Pintu ajaib Doraemon

2122 Kata
"Nggak, Shi, Ibu tetep nggak setuju apapun yang terjadi. Ibu tuh takut sekali kamu masuk dunia hiburan itu. Memang banyak keuntungannya tapi terlalu banyak juga hal buruk menghantui. Ibu nggak bisa," jawab Bu Eni dengan serius seolah sebuah keyakinan sudah begitu menguasai hatinya, Sishi diam mencoba berpikir jernih dan untuk mengeluarkan kata kata rayuan untuk sang ibu. Sementara mendengar apa yang ibunya katakan membuat adik adik Sishi heboh, mereka yang sudah tahu kalau Sishi begitu bermimpi untuk menjadi seorang artis sejak dahulu mengetahui ke arah mana ibunya berbicara. "Pak, maksud ibu apa? itu kertas apa?" tanya Iqbal sembari mengambil alih map berwarna biru itu dari tangan sang ayah lalu membacanya, bocah yang usianya hanya berbeda beberapa tahun saja dengan sang kakak jadi makin heboh membaca kertas itu. "Wah, Kak Sishi dapet peran di drama series? hebat banget, Kakak kita calon artis dek!" seru Iqbal pada kedua adiknya yang juga langsung berseru heboh dan melonjak lonjak gembira terutama Azka sang bungsu. "Heh! nggak ada calon artis calon artisan, ibu nggak setuju!" pekik Bu Eni membuat ketiga anaknya diam seribu bahasa, Sishi menatap sang ayah sambil menghela napas kecewa. "Tapi, Bu, kalau Kak Sishi jadi artis kan enak, jadi terkenal," kata Naura yang terlihat kecewa mendengar ucapan sang ibu. "Kak Sishi bisa banyak duit juga, Bu, buktinya artis yang di acara kuis itu bisa bagi bagi duit puluhan juta setiap hari," sambung Azka dengan polosnya, Bu Eni menghela napas gemas pada anak anaknya. "Kalian itu nggak tau apa apa, udah sana sekarang kalian masuk kamar. Tidur!" titah Bu Eni tegas. "Ya ibu, masih jam segini masa tidur, sih!" bantah Iqbal tetapi melihat kedua mata sang ibu yang melotot membuat ketiga anak itu terdiam patuh lalu memasuki kamar tanpa berkata apapun. Meskipun semua juga tahu kalau anak anak itu pasti masuk kamar bukan untuk tidur tetapi untuk mengintip dan menguping apa yang akan kedua orang tuanya dan Sishi bicarakan. "Bu, semua hal memang ada baik dan buruknya. Sishi tau kekhawatiran Ibu, tapi Sishi yakin kalau Sishi bisa jaga diri," kata sishi dengan lembut mencoba merayu sang ibu. "Shi, menjauhi sumber bahaya jauh lebih baik daripada mendekatinya. Lagi pula kamu masih sekolah, Shi. Gimana kamu bisa lulus dengan nilai terbaik kalau kamu nggak fokus belajar? Inget, Shi, lulusan terbaik dari sekolah akan di salurkan buat langsung kerja," kata Bu Eni penuh harap, "ibu sama bapak tuh mati matian cari uang buat biaya sekolah kamu, jangan sampe itu semua sia sia karena hal ini. Kamu udah kelas tiga enggak lama lagi ujian. Biayanya juga nggak sedikit, Shi." "Ibu, Sishi tau semua itu, Sishi juga nggak akan gitu aja bikin sekolah Sishi terbengkalainya. Sishi janji," jawab Sishi bersungguh sungguh, Pak Budi hanya diam mendengarkan. Lelaki itu tahu jika istri dan anak sulungnya itu sama sama keras kepala. "Bu, coba ibu pikirin deh, kalau Sishi cuma sekolah SMA terus lulus dan tempatin kerja. Paling Sishi kerja pabrik, atau di perusahaan kecil, itu juga kontraknya paling lama tiga tahun. setelah itu? tapi kalau aku bisa jadi artis kan seenggaknya aku bisa nabung buat masa depan, bisa bantu Ibu dan Bapak, bisa sekolahin adek adek juga," kata Sishi, niat baik dalam hatinya membuat kedua orang tuanya tersentuh tentu saja, tetapi sama sekali tidak mengubah apapun. "Shi, Bapak sama Ibu tau niat kamu baik, kamu juga anak yang baik dan kami percaya itu. Kami cuma khawatir sama kamu, Nak," kata Pak Budi halus, Sishi malah menatapnya kecewa karena merasa sang ayah tidak mau mendukungnya. "Shi, tiap hari Ibu tuh nonton TV, tiap hari ada aja berita buruk tentang artis, narkoba lah, penipuan lah, kekerasan lah, bahkan lagi ngetrend sekarang berita artis baru jual diri puluhan juta sama pejabat. Dunia itu terlalu buruk, Shi. Udah deh lebih baik kita hidup biasa biasa aja!" imbuh Bu Eni dengan segala ketakutan dan kekhawatirannya. "Bu, itu karena ibu cuma liat sisi buruknya aja. Hal buruk kayak gitu bukan cuma terjadi di dunia hiburan aja kok, di sekitar kita juga banyak. Tergantung niat yang ngejalaninnya aja!" jawab Sishi gemas pada cara berpikir sang ibu. "Iya, tapi kayak yang ibu bilang tadi menjauh dari hal buruk lebih baik! pokoknya ibu enggak setuju, titik!" kata Bu Eni tegas. "Bu ...." Sishi mulai mengeluarkan jurus andalannya. Merengek. "Enggak!" Satu kata yang Bu Eni ucapkan seolah mewakili semua kata untuk menjawab rengekan Sishi. "Ih ... ibu ... padahal aku udah susah susah ngerayu Om Adrian!" gerutu Sishi tanpa sadar dan Bu Eni juga Pak Budi yang mendengarnya mendelik padanya. "Nah, tuh kan! belum apa apa kamu udah ngerayu ngerayu Om-om! Apa itu maksudnya?" tanya Bu Eni dengan wajah geramnya. "Bukan, Bu, bukan ngerayu begitu maksudnya. Aku nggak ngelakuin hal buruk kok," kata Sishi tidak ingin kedua orang tuanya salah sangka, gadis itu lalu menceritakan semua perjanjiannya selama ini. Pak Budi menahan tawa kadang juga kelepasan tertawa kecil saat Sishi bercerita berbeda dengan Bu Eni yang sama sekali tidak merasa geli mendengar cerita Sishi tentang Adrian, tentu saja Sishi bercerita dengan melewatkan bagian ramuan obat kuat yang Sishi berikan pada Adrian. "Denger cerita kamu ini, Ibu jadi makin yakin buat nggak ngasih kamu ijin." Sishi menatap wajah sang ibu dengan sedih saat mendengar wanita itu kembali mengutarakan keputusannya. "Kenapa, Bu? Ibu nggak kasian sama Sishi?" tanya Sishi memelas. "Justru karena Ibu kasian sama kamu makanya ibu nggak kasih ijin! coba kamu pikir, Shi, setelah semua yang kamu lakuin sama dia tapi dia masih mau nerima kamu. Itu semua pasti ada alasan, kalau nggak dia dendam dan pengen balas kamu ya karena pengen kamu punya hutang budi dan suatu saat bakal berbuat buruk sama kamu," kata Bu Eni, Sishi spontan membelalakkan matanya. "Enggak mungkin Bu, Om Adrian baik kok!" entah mengapa tanpa sedikit pun Sishi membela Adrian, "ibu mikirnya jangan kejauhan deh." "Udah deh, kamu itu masih terlalu polos, kamu belum ngerti apa apa. Yang jelas ibu nggak akan setuju!" pungkas Bu Eni, wanita itu lalu mengambil map biru berisi berkas penting yang Sishi perlukan lalu membawanya masuk ke kamar, Sishi tidak mendapatkan apa yang terpenting untuknya, surat ijin orang tua. "Bu," panggil Sishi memelas, gadis manis itu menitikkan air matanya. "Pak ...." Sishi beralih mengiba pada sang ayah yang duduk di sebelahnya, lelaki itu tersenyum lembut. "Biar nanti Bapak coba bicara sama Ibu, ya, kita yakinin ibu pelan pelan," kata Pak Budi membuat sang putri tersenyum, setidaknya ada sebuah harapan. "Beneran, ya, Pak," Pak Budi mengangguk, "tapi jangan lama lama, Pak Krisna pasti nungguin." *** Dua hari berlalu dengan Sishi selalu merengek pada sang ibu, berusaha merayu wanita itu untuk memberinya ijin tetapi Sishi belum juga mendapatkan berita baik. Hal itu membuat sang pemilik management sedikit gelisah. "Kris, semua talent buat drama series terbaru kita udah aman kan?" tanya Adrian pada Krisna yang baru saja akan melangkah keluar dari ruangan lelaki itu, Krisna tersenyum mengetahui jika sebenarnya Adrian hanya menanyakan satu orang, bukan semua. "Maksudnya Sishi?" tanya Krisna dengan nada meledek, lelaki itu mengurungkan niatnya keluar ruangan lalu duduk di sofa, Adrian yang tengah berdiri menghadap jendela mendekatinya. "Ya ... bukan cuma dia, talent kita kan banyak," kata Adrian berusaha bersikap santai, Krisna mengulum senyum gelinya. "Oh, kalau semua sih, aman. Cuma si Shizuka Davina yang belum aman," kata Krisna santai tapi bersiap siap menerima ekspresi Adrian yang pasti di luar kebiasaan. "Hah? belum aman kenapa?" tanya Adrian dengan wajah penasaran, lelaki itu bahkan langsung duduk di depan Krisna seolah menuntut lelaki itu segera memberitahunya. "Oke, beresin semuanya, aku nggak mau semua nggak berjalan sesuai rencana," kata Krisna meniru gaya dan ucapan Adrian, "biasanya kamu cuma bilang begitu, tapi kenapa sekarang kamu malah penasaran ada masalah apa sama talent kita?" Adrian tampak tergagap mendengar pertanyaan Krisna. "Seistimewa itu kah talent kita yang satu ini?" sambung Krisna sambil menahan tawa. "Nggak lah! nggak ada yang istimewa, semua sama. Aku cuma penasaran aja, jangan bilang dia berulah lagi," jawab Adrian datar, lelaki itu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa meski tetap merasa begitu penasaran apa yang terjadi pada Sishi. "Nggak sih, dia nggak berulah, cuma menghilang," jawab Krisna enteng. "Hah? Menghilang gimana?" tanya Adrian rasa penasarannya seketika berubah menjadi khawatir, Adrian tahu jika Sishi begitu ceroboh dan khawatir sesuatu terjadi karena kecerobohannya itu. "Ya nggak tau, Yan, waktu itu dia bilang besok ke sini bawa surat ijin orang tua, tapi sampe sekarang udah dua hari dia nggak dateng," jawab Krisna apa adanya, sebenarnya dia juga penasaran mengapa gadis yang begitu berambisi seperti Sishi sampai tidak datang tepat sesuai janjinya. "Kalau lama ganti talent lain aja!" Adrian menatap Krisna yang kembali menirukan gaya dan ucapannya, "biasanya langsung ngomong gitu, kok ini malah ngalamun? mikirin apa?" Adrian menyadari dirinya memikirkan ke mana Sishi pergi, "nggak, masih ada waktu kan? kita tunggu aja dulu." "Oke," jawab Krisna singkat lelaki itu tahu kalau Adrian pasti akan mengucapkan hal itu. "Eh, tapi, Yan. kalau di pikir pikir agak aneh juga, ya. Sishi kan ngebet banget buat bisa gabung sama kita tapi kenapa dia malah ngilang gitu aja. Apa jangan jangan dia lagi ke Jepang pake pintu ajaibnya Doraemon?" kata Krisna sambil tertawa kecil, Adrian malah menatapnya tajam. Krisna yang mengira Adrian akan tertawa juga terdiam melihat ekspresi Adrian. "Nggak lucu!" sembur Adrian, Krisna tidak tahu kalau Adrian sedang mengkhawatirkan gadis itu. "Kamu udah coba telpon dia?" tanya Adrian kemudian, wajah Krisna jadi berubah bingung sekarang. "Iya, aku lupa minta nomer teleponnya," jawab Krisna sambil nyengir kuda menyembunyikan rasa bersalahnya, lelaki itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Adrian hanya berdecak kesal mendengarnya. "Makanya kerja yang bener, jangan mikirinnya tanya soal obat kuat terus!" sembur Adrian kesal. "Aku juga belum jadi tanya, Yan, malu!" jawab Krisna mencoba membela diri, Adrian semakin berdecak kesal. "Udah sana keluar! kerja!" usir Adrian sambil menatap kesal pada sang sahabat. "Iya ... iya ...." jawab Krisna sambil berlalu. Adrian menghela napas lalu menyugar rambutnya ke belakang dan menatap langit langit ruangannya, lelaki itu secepat kilat bangun dari duduknya lalu keluar ruangan. Ada sebuah tempat yang begitu ingin dia kunjungi saat ini. "cancel semua jadwal, aku ada urusan mendadak," kata Adrian pada asistennya tanpa menghentikan langkah, lelaki itu terlihat terburu buru meninggalkan kantor membuat sang asisten menatapnya heran begitu pula dengan Krisna yang masih berdiri di dekatnya sambil berbincang dengan pegawai lain. "Enak banget ya jadi, Bos! pak Adrian mau ke mana sih?" kata asisten Adrian. "Mau ke Jepang, nyari temennya Doraemon," jawab Krisna sambil tertawa geli membuat semua yang mendengarnya mengernyit heran. Benar apa yang Krisna duga, saat ini Adrian berkonsentrasi mengendarai mobilnya. Bukan ke Jepang tetapi ke sebuah sekolah menengah atas, mencari Sishi. "Pak, siomay satu," kata Adrian pada penjual siomay di dekat gerbang sekolah Sishi, merasa pernah melihat Adrian yang memberikan uang lebih padanya sang penjual siomay begitu bersemangat melayani lelaki itu. "Komplit sambel kacangnya banyak kan, Pak?" tanya penjual siomay itu, Adrian yang baru saja duduk di kursi plastik menatapnya. "Sambel kacangnya jangan banyak banyak deh Pak," jawab Adrian mengingat saat pertama kali membeli siomay dan meminta sambal kacang banyak berakhir dengan sambal itu melumuri wajah dan badannya. "Siap, Pak," jawab sang penjual siomay sambil menahan senyumnya. "Kenapa senyum senyum, Pak?" tanya Adrian membuat lelaki penjual siomay itu takut. "Nggak, Pak, nggak apa apa," jawab lelaki itu sambil memberikan sepiring siomay lengkap untuk Adrian. Adrian menikmati siomaynya sambil menatap gerbang, tetapi sampai siomay itu habis sekolah belum juga bubar. Barulah saat Adrian membayar gerbang itu terbuka, lelaki itu awas menatap semua murid yang keluar tetapi tidak juga melihat Sishi. "Permisi, dek, kamu kenal Sishi?" tanya Adrian pada seorang siswa yang berjalan di depannya. "Enggak," jawab siswi itu, teman teman di sebelahnya juga menyatakan tidak mengenal gadis yang Adrian tanyakan. "Anak kelas berapa?" tanya seorang siswi di gerombolan itu, Adrian menggeleng tidak tahu. "Ya udah, terima kasih. maaf ganggu," kata Adrian dan mereka pergi. Saat kembali menatap ke gerbang Adrian melihat seorang gadis berjalan tanpa semangat. "Shi. Sishi," pekik Adrian memanggil gadis itu, dengan lemas Sishi menoleh ke arahnya, "sini!" Sishi mencoba tersenyum lalu melangkah ke arah Adrian karena tahu lelaki itu datang mencarinya. "Awas hati hati!" gumam Adrian saat melihat Sishi hendak menyeberang jalan keluar sekolah, masih banyak murid yang keluar dengan sepeda motornya. "Om Adrian jadi langganan siomay di sini? emang dekat kantor nggak ada penjual siomay?" tanya Sishi, nada bicaranya berbeda dengan Sishi yang Adrian kenal selama ini. tampak lemah tanpa semangat, tidak ada juga senyum ceria yang kadang menyebalkan itu. "Nggak, Om ke sini cari kamu," jawab Adrian tanpa mencari alasan seperti biasanya. "Ikut Om dulu sebentar, bisa?" tanya Adrian, Sishi hanya menganggukkan kepalanya lalu mengikuti Adrian ke mobilnya. Adrian menatap wajah gadis itu lama sebelum menjalankan mobilnya. "Kamu kenapa, Shi?" "Om Adrian ... hiks ... hiks ... hiks ...." "Aduh, Sishi jangan nangis di sini, ntar di kira Om ngapa ngapain kamu lagi!" "Hiks ... hiks ... hiks ... terus aku nangisnya di mana?" "Ya udah, kamu ikut Om aja."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN