Arimbi termangu menatap hamparan langit yang begitu gelap gulita. Didalam genggaman tangannya ada secangkir coklat hangat yang menemani dan siap untuk disesap. Coklat tersebut baru saja dibuatnya beberapa menit lalu sebelum memutuskan untuk menyendiri di bawah langit. Aromanya yang khas membuat indra penciuman yang menghidu terasa menenangkan pikiran yang kusut bagai gumpalan benang. Dalam kesunyian malam, Arimbi mencoba berpikir jernih tentang segala kehidupan yang tiba-tiba saja berubah drastis. Setelah dipikir-pikir secara rasional memang banyak sekali hal yang telah mampu mengubah hidupnya, bukan tidak sadar jika dirinya seakan kehilangan segala yang ada dalam diri usai menikah. Entahlah, Arimbi tidak bisa mengenali dirinya akhir-akhir ini. Kemana perginya Arimbi yang dulu? Apakah su

