"Emm ... bisa, bisa banget, kok," jawab Sishi cepat tidak ingin lelaki di hadapannya membaca keraguan dalam hatinya, Krisna hanya tersenyum lalu kembali menatap layar ponselnya membiarkan Sishi melanjutkan membaca kertas kertas yang di pegangnya.
Sedangkan Sishi masih saja menatap lembar yang sama merasa tidak perlu membaca poin yang lain karena poin yang sedang di bacanya adalah poin terberat. Persetujuan orang tua.
"Pak, jadi orang tua harus tanda tangan ini?" tanya Sishi sambil menunjukkan kertas persetujuan yang harus orang tuanya tanda tangani.
"Iya, kamu bawa map itu pulang lalu setelah orang tua kamu tanda tangan kamu bawa lagi ke sini. kita teken kontrak, oh iya, nanti sebelum kamu teken kontrak aku kasih tau kamu satu persyaratan lagi," jawab Krisna, Sishi hanya diam mendengarkan tetapi pikirannya hanya tetap terfokus pada surat ijin orang tuanya itu, ia tidak pedulikan satu syarat tambahan uang Krisna sebutkan.
"Tapi, Pak, aku kan udah dewasa. Udah punya KTP, masa masih perlu surat ini?" tanya Sishi dengan harap kartu tanda penduduk yang sudah ia miliki sejak lebih dari setahun lalu bisa menjadi penolongnya.
"KTP tetap nggak bisa gantiin ijin orang tua kamu, Shi, sampai seorang anak berusia dua puluh satu tahun dia masih perlu pendampingan orang tuanya," jawab Krisna membuat Sishi sadar jika memang tidak ada pilihan lain selain meminta ijin kedua orang tuanya meski selama ini mereka terutama sang ibu tidak pernah mengijinkan dirinya mengikuti kesting apapun.
"Emangnya kenapa? Kamu nggak bisa minta tanda tangan orang tua kamu? Mereka di luar kota? atau luar negeri? Atau jangan jangan orang tua jamu nggak ngasih ijin kamu masuk dunia entertainment?" Sishi membelalakkan mata saat mendengar tebakan terakhir Krisna yang tepat dengan apa yang sedang di alaminya.
"Enggak, kok, Pak," sangkal Sishi cepat, "orang tua alu ada di rumah dan mereka pasti ngasih ijin, mereka pasti seneng banget kalau tau aku bisa dapet peran di drama series ini," jawab Sishi penuh semangat meski dengan sebuah kebohongan, Krisna tersenyum mendengar jawaban gadis itu.
"Ya udah, kalau begitu aku pulang dulu ya, Pak. Besok aku ke sini bawa kertas ini yang udah di tanda tangani orang tua aku," kata Sishi dengan penuh semangat, gadis itu kembali merapikan map yang ada di depannya untuk segera ia bawa pulang.
"Oke, aku tunggu," jawab Krisna singkat dengan senyum ramahnya.
"Terima kasih, Pak Krisna," pungkas Sishi yang lalu bangun dari duduknya dan langsung berjalan ke arah pintu keluar ruangan itu.
Krisna teringat kalau ada sesuatu yang ingin dia tanyakan pada Sishi hingga dia kembali memanggil gadis itu sebelum benar benar keluar dari ruangannya, "Shi."
"Iya, Pak?" jawab Sishi cepat dengan hati yang masih saja berharap kalau Krisna akan mengatakan jika ia tidak perlu meminta surat persetujuan orang tuanya.
Menatap wajah polos Sishi, niat dalam hati Krisna kembali menciut lalu berubah pikiran dalam sekali kedipan mata.
"Hati hati di jalan," kata Krisna cepat tidak sesuai dengan apa yang sudah ia rencanakan sebelumnya, Sishi hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum.
"Oh iya. Bilang terima kasihnya jangan cuma sama aku, tapi sama Adrian juga," sambung Krisna sebelum gadis itu melanjutkan langkah.
"Iya. aku emang udah rencana mau bilang terima kasih sama Om Adrian tapi tadi pas aku lewat Om Adrian enggak keliatan di ruangannya," jawab Sishi apa adanya.
"Iya, kalau sekarang Adrian lagi meeting di luar, kamu bisa bilang makasih kapan kapan. Jangan lupa gado gado, Adrian bilang gado gado yang di pesen rasanya beda sama yang kamu bawain," kata Krisna membuat Sishi mengulum senyum begitu juga dengan Krisna, lelaki itu membayangkan jika Adrian pasti akan marah marah padanya jika tahu dia memberitahu Sishi tentang hal itu.
"Iya, besok deh sekalian aku bawa surat ijin orang tua aku," jawab Sishi ringan, senyum setuju Krisna mengantar keluarnya gadis itu dari ruangannya.
Gadis itu menghela napas berat setelah keluar dari ruangan Krisna tiba tiba kepalanya terasa berdenyut memikirkan bagaimana caranya mendapatkan tanda tangan orang tuanya pada surat persetujuan itu.
Sedangkan di tempat lain, Adrian baru saja selesai dengan meetingnya dengan seorang produser film ternama di sebuah restoran.
Lelaki itu baru sempat membuka ponselnya setelah merasakan benda itu bergetar beberapa kali saat dirinya sedang meeting tadi, Adrian mendapat beberapa pesan tetapi yang paling mencuri perhatiannya adalah pesan yang Krisna kirim. Entah mengapa sejak keluar kantor tadi Adrian ingin sekali mendapatkan kabar dari Krisna apakah Sishi sudah datang atau belum.
Baru saja keluar dari private room tempatnya meeting Adrian kembali duduk di sebuah bangku di restoran itu, ia ingin lebih berkonsentrasi membaca pesan pesan yang masuk ponselnya, terutama pesan dari Krisna.
"Hot capuccino satu," kata Adrian pada seorang pramusaji yang mendekat bahkan sebelum pemuda itu menawarkan.
Adrian kembali fokus pada layar ponselnya dan membuka pesan yang Krisna kirim.
[Benerkan aku bilang dia manis]
tulisan yang Adrian baca di bawah sebuah foto, lelaki itu lalu menyentuh foto itu hingga membesar memenuhi layar ponselnya. Tampak Sishi tengah tersenyum membaca sebuah kertas yang ada di tangannya, rupanya Krisna diam diam memotret Sishi dan langsung mengirimkannya pada Adrian tadi.
[Dateng juga itu anak]
Balas Adrian singkat, Krisna tidak langsung membalas pesan itu hingga yang Adrian lakukan adalah kembali membuka foto Sishi. Tanpa sadar Adrian tersenyum menatapnya.
"Terima kasih," ucap Adrian pada pramusaji yang mengantarkan kopi pesanannya.
[Iya. dia kelihatan happy banget.]
[Jadi tambah manis kalau senyum bahagia gitu]
Balas Krisna lalu detik kemudian Krisna mengirim foto Sishi yang tengah tersenyum lebar, Adrian jadi ikut tersenyum melihatnya.
[Inget istri di rumah!]
Balas Adrian cepat karena sedari tadi Krisna terus memuji muji Sishi.
[Istri?]
[Emang istri kamu pernah di rumah?]
Adrian berdecak kesal membaca pesan balasan Krisna, ia yakin temannya itu tengah tertawa mengejeknya sekarang.
[Bukan istri aku, istri kamu]
[Dari tadi kan kamu yang muji muji Sishi terus]
Balas Adrian, lelaki itu lalu menyeruput hot cappucinonya dari cangkir berwarna coklat bertepi warna emas yang ada di atas meja, Adrian kembali menyadarkan punggung dengan santai sebelum membaca pesan balasan Adrian.
Ternyata Krisna hanya mengirimkan sebuah emoticon wajah dengan jari di bibirnya, simbol permintaan diam tidak membocorkan sebuah rahasia.
[Gimana tadi? Sishi bilang apa?]
Tanya Adrian penasaran.
[Bilang terima kasih]
Balas Krisna singkat padahal ia tahu bukan sekedar itu yang ingin Adrian ketahui.
[Dia bilang besok ke sini lagi bawa surat ijin orang tua]
Adrian tersenyum lebar membaca pesan yang Krisna kirimkan beberapa detik berselang.
[Oke]
Balas Adrian singkat.
[Tenang, dia nggak akan deket deket kamu kok]
[Sesuai syarat yang kamu mau]
Adrian tidak lagi membalas pesan Krisna, entah mengapa perasaannya begitu aneh saat membaca pesan itu tanpa Adrian ketahui sang sahabat mengetik pesan itu sambil terkekeh geli.
***
Berulang kali Sishi berusaha menirukan tanda tangan kedua orang tuanya di atas bukunya tetapi tetap saja tidak bisa hingga gadis itu terlihat frustasi dan mengacak rambutnya dengan kasar.
"Enggak ada yang mirip sih ... kenapa coba ibu sama bapak bikin tanda tangan susah begini!" gerutu Sishi sambil menutup bukunya lalu menatap map berwarna biru yang tergeletak di atas meja belajar, gadis itu menghela napas putus asa.
"Tapi ... kalau aku palsuin tanda tangan ibu atau bapak dan mereka nggak tau aku jadi artis, terus aku syuting sampe malem atau sampe pagi gimana?" gumam Sishi yang tiba tiba berubah pikiran seolah mendapat pencerahan dalam segala kebuntuan, tetapi pencerahan itu justru malah membuat dirinya semakin pusing.
"Nggak ada cara lain, aku emang harus jujur dan dapetin persetujuan ibu sama bapak gimana pun caranya!" Dengan tekad yang membara Sishi bangun dari duduknya lalu mengambil map biru itu, bukan membawa map itu keluar tapi menaruhnya di atas lemari agar tidak di ambil oleh Naura.
Sishi keluar kamar dengan wajah cerianya seperti biasa, ia melihat dari jendela kalau sang ibu berada di warung, warung sederhana yang Hanya berupa meja dan lemari kecil di teras.
"Bu, udah mau nutup?" tanya Sishi saat keluar dan melihat sang ibu sedang sibuk.
"Iya. udah abis, udah sore juga," jawab Bu Eni, Sishi menatap langit dan memang matahari sudah hampir tenggelam gadis itu lalu menatap sepeda motor sang ayah yang sudah ada di sisi lain teras.
"Bapak udah pulang, Bu?" tanya Sishi berbasa basi.
"Udah. lagi mandi," jawab Bu Eni tanpa menghentikan kegiatannya.
"Eh, Bu, biar Sishi aja yang beres beres. Ibu kan pasti capek seharian jualan, sana ibu istirahat aja dulu," kata Sishi sambil mengambil alih beberapa barang yang ibunya pegang, Bu Eni tidak begitu heran karena Sishi memang kerap kali membantunya saat berada di rumah.
"Ya udah, ibu mau siapin makanan aja buat bapak kamu," jawab Bu Eni dengan senyum manisnya lalu meninggalkan sang putri yang sedang membereskan meja lalu setelahnya ia membawa masuk perabotan yang kotor.
"Eh, anak bapak rajin banget," puji Pak Budi, ayah Sishi yang baru keluar dari kamar mandi dan melihat sang putri sulung sedang mencuci piring dan perabotan bekas dagangan sang ibu.
"Iya, dong, Pak," jawab Sishi bangga, sang ayah lalu meninggalkan gadis itu dengan pekerjaan yang begitu ingin dia selesaikan.
Tidak berapa lama kemudian setelah semua cucian piring selesai bahkan dapur pun sudah selesai Sishi rapikan sang ibu datang untuk memanggilnya.
"Shi, ayo makan!" ajak Bu Eni, wanita itu lalu menatap dapurnya yang sudah bersih dan sedikit melongo.
"Shi, kamu udah kerjain semuanya?" tanya Bu Eni, Sishi mengangguk cepat, "tumben, biasanya nunggu ibu, atau teriak teriak minta di bantuin adik adik kamu."
Sishi hanya nyengir kuda lalu merangkul bahu sang ibu dan mengajak wanita itu ke depan, "Sishi kan tau ibu capek, makanya Sishi kerjain sendiri," jawab Sishi, kini baru Bu Eni merasa sang putri aneh.
Mereka semua makan malam bersama di depan televisi yang menayangkan acara kuis yang mengiming imingi pesertanya hadiah ratusan juta rupiah, acara yang selalu menemani makan malam keluarga itu karena hanya pada saat makan malam dan sarapan lah mereka semua bisa berkumpul.
Obrolan hangat dan riuh canda tawa bahkan pertengkaran antara kakak beradik selalu mewarnai kebersamaan keluarga sederhana itu, berebut remote televisi dan acara yang akan mereka tonton juga menjadi hal yang biasa. ke empat kakak beradik itu baru akan berhenti berebut saat sang ibu sudah mengeluarkan jurus andalan.
Mengomel.
Itu pun hanya sesaat sebelum akhirnya suasana kembali riuh, rumah sederhana itu selalu berwarna tetapi penuh kehangatan dan cinta.
"Udah, Bu, piring kotornya biar nanti Sishi aja yang nyuci," kata Sishi pada sang ibu membuat Bu Eni dan Pak Budi bertatapan aneh.
"Asik, nanti Kak Sishi yang nyuci jadi Iqbal nggak perlu nyuci!" kata anak kedua keluarga itu gembira, tidak seperti biasanya Sishi hanya diam tidak mengomeli adiknya itu. Biasanya ketiga anak Bu Eni yang sudah besar lah yang bergantian mencuci piring setelah mereka makan, sementara si bungsu yang baru kelas satu SD belum kebagian tugas itu.
"Ibu, ibu pasti capek, biar Sishi pijitin ya," kata Sishi, tanpa menunggu jawaban sang ibu gadis itu sudah memijit kaki sang ibu.
"Tuh, kan, Pak. Ibu bulang juga apa, Sishi aneh," kata Bu Eni pada sang suami yang ada di sebelahnya.
"Paling juga kakak ada maunya!" sambar Naura, adik kedua Sishi membuat sang kakak melotot padanya, gadis kecil itu terkekeh geli.
"Enggak kok, Bu, Pak, Sishi nggak pengen yang aneh aneh. Sishi kan emang selalu rajin bantu ibu," jawab Sishi sambil terus memijit kaki sang ibu.
"Enggak pengen yang aneh aneh? Berati emang pengen sesuatu kan kamu?" tanya Bu Eni sambil menatap sang putri sulung penuh kecurigaan, Sishi hanya nyengir kuda.
"Pengen apa, Nak?" tanya Pak Budi yang memang selalu lebih lembut dari sang istri pada anak anaknya.
"Em ... tapi ibu sama Bapak janji dulu jangan marah," kata Sishi takut takut, Sang ibu malah mendelik curiga pada sang suami lalu menatapnya tajam.
"Jangan marah kenapa? jangan bilang kamu ...." Bu Eni tampak tak kuasa meneruskan ucapannya.
"Aku apa?" tanya Sishi tidak mengerti.
"Jangan bilang kamu hamil!" kata Bu Eni dengan suara tertahan karena tidak ingin anaknya yang lain mendengar, spontan Sishi dan Pak Budi melotot mendengarnya.
"Ya ampun Ibu! kok bisa bisanya ibu mikir gitu sama anaknya sendiri!" kata Sishi tidak terima.
"Ya abis belakangan ini kamu aneh, sering pergi nggak jelas sambil bawa gado gado. terus hari ini sikap kamu lebih aneh!" kata Bu Eni sambil mengeplak gemas bahu sang putri, hal itu membuat ketiga anaknya yang lain yang semula fokus pada layar televisi menatap mereka penasaran.
"Enggak lah, Bu. masa Sishi gitu, pacaran aja Sishi nggak berani," jawab Sishi, Pak Budi hanya diam mendengarkan perdebatan anak dan istrinya itu.
"Ya terus kamu mau minta apa?" tanya Pak Budi dengan lembut pada sang putri, Bu Eni dan ketiga adik Sishi menatap menunggu jawaban, Sishi jadi seperti terdakwa di sebuah persidangan.
"Minta tanda tangan ibu atau bapak buat surat persetujuan," jawab Sishi dalam sekali tarikan napas, gadis itu begitu berdebar debar mengatakan hal itu.
"Surat persetujuan buat apa? acara kemping sekolah? bayarnya berapa, kalau mahal nggak usah ikut!" jawab Bu Eni seperti biasa saat putrinya itu ada acara sekolah.
"Bukan, bukan itu!" jawab Sishi, gadis itu lalu ke kamarnya untuk mengambil map yang di tinggalkannya tadi.
Semua masih menunggu dengan rasa penasaran, rasa yang bertambah besar saat Sishi keluar dari kamar dengan sebuah map di tangannya.
"Apa itu, Kak?" tanya Azka adik bungsunya, Sishi tidak menjawab tetapi memberikan map itu pada sang ayah.
Pak Budi dan Bu Eni saling berpandangan sebelum bersama sama membaca isi map itu, adik adik Sishi sibuk mencolek colek lengan Sishi meminta kakaknya itu memberitahu.
"Apaan, sih, jangan ribet deh!" kata sishi pada adik adiknya.
"Itu apaan?" tanya Iqbal dengan suara pelan.
"Enggak bisa!" pekik Bu Eni membuat keempat anaknya yang sedang saling berbisik terperanjat kaget.
"Kenapa, Bu? ini kesempatan emas, cuma nunggu tanda tangan ibu aja," kata Sishi memelas.
"Pokoknya ibu nggak setuju!"
"Jangan gitu dong, Bu, please ...."
Pertentangan sang ibu dan sang kakak pertama membuat ketiga anak yang lain saling pandang tidak mengerti.