Kesempatan kedua

1900 Kata
"Om, maafin aku, ya," pinta Sishi dengan wajah memelas, gadis itu menatap Adrian takut takut dengan alis tebal sedikit mengerut. Adrian tidak menjawab, hanya sebuah decakan kesal keluar dari mulutnya membuat Sishi yakin jika Adrian benar benar begitu marah padanya. Ya iyalah, siapa coba yang enggak akan marah kalau jadi Adrian. "Ini, Pak," kata Adrian pada penjual siomay yang berdiri tidak jauh dari lelaki itu dan gerobaknya Adrian memberikan piring yang isinya sudah berhamburan berantakan bahkan sendok yang ada di piring itu juga tidak ia ketahui berada di mana, dari wajahnya Adrian tahu kalau lelaki itu sedang sakit perut menahan tawa tetapi penjual siomay itu cukup tau etika untuk tidak menertawakannya, "ini uangnya. Kembaliannya ambil aja." "Iya, Pak, terima kasih," ujar penjual Siomay itu, seketika wajahnya berubah dari menahan tawa menjadi tersenyum begitu lebar menatap yang pecahan lima puluh ribuan yang Adrian berikan. Adrian tidak menjawab ucapan terima kasih sang penjual siomay tetapi langsung mengalihkan pandangan pada Sishi yang masih berdiri di tempatnya, gadis itu ketakutan menatap mata tajam Adrian yang menatapnya sambil melangkah. Sishi bahkan nyaris terpekik saat Adrian dengan cepat menggenggam pergelangan tangannya tetapi kembali membisu saat melihat Adrian mendelik padanya, wajah lelaki itu masih di hiasi bumbu kacang yang membentuk titik titik tetapi menjadi rata karena ulah tangan terampil Sishi tadi. "Apa? kamu mau bikin Om di bilang penculik juga dengan teriak teriak?" tanya Adrian saat menyadari Sishi hampir terpekik, gadis itu menggeleng cepat. "Ayo ikut!" titah Adrian tegas, tentu saja Sishi tidak ada pilihan lain selain menurut karena Adrian menuntun langkahnya menuju pintu mobilnya lalu meminta gadis itu masuk dan menutup kembali pintu mobilnya cukup keras, lelaki itu memutari mobilnya menuju pintu samping kemudi setelah memastikan Sishi tidak akan pergi kemana mana. "Sial! Kamu yang nuduh Om pembawa sial tapi nyatanya kamu yang selalu bikin Om sial," omel Adrian saat memasuki mobil lalu memasang sabuk pengaman dan menjalankan mobilnya. Sishi tidak berani menjawab perkataan Adrian karena tahu lelaki itu masih sangat emosi padanya, Sishi bahkan tidak berani bertanya ke mana Adrian akan membawanya, gadis itu hanya menatap keheranan saat Adrian kembali menghentikan mobilnya padahal mereka masih berada di lingkungan sekolah, hanya saja tepi jalanan itu lebih sepi dari tempat tadi. Adrian tidak mematikan mesin mobilnya lalu turun, sekarang Sishi jadi tahu lelaki itu hanya ingin menjauh dari gerbang sekolah, gadis itu belum sempat turun saat Adrian kembali sambil membawa sesuatu di tangannya. Sishi masih diam memperhatikan setiap gerakan Adrian lalu mengalihkan pandangan saat mengetahui Adrian akan membuka bajunya, rupanya lelaki itu turun untuk mengambil baju ganti di bagasi tadi. Lelaki itu melempar asal bajunya yang terkena sambal siomay tadi ke kursi belakang barulah saat itu Sishi kembali menatapnya. "Maaf, ya, Om. aku ceroboh lagi, padahal aku udah janji nggak akan ceroboh lagi dan mikir lama sebelum bertindak," kata Sishi sambil memperhatikan Adrian yang tengah mengelap wajahnya dengan tissu basah. "Dari awal juga Om udah bilang nggak percaya sama janji kamu," jawab Adrian ringan, Sishi diam memikirkan sesuatu. "Tapi ... aku kan janji akan mikir lama tapi tadi kan aku jalan nggak pake mikir," kata Sishi yang ingin membela diri. "Emang kamu pernah mikir?" tanya Adrian geram, Sishi merengut mendengar pertanyaan Adrian itu. Sishi sedikit tersenyum setelah melihat Adrian sudah lebih rapi, lebih tampan dari saat berantakan terkena bumbu siomay tadi. "Ih, emang aku apaan nggak pernah mikir, aku loh juara kelas terus!" jawab Sishi tidak terima dengan ucapan Adrian barusan, gadis itu semakin kesal saat melihat Adrian mengernyit seolah tidak percaya dengan apa yang ia katakan. "Eh, tapi ... Om Adrian ngapain ke sini? Jangan bilang Om Adrian cuma mau makan siomay?" tanya Sishi teringat pertanyaan itu lah yang ingin dia tanyakan pertama kali tadi sebelum kecelakaan itu terjadi. Adrian mendecakkan lidahnya kembali kesal karena Sishi menyinggung soal siomay lagi. "Siomaynya juga nggak jadi di makan!" gerutu Adrian kesal. "Maaf, ya, Om," pinta Sishi lagi. "Om sengaja ke sini buat ketemu sama kamu, eh, ternyata ketemu sama kamu bener bener bikin sial!" kata Adrian ketus, Sishi menatapnya dengan dahi mengerut. Tidak lagi Sishi pedulikan omelan Adrian, sepertinya dia sudah mulai terbiasa yang gadis itu pikirkan hanyalah untuk apa Adrian sengaja datang ke sekolah hanya untuk menemui dirinya. "Om Adrian mau apa cari aku?" tanya Sishi penasaran tetapi tetap berhati hati agar Adrian tidak lagi mengomel padanya. Sejenak Adrian terdiam memikirkan jawaban yang sudah ia siapkan bahkan sejak kemarin saat dirinya berencana menemui gadis itu. "Om mau tanya soal uang yang kamu titipin sama Krisna, uang apa itu?" tanya Adrian sambil menatap gadis manis itu, Adrian sudah terlihat lebih santai lelaki itu menyandarkan punggungnya pada pintu mobil agar lebih nyaman menatap Sishi. "Uang itu? emang Pak Krisna ngomongnya apa sama Om?" Bukannya menjawab pertanyaan Adrian, Sishi malah balik bertanya. "Enggak bilang apa apa cuma bilang makasih," jawab Adrian sesuai apa yang Krisna katakan, Sishi terdiam berpikir kalau Krisna sudah melakukan sesuai permintaannya maka seharusnya semua selesai, tapi kenapa Adrian malah mencarinya. "Ya udah, itu kan uang Om Adrian yang aku pinjem waktu itu. Aku tadinya mau balikin sendiri tapi kata Mbak Mbak yang ada di kantornya Om, Om lagi rapat jadi nggak bisa di ganggu jadi aku titip sama Pak Krisna," jawab Sishi dengan gaya polosnya, Adrian menatap lekat wajah gadis itu. Ternyata dia manis juga kalau tidak dalam mode menyebalkan seperti biasanya. "Iya, Om tau. Tapi maksud Om, buat apa kamu balikin uang itu? nanti kan orang kira Om keterlaluan banget duit segitu aja minta ganti, padahal Om kasih ke kamu, enggak perlu kamu ganti," kata Adrian cepat, rupanya itulah alasan yang sudah Adrian pikirkan sejak kemarin. "Enggak, Om. Bukan Om yang keterlaluan tapi kan emang dari awal aku bilangnya utang, kalau utang itu harus di bayar bagaimana pun caranya," kata Sishi kekeh pada pendiriannya. "Lagi pula aku nggak pernah bisa sembarangan nerima pemberian orang," sambung Sishi lirih teringat dengan apa yang selalu orang tuanya ajarkan sejak kecil. "Kamu nyindir Om?" tanya Adrian dengan suara meninggi, Sishi jadi terkejut dan menatapnya. "Kok nyindir, Om? maksudnya apa nyidir, Om?" tanya Sishi tidak mengerti. "Kamu ngomong gitu buat nyindir Om karena selalu terima gado gado pemberian kamu kan?" tanya Adrian, sebenernya bukan bertanya tetapi lebih terdengar sebagai sebuah tuduhan. Sishi semakin terperangah mendengar kata kata Adrian. "Enggak, aku nggak pernah mikir gitu, aku juga ngasih Om Adrian gado gado karena aku cuma mau bilang terima kasih, sebagai ucapan terima kasih, itu aja. Kok Om malah tersinggung, sensi banget deh kayak cewek PMS aja!" kata Sishi yang malah balik mengomel. Adrian terdiam menatap Sishi yang merengut sambil melipat kedua tangannya di bawah d**a, Adrian sadar jika mungkin dirinya keterlaluan. "Jadi udah, nih, Om Adrian ke sini cuma mau tanya tentang uang itu?" tanya Sishi sambil menatap Adrian dengan mata jernihnya berharap akan ada hal lain yang ingin lelaki itu katakan, memintanya untuk ke kantor dan bergabung dengan management misalnya. "Iya," jawab Adrian singkat, Sishi hanya di menyembunyikan rasa kecewanya. "Yang penting Om udah tegasin sama kamu, ya kalau Om nggak pernah punya niat buat nagih uang itu, Om ngasih," kata Adrian lagi, Sishi menatapnya dengan bibir mengatup rapat. "Iya, dan aku juga udah meluruskan kalau aku beneran dari awal niatnya pinjem jadi aku bayar," sahut Sishi cepat. "Ya udah. lagian uangnya juga udah Om pake buat bayar siomay yang kamu tumpahin!" kata Adrian datar, "Oh iya. hampir lupa!" Sishi kembali menatap Adrian mendengar gumaman lelaki itu yang terlihat baru mengingat sesuatu yang ia lupakan. "Apa?" tanya Sishi ringan. "Kamu beli gado gadonya di mana? Krisna tanya karena dia suka banget gado gado yang kamu bawa, katanya itu gado gado terenak yang pernah dia makan," jawab Adrian menjadikan temannya sebagai tameng, Sishi mengulum senyum mendengarnya, senang karena mendengar seseorang menyukai gado gado hasil ulekan tangannya meskipun resepnya tetap resep andalan sang ibu. "Kalau Om Adrian, suka enggak gado gadonya?" tanya Sishi dengan senyum terkulum, mata gadis itu seolah menyala berkilau menatap lelaki di sebelahnya. "Ya ... suka, tapi Krisna lebih suka sampe nyuruh Om buat tanya kamu beli di mana," jawab Adrian, Sishi tersenyum semakin lebar mendengarnya. "Nama penjualnya Bu Eni. Om cari aja di aplikasi ojek online, di e-commerce warna Oren juga ada. Cari aja gado gado Bu Eni," jawab Sishi dengan bangganya menyebut warung gado gado sang ibu, tanpa Sishi sangka Adrian langsung mengambil ponselnya dan membuka aplikasi yang Sishi sebutkan tadi. "Yang ini?" tanya Adrian sambil menunjukkan gambar banner gado gado dagangan ibunya, Sishi mengangguk cepat. "Ya udah sama pulang, urusan kita udah selesai kan!" kata Adrian cepat, lelaki itu memang benar, alasan yang dia pikirkan sejak kemarin sudah ia utarakan dan merasa tidak ada lagi yang harus dia katakan. lelaki itu juga tidak tahu untuk apa lagi harus menahan Sishi bersamanya, meski melihat Sishi dalam mode tidak menyebalkan seperti sekarang cukup menyenangkan. Sishi yang merasa kecewa karena Adrian tidak meminta dirinya bergabung dengan management nya hanya terdiam membuat Adrian menatapnya. "Kenapa diem? jangan bilang kamu enggak punya Ongkos lagi?" tanya Adrian gemas. "Ih, ngg—." "Udah Om anterin kamu pulang." *** Mereka tidak banyak mengobrol sepanjang perjalanan, Adrian menyetel musik di mobilnya dan Sishi ikut bernyanyi mengikuti lirik lagu ceria itu, sesekali Adrian tersenyum melihat keceriaan gadis belia di sebelahnya itu. Adrian menghentikan mobilnya tepat di depan gang rumah Sishi dan membuat gadis itu heran menatapnya. "Om, kok Om tau ini gang rumah aku?" tanya Sishi heran, Adrian tergagap mendengar pertanyaan itu tidak mungkin dirinya menjawab kalau waktu itu dirinya mengikuti gadis itu sampai tempat ini. "Ng ... nggak. Om nggak tau, Om justru berhenti di sini buat tanya rumah kamu di mana. Waktu itu kan kamu bilang rumah kamu di daerah sini tapi nggak bilang di gang berapa," jawab Adrian cepat, Sishi membulatkan bibirnya dan mengangguk mengerti tanpa sedikit pun rasa curiga. "Oh, kebetulan banget, rumah aku di gang itu. tapi mobil nggak bisa masuk, Om sampe sini aja ngaternya," kata Sishi. "Siapa juga yang mau ngater sampe rumah," gerutu Adrian, Sishi nyengir kuda karena malu. "Makasih ya, Om tumpangannya," kata Sishi sambil bergegas turun. "Shi," panggil Adrian membuat gadis itu urung membuka pintu mobil berwarna hitam itu. "Kamu kapan ada waktu, atau libur sekolah?" tanya Adrian, Sishi sedikit berpikir. Adrian tidak tahu Sishi terdiam karena sedang mengingat jadwal atau sedang bingung mengapa Adrian menanyakan hal itu. "besok aku pulang cepat, kalau libur sekolah hari Sabtu Minggu. kenapa, Om?" Sishi kembali membetulkan posisi duduknya seperti semula sembari menunggu jawaban Adrian. "Kalau kamu ada waktu, kamu ke kantor temuin Krisna, bilang Om yang minta," kata Adrian, seketika wajah Sishi berbinar walau masih belum mengerti mengapa dia harus melakukan hal itu. "Buat apa, Om?" tanya Sishi dengan senyum merekah di wajah manisnya. "Udah kamu dateng aja, nanti Krisna yang ngasih tau," jawab Adrian singkat. "Om ngasih kesempatan aku buat masuk AD management?" tanya Sishi yang masih saja cerewet, Adrian hanya mencibirkan bibirnya sambil mengangkat bahu tanpa menggambarkan jawaban yang pasti. Namun, Sishi tetap saja tersenyum sempringah karena merasa ini adalah sebuah hal yang baik, buat apa coba Adrian memintanya datang menemui Krisna kalau bukan untuk hal itu. "Terima kasih, Om, terima kasih banyak. Aku janji akan selalu berusaha lebih baik lagi," kata Sishi, Adrian hanya tersenyum tipis mendengarnya. "Sekali lagi terima kasih Om," pungkas Sishi sebelum keluar dari mobil Adrian, lelaki itu tersenyum geli sambil menggelengkan kepala. Adrian tetap membingkai langkah ceria Sishi dengan pandangan lalu tersenyum melihat kebahagiaan gadis manis itu. "Eh! dasar anak itu!" gerutu Adrian saat dari kejauhan Adrian melihat Sishi hampir bertabrakan dengan anak kecil yang mengendarai sepeda beroda tiga. "Dasar ceroboh!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN