"Nanti saya pulang lebih awal. Sebelum sampai rumah, sebisa mungkin kamu sudah siap-siap."
Arimbi yang sibuk mencuci piring hanya mengangguk tanpa menoleh pada orang yang mengajaknya bicara.
"Jawab yang benar! Punya mulut kan?"
Arimbi menyimpan spon yang baru saja di celupkan pada busa pada kembali pada tempatnya.
"Iya, Om. Sebelum pulang nanti, aku siap-siap sesuai permintaan kamu." Arimbi tersenyum setelahnya membuat Faron mengangguk pelan untuk beberapa kali.
"Oke, saya berangkat dulu ke kantor."
"Hati-hati."
Arimbi melambaikan tangan pada Faron. Lalu setelah pria itu menghilang di balik pintu ruang utama, Arimbi kembali pada aktivitasnya.
Hari ini dia akan kembali menyibukkan diri untuk proses pendaftaran.
Banyak yang perlu disiapkan termasuk beberapa tes untuk dikumpulkan.
Kemarin Arimbi baru menjalani tes psikiater dan tes psikologi, kedua tes itu dilakukan tidak dalam waktu bersamaan yang artinya butuh waktu sehari untuk menyelesaikan satu tes.
Usai mencuci piring, Arimbi mengeringkan tangan menggunakan hand dryer.
Kemudian dia bergegas pergi ke kamar untuk berganti pakaian.
Bersama motor kesayangan, Arimbi mulai berjibaku dengan kesibukannya.
Melintasi jalanan kota di bawah sinar matahari hangat yang baru saja bersinar setelah sekian jam bersembunyi dibalik awan putih.
Di tengah jalan, Arimbi tidak sengaja melihat mobil Faron menepi di bahu jalan. Alih-alih menghentikan laju motornya, gadis itu justru bersikap acuh tidak acuh.
Dia tidak boleh lagi terperdaya oleh perasaannya sendiri. Keingintahuan yang membumbung dipadamkannya dengan afirmasi yang cukup besar.
Arimbi harus nekat melupakan Faron, melupakan rasa yang tumbuh lalu membesar secara tiba-tiba.
Sementara Faron, dia baru saja keluar dari florist membawa serangkuman bunga imitasi yang dibentuk menjadi buket ke dalam mobilnya. Sebelum pergi ke kantor, dia akan menyempatkan diri menjenguk Hanaranyang terbaring di rumah sakit.
Ingin mengetahui bagaimana perkembangan wanita itu setelah tiga hari dirawat di rumah sakit.
Sesampainya di ruang rawat inap tempat dimana Hanara terbaring lemah, Faron gegas menekan tuas pintu untuk masuk kedalam.
Laki-laki itu disambut oleh senyum manis Hanara yang sejak tadi sudah bangun dan sarapan.
"Morning." Sapa Faron kemudian melangkah mendekat pada Hanara.
"Aku bawa bunga untuk kamu yang selalu menawan hatiku," sambungnya seraya menyimpan bunga mawar merah itu di atas nakas.
"Makasih, Sayang. Tumben pagi-pagi udah kesini?"
Faron tersenyum lalu menarik satu buah kursi di sisi pembaringan.
"Iya, aku sengaja dateng pagi soalnya sore nanti aku nggak bisa."
"Emangnya kamu mau kemana?" tanya Hanara sembari menatap heran pria yang duduk di sampingnya.
Faron meraih tangan yang tidak sedang tertusuk jarum infus lalu mengusapnya perlahan.
"Aku ada kerjaan. Biasalah, Papa minta aku buat meeting sama relasi bisnis Papa."
Hanara mengangguk lalu tersenyum.
"Oh, gitu. Ya udah nggak apa-apa. Kamu selesaikan aja dulu urusan kamu."
"Makasih udah pengertian, Sayang." Tangan yang semula meraba punggung tangan Hanara, kini merambat menyentuh permukaan pipi Hanara.
"Sama-sama."
***
Matahari begitu terik sehingga membuat Arimbi kehilangan cukup banyak energi. Selesai melakukan tes substansi prodi, Arimbi bergegas ke warung bakso langganannya, dia lapar sekaligus haus sekali. Sampai bibir yang dipoles oleh lipbalm pagi tadi tampak kering terbakar oleh cuaca.
"Aunty!"
Arimbi menoleh saat ada suara yang menyerukan namanya, Arimbi edarkan pandangan ke seluruh penjuru.
"Elice disini, Aunty." Lagi. Suara itu menepi sekali lagi.
Arimbi melambaikan tangan setelah netranya berhasil menemukan Elice di depan minimarket.
Arimbi menghampiri gadis itu lalu memeluknya erat karena sudah lama sekali tidak bertemu usai pertemuan pertama mereka di taman. Selebihnya Elice akan menghubungi Arimbi melalui media video call atau panggilan biasa.
"Oh, Elice Aunty kangen banget sama kamu, Sayang."
"Elice juga kangen sama Aunty."
Pelukan mereka terurai usai suara lain menginterupsinya.
"Wah, ada Arimbi." Arimbi bangkit dari posisinya yang semula melipat kaki.
"Hai, Om. Habis belanja, ya?"
Tunjuk Arimbi pada kantung-kantung kresek yang ada di tangan Matias.
"Iya, cuma buah sama snack aja, sih. Kamu kok ada di sini? Darimana?"
"Oh, itu ... mau ke warung bakso sih, habis dari tes."
Matias mengangguk. "Kebetulan sekali saya juga lagi mau makan siang. Kalau gitu bareng aja ke sananya, gimana?"
"Boleh. Biar lebih asyik kalau ada temennya." Arimbi mengangguk setuju.
"Kita makan bakso, Dad?"
Tanya Elice antusias, matanya berbinar terang seakan menemukan berlian di tumpukan jerami.
"Iya, Sayang. Kita makan bakso. Khusus hari ini, Daddy bebaskan kamu makan apa aja yang kamu minta, asal nggak boleh berlebihan." Matias menjawil ujung hidung mancung Elice.
"Yes, hore. Oke, Daddy." Elice yang terlihat senang sekali berlari lebih dulu ke warung bakso yang berada di sebelah minimarket sementara Arimbi tertawa melihat tingkat bocah kecil tersebut.
Sore harinya, Arimbi telah bersiap-siap seusia pesan yang disampaikan Faron lagi tadi.
'Aku lupa tanya kemana dia mau bawa aku pergi?'
Arimbi memasukkan ponsel dalam sling bag dan bercermin sebelum akhirnya keluar dari kamar.
Menuruni satu persatu anak tangga dengan cukup cepat sebab Faron sudah menunggu di depan.
"Kenapa lama sekali?" Faron berdecak, wajahnya terlihat bermuram durja karena terlalu lama berada di mobil.
"Salah kamu yang kasih kabar mendadak." Arimbi tidak mau kalah, dia membalas telak ucapan Faron yang terdengar ketus.
Lalu, segera memasang safety belt sebelum mobil itu melaju meninggalkan pekarangan rumah.
"Kita mau kemana?"
"Ke rumah Mama."
"Ngapain?"
"Nggak tahu."
Arimbi bungkam. Dalam pikirannya mulai menerka hal yang tidak-tidak. Gadis yang mudah over thinking seperti Arimbi tidak akan pernah bisa bersikap tenang sebelum hatinya mencoba untuk memberikan afirmasi.
Dalam lamunan yang merajai, Arimbi dikejutkan oleh suara ponselnya yang berdering.
Dengan cepat, gadis itu meraih ponselnya lalu memperhatikan nama yang menghiasi layar ponsel.
"Elice? Ngapain dia telpon kamu? Oh, jadi, selain sama Matias kamu juga sudah dekat Elice?"
"Bukan urusan kamu."
Arimbi mendengkus lalu gegas menggeser tombol hijau untuk menyambungkan panggilan dengan si penelpon.
"Halo, Sayang?"
"Halo, Aunty. Lagi apa?"
"Aunty lagi di jalan ini, kenapa? Tumben telpon sore-sore? Kangen ya sama Aunty?" tanya Arimbi sembari tertawa.
Faron hanya diam mendengar ocehan Arimbi di sepanjang jalan. Gadis itu terlihat begitu ceria saat berbicara dengan lawan bicaranya, setiap percakapan tidak henti dia tertawa seakan topik obrolan keduanya tampak menarik dan berkesan.
"Ya udah, Sayang. Aunty tutup dulu, ya. Udah sampai nih."
Arimbi menjauhkan ponselnya lalu menekan tombol berwarna merah untuk mengakhiri panggilan.
Hal yang tidak luput dari perhatian Faron.
"Ayo, turun! Ngapain masih di sini?"
Arimbi menatap heran pada pria di sampingnya. Alih-alih lekas membuka locked, pria itu justru bergeming sembari menyandarkan tubuhnya.
"Arimbi! Saya minta sama kamu, kalau lagi sama saya jangan kamu terima panggilan dari Elice atau Matias!"
"Kenapa?"
"Hargai keberadaan saya sebagai suami kamu."