek tapi agak manis itu malah menunjuk tempat dihadapannya. Iya, agak manis kalau dilihat dari puncak Monas pake sedotan. Sang pemuda menaikkan sebelah alisnya bingung. Tempat yang ditunjuk Tari sama sekali tak pernah terbesit dibenaknya. Ada apa dengan tempat itu? Masjid? "Ini tempat yang gue saranin buat lo", ujar Tari nyengir. "Hah?! Ogah! Buat apa?!" "Udah masuk waktu sholat dzuhur, mendingan kita sholat dulu," ajak Tari. Awalnya ia mengira kalau Andra adalah non-islam tapi semuanya terungkap melalui KTP milik Andra yang tak sengaja dilihatnya. Terbesit dalam niatnya mengajak Andra menjadi islam yang sebenarnya bukan islam di KTP saja. "Nggak! Males ah, lagian lo gak liat gue pake celana pendek?" "Tenang, nih pakai," menyodorkan kantong plastik yang berisi sarung pada Andra. Sudah ia duga kalau si bos bakal menolak. "Udah sana, cepet! Entar di jalan gak ada yang tau apa yang bakal terjadi, lo mau mati tanpa bawa amal gitu?" Lanjut Tari yang dibalas dengusan dari Andra. "Empat rakaat, kan?" Andra cuma memastikan karena sudah lama ia tidak pernah sholat, terakhir kali pas TK-TPA. Ckck dari sini kita tahu kalau yang berat itu bukan rindu tapi dosa kita sendiri. "Iya" Sang majikan berjalan lurus berniat masuk ke masjid. Tetapi begitu sampai di depan pintu masjid, ia ragu untuk membukanya. Andra kembali menghampiri Tari yang masih berdiri di tempatnya tadi. Tari sampai bingung melihatnya, ia tetap diam walaupun Andra kini berdiri tepat di depannya. "Nih sandal gue, taro di tempat yang aman. Jangan sampai hilang" Tari mengusap wajahnya kasar, itukah yang dipikirkan Andra tadi? Perihal sendal? Mereka berjalan ke arah yang berlawanan. Andra masih terlihat kikuk berada di dalam sana, tapi kalau boleh jujur setelah masuk ke sana ia merasa nyaman dan adem. Btw masjidnya ber-AC. . . . "Gimana tadi?" tanya Tari penasaran pasalnya kini Andra terlihat biasa-biasa saja sedangkan sebelumnya Andra terlihat mengeluhkan nasib. "Ya gitu, gue ditanyain mulu sama bapak-bapak lain. Untung aja kemampuan fake laughing gue udah level legend jadi cukup bisa beradaptasi sama mereka," gak tau kenapa tapi teringat dengan bapak-bapak yang duduk di sampingnya saat menunggu waktu sholat. Bapak itu datang sholat ke masjid bersama anaknya yang terlihat antusias dengan Andra. Awalnya Andra kikuk berhadapan dengan balita itu tapi pada akhirnya mereka bisa akur dan nyambung satu sama lain. Bahkan anak itu tidak ingin lepas dari Andra saat ayahnya mengajak pulang selepas sholat. Berakhirlah anak itu pulang dengan bapaknya dibarengi suara tangis khas anak-anak. Kejadian ini mengingatkan ia pada ayahnya, sudah lama Andra tidak pulang ke rumah keluarganya. Ah untuk apa dipikirkan? Palingan dirumahnya hanya ada kesunyian dan ketegangan yang tak pernah usai. "Gue kira lo bakal terbakar pas masuk masjid, biasanya kan setan gitu," canda Tari yang dibalas tatapan tajam oleh sang majikan. "Ngaca! Lo lebih setan dibanding gue" "Secara gak sadar lo nyebut diri lo sendiri setan" ucap Tari sambil tertawa sejadi-jadinya. "Ke pasar dulu beli persediaan makanan, prihatin gue liat lo makan mie ayam terus," sambung Tari. "Itu lebih mending daripada masakan murahan lo" Tari yang malas menganggapi perkataan Andra memilih beranjak duluan dari sana. Sedangkan Andra berjalan mengikuti dari belakang karena ia tidak tau akan ke mana. Heran dengan Tari yang mengetahui seluk-beluk tempat di sekitar sini padahal gadis kucel itu anak perantauan. Mereka kembali berjalan di siang hari yang terik. Bukannya sampai di tempat perbelanjaan, Tari malah masuk ke sebuah taman yang terdapat beberapa anak-anak yang sedang bermain di sana. Jika dilihat anak-anak di sana mungkin berusia sekitar kurang lebih 4 tahun. Ibu mereka masing-masing berkumpul bergosip ria di sudut taman. 'Mau ngapain lagi si kunti?!' batin Andra tapi walaupun begitu tetap saja ia ikut masuk ke taman juga. Dengan anehnya Tari sudah berbaur dengan anak-anak di sana bahkan mereka membuat kue bersama. Iya kue, kue pasir maksudnya. Alat bermain masak memasak juga sudah lengkap. "Lo ngapain lagi sih?! Gue mau buru-buru balik!" Andra tidak ingin libur berharganya diisi hal yang tidak jelas. "Sini dulu, bos. Lo gak bosen di rumah seharian?" Ujar Tari santai sambil memotong dedaunan dengan pisau plastik, kini ia benar-benar mendalami perannya sebagai chef ala-ala. "Berdiri atau gue pecat!" Tegas Andra. "Gak seru pake ancaman. Kakak pulang dulu ya dek" pamitnya pada adek-adek manis tapi sepertinya mereka tidak mengizinkan Tari pergi. Mereka menarik rok Tari berharap agar tidak pergi. Butuh waktu singkat untuk membuat mereka tertarik dengan Tari karena kue pasir yang dibuat Tari sangat cantik dan menarik. "Di cini aja," melas anak perempuan yang menarik roknya. "Iya, janan denelin kaka inggi itu," ujar anak perempuan yang lain sambil menunjuk Andra yang dikiranya manusia yang tinggi. "Laki-laki nda bica macak," sahut anak lain. "Cyapa bilang? Yayahku pintel macak kok!" rupanya anak laki-laki tidak ingin kalah. Tanpa diduga seorang anak tiba-tiba berlari dan memeluk kaki Andra. Andra jelas kaget dong, ia kira ada gempa sesaat. "Halo kaka, hehe" sapa anak itu, rupanya dia adalah anak gembul yang ada di masjid tadi. Andra refleks mengusak halus rambut anak itu, tjiee udah kayak bapak-bapak aja si Tuan Bos. "Ya udah, kalo gitu kita semua tanding masak. Kelompok cewek vs kelompok cowo," usul Tari pada akhirnya yang mendapat persetujuan dari banyak bocil di sana. Andra ingin menolak tapi entah kenapa ia kini berakhir jongkok di depan pasir yang tidak harus ia apakan. Kelompok cewek sudah siap di tempatnya masing-masing, berbeda dengan kelompok cowok yang bingung ingin masak apa. "Wahai para kunyuk-kunyuk mini, kita masak apa nih?" tanya Andra. "Macak hayolo!" Ujar anak laki-laki yang dirasa paling muda di sana. "Hayolo? Apaan tuh?" Baru kali ini Andra mendengar ada masakan yang bernama hayolo. "Ich itu lho cucu hayolo", jawab anak itu dengan ekspresi menggemaskan. "Haha njir. s**u Hilo itu dek, bukan hayolo," akhirnya Andra paham, karena s**u tersebut merupakan favoritnya jadi namanya terdengar tidak asing. Mereka membuat s**u dengan menuangkan sesendok pasir ke dalam gelas air mainan lalu diaduk sehingga nanti akan menjadi warna cokelat persis seperti s**u cokelat. Andra yang baru saja melakukan hal ini tiba-tiba menjadi bangga karena dapat membuat sesuatu. Mereka pun membuat masakan lain. Kedua kelompok tampak tenang menjalankan tugas masing-masing. Andra tidak sadar hanyut dalam kegiatan bocil tersebut sehingga ia dan Tari baru pulang saat hampir menjelang ashar. Saat itulah mereka kembali ke tujuan awal yaitu membeli bahan makanan. Di sore hari seperti ini, terdapat sebuah pasar kecil-kecilan yang menawarkan banyak hal. Tari sibuk memilih sayur apa saja yang akan dimasaknya nanti sedangkan Andra sudah menghilang daritadi. Untung saja Andra sudah memberinya uang terlebih dahulu jadi ia bisa bebas berbelanja. Setelah semua bahan yang diperlukan tersedia, Tari menunggu Andra di tempat keluar. Hampir semua jenis sayur dibelinya, hanya telur saja yang ia tidak beli karena ia pikir Andra tidak menyukai telur. Tapi rupanya tak disangka-sangka, dari kejauhan netranya menangkap Andra datang membawa dua rak telur kearahnya. "Telur siapa tuh?" Tari langsung melayangkan pertanyaan tidak peduli jika orang di depannya ini terlihat ngos-ngosan. "Tadi ada nenek-nenek penjual telur yang kasian banget, gue gak tega karena dagangannya sepi jadi gue beli beberapa," jawab Andra yang entah halal atau haram untuk dipercayai. "Ya tapi gak harus beli dua rak juga!" Jelas Tari marah, siapa yang akan menghabiskan telur sebanyak itu. "Biarin aja, udah terlanjur juga" ucap Andra santai lalu memberikan dua rak telur tadi untuk dibawa oleh Tari. Awalnya Tari mengira Andra akan berbaik hati membawa semua barang belanjaan seperti layaknya gentleman, nyata yah udah tau kan Andra itu gimana? Tuan bos itu berjalan santai tanpa beban dengan diikuti Tari yang tangannya penuh barang belanjaan. 'Biadab emang!' batin Tari miris.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN