Bab 13–Jalinan kasih

1090 Kata
Arimbi tersenyum kecil saat mendengarkan ucapan Faron. Apa katanya? Hargai sebagai suami? Yang benar saja dia bertanya seperti itu? Apa pria itu sudah melakukan tugasnya dengan menghargai istri? "Sejak kapan di surat perjanjian tertulis kalau aku harus menghargai suami?" Alis Arimbi terangkat saat saling bertatapan dengan pria di sampingnya. Kontan saja Faron terbungkam oleh kalimat yang terlontar dari bibir tipis milik Arimbi. Laki-laki itu gegas berdehem lalu alihkan pandangan keluar jendela, dia melakukan itu demi memutus kontak mata dengan Arimbi. Ia pejamkan mata, sedikit merutuki kebodohan mengapa harus mengatakan hal seperti barusan. "Kamu bisa turun duluan!" Faron menekan central lock guna membiarkan Arimbi meninggalkan mobil terlebih dahulu. Tinggallah dia sendiri didalam mobil itu. Faron langsung membawa punggungnya bersandar lalu menarik napas dalam-dalam. Padahal pendingin mobil masih menyala dan berfungsi dengan sebagai mana mestinya, tetapi mengapa rasanya kabin kendaraan roda empat itu terasa sesak saat menarik napas? Faron lantas meraba dadanya sendiri lalu bertanya pada hati, apa yang membuat hatinya menjadi demikian? Mengapa rasanya sangat aneh ketika melihat Arimbi dekat dengan sosok pria lain dan terlebih lagi sosok itu merupakan sahabat karib Faron sendiri. Apakah ini adalah sebuah tanda cemburu? Faron segera menggeleng lugas, menepis pemikiran yang tiba-tiba saja mengambang di kepalanya. Dalam keadaan seperti ini, Faron tiba-tiba saja mencengkeram erat roda kemudinya lalu mengerang. Untung saja keadaan halaman rumah sepi sehingga tidak ada yang melihat aksi Faron yang terlihat sangat frustasi itu. Usai mengerang, laki-laki mencoba untuk menenangkan diri dengan menarik lalu meniup napas perlahan. Merapikan penampilannya untuk kemudian turun. Dia mendorong kasar pintu mobil hingga menimbulkan bunyi saat tertutup, lalu berjalan cepat menuju ruang utama. "Faron sini deh!" Faron memutar jengah bola matanya, kendatipun begitu ia tetap menuruti titah ibundanya. "Iya, Ma? Ada apa?" Di sana Naya tidak sendiri, tetapi, ada Arimbi yang duduk bersanding dengan Naya di sofa monokrom. "Sini duduk! Ini bagus nggak?" Naya menyodorkan sebuah kotak beludru berisi cincin berlian yang memiliki permata yang indah. Faron mengangguk meski sebetulnya dia tidak terlalu suka dengan cincin yang ditunjukkan padanya. "Bagus," jawab Faron singkat. "Kalau kamu suka, Mama kasih ini buat Arimbi." Faron menoleh kasar lalu mengerutkan dahinya, setelah itu dia turunkan pandangan pada telapak tangan yang di pegang oleh Naya. "Katanya buat Arimbi?" "Iya, buat Rimbi. Tapi kamu yang pasang ke jari dia. Ayo, pasang!" "Ma, nggak usah, aku bisa pasang sendiri." Arimbi berusaha menolak tetapi hal itu tidak mendapat tanggapan baik dari Naya karena wanita tersebut tetap menyuruh Faron yang melakukannya. "Kalau dipasang sendiri jatuhnya nggak ada kesan," ujar Naya yang tidak mematikan celah untuk Arimbi menolaknya. Arimbi hanya mampu menghela napas pasrah. Tidak ada pilihan lain baginya selain mengangsurkan tangan kanannya pada Faron dan Faron bergegas menyematkan cincin berlian itu pada jari panjang Arimbi. "Wah..." Naya menyatukan kedua telapak tangan seraya memendarkan senyum usai cincin itu terpasang dengan benar. "Lihat! Sangat cantik sekali. Nggak salah mama kalau pesen cincin ini buat kamu. Tenyata emang secantik ini kalau jatuh di tangan orang yang tepat." Faron terdiam ketika mendengar ucapan Naya yang terkesan seperti sedang menyindirnya. "Ya kan, Faron. Cincinnya cantik kan kalau dipakai Arimbi?" Seakan butuh validasi dari pria yang sejak tadi hanya mengatupkan mulut, Naya mengulang pertanyaan. "Iya, Ma, cantik." Faron menyahut seadanya. "Nah, kita sepemikiran. Dan kamu tahu cincin ini belum tentu cantik kalau di pakai orang lain." Naya melirik sekejap pada Faron kemudian alihkan atensi pada Arimbi untuk menyunggingkan senyum manis. Rupanya tidak hanya Faron, Arimbi pun seakan menyadari jika dalam cara bicara Naya, tampak ada yang berbeda. *** Esok hari "Faron belum pulang?" Arimbi membasahi bibir bawahnya ketika mendapat pertanyaan demikian dari Naya. Kegiatannya mengaduk teh panas terjeda sejenak mendapati Naya yang tiba-tiba saja muncul lalu bertanya demikian. "Mungkin masih ada di kantor, Ma," sahut Arimbi sedikit gugup. Untung saja kegugupan itu dapat ditutupi dengan baik sehingga tidak menimbulkan rasa curiga pada Naya. "Ada di kantor? Nggak mungkin, Rimbi. Papamu sekarang lagi di kantor dan nggak melihat Faron di sana. Arimbi menghela napas. Apa yang harus dikatakannya sebagai alasan yang tepat untuk menutupi kepergian Faron yang tanpa kabar itu? Hah, jika begini kejadiannya rasanya ingin sekali gadis itu mencecar habis-habisan Faron yang tidak memberikan kabar sama sekali. Gila saja! Giliran Arimbi yang berlaku demikian, Faron pasti akan mengamuk padanya. "Mama mau teh? Kebetulan aku buat teh dan kalau mama mau aku bisa membuatnya lagi satu." Naya tersenyum lalu mengangguk. "Baiklah! Mama mau. Makasih ya, tahu saja kalau mama lagi haus." Arimbi tersenyum lalu mulai bergerak mengambil cangkir, dalam hati berharap semoga saja pertanyaan tentang Faron berhenti sampai di sini. "Oh ya, pas Faron pergi, apa dia nggak pamit sama kamu?" Damn it! Arimbi mengumpat dalam hati. Usahanya untuk mengalihkan topik rupanya tidak berjalan sempurna Arini lantas menggeleng pelan dan kemudian membawa cangkir berisi teh panas pada Naya yang duduk di meja makan. "Sini, duduk!" Arimbi mengangguk kemudian menjatuhkan b****g di depan ibu mertuanya. "Sayang, denger nama baik-baik! Lain kali kamu harus menanyakan kepergian suami kamu itu meski dia tidak berniat mengabarimu lebih dulu. Paham ya?" Arimbi mengangguk lalu tersenyum kecil. Sementara di tempat lain. "Makasih, Sayang. Udah sempatkan diri nganter aku pulang." Hanara menepatkan posisinya di atas ranjang, dia baru saja keluar dari rumah sakit dan diantar pulang oleh Faron. "Sama-sama, Sayang. Kalau butuh apa-apa kamu kabarin aku aja, jangan sungkan! Apalagi kondisi kamu masih belum pulih sempurna, pasti belum bisa beraktivitas seperti biasa." Hanara mengangguk kemudian menggenggam erat telapak tangan Faron yang duduk di sisi pembaringan dan posisi mereka saling berhadapan. "Makasih, ya. Makasih sudah mau kembali sama aku. Perpisahan kita beberapa waktu silam membuat aku semakin tersiksa Faron. Rasanya aku nggak sanggup harus dipaksa melupakan kamu. Aku nggak bisa, banyak hal dan kenangan yang terpatri sehingga membuatku bingung bagaimana cara menguburnya satu persatu. Selama aku menghilang demi menjauh dari kamu, hidup aku kayak nggak ada semangat sama sekali. Aku–" Faron kontan menempelkan telunjuknya pada permukaan bibir Hanara agar gadis itu berhenti bicara. "Jangan bicarakan itu lagi! Yang penting sekarang, kita usaha kembali bersama. Merenda kisah yang sempat pupus dan memperbaiki semua yang pernah hilang." Hanara mengangguk sembari menatap mata tajam Faron. "Makasih, Faron. Aku janji, akan tetapi mempertahankan hubungan ini meski tanpa restu sekalipun. Aku janji nggak akan tinggalin kamu seperti dulu." Mereka berpelukan, Faron meletakkan dagunya di bahu sang kekasih kemudian mengusap perlahan rambut Hanara. "Iya, aku percaya. Aku juga akan melakukan hal serupa. Aku akan jaga cinta kita sampai orang tuanku menjatuhkan restunya pada kita." Maafkan aku, Nara. Aku terpaksa berbohong tentang statusku. Ala dayaku yang masih teramat berharap dengan cintamu. Aku janji, setelah lulus perpisahanku dengan Arimbi nanti, aku akan membawamu ke hadapan orang tuaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN