"Ada apa, Rimbi? Katanya ada Al penting yang mau kamu omongin?"
Arimbi menyesap sedikit lemonade ice yang bagian luar gelasnya sudah mengembun lantaran es batu mulai meleleh.
"Iya, bener. Aku ada sesuatu yang penting sama Om."
"Oke, omongin aja sekarang!"
Arini mengangguk lalu menautkan kesepuluh jarinya di atas meja.
"Boleh aku tahu sesuatu?"
Tatap netra Arimbi menyorot tajam pada Matias yang berada di hadapannya.
"Boleh, mau tau tentang apa?"
"Tapi, Om harus jawab jujur, ya."
Matias mengangguk singkat meskipun dalam hatinya meragu. Dia tidak tahu apa penyebab Arimbi tiba-tiba mengajaknya untuk berjumpa.
"Hanara–" Arimbi menjeda sebentar kalimatnya guna melihat bagaimana Matias bereaksi usai mendengar nama itu.
"Apa yang terjadi dengan Hanara dan om Faron?" sambung Arimbi kemudian.
Matias belum menjawab, hanya menatap tajam mata yang memiliki manik berwarna hitam pekat.
"Dari mana kamu tahu tentang Hanara?"
Alih-alih menjawab, Matias jutsru balik bertanya.
Arimbi menghela napas lalu membuang muka ke samping. Dia paling tidak suka ditatap penuh intimidasi seperti ini.
"Jawab dulu pertanyaan aku!"
"Mereka hanya bagian dari masa lalu. Sekarang gantian jawab pertanyaan aku. Darimana kamu tahu soal Hanara?"
"Karena aku melihatnya, aku melihat dia dengan Om Faron–" Arimbi menahan diri untuk tidak menangis, tetapi tidak bisa, air matanya akhirnya lolos usai mengingat bagaimana Hanara dan Faron begitu menikmati ciuman mereka malam itu.
"Hei, kamu kenapa?"
Matias tiba-tiba panik, dia lantas beranjak lalu mendekati kursi yang diduduki Arimbi, memeluk erat gadis yang saat ini terisak dalam tangisnya.
"Apa mereka masih saling mencintai? Jawab aku, Om."
"Kamu yakin?"
Arimbi mengangguk, bibirnya sudah tidak sanggup lagi mengeluarkan suara karena tangisnya lebih mendominasi.
"Ya, mereka saling mencintai dan menyayangi. Tapi sayangnya, Tante Naya menentang hubungan keduanya. Entah apa alasannya. Yang jelas, keluarga Rahardja tidak pernah mau menerima Hanara."
Arimbi meremas erat kain kemeja yang dikenakan oleh Matias, bersamaan dengan rasa sakit yang menjajah hatinya.
Saling mencintai? Bagiamana rasa dan sensasi saling mencintai?.
"Rimbi? Are you okay?"
"No. iam bad. Aku nggak baik-baik aja."
"Ceritakan sama saya ada apa? Kamu ada masalah?"
Matias ingin mengurai pelukan itu, tetapi Arimbi mencegahnya. Dia masih menggenggam erat kemeja Matias membuat Matias akhirnya bertahan dalam posisi itu.
"Tolong tetap seperti ini! Jangan dilepas!" Matias mengangguk, dia masih memeluk Arimbi sesuai permintaan gadis itu.
"Ceritakan Arimbi!"
"Hanara kembali, dia datang untuk kembali pada pelukan Om Faron," ujar Arimbi lirih. Suaranya bahkan terdengar bergetar seperti hendak meledakkan kembali air mata yang baru saja berakhir.
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat bagaimana suamiku masih mendamba dengan sosok masa lalunya dan begitu sebaliknya. Aku– aku melihat semuanya dengan jelas. Bahkan melihat mereka saling–." Arimbi menjauhkan kepalanya dari d**a bidang Matias da menatapnya penuh dengan kabut air mata.
"Saling apa?"
"Berciuman ... itu membuatku sakit."
"Sakit?"
Arimbi menurunkan tangannya dari pinggang Matias kemudian membuang muka.
"Maaf! Nggak seharusnya aku berlebihan."
Arimbi menelan salivanya.
"Kamu kenapa sebenarnya? Apa yang terjadi? Apa sebetulnya kamu mulai jatuh cinta sama Faron?"
Arimbi menundukkan kepala karena merasa malu perasaannya pada Faron telah diketahui orang lain.
"Coba lihat saya! Coba tatap mata saya dan katakan 'Ya'!"
Arimbi menengadah saat jari Matias menjepit dagu Arimbi. Gadis itu menghela napas kemudian memejamkan mata sekejap.
"Ya. Aku mulai jatuh cinta sama dia. Entah sejak kapan dan bagaimana awalnya tiba-tiba aja aku menyukainya. Apa yang harus aku lakukan. Aku melanggar klausa kami."
Matias tidak bisa berkata-kata. Dia tidak tahu hendak menjawab apa.
"Belajar melupakan atau membiarkan rasa itu membesar."
"Lalu, menyiksa diri sendiri?"
Matias meraih tangan Arimbi lalu tersenyum lembut.
"Arimbi, hanya kamu yang bisa mengerti keputusan apa yang akan kamu ambil. Dan apa pun keputusan itu, saya hanya bisa mendukung."
****
Sudah tiga hari sejak kejadian di meja makan pagi itu, keduanya tidak saling bicara. Rumah mendadak menjadi sunyi sebab tidak ada obrolan seperti biasa, tidak ada kegiatan rumah yang biasa dilakukan berdua.
Ternyata, Arimbi sulit untuk menganggap komunikasi mereka hanya sekedar kebutuhan saja. Nyatanya dia ingin berharap lebih dari apa yang diinginkan oleh Faron. Arimbi ingin menjadi istri sepenuhnya bukan hanya pura-pura lagi.
Arimbi tertawa getir, menertawai keinginan bodohnya itu.
Apa yang membuatnya berpikir jika hubungan mereka akan berakhir baik? Tidak. Hubungan mereka akan tetap jalan lurus sesuai dengan isi perjanjian bukan?
Arimbi menenggelamkan wajahnya pada bathtub, membasuh kesedihan yang terlukasi di iras cantiknya. Setelah menghabiskan waktu satu jam lamanya berendam, Arimbi menyudahi kegiatannya itu kemudian keluar karam mandi dalam keadaan rambut acak-acakan dan basah. Berjalan menuju meja rias dan berkaca di sana.
"Arimbi! Buka pintunya!"
Arimbi tidak berniat membuka pintu, dia tidak ingin menunjukkan betapa sembabnya mata akibat seringnya menangis kala mengingat peristiwa malam itu.
"Rimbi! Saya mohon buka pintunya. Cepat!" Arimbi berdecak, mau tidak mau dia bangkit dari duduknya kemudian membukakan pintu untuk Faron. Tidak bisa berbuat banyak daripada nanti pintu itu dibobrak oleh sang pemilik rumah.
"Ada apa?" tanya Arimbi ketus.
Faron menatap sebentar sosok Arimbi yang hanya mengenakan bathrobe sementara rambutnya acak-acakan.
"Astaga, kamu mandi malam-malam begini?"
Arimbi tidak menyahut. Malas menjawab mengapa dia mandi tengah malam begini.
"Ada apa?"
"Mama dan Papa bertamu tiba-tiba. Dan mau menginap di sini. Lebih baik segera kunci kamar kamu dan pindah ke kamar saya sekarang."
"Kenapa mendadak sekali?"
"Saya tidak tahu. Ayo, turun! Mereka ada di luar." Faron mencoba menggandeng tangan Arimbi tetapi segera di tepis oleh gadis itu.
"Jangan sentuh aku! Aku bisa jalan sendiri." Arimbi berlalu, melewati figurasi Faron yang menatap heran sosok istrinya.
"Mama, Papa?"
"Sayang. Apa kabar?" Mereka saling berpelukan untuk melepas rindu setelah beberapa hari tidak berjumpa karena Naya dan Arya sedang menjalankan bisnis ke luar kota.
"Baik, Ma. Mama dan Papa bagaimana?" Pelukan mereka terurai.
Arimbi merasa sungkan karena tiba-tiba ditatap seperti itu oleh Naya. Entah mengapa wanita usianya dua kali lipat darinya lebih tua itu menatap aneh padanya.
"Seharusnya setelah keramas kamu segera keringkan rambutmu, Sayang. Biar nggak masuk angin." Naya meraba rambut Arimbi yang setengah kering itu.
Sedangkan Arimbi hanya mampu tersenyum kikuk, dia mulai mengerti jika pantas saja sebelum ini Naya menatapnya aneh, ternyata Naya melihat rambutnya yang basah ini?
"Mama dan Papa boleh menginap semalam di sini?"
"Boleh. Ayo, aku antar ke kamar tamu." Naya masih bergeming mendapati hal itu Arimbi tentu saja bertanya-tanya.
"Kenapa, Ma?"
"Kamu sama Faron naik lagi aja. Biar Mama sama Papa masuk kamar sendiri. Lanjutkan aja kegiatan kalian. Maaf ya kalau kedatangan kami menganggu." Arimbi mematung, kembali menatap netra sang ibu mertua yang tersenyum jahil padanya. Mau tidak mau Arimbi ikut tersenyum meski sedikit dipaksa.
"Ya sudah, Kami mau masuk dulu. Buruan gih, Naik! Faron, ajak Arimbi naik ke kamar. Mama sama Papa juga mau masuk kamar."
Faron mengangguk kaku. Hingga pada akhirnya mereka beriringan menaiki satu persatu anak tangga.
***
Arimbi menatap layar ponselnya yang berdering, ada nama Ayla di sana. Arimbi menoleh kebelakang tepat di mana Faron sudah tertidur pulas di ranjangnya.
Lalu, tidak lama kemudian dia mengangkat telepon dari Ayla. Karena tidak ingin menganggu tidur Faron, Arimbi membuka pintu balkon dan mengobrol di luar.
Dua puluh menit dia habiskan untuk berbincag dengan Ayla. Setelah percakapan mereka berakhir, Arimbi kembali masuk kamar. Betapa terkejutnya dia saat di ambang pintu ada Faron yang tengah menyandarkan tubuhnya.
"O-om ngapain di sini?"
"Sudah selesai telponan?"
"Udah. Ada apa emangnya?"
"Saya mau ada keperluan penting. Mungkin akan pulang besok pagi. Kalau Mama dan Papa tanya saya kemana. Bilang saja ke kantor."
Arimbi tidak menyahut, dia biarkan Faron memakai jaket kulit yang tergantung di capstock.
'Apa kamu mau menemui mantan kamu, Om?'
Arimbi meremas ponselnya hingga begitu erat.