SS3 - Initial of A.S

1930 Kata
"Sepertinya kau sangat menyukainya, jika kau menginginkan ku, berusaha lah. Buat aku menginginkan mu juga…" Perkataan Aldrich Spanos tiba-tiba berputar diingatannya, Angela tersenyum meninggalkan kamar mandi dengan langkah bersusah payah menuju ke ranjangnya.  Angela melemparkan tubuhnya hingga terhempas di ranjang empuk itu, "Ya, aku akan membuatmu menginginkan ku. Tidak, Angela tidak tertarik secara emosional dengan Spanos. Dia hanya tertarik karena harga dirinya sebagai wanita merasa begitu tertantang dengan pria munafik nan menyebalkan itu. Semacam obsesi ingin menaklukkan seorang musuh hingga bertekuk lutut padanya.  Angela tahu mungkin suatu saat semua ini akan melukainya, mengingat Aldrich Spanos adalah suami orang dan mungkin saja dirinya dapat merusak rumah tangga pria itu dan karirnya dimasa depan jika perbuatannya diketahui orang lain. Tapi ada sebuah rasa yang mendorong dirinya untuk menaklukkan pria yang di cap oleh para wanita adalah casanova berdarah dingin. "Stop overthingking Angela, kau cukup menikmati dan mempermainkannya. Jangan libatkan hati bodoh mu ini..." ucap Angela menatap langit-langit kamar dengan senyuman indahnya. Flashback on  "Jika kaki mu masih terasa sakit, kau bisa mengenakan sandal yang nyaman saat ke kantor besok. Kau juga bisa meminta izin sakit padaku langsung. Aku tidak ingin menanggung biaya jika kaki indah mu itu mengalami cedera fatal." Angela memutar bola matanya malas," Oh Tuhan, kau cerewet sekali Spanos. Ini hanya terkilir biasa, beberapa hari saja sakitnya akan hilang." omel angela kesal.  Aldrich menarik kaki Angela yang cedera hingga wanita cantik itu memekik karena terkejut," Aldrich Spanos! Kau mengsgetkan ku!" teriak Angela menendang pundak Aldrich dengan kaki kanannya yang baik-baik saja.  Aldrich hanya terdiam dan mengecup kaki kiri Angela yang cedera, "Oh Angela, seharusnya kau mengansuransikan kaki mu yang indah ini..." ucap Aldrich membuat Angela memerah malu.  "Kata mu harus segera pulang? Sebaiknya kau pulang sekarang. Aku ingin beristirahat!" bentak Angela membuat Aldrich terlihat berpikir sejenak.  "Apakah makan malam mu sudah selesai?" tanya Aldrich memastikan.  "Ya, kau tak lihat bahkan hanya tersisa tiga slice pizza. Aku akan menyimpannya dan di panaskan untuk sarapan besok." Aldrich mengangkat sebelah alisnya, "Bukankah sarapan pagi mu hanya kopi?"  Angela mendengus kesal," Seharusnya, tapi kau telah merusak jadwal diet ku, minggu depan aku akan memulainya kembali setelah lambung ku kembali normal." ucap Angela berakhir kembali berteriak. "Apa yang kau lakukan, Spanos?!" pekik Angela saat Aldrich tiba-tiba membawanya kedalam gendongan pria itu.  Aldrich membawa tubuh wanita itu berjalan menuju kamarnya, "Aku ingin memakai kondom yang ku beli tadi." ucap Aldrich membuat Angela melotot tak percaya.  "A-apa kau sudah gila?!" teriak Angela semakin meronta saat Aldrich membawa tubuhnya masuk kedalam kamarnya.  Aldrich pun tersenyum seraya meletakkan tubuh Angela di ranjangnya yang lumayan empuk. Mendekati Angela yang terlihat shock dengan berbagai macam pikiran di kepalanya.  "Aku hanya mengatakan apa yang ada di pikiran mu. Aku tidak ingin memakai kondom itu sekarang Angela. Tapi kau harus selalu membawanya untuk persiapan." ucap Aldrich berbisik.  "Dan aku sangat suka saat Angela yang selalu memasang tampang sok berani nan menggoda, terlihat seperti gadis perawan yang ketakutan akan di perawani." ucap Aldrich dengan senyuman jahilnya.  Angela berkedip tak mengerti, "Kau lebih baik pergi dari sini Spanos!" teriak Angela marah dan memukul kan bantal gulingnya kepada Aldrich yang kini memecah dalam tawanya.  Flashback off Angela tersenyum manis, memeluk guling yang dia pakai untuk memukul Aldrich. Menyesap aroma guling tersebut dengan begitu dalam, tertinggal harum maskulin tubuh Aldrich Spanos yang sangat jantan dan memabukkan "Angela, you better sleep now!" desis Angela kesal merutuki dirinya sendiri yang kini menghabiskan malamnya untuk terus memikirkan bosnya yang tampan nan panas itu seolah tanpa lelah.  Angela memejamkan matanya, bersiap untuk menjemput mimpi. Dia harus memiliki tenaga yang berkali-kali lipat lebih untuk menghadapi Aldrich Spanos yang berhasil membuat perasaannya bercampur aduk tanpa kejelasan.  Hari-harinya pasti akan sangat melelahkan sekaligus menyenangkan mulai dari sekarang. Mungkin harapannya terlalu tinggi, namun Angela yakin itu.  *** Sementara ditempat yang berbeda, dilantai paling atas gedung apartemen MARC Residence, apartemen bintang lima terbaik milik pribadi Aldrich Spanos. Pria itu duduk dengan senyuman manisnya, menatap lembar terakhir dari lembar surat perjanjian yang Angela ketik dan salin untuknya dalam empat rangkap.  Untuk si bodoh Aldrich Spanos yang menyebalkan! Cepat kembali bodoh, aku sangat lapar! >"Aku akan membuatmu menjilat ludah mu sendiri." "Begitu kah?" tanya Aldrich dengan senyuman jahilnya.  Dirinya kini terlihat seperti i***t uang sangat senang tertawa sendirian tanpa alasan. Tidak, alasannya sudah sangat jelas. Angela yang bodoh dan menyebalkan membuatnya merasa sangat senang. Seperti mendapatkan sebuah mainan baru dari ayahnya.  Aldrich memilih mengemasi berkas-berkas itu dan semua perlengkapan kerjanya, besok dia akan sangat sibuk untuk memulai mengikuti lelang proyek terbaru agar dapat mengembalikan kondisi MC Company. Baik itu dari segi finansial dan membelikan nama baik perusahaan itu, agar para investor tidak memiliki trauma untuk menginvestasikan dana mereka terhadap proyek-pembangunan yang MC Company ambil.  "Ah, si bodoh itu memang selalu senang membuat masalah." ucap Aldrich berdecak kesal, lalu kembali tersenyum mengingat dia memiliki mainan yang akan menghiburnya saat penat nanti.  Angela Sharon, sekretaris seksi yang senang menggodanya dan mudah memerah kala digoda. Aldrich sangat menyukai mainan seperti itu. Jelas dia tak akan kalah pada w*************a seperti Angela.  Dengan senyuman lebar, Aldrich memejamkan matanya, ingin segera menyambut hari yang baru dan menyaksikan Angela yang berusaha keras untuk menggodanya. Semua itu terasa sangat menyenangkan.... *** Keesokan harinya...  Tuk..tuk! "Baiklah rapat pengaturan strategi dijeda untuk jam makan siang. Kita akan lanjutkan pukul dua siang hari ini. Tidak ada kata terlambat." ucap Aldrich berjalan meninggalkan ruangan rapat tersebut.  "Ya Presdir!"  Angela tersenyum membawa rangkuman rapat dan berkas-berkas jadwal penting kedalam pelukannya. Berjalan dengan cepat mengikuti langkah Aldrich Spanos bos nya.  "Tidak ada kata terlambat..." ucap Angela membuat Aldrich menarik sudut bibirnya  "Ya, Angela. Tidak ada terlambat dan itu berlaku untuk mu."  Angela tersenyum sinis, "Itu juga harus berlaku untuk dirimu sendiri, tuan. Kau jangan sampai terlambat kembali ke kantor hingga pukul empat." ucap Angela sarkas.  "Oh ya? Ternyata kau adalah wanita yang senang menyimpan dendam. Aku sudah meminta maaf untuk kemarin. Jadi berhenti untuk mengungkitnya." "Opss!" Angela menutup mulutnya sendiri, "Apa aku membuatmu marah?" tanya Angela berkedip dengan tampang sok innocent miliknya.  Saat berpas-pasan di depan lift, keduanya pun menghentikan langkahnya. Angela menatap Aldrich penuh selidik.  Tring!  Bunyi lift membuat pintu besi itu terbuka perlahan, Angela berjalan memasuki lift tersebut tanpa mempedulikan Aldrich yang turut masuk.  "Perlu kau tahu, istriku sudah kembali ke Texas. Jadi kami tidak ada agenda makan siang bersama diluar..." bisik Aldrich membuat Angela mengerutkan dahinya.  Lisa Stelle, super model ternama itu bukankah berasal dari Texas?  "Apakah kau masih membiarkan istrimu tinggal bersama orangtuanya?" tanya Angela membuat Aldrich mengulum senyum.  "Kau ini benar-benar sangat penasaran dengan kehidupan pribadi ku, eoh?"  Angela otomatis menggelengkan kepalanya, "Tentu saja tidak! Aku hanya penasaran ternyata pria yang sudah sangat sukses sepertimu tidak mampu membelikan rumah untuk istrimu..." Aldrich terkekeh geli, "Kau ini ternyata sangat ingin tahu tentang kehidupan orang lain. Tidak boleh seperti itu Angela, tidak baik untuk kesehatan ginjal mu..."  Angela memukul lengan Aldrich, "Apa hubungannya dengan ginjal?!" bentaknya kesal dan terkejut saat Aldrich mengecup ceruk lehernya.  "Saat kau sedang marah-marah, fungsi ginjal mu akan melambat..." "Sok tahu!"  "Ya aku tahu itu." ucap Aldrich terkekeh geli.  Angela mendelik kesal, "Dasar pria m***m, kau benar-benar terlihat sangat senang menggoda ku." "Oh Angela, bukankah kau yang sejak rapat tadi terus melemparkan tatapan lapar pada b****g ku?"  Angela tersenyum dan menghimpit tubuh Aldrich, mendongakkan kepalanya dan berjinjit, menatap pria itu dengan berani. "Ya, aku ingin mencubit b****g pria nakal sepertimu..." ucapnya gemas seraya mencubit b****g Aldrich.  Aldrich tersenyum mengecup bibir Angela sekilas, "Kau tahu gadis kecil, kau terlihat mungil dan menggemaskan tanpa high-heels mu..."  Wajah Angela sontak memerah seiring dengan dentingan lift, wanita itu meninggalkan Aldrich yang ingin terbahak, namun pria itu sadar diri bahwa dia harus menahan tawanya. - " Ms. Angela, aku sudah meletakkan makan siang mu dan Mr. Spanos di meja mu. Oh ya, ada buket bunga tulip merah untukmu. Seorang pengagum kembali memperhatikan mu..." ucap Office girl itu membuat Angela tersenyum manis.  "Terima kasih, Yohana..." ucap Angela ramah.  "Selamat siang, Presdir!" teriak wanita itu membuat Angela berjalan dengan cepat menuju meja kerjanya.  "Cepat buka kan pintu ruangan kerja mu." ucap Angela ketus dengan nampan ditangannya tanpa menatap kepada orang yang dia maksud.  "Kau berbicara dengan ku?" tanya Aldrich kembali memasang wajah bodoh nya.  "Tidak, aku berbicara kepada kenop pintu. Aish bahkan kau mengambil kunci cadangan ruangan ini dariku. Ray dulu bahkan memegangkan buku cek nya padaku..." keluh Angela kesal.  Aldrich tersenyum sinis seraya membuka pintunya, "Itulah mengapa aku tak ingin termakan rayuan wanita sepertimu. Karena hidupku sangat menjunjung tinggi apa itu yang dinamakan privasi."  "Oh ya? Aku tidak bertanya padamu. Cepat buka kan pintunya. Nampan ini berat dan aku juga harus makan siang!" bentak Angela membuat Aldrich langsung membuka pintu ruangannya.  Angela masuk dengan menggerutu kesal, "Dasar menyebalkan.!" ucapnya seraya meletakkan nampan tersebut di meja kopi ruangan CEO tersebut.  Angela keluar dan membelak saat Aldrich dengan lancang melihat surat yang terselip di buket bunga tulip merah untuknya.  "Letakkan kembali bunga ku, Spanos?!" bentak Angela membuat Aldrich menatap wanita itu dan membawa bunga tersebut masuk keruangan nya.  "Aldrich Spanos!"  "Berhenti berteriak dan bawa makanan mu kemari. Kita makan siang bersama." perintah Aldrich membuat Angela membawa nampan yang berisi makan siangnya masuk kedalam ruangan Aldrich.  Meletakkan nampan itu di meja, "Berikan buket bunga dan surat untuk ku Aldrich!" bentak Angela hendak mengambilnya, namun Aldrich menjauhkan dari jangkauan nya.  "Teruntuk A. S. Selamat atas pekerjaan baru mu. Jika tulip merah adalah simbol pernyataan cinta, tapi bunga ini aku kirimkan untuk melihatnya selaras dengan senyuman indah mu. Dari J yang selalu mengagumi mu..." ucap Aldrich berakhir memijat kepalanya.  Angela memerah malu karena surat itu jelas dari pengagum rahasianya yang selalu mengirimkan bunga untuknya sejak setahun terakhir.  "Aish... Apakah dia pikir aku penyuka, bunga?" tanya Aldrich membuat Angela membelak tak percaya.  "Bunga itu untuk ku, bukan untukmu!"  "Oh ya? Mengapa kau percaya diri sekali. Nah, aku berikan setangkai jika kau sangat menginginkannya." ucap Aldrich membuat Angela mendengus kesal.  "Itu jelas untukku, Aldrich dan aku sudah mendapatkannya sejak setahun lalu!" teriak Angela membuat Aldrich mendengus kesal.  "Makan saja makanan mu. Ini jelas untuk ku, Angela!" "Untuk ku, Aldrich! Teruntuk A. S. Angela Sharon. Jelas itu inisial nama ku!" teriak Angela kesal.  "Yeah, A. S. Aldrich Spanos. Itu juga inisial nama ku!" teriak Aldrich membuat Angela ternganga.  Ya, inisial nama mereka pun sama.  "Jadi, ini adalah bunga ku." ucap Aldrich tersenyum penuh kemenangan.  Angela mendesah lelah, "Terserah kau saja, aku lapar..." ucap Angela mulai meminum air putih sebagai pembuka agenda makan siangnya.  Aldrich pun tersenyum menang, "Pria bodoh mana yang mengirimkan bunga dengan inisial. Aku benci jika seseorang sok misterius dengan cara yang memuakkan. Aku akan membuangnya." ucapnya membuat buket bunga itu berakhir di tong sampah dengan kertas surat yang dia sobek.  "Mulai sekarang jangan izinkan siapapun memberikan ku buket bunga ini." "Tapi itu untuk ku, i***t!" teriak Angela dengan mulut penuh.  "Pokoknya aku tidak mau ada buket bunga yang masuk kemari. Baik itu di ruangan khusus CEO maupun sekretaris CEO. Ini adalah keputusan mutlak!" tegas Aldrich membuat Angelat mendesah lelah. "Baiklah, aku akan mengatakannya pada Yohana..." Aldrich tersenyum puas melihat Angela yang kalah. "A. S. Angela Sharon. Aldrich Spanos. Bukankah sangat lucu..." ucap Aldrich tertawa geli.  "Lebih baik kau makan siang, Presdir." ucap Angela kesal.  "Oh Angela, bahkan nama mu akan tetap A. S. Jika akhirannya Spanos. Hahahaha!!!"  Angela mendelik kesal, Aldrich Spanos sungguh pria sinting dengan selera humor yang aneh. Hanya karena inisial yang sama pria itu terlihat senang sekali. Dasar i***t!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN