"Kamu mau bikin Om di marahin yang punya cafe?" tanya Adrian yang lama lama geram menunggu Sishi yang sepertinya tidak puas puas menumpahkan air matanya. "Om ... aku kan lagi sedih, enggak ada empatinya sedikit pun!" jawab Sishi sewot sambil menarik selembar tissu untuk mengelap air mata dan ingusnya. "Apa kamu bilang? Om nggak punya empati? terus udah satu jam Om nemenin kamu nangis nangis di sini itu apa namanya?" jawab Adrian, Sishi yang masih sesenggukan menatapnya. "Kamu liat itu? Om bisa di marahin gara gara itu," kata Adrian sambil menunjuk lantai sekitar meja mereka yang di hiasi tissu bekas yang berserak akibat ulah Sishi, gadis itu terdiam setelah sadar akan ulahnya. Tidak ia sangka kalau tissu bekas menghapus air mata dan ingusnya sudah sebanyak itu. mendelik melihat tis

