Arimbi terjaga dari tidurnya menyandarkan kepala pada dashboard ranjang dsn sempat melirik jam digital yang bertengger diatas nakas kemudian bergegas pergi ke kamar mandi. Usai membersihkan gigi dan wajahnya, Arimbi membuka tirai dan jendela guna membiarkan udara masuk mengganti engapnya udara lama di dalam kamar. Untuk beberapa saat dia termenung menatap kabut pagi hari yang sejukkan pandangan mata.
Dihirupnya udara segar dalam-dalam melewati rongga hidung, lalu membuangnya perlahan. Dalam keadaan demikian, Arimbi memikirkan banyak hal yang tiba-tiba timbul dalam kepala.
Dia melangkah lebih dekat pada jendela untuk melihat ke bawah. Mobil milik Faron terparkir rapi.
Jam berapa dia pulang semalam?
Arimbi menghela napas lalu berbalik badan dan keluar dari kamar.
Dia akan membuat sarapan di dapur, menyiapkan beberapa lembar roti yang tersimpan di kabinet, memanggangnya sebentar lalu membawa roti itu ke meja makan dan duduk tenang di sana.
Arimbi mulai menikmati sarapan hasil buatannya, menyantap sedikit demi sedikit setangkup roti dengan cukup khidmat sampai pada akhirnya atensinya berpindah ketika mendengar pintu belakang di buka.
Dia nyaris tersedak ketika Faron masuk tanpa berpakaian. Tubuh pria itu berkeringat sehingga kulit putih dan bisepnya terlihat mengkilat. Arimbi spontan memalingkan wajah, dia tidak bisa membiarkan matanya ternoda oleh sesuatu yang tidak boleh di harapkan.
Faron menyambar kaos putih untuk menutup pahatan otot yang nyaris sempurna.
Mendekati lalu mengambil posisi duduk di hadapan Arimbi.
"Kemana semalam?" Arimbi tidak menjawab, memilih fokus mengunyah roti berisi selai coklat yang di oles sebelum masuk mesin panggang.
"Rimbi, jawab!"
"Ke rumah Ayla–"
"Bohong!" Arimbi terkejut saat Faron bergerak impulsif menggebrak meja.
"Kamu pergi ke taman, lalu ketemu Matias, dan kalian pulang bersama. Benar begitu kan?" Arimbi menatap mata Faron yang terlihat tajam saat memandang, membuat Arimbi kembali menunduk kepala. Menatap piring berisi potongan roti yang tidak lagi membuatnya berselera makan.
"Ada hubungan kamu dengan Matias? Kalian dekat? Sedekat apa?"
Rentetan pertanyaan yang terlontar dari bibir Faron membuat Arimbi mulai naik pitam. Niat untuk tidak bicara pada Faron urung di lakukan sebab pria itu seperti sedang sengaja memancingnya.
"Bukannya kita sepakat untuk nggak boleh intervensi urusan masing-masing?"
"Saya tahu, saya mengerti dan masih sangat ingat. Silahkan kamu berhubungan dengan pria manapun asal jangan sama Matias!"
"Kenapa? Hati tidak bisa menentukan di mana dan pada siapa ingin berlabuh. Apa yang salah? Hatiku hanya aku yang boleh mengendalikannya, tidak untuk orang lain."
Arimbi pergi, meninggalkan ruang makan. Padahal dia belum menikmati coklat hangat, tetapi kekacauan sudah membuat moodnya rusak.
Faron tidak membiarkan Arimbi pergi begitu saja, dia merasa masalah mereka belum selesai sehingga Arimbi tidak boleh berlalu.
"Rimbi!"
Faron mengejar langkah gadis itu kemudian mencekal tangan perempuan itu.
"Apa sih, Om? Lepasin!"
"Saya belum selesai ngomong."
"Dan aku nggak mau denger apa pun. Bisa cukup sampai disini perdebatan kita?" Arimbi menatap nanar kedua mata Faron, matanya mengembun sebab tidak tahan ada dalam situasi seperti ini.
Harusnya pagi ini tidak boleh terjadi seperti ini. Karena besok Arimbi sudah mulai sibuk mempersiapkan pendaftaran PPDS. Rahang Faro mengeras menatap Arimbi. Tidak lama kemudian laki-laki itu meniupkan napasnya ke udara.
"Oke! Sekarang terserah sama kamu, saya tidak menahan kalau memang kamu berakhir dengan Matias."
Faron berbalik badan meninggalkan Arimbi yang pada akhirnya menangis.
"Apa yang bikin dia berpikir kalau aku ini punya hubungan sama Om Matias. Dasar bodoh!"
Arimbi bersimpuh, menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Dasar bodoh!" erangnya tertahan.
Malam harinya.
"Tumben ajak ketemu?"
"Biasa gabut."
"Ada masalah lo?" Faron tidak menanggapi, dia sibuk membuka tutup pada botol kaca yang terdiri di meja.
"Soal rumah tangga, ya?" Tampaknya Satya belum menyerah sehingga terus memberondong pertanyaan.
"Sok tahu lo."
"Tahu lah, kita berteman udah lama, Bro. Jadi gue tahu apa yang terjadi meski cuma ngelihat dari ekspresi lo sekarang."
"Ck."
"Gue tahu lo sebenernya punya rasa sama bini lo!"
Faron terdiam mendengar ocehan Satya. Laki-laki itu tidak akan berhenti jika bibirnya belum lelah.
Dia teguk sedikit demi sedikit vodca yang berada di sloki, masih terus membiarkan Syarat bicara panjang lebar padahal dia tidak sama sekali menyerap perkataan itu dengan baik. Pikirannya hanya menerawang pada dua titik yang berbeda– Arimbi dan Hanara.
"Gue ngomong bukannya di dengerin malah diem-diem bae."
Faron menyimpan sloki lalu menyandarkan punggung sembari melipat tangan di belakang kepala.
"Ocehan lo nggak mutu banget, bikin orang makin pusing tau nggak? Kalau bisa nggak usah lo bawa-bawa nama Arimbi. Nggak mood bahas dia."
Satya mencebik, tetapi meski begitu Satya menghentikan pembicaraan terkait Arimbi, laki-laki itu mencari topik lain.
"Bahas Hana aja, gimana?"
"Kenapa jadi mau bahas dia?"
"Ya nggak apa-apa sih, tiba-tiba aja pengen banget bahas mantan lo. Entah apa karena siang tadi gue habis ketemu dia?"
Faron menegakkan punggungnya spontan setelah mendengar ucapan Satya.
"Lo ketemu Hana? Di mana?"
"Di rumah sakit. Nggak tahu deh, ngapain dia di rumah sakit. Setelah sekian lama ngilang, dia muncul lagi, itu bikin gue speechless banget pas ketemu untuk pertama kali tadi. Mau nyapa sih niatnya, tapi rada aneh aja kalau gue sapa duluan."
Faron membungkam mulutnya lalu kembali menyandarkan punggungnya.
Flashback on
Faron baru saja keluar hendak menuju mobilnya, tetapi seorang wanita tiba-tiba menubruk tubuhnya, membuat Faron terkejut lantas spontan menahan tubuh wanita itu agar tidak terjatuh.
"Maaf, gue nggak–" Hanara terkejut saat tahu siapa yang memeluknya.
"Fa–faron?"
Sepersekian detik mereka saling bertukar pandang kemudian Hanara menjauhkan tubuhnya yang masih di pegang erat oleh Faron.
"Ak-aku, maksdnya gue, gue minta maaf barusan nggak sengaja."
"Iya, nggak apa-apa. Apa kabar?" Faron bertanya secara impulsif, tidak tahu mengapa, dia merasa ada yang berbeda dengan perasaannya setelah akhirnya dapat bertemu dengan lagi dengan masa silam.
Desiran hangat kontan saja menjalar hingga memenuhi kosongnya ruang hati.
"Baik, gue baik."
Faron tersenyum lalu mengangguk.
"Lama kita nggak ketemu, Na. Aku seneng akhirnya bisa ketemu kamu lagi."
Hanara mengangguk lalu tersenyum malu-malu. Sikap Faron tidak berubah, cara bicaranya juga masih sama.
"Mau ngobrol sebentar?" Hanara mengangkat pandangan pada Faron yang memberikan tawaran menarik seperti itu. Tanpa ragu Hanara pun mengangguk, lalu, mengikuti jejak langkah Faron yang menggiringnya ke kap mobil. Mereka berdua duduk di sana.
Keduanya lantas berbincang banyak hal, berbagi kisah selama mereka berpisah. Lalu, pada akhirnya keduanya terlena oleh situasi dan tanpa sadar mereka berciuman, meluapkan rasa rindu yang selama ini memenjarakan jiwa. Faron melupakan keberadaan dan statusnya, dia terlalu terbawa suasana.
Saat ciuman itu terputus, Hanara menjauhkan wajahnya kemudian tersenyum.
"Faron, Ayo, balikan! Aku masih sayang sama kamu."
Flashback off.