Sishi menatap seorang gadis yang berlari memasuki kelas beberapa saat setelah bel berhenti berbunyi, tidak seperti biasanya gadis berambut lurus teman sekolah bahkan sebangkunya itu datang terlambat hingga ia harus berlari berkejaran dengan waktu sebelum guru yang akan mengajar mereka pagi ini masuk kelas.
Benar saja, belum sempat Dini menempelkan bokongnya pada kursi seorang guru bertubuh gempal memasuki kelas, Dini langsung duduk sambil mengatur napasnya yang masih tersengal sengal.
"Tumben telat?" tanya Sishi setengah berbisik.
"Motor aku mogok, nggak mau nyala akhirnya aku ke sini naik angkot mana nungguin angkotnya lama!" jawab Dini juga sambil berbisik bisik, Sishi hanya membulatkan bibirnya sambil memperhatikan sang guru yang sedang menjelaskan tugas apa yang harus mereka kerjakan.
"Eh, gimana kemaren? Om Adrian mau apa?" tanya Dini, gadis itu benar benar tidak bisa menahan rasa penasarannya, apalagi saat melihat Sishi tersenyum sempringah mendapatkan pertanyaan darinya.
"Ntar aja ceritanya, Pak Efendi galak," sahut Sishi sambil membuka tas untuk mengambil buku tulisnya, akan tetapi karena hal itu Dini malah semakin penasaran karena melihat benda tak biasa yang ada di dalam tas sang sahabat.
"Kamu mau ke mana bawa baju ganti segala?" tanya Dini lagi, melihat Pak Efendi melirik ke arah mereka Sishi menaruh telunjuk di bibirnya lalu berdesis meminta Dini untuk diam.
"Dini, Sishi kalau mau ngobrol silakan di luar!" kata guru matematika itu dengan tegas, Dini menatap lelaki itu dengan begitu segan.
"Iya, Pak, maaf. Kita nggak ngobrol lagi," jawab Dini lalu mengambil bukunya untuk mengerjakan tugas, Sishi hanya mengulum senyum mengetahui gadis di sebelahnya itu tidak akan bisa konsentrasi mengerjakan tugas karena rasa penasarannya.
"Ah ... akhirnya ...." lenguh Dini setelah jam pelajaran pertama selesai, sedangkan Sishi hanya tersenyum sambil merentangkan kedua tangan untuk meregangkan otot otot tubuhnya. Teman teman sekelas mereka riuh berhamburan keluar kelas tetapi sepertinya kedua gadis itu tidak memiliki niat yang sama dengan mereka, Sishi hanya mengambil botol air minum dari dalam tas untuk menghilangkan rasa hausnya.
"Shi, buruan cerita!" kata Dini tiba tiba membuat Sishi terkejut bahkan sampai tersedak minuman dan batuk batuk.
"Eh, Shi, kamu nggak apa apa kan?" tanya Dini sambil mengusap usap punggung Sishi yang masih terbatuk batuk.
"Kamu nih! kamu aku mati keselek gimana?" sembur Sishi pada sang sahabat.
"Ya elah, mana ada sih orang mati keselek air," jawab Dini sambil nyengir kuda, gadis itu memang merasa bersalah.
"Ya bisa aja, kalau aku mati sebelum jadi artis aku bakal ngehantuin kamu ya!" ancam Sishi tetapi kata kata itu malah membuat Dini tertawa geli.
"Ya maaf, abis aku penasaran banget. Ayo dong cerita gimana kemaren?" kata Dini, Sishi hanya mencibirkan bibirnya, "ayo dong cerita, buruan cerita!"
Dini menggoyang goyangkan lengan Sishi memaksa gadis itu untuk bercerita, sedangkan Sishi menghela napas panjang entah harus tertawa atau merasa bersalah saat menceritakan tragedi siomay kemarin.
"Tapi emang bener sih, kamu emang nggak pernah bener kalau jalan!" sahut Dini usai Sishi menceritakan apa yang terjadi di atas trotoar dekat gerbang sekolah mereka itu kemarin, Sishi yang kesal malah mencubit gemas lengan Dini yang spontan mengaduh.
"Berarti Om Adrian tuh baik juga ya, buktinya dia tetep nyuruh kamu ke kantornya walaupun udah kamu bikin apes terus," sambung Dini, Sishi menganggukkan kepala.
"Iya, Om Adrian emang baik cuma kayaknya kami tuh nggak cocok deket deket, nggak tau deh itu orang zodiaknya apa," jawab Sishi sambil tertawa.
"Ya elah, hari gini percaya zodiak!" sembur Dini.
"Nggak apa apa, biar ada yang di salahin. soalnya aku atau Om Adrian pasti nggak ada yang mau di anggep salah kan," jawab Sishi sambil terkekeh geli.
"Ye ... yang salah tuh kamu, ceroboh!" kata Dini, tentu saja Sishi mendelik mendengarnya.
"Kok kamu jadi kayak Om Adrian sih ngatain aku ceroboh," omel Sishi tidak terima.
"Tapi ... kalau di pikir pikir emang aneh sih, aku enggak pernah punya masalah sama orang lain. Tapi sama Om Adrian ada aja masalahnya, tapi nggak apa apa deh, yang penting aku bisa masuk managementnya," sambung Sishi dengan pandangan menerawang, gadis itu menyangga dagu dengan tangan yang bertumpu di atas meja.
"Iya, unik juga ya jalan kamu buat masuk managementnya Om Adrian," sahut Dini sambil terkekeh geli.
"Katanya banyak jalan menuju Roma. mungkin jalan aku memang harus melewati kesialan ini," jawab Sishi ringan.
"Bukan kesialan ini, tapi bikin Om Adrian sial tepatnya," sahut Dini cepat, kedua gadis itu lalu tertawa geli bersama.
Sedangkan di tempat yang akan Sishi tuju nanti siang sepulang sekolah, Adrian tengah duduk di sofa ruangannya dengan perasaan tidak sabar, bukan hanya perasaannya sebenarnya yang tidak sabar tetapi perutnya yang lapar juga merasa tidak sabar.
Baru saja beberapa menit yang lalu lelaki itu meminta tolong pada Krisna untuk mengambil pesanan makanan yang di titipkan driver ojek online pada resepsionis di lobi, tetapi Adrian sudah begitu tidak sabar.
"Lama banget, sih!" Adrian menyambut lelaki yang baru saja memasuki ruangannya dengan pertanyaan itu terang saja Krisna melotot tidak terima.
"Kalau kamu bisa lebih cepet kamu aja ambil sendiri!" sahut Krisna sewot lelaki itu lalu duduk di sebelah sang sahabat lalu membuka kantong plastik yang di pegangnya, Adrian terlihat begitu tidak sabar menunggu.
Dua porsi gado gado dan dua botol air mineral yang Adrian pesan di warung gado gado Bu Eni yang Sishi beritahu kemarin sudah tersaji di atas meja.
"Yan, nggak takut sakit perut kamu makan gado gado terus? Ini juga buat kamu sarapan, Yan, walaupun Sekarang udah siang," kata Krisna penuh kepedulian pada sahabatnya itu, Adrian yang sedang membuka kotak sterofoam berisi gado gado sama sekali tidak mempedulikan ucapannya.
"Aku tuh prihatin sama kamu, Yan, udah punya istri tapi masih aja terlunta lunta nggak ada yang ngurusin kayak bujangan. Lebih parah lagi! Dulu sebelum nikah malah ada Mama kamu yang ngurusin, setelah nikah malah kamu tambah sengsara, sarapan pagi aja nggak pernah," kata Krisna menyayangkan nasib sang sahabat.
"Udah deh nggak usah banyak omong! Mau di makan nggak tuh gado gado kalau nggak buat aku aja dua duanya," sembur Adrian yang sama sekali tidak mau ambil pusing dengan ucapan Krisna.
"Aku cuma khawatir sama kamu, Yan," sahut Krisna kesal membuat Adrian urung lagi menyuap gado gadonya.
"Aku udah makan roti tadi, cerewet kayak Mama nih lama lama!" omel Adrian lalu menyuap gado gado itu untuk pertama kalinya dan mengunyah dalam diam.
"Aku tuh lebih khawatir dari Mama kamu karena seenggaknya aku lebih tau tentang kamu daripada Mama kamu!" jawab Krisna sebal, Adrian malah menatapnya begitu serius.
"Kris, coba kamu makan gado gado itu," perintah Adrian membuat Krisna bertambah kesal karena lelaki di sebelahnya itu sama sekali tidak mempedulikan semua ucapannya.
"Kenapa sih?" tanya Krisna ringan lalu menuruti perintah Adrian menyuap lalu mengunyah makanan yang Adrian belikan untuknya.
"Rasanya beda, kamu nggak ngerasain?" kata Adrian yang lalu mengaduk kembali makanan yang di pegangnya lalu memakannya untuk memastikan ia tidak salah merasakan.
"Beda gimana? enggak, ini enak!" jawab Krisna menikmati makanannya.
"Rasanya beda sama yang biasa Sishi bawain," Jawab Adrian sambil memejamkan kedua matanya untuk meresapi rasa gado gado itu dan membayangkan gado gado yang biasa Sishi berikan, "iya ini juga enak, tapi beda sama yang biasanya."
"Masa sih?" Krisna merasa heran lalu menyendok gado gado yang ada di tangan Adrian dan mencicipinya, Krisna mengerutkan kening merasa sama sekali tidak merasakan perbedaan.
"Beda, Kris!" kata Adrian tegas dengan keyakinannya.
"Emang kamu beli di mana? beda kali yang jual, tapi kalau kata aku sih sama aja!" sahut Krisna yang tidak mau ambil pusing dengan ucapan Adrian, ia kembali menikmati makanan di tangannya.
"Beli di warung yang Sishi kasih tau, warung gado gado Bu Eni," jawab Adrian yakin.
"Tapi dari bungkusan dan plastiknya yang sama aja, Yan," kata Krisna sambil membolak balikkan bungkus gado gado yang di pegangnya, "eh ngomong ngomong kamu tanya juga nggak sama Sishi dia beli obat kuat di mana?"
Adrian nyaris tersedak mendengar pertanyaan konyol Krisna.
"Ya nggak lah, buat apa aku tanya begitu sama dia!" jawab Adrian cepat, meski rasanya berbeda Adrian tetap menghabiskan gado gado miliknya. Lapar.
"Ya buat aku, kenapa nggak sekalian kamu tanyain," sahut Krisna sambil menatap sang sahabat kecewa.
"Kamu tanya aja sendiri kalau dia ke sini. aku udah nyuruh dia Dateng dan ketemu sama kamu," jawab Adrian membuat Krisna mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Buat apa dia ke sini ketemu aku?" tanya Krisna keduanya mengobrol ringan sambil makan tanpa lagi meributkan rasa gado gado yang beda menurut Adrian.
"Kamu bilang dia potensial dan layak di kasih kesempatan," jawab Adrian, Krisna mengangguk kecil mengerti ke mana arah pembicaraan itu, "kita coba aja dulu kasih dia peran kecil."
"Oke," jawab Krisna singkat karena lelaki itu sudah paham betul apa yang harus dia lakukan pada Sishi.
"Ada syarat tambahan buat dia," kata Adrian seperti seseorang yang baru saja teringat sesuatu membuat Krisna kembali menatapnya bingung.
"Syarat apa?" tanya Krisna penasaran, pasalnya selama ini tidak ada syarat tambahan apapun yang Adrian berikan untuk para talent baru.
"Bilang sama dia jangan deket deket aku, bawa sial terus itu bocah!" jawab Adrian kesal teringat tragedi siomay kemarin, mendengar ucapan Adrian, Krisna malah tertawa renyah.
"Yakin?" tanya Krisna, Adrian malah menatapnya sebal, "enggak pengen tau kenapa rasa gado gadonya beda?"
Adrian malah berdecak kecil, "paling pedagangnya lupa ngasih micin!"
Krisna malah terkekeh geli, lelaki itu tahu kalau Adrian tidak memiliki keniatan hati untuk tidak bertemu dengan Sishi lagi.
"Oke, aku cantumin itu di kontrak nanti," jawab Krisna ringan, seperti yang dia duga Adrian malah melotot mendengarnya.
"Kenapa lagi?" tanya Krisna melihat Adrian mendelik.
"Nggak apa apa, lanjutin aja!" jawab Adrian ringan, Krisna menahan tawa melihat ekspresi Adrian. Lain di bibir lain di hati.
Seperti yang sudah Sishi katakan, hari ini dirinya pulang cepat dari sekolah hingga bisa ke kantor Adrian untuk menemui Krisna. Dini dengan setia menunggunya di depan toilet karena Sishi sedang berganti pakaian dengan baju ganti yang dia bawa dari rumah tadi.
"Gimana?" tanya Sishi yang keluar dari toilet dengan mengenakan celana jeans dan t-shirt yang tidak terlalu ketat di tubuhnya.
"Gimana apanya? ya biasa aja, biasanya juga kamu pake baju begini, kecuali sekarang kamu keluar pake gaun baru keliatan beda!" sahut Dini, Sishi malah merengut mendengarnya lalu mendekat ke cermin yang ada di dinding untuk merapikan rambutnya.
"Din, menurut kamu bagusan di iket atau di gerai?" Sishi meminta pendapat Dini untuk gaya rambutnya.
"Terserah kamu, Sishi, senyaman nya aja. di iket atau di gerai kamu tetep cantik kok!" jawab Dini dengan begitu sabar, Sishi tersenyum lebar mendengarnya.
"Nah, gitu dong!" kata Sishi sambil mencubit gemas pipi sang sahabat lalu menguncir kuda rambut panjangnya.
"Udah, yuk, buruan entar telat loh!" ajak Dini pada Sishi yang masih betah bercermin, entah kenapa rasanya hari ini berbeda dengan hari hari sebelumnya dirinya begitu ingin terlihat sempurna.
"Yuk," jawab Sishi sembari meninggalkan cermin, pandangan terakhirnya dengan pantulan dirinya di cermin tiba tiba membuat sebuah pikiran aneh terbesit.
"Aku bakalan ketemu Om Adrian nggak, ya, nanti?"
***
Sishi turun dari angkot yang dia naiki, gadis itu menatap gedung tinggi di hadapannya lalu menarik napas dalam dalam lalu menghembuskan pelan seolah sedang mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi nanti, gadis itu memang tidak tahu apa yang akan terjadi karena Adrian tidak mengatakan untuk apa dirinya datang.
Yang Sishi lakukan selanjutnya adalah ke kantor Adrian dan mengatakan jika dirinya di minta untuk menemui Krisna, gadis itu berjalan mencari ruangan Krisna yang di tunjukan oleh sang resepsionis.
Ternyata ruangan yang resepsionis itu tunjukkan membuatnya melewati ruangan Adrian untuk mencapainya, gadis itu melongok singkat dan tidak melihat lelaki itu di ruangannya. Entah mengapa hatinya merasa kecewa.
"Selamat siang, Pak Krisna. Aku di minta Om Adrian ke sini buat ketemu sama Bapak," kata Sishi begitu memasuki ruangan Krisna.
Berbeda dengan saat berhadapan dengan Adrian, Sishi begitu canggung setiap berhadapan dengan Krisna, mungkin karena pertemuan pertama mereka yang berbeda. pertemuan pertama Sishi dengan Krisna adalah pertemuan formal tentang pekerjaan sedangkan pertemuannya dengan Adrian adalah ... yah, begitulah ....
"Iya, silahkan duduk," kata Krisna, Sishi tersenyum manis lalu duduk di kursi yang ada di depan meja Krisna, "kamu tau kenapa kamu di minta ke sini?"
Sishi mengangguk pelan, "enggak tau, Pak."
"Ada sebuah peran yang cocok buat kamu, kami rasa enggak ada salahnya kasih kamu kesempatan buat itu," kata Krisna santai sontak Sishi tersenyum begitu bahagia.
"Beneran, Pak?" tanya Sishi tidak percaya, tetapi Krisna menganggukkan kepalanya yakin, lelaki itu lalu mengambil sebuah map dari laci.
"Ini skenario dan scriptnya, ada jadwal syuting kamu juga, tapi yang paling penting yang harus kamu pelajari adalah kontrak dan segala persyaratannya," kata Krisna sambil mengulurkan map itu pada Sishi, "silahkan kamu baca."
Tangan Sishi sampai sedikit gemetar karena kebahagiaan yang ada dalam hatinya saat menerima map yang Krisna berikan.
"Aku baca dulu sebelum tanda tangan, ya, Pak," kata Sishi menuruti apa yang Krisna katakan padahal gadis itu sudah sangat yakin untuk menandatangani kontrak itu tanpa harus membacanya, Krisna menganggukkan kepala memberi waktu pada Sishi untuk membaca isi kontrak itu sambil memainkan ponselnya.
Krisna masih fokus pada layar ponselnya hingga tidak memperhatikan kedua mata Sishi membola dengan wajah memucat saat membaca satu persyaratan yang tertulis di kontrak itu.
"Pak, ini ... persyaratan ini, harus?"
"Iya. kenapa? Kamu nggak bisa?"