Arimbi menunggu kepulangan Faron dengan cukup cemas, dia tidak dapat tidur dengan tenang, karena segala kemungkinan yang belum tentu terjadi tak tanggung tanggung bergerak memenuhi kepala hingga terasa berdenyut. Tak dapat dipungkiri jika sebetulnya gadis itu takut, bagaimana jika Naya ataupun Arya mengetahui jika Faron pergi tengah malam entah kemana. Meski Faron sudah menitipkan pesan, tidak membuat Arimbi tenang. Dia berpikir, bukankah memberikan alasan yang tidak logis itu serupa membohongi anak kecil? Ya! Mereka bukan anak kecil yang tidak memiliki rasa curiga apa pun. Dan ketika alasan itu diberikan, sudah pasti mereka berdua tidak mudah mempercayainya begitu saja.
Arimbi bergegas mendekati pintu lalu membuka sedikit pintu kamar Faron untuk mengintip apa yang dilakukan mertuanya di bawah sana dengan cara bersembunyi di balik pilar agar tidak terlihat.
"Aduh, kenapa Papa nggak tidur tidur?" Arimbi memejamkan mata sejenak kala melihat Arya masih begitu semangat menonton pertandingan bulu tangkis di layar kaca. Lalu, dia mundur perlahan ke belakang untuk kembali masuk kamar dan menutupnya kembali rapat.
"Gimana ini?" gumamnya seraya mondar-mandir.
Klek!
Arimbi terkejut bukan main, bagaimana tidak di tengah rasa kalut yang menguasai diri, tiba-tiba pintu balkon kamar di buka oleh seseorang.
Arimbi sempat menegang untuk beberapa saat.
"Astaga, aku pikir siapa!"
ujarnya seraya meraba d**a saat menyadari jika pelaku yang membuka pintu kamar balkon itu adalah pemilik kamar sendiri.
"Untung aja Om lewat sini, kalau lewat bawah pasti ketemu Papa."
Faron menoleh sekilas pada Arimbi yang mengekorinya.
"Pasti ketemu Papa katamu? Emang Papa belum tidur?"
Arimbi menggeleng membuat Faron menghela napas.
"Oh, ya sudah, berarti keberuntungan masih berpihak," ujar Faron sembari melepas jaket kulit yang membalut tubuhnya dan Arimbi memperhatikan dengan seksama apa yang dikerjakan oleh laki-laki itu.
Sebetulnya dia ingin bertanya kemana perginya Faron semalam. Tetapi Arimbi menahan diri untuk tidak bertanya apa pun, biarkan saja pikirannya terus berprasangka, itu jauh lebih baik.
Dalam tatap netra yang masih berpusat pada titik yang sama, Arimbi sadari sesuatu saat Faron membuka serta kemeja yang masih melekat hingga kulit punggungnya yang bersih terlihat jelas begitu tanpa sehelai benang yang menutup.
"Bercak apa itu?" gumamnya dalam hati.
Arimbi memalingkan wajah. Meski jarak antar dirinya dan Faron terbilang cukup jauh, tetapi, Arimbi bisa melihat jejak bercak merah keunguan yang berada di pundak Faron dengan jelas.
Astaga, apa itu?
***
Arimbi termenung sembari menolang pipi melihat foto yang ada di ponsel Matias. Menatap cukup teliti dan jeli setiap jengkal gambar tersebut.
Dia berusaha menahan diri untuk tidak menangis di depan Matias. Tidak mau terlihat lemah meski sesungguhnya hati sudah tidak lagi berbentuk usai dia mulai berharap lebih pada hubungan yang penuh kamuflase ini.
"Faron pergi ke rumah sakit untuk ketemu sama Hanara. Hanara sedang dirawat di rumah sakit sekarang."
Arimbi belum bereaksi apa pun.
Dia hanya diam lalu mengulurkan tangannya untuk mengembalikan ponsel milik Matias.
"Bi, jam berapa dia pulang?" sambung Matias.
"Sekitar jam empat pagi," sahut Arimbi lalu menelan saliva. Semakin kesini hubungan antara Arimbi dengan Matias terjalin sangat baik. Mereka terlihat akrab seperti sepasang saudara. Arimbi menganggap Matias kakak sementara Matias juga melakukan hal serupa.
Itu mengapa Arimbi tidak ragu mengatakan apa saja pada Matias meski awalnya sempat dilema.
"Kamu tahu nggak, Om. Padahal di rumah sedang ada Mama dan Papa, mereka menginap karena baru pulang dari luar kota. Tapi, apa yang dia lakukan? Memilih pergi untuk kepentingan pribadinya tanpa peduli ada siapa di rumah itu. Hah, ironis sekali."
Matias mengangguk. Laki-laki itu seakan paham apa yang dirasa oleh Arimbi. Sebab, dia pernah ada di posisi tersebut.
"Tapi, kalau menurut saya, Jangan kamu pikirin lagi hal ini! Cukup fokus sama persiapan kamu. Sudah sampai di mana progressnya?" Arimbi tersenyum senang ditanyai seperti itu, alih-alih Faron, justru Matias lah yang menunjukkan rasa pedulinya.
"Masih tahap pertama, prosesnya masih panjang ini. Doakan aja semoga lulus seleksi di tanpa pertama."
Matias mengangguk.
"Nah, kalau begitu jangan membebani pikiran kamu lagi, Rimbi! Karena beban pikiran akan mempengaruhi segalanya."
"Siap. Aku akan usahakan. Makasih ya, Om. Makasih udah bantu aku untuk menemui jawaban. Akhirnya aku sadar, kalau Om Faron masih sangat mencintai sosok masa lalunya. Baiklah! Semoga itu bisa menjadi patokan buatku untuk segera bisa melupakannya. Semangat!" Arimbi mengepalkan tinjunya dan diangkat ke udara.
"Jangan dipaksa! Pelan-pelan."
Arimbi mengangguk. Jujur saja, Arimbi bersyukur karena masih memiliki Matias yang bisa memberikan informasi terkait bagaimana Faron di masa lalunya.
Karena orang tua Faron, tidak pernah membahas apa pun terkait Faron selain hanya membicarakan tentang perjodohan mereka semata.
"Makasih banyak sekali lagi."
"Iya, sama-sama. Ya sudah, saya pergi dulu, karena harus segera ke sekolah."
"Oke, Om. Hati-hati, salam buat princess." Matias tersenyum lalu mengangguk.
"Kamu juga hati-hati di jalan, ya."
Matias sempat meraba pucuk kepala Arimbi dan mengacak pelan rambut pirang itu sebelum akhirnya beranjak pergi.
Sore harinya, Arimbi pulang sembari menjinjing paper bag berisi beberapa buku yang baru saja dibelinya di toko buku, di masing-masing tangannya. Arimbi tahu, akan memerlukan buku itu untuk memperdalam ilmu sesuai bidangnya. Maka dari itu, dia sempatkan diri mampir ke toko buku untuk membeli beberapa buku sebelum pulang.
Terapi, hal tidak todsk diinginkan terjadi, di ruang utama, tidak sengaja Arimbi bertemu dengan Faron yang sibuk berjibaku dengan macbook. Gadis itu memilih untuk melewati Faron begitu saja tanpa sapa sama sekali. Untuk apa? Pikirnya. Bukankah sandiwara untuk menjalin komunikasi dengan baik sudah berakhir setelah kepergian Naya dan Arya pagi tadi?
"Baru pulang dan berpura-pura tidak melihat keberadaan saya. Luar biasa sekali kamu, Rimbi."
Arimbi menghentikan langkah kakinya ketika mendapat teguran.
"Maaf, lain kali tidak akan terulang," sahutnya singkat.
"Hmm ... selain membeli buku, apalagi yang kamu lakukan di luar tadi? Berkencan?"
Dalam hati Arimbi berdecak.
Sungguh, sebetulnya dia tidak memiliki energi untuk membahas sesuatu yang tidak perlu. Tapi, apa boleh buat?
"Iya, kami kencan. Kupikir aku butuh hiburan setelah beberapa hari sibuk mengurusi pendaftaran," sahut Arimbi pada akhirnya. Percuma menyangkal karena Faron tetap akan menuding yang tidak-tidak.
"Oh ..., begitu. Its okay, nggak masalah. Pesan saya hati-hati kalau kencan! Takut nanti ketahuan Mama dan Papa. Nggak enak."
Arimbi terkekeh geli, apa katanya? Hati-hati? Hei, pandai sekali laki-laki itu memberikan petuah sementara dia sendiri selalu bertindak seenaknya. Lupa kah jika malam itu dia pergi demi menemui pujaan hati tanpa melihat situasi di dalam rumah?
"Nggak usah khawatir. Aku cukup pandai bermain peran. Sama kayak kamu, kita berdua sama-sama pandai bersikap manipulatif." Arimbi berlalu usai mengatakan hal demikian. Sedangkan Faron menatap punggung milik Arimbi yang mulai menaiki satu persatu anak tangga.