Faron mengobrak abrik buku-buku tebal yang tersusun rapi di atas kabinet, melemparnya sembarangan demi mencari sesuatu yang seharusnya tersimpan dengan baik di sini. Pergerakan Faron berhenti sekejap lalu kemudian kembali menyisir buku.
"Argh." Karena apa yang dilakukannya sia-sia, dia menekan kepalanya dengan kedua telapak tangan cukup kuat. Merasa sangat frustrasi dan teramat kesal.
'Kemana perginya buku harian Hanara?' gumamnya pelan lantas menyugar rambutnya ke belakang.
Faron memutar tubuh berlari ke meja oval tempat di mana dirinya menyimpan banyak dokumen, mulai bergerak cepat membuka satu persatu laci dan mengeluarkan isinya hingga terhambur di lantai.
"Astaga! Siapa yang berani mencurinya. Sialan!" Faron terduduk lemas di single chair-nya. Dia kelelahan karena mencari tetapi tidak menemui. Benda itu memang tidak seberapa berharga, tetapi sangat bahaya jika isi dari benda itu sampai diketahui orang lain. Karena di dalamnya banyak sekali tersimpan kisah pribadi tentang hubungan asmara antara Faron dengan Hanara.
Tidak hanya terduduk lemas, dia juga menyandarkan kepalanya pada punggung chair office lalu pejamkan mata sekejap sembari terus berpikir. Kemarin ayahnya datang, tetapi ditemani oleh Dino–sekretarisnya. Sangat mustahil sekali bukan jika ayahnya yang mengambil buku itu? Tidak logis juga apabila Faron menuding Arya mengingat laki-laki berumur itu tidak pernah mengotak-atik isi ruangan Faron.
Lantas siapa? Faron berpikir keras dan terus memeras otaknya supaya dapat mengingat siapa saja yang pernah memasuki ruangannya selain dirinya, Dino maupun Arya.
Sepersekian detik pejamkan mata, akhirnya Faron membuka mata itu.
"Aku tahu," gumamnya sembari kembali menegakkan punggung.
Dia berdiri lalu berjalan cepat keluar dari ruangan.
"Dino!" Dino yang sedang mengobrol dengan rekan kerjanya lantas menoleh lalu membungkuk hormat.
"Ada apa, Pak?"
"Saya mau pulang ke rumah sekarang. Tolong kamu lanjutkan pekerjaannya saya!"
Dino mengangguk usia mendapatkan perintah demikian.
Sementara Faron kembali melangkahkan kaki dengan sangat tergesa untuk segera menuju pintu elevator.
Dalam pikirnya siap menumpahkan kemarahan pada Arimbi. Dia yakin, Arimbi yang mengambil buku milik Hanara tanpa permisi.
Setelah berkendara melintasi ingar bingar jalanan, akhirnya kendaraan roda empat itu tiba di pekarangan rumah bertekstur minimalis tetapi memiliki aksen modern.
"Arimbi!" Teriakan Faron menggema memenuhi ruangan.
Arimbi yang sedang menulis di dalam kamarnya lantas segera keluar kamar dan meninggalkan pekerjaannya itu.
"Ada apa, kenapa teriaknya kenceng banget?" Arimbi bertanya dari atas. Faron kontan menengadah menatap presensi Arimbi yang tengah berada di besi ukir sebagai pembatas
"Turun kamu!" Pria itu menitahkan sangat lugas, wajahnya terlihat begitu merah padam seakan menegaskan jika saat ini dirinya sedang marah. Hal yang membuat Arimbi menelan saliva secara kelat merasa tiba-tiba cemas.
Gadis itu menuruni satu persatu anak tangga sedikit lamban, tidak dapat ditampik jika sesungguhnya dirinya takut sesuatu akan terjadi ketika sudah sampai di lantai bawah.
"Cepat!"
"Iya, sabar!" ujarnya, Arimbi tidak tahu apa kesalahannya sehingga membuat Faron semarah dan sekesal ini padanya. Apa semua ini karena ada kaitannya dengan Matias?
Arimbi menggeleng pelan, ah, sepetinya bukan. Arimbi belum berkomunikasi lagi dengan duda beranak satu itu beberapa hari belakangan ini usai pulang dari rumah mertua tempo lalu.
"Ada apa, Om– akh, sakit." Arimbi tersentak tatkala Faron menarik lengannya secara tiba-tiba. Dan Arimbi mencoba melepaskan diri cengkeraman itu. Tetapi aksinya untuk menepis pun percuma sebab telapak tangan pria itu menekannya cukup kuat.
"Kembalikan sekarang, Arimbi!" Mata Faron melotot, terlihat merah menyala seakan tersimpan kobaran api di dalamnya.
"Kem-kembalikan? Kembalikan apa?"
"Masih belagak bodoh?" Faron membawa tangan Arimbi di belakang gadis itu kemudian kembali menekannya kuat.
"Akh ... lepasin! Sakit!" Faron tidak peduli dengan ringisan atas rasa sakit yang dialami gadis di depannya yang dia pikirkan hanyalah buku milik Hanara. Faron bisa saja menghukum Arimbi lebih dari ini karena perbuatannya yang begitu lancang.
"Kamu pikir saya tidak tahu apa yang kamu curi di ruangan saya, Hah!" Tangan kiri Faron tergerak untuk kemudian menjepit kedua pipi Arimbi hingga wajah gadis itu terangkat dan bertatapan dengan wajah Faron.
"Dengar baik-baik! Seluruh yang ada di dalam ruang kerja saya, itu adalah milik saya dan kamu tidak berhak untuk menyentuh apalagi mengambilnya."
"Dari sekian banyak orang yang datang ke ruangan saya, hanya kamu satu-satunya orang yang berani lancang mengambil sesuatu tanpa melalui izin. Dan kamu satu-satunya orang yang telah berani menyembunyikan benda itu tanpa kamu berpikir apakah benda itu pantas untuk kamu sembunyikan atau tidak." Faron mengeratkan rahangnya, dia benar-benar marah pada Arimbi.
"Jangan lupakan, Arimbi! Kamu itu hanya istri kontak saya! Paham!" sambung Faron dengan nada tegasnya membuat Arimbi kontan pejamkan mata demi menghindari tatapan elang itu.
Arimbi tidak bisa melawan, dia takut.
"Damn you!"
Faron melepaskan tangan Arimbi dengan cukup kasar sehingga membuat tubuh gadis itu bergerak mundur karena sedikit terdorong. Arimbi menangis, fisik dan hatinya sakit, terluka setelah mendapat perlakuan tidak manusiawi dari Faron. Kata-kata pedas itu sangat melukai hati yang memang sejak awal sudah terluka.
***
"Ma." Sahira menoleh melihat Arimbi berdiri di ambang pintu. Sudah sekian lama wanita itu tidak mengunjungi anaknya setelah insiden malam di mana Arimbi ketahuan pergi ke bar.
Meski sebetulnya wanita itu sudah memaafkan Arimbi sejak malam itu, tetap saja Sahira ingin menghukum Arimbi dengan cara tidak pernah menjenguk anak semata wayangnya itu. Mana tahu dengan demikian, putrinya merasa jera dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
"Arimbi!" Sahira bangkit lalu menggiring Arimbi masuk ke dalam rumah.
"Ada apa?"
Tanpa basa-basi Arimbi langsung menghamburkan tubuhnya dalam pelukan Sahira. Memeluk erat tubuh ibunya yang sudah lama tidak dia jumpai.
"Maafin Arimbi ya, Ma. Maaf atas kesalahan aku selama ini."
Sahira mendorong pelan kedua bahu Arimbi hingga gadis itu menampakkan wajahnya yang memerah.
"Hai, ada apa? Kenapa tiba-tiba kamu datang terus nangis? Kamu ada masalah?"
Arimbi terdiam, dia berpikir sebentar apakah lebih baik mengatakan kejujurannya atau justru bertindak manipulatif?
"Arimbi? Ditanyain kok bengong?"
"Arimbi kangen sama Mama. Makanya kesini, udah lama kita nggak ketemu kan, Ma. Udah lama kita g komunikasi karena kesalahan Arimbi yang besar di mata Mama."
"Ssttt ... udah, jangan dipikirkan lagi! Mama sebetulnya nggak tega melakukan ini sama kamu. Tapi, mama berusaha untuk tega karena ingin membuat kamu jera."
Arimbi kembali memeluk ibunya dan menumpahkan air matanya lagi.
"Iya, Ma. Sekarang aku kapok kok. Udah nggak pernah lagi keluar masuk bar. Sebagai hadiahnya boleh kan aku nginep di sini."
"Boleh banget, Sayang. Kamu sama Faron kan?"
Arimbi menggeleng membuat Sahira mengerutkan kening kemudian kembali membuat pelukan itu terurai.
"Ada apa, Arimbi? Kamu terlibat masalah sama suamimu? Jujur sama Mama!"