Terulang kembali

1956 Kata
Krisna menatap kantong plastik yang sedang di pegangnya lalu mencibirkan bibir meski merasakan aroma lezat yang menguar dari bungkusan itu rasa ingin ikut menikmati tetapi sadar itu adalah amanah yang harus dia berikan pada sang empunya, lelaki itu merasa yakin Adrian pasti mengijinkannya untuk mencicipi makanan itu nanti maka dirinya langsung berjalan menuju ruangan di mana Adrian sedang rapat sekarang. Beberapa langkah Krisna lalui hingga kini dirinya sudah berdiri tepat di depan pintu ruangan Adrian, bukan tanpa alasan dirinya tidak langsung masuk tetapi karena ia melihat bayangan beberapa orang mendekat dari daun pintu berkaca itu. Adrian dan beberapa lelaki yang baru saja meeting dengannya, Krisna tersenyum melihat mereka lalu menyalaminya. "Sudah selesai meetingnya?" tanya Krisna dengan ramah dan penuh senyuman, mereka sekedar berbasa basi ringan lalu berpisah. Adrian menghela napas lega karena meeting kali ini berjalan lancar dan mencapai hasil yang memuaskan. "Selamat, ya," kata Krisna membuat Adrian yang berdiri tegap di sebelahnya menatapnya. "Selamat buat apa?" tanya Adrian santai. "Bukan kesuksesan yang semakin hari semakin besar," jawab Krisna membuat sebuah senyuman terukir di wajah lelaki itu. "Hasil nggak akan mengkhianati usaha!" kata Adrian sambil menepuk pundak sang sahabat, sebuah senyuman ia berikan sebelum memutar badannya untuk kembali memasuki ruangan kerjanya. Krisna juga tersenyum lebar lelaki itu sungguh menjadi saksi bagaimana usaha keras Adrian hingga bisa mencapai kesuksesan seperti sekarang ini, temannya itu bahkan sampai melewatkan sebuah tahap yang sudah di lalui hampir semua temannya karena mengejar kesuksesan. Menikah. "Eh, Yan," panggil Krisna saat menyadari sebuah kantong plastik masih menggantung di tangannya saat ini, lelaki itu lalu mengikuti Adrian memasuki ruangannya. "Yan, lupa aku. ada titipan nih, buat kamu," kata Krisna setelah memasuki rungan Adrian, Adrian yang sudah berada di depan mejanya kembali memutar kepala untuk menatap sang sahabat. "Titipan apa? dari siapa?" tanya Adrian sembari menatap tangan Krisna yang menyodorkan kantong plastik padanya. "Gado gado, dari Sishi. tapi katanya cuma gado gado, nggak ada ramuan obat kuatnya," jawab Krisna sambil tertawa. "Hah, Sishi ke sini? Sekarang dia di mana?" tanya Adrian cepat sambil melangkah menjauhi meja kerjanya seolah ingin buru buru mengejar gadis itu. "Ya udah nggak ada lah! orang dari tadi, pasti dia udah jauh," kata Krisna membuat Adrian menghentikan langkahnya, lalu terdiam menyadari untuk apa dirinya berusaha mencari gadis itu. "Ini gado gadonya mau nggak?" tanya Krisna membuat Adrian langsung mendekat dan mengambil cepat kantung plastik dari tangan Krisna seperti anak kecil yang tidak ingin miliknya di rebut orang lain, hal itu membuat Krisna mengernyit heran. "Mau lah, ini enak banget tau!" jawab Adrian sembari duduk di sofa karena ingin segera menyantap gado gado itu, memang dari semua gado gado yang pernah di santapnya gado gado pemberian Sishi ini adalah yang terenak. "Oh iya, dia juga nitipin duit nih," kata Krisna sembari menaruh uang yang sedari tadi di genggamannya membuat Adrian yang tengah menyuap gado gado menggunakan sendok plastik yang ada di dalam bungkus gado gado itu menatapnya, Krisna dengan santai lalu duduk tepat di sebelah Adrian dengan sebuah misi terselubung. "Dia bilang apa sama kamu?" tanya Adrian karena dirinya sama sekali tidak mengharapkan Sishi mengembalikan uangnya, niat Adrian saat itu adalah memberi bukan meminjamkan. "Dia bilang harus nyampein rasa terima kasih dia ke kamu," jawab Krisna sambil menatap kotak sterofoam berisi gado gado di atas meja dengan perasaan ingin mencicipinya. "Terus apa lagi?" tanya Adrian penasaran. "Udah, terus dia bilang terima kasih juga sama aku," jawab Krisna apa adanya, "emang ada apa sih antara kalian?" "Nggak ada apa apa," jawab Adrian ringan lalu kembali menyantap makanan yang kini menjadi salah satu makanan favoritnya, Krisna tidak lagi bertanya karena percaya dengan sahabatnya itu jika dia tidak mungkin ada urusan macam macam dengan gadis belia seperti Sishi. Bukan hal yang aneh juga ketika ada seseorang yang datang memberi sesuatu sebagai buah tangan dengan tujuan agar dirinya bisa di pertimbangkan untuk memasuki agensi itu, walaupun barang bawaan seseorang kali ini agak beda. Gado gado. "Yan, gado gadonya enak?" tanya Krisna mulai memberi kode, Adrian hanya sekilas meliriknya lalu kembali menyuap makanannya, seharusnya dengan melihat seperti itu Krisna tidak perlu bertanya hingga Adrian menyadari itu hanya sebuah kode. "Dari semua gado gado yang pernah aku makan selama ini, ini yang paling enak," kata Adrian membuat Krisna semakin penasaran, lelaki itu menatap Adrian dengan wajah berbinar penuh harap. "Nyicipin dong?" pinta Krisna, Adrian malah menatapnya tidak rela. "Dikit aja, Yan, sejak kapan sih kamu jadi pelit?" Krisna merutuk kesal. "Nih, dikit aja tapi!" Krisna tersenyum lalu mengambil alih sendok yang Adrian berikan. "Hem ... iya, ini emang enak banget! Sishi beli di mana, ya?" gumam Krisna sambil mengunyah, Adrian langsung merebut sendok yang masih Krisna pedang meski sudah beberapa kali suapan lelaki itu lakukan. "dikit aja aku bilang!" sembur Adrian saat melihat Krisna mendelik padanya, Adrian lalu terdiam saat teringat sesuatu mendengar gumaman Krisna tadi. "Kris, kamu punya nomer hapenya Sishi?" tanya Adrian membuat Krisna terdiam mengingat ingat sesuatu. "Enggak, kan kamu sendiri yang bilang enggak mau dia masuk management kita jadi aku buang CV nya," jawab Krisna ringan tanpa beban berbeda dengan Adrian yang langsung melenguh kecewa. "Kenapa emangnya?" tanya Krisna sambil menatap Adrian penuh selidik. "Mau tanya beli gado gado di mana, tadi kamu juga tanya begitu kan!" jawab Adrian ringan lalu kembali fokus pada makanannya tidak mempedulikan Krisna yang masih menatapnya. "Kamu bilang nggak mau kasih di kesempatan jadi aku campurin CV dia sama orang orang lain yang di tolak dan langsung di ancurin sama si Meli," jawab Krisna bergumam tidak ingin di salahkan padahal Adrian sudah tidak lagi mendengarkannya, lelaki itu sedang memikirkan apakah dia harus menemui Sishi di sekolahnya lagi. Tapi apa alasan yang harus dia ucapkan, tidak mungkin mengatakan tidak sengaja lewat lagi. "Ya, iya betul!" ucap Adrian penuh semangat saat sebuah alasan terbersit di kepalanya membuat Krisna yang sedang melamun terperanjat kaget. "Apaan sih, Yan!" sembur Krisna sambil meninju lengan sahabatnya itu. "Enggak apa apa! Udah sana kerja, ngapain masih di sini!" *** "Udah mau berangkat?" tanya Karin pada Adrian saat wanita itu baru saja keluar dari kamarnya, wanita itu melihat sang suami berdiri di depan pintu kamarnya sambil memegang gagang pintu itu. kamar mereka tidak jauh berdampingan. "Baru pulang," jawab Adrian santai lalu memasuki kamarnya, Karin juga tidak mengucapkan sepatah kata pun lalu bergegas berangkat ke kantornya. Begitulah kehidupan sepasang suami istri yang terpaksa menikah karena keadaan itu, bahkan tidak jarang mereka tidak bertemu selama berhari hari. Adrian langsung membuka pakaiannya menyisakan sebuah celana boxer yang melekat di bagian bawah tubuhnya lalu langsung merebahkan diri di ranjang empuk untuk melepaskan penat setelah semalaman menghadiri pesta ulang tahun seorang artis senior yang dulu sempat bernaung di bawah managementnya. Bukan pesta ulang tahun remaja atau anak anak yang akan berakhir di sore hari tentunya, sebuah pesta dewasa yang bahkan banyak menyuguhkan kegiatan menantang. Sebagai seseorang yang berkecimpung di dunia hiburan tentu saja Adrian tidak bisa membatasi pergaulannya tetapi selama ini dia selalu bisa mengendalikan diri, untuk tidak menyentuh segala yang terlarang. Dirinya tentu tidak ingin semua yang sudah di perjuangkan selama ini hancur sia sia hanya karena kesenangan sesaat karena obat obatan terlarang, begitu pun tentang belaian seorang wanita. Meskipun seorang lelaki dewasa normal tetapi Adrian tidak lantas membabi buta mengikuti hasratnya, ia justru merasa jijik jika membayangkan harus berbagi belaian dengan orang lain. "Masih jam tujuh pagi, bisa tidur dulu sebelum ke sekolahan Sishi," gumam Adrian sebelum lelaki itu hanyut ke alam mimpi. Semalaman terjaga membuat lelaki itu begitu lelap dalam tidurnya, berjam jam hingga tanpa sadar berpindah beberapa posisi. Saat awal memejamkan mata dalam posisi tertelungkup kini saat mata itu terbuka ia dalam posisi telentang lelaki itu mengerjap ngerjapkan matanya lalu mendelik saat melihat jam di atas meja menunjukkan pukul satu siang. "Sialan! kebablasan!" Adrian langsung bangun dari rebahannya dan berjalan ke kamar mandi, perutnya yang terasa lapar membuatnya semakin teringat pada Sishi. Gado gado Sishi tepatnya. . Sudah di bilang rumah hanya tempat persinggahan melepas kantuk, hingga setelah Adrian mandi dan berganti pakaian lelaki itu langsung pergi. secepat kilat ia menyambar ponsel dan kunci mobilnya. Jalanan lumayan macet siang itu hingga membuat Adrian ketar ketir apakah dirinya akan terlambat sampai di sebuah sekolah menengah atas tempat yang dia tuju sekarang. Lelaki itu menghela napas saat sampai di tempat tujuan dan melihat jalanan sekitar masih sepi belum di ramaikan oleh bocah bocah remaja berseragam SMA. Merasa perutnya semakin melilit Adrian memutuskan untuk menuruni mobil yang ia parkir di tepi jalan lalu mendekati seorang penjual siomay yang berjualan dengan sepedanya. "Mas, siomay nya satu," pinta Adrian sambil menarik sebuah bangku yang ada di dekat gerobak siomay lalu mendudukinya. "Lengkap, Pak? pedes nggak?" tanya Penjual Siomay tersebut. "Iya. pedes," jawab Adrian yang membuat sang pedagang siomay dengan cekatan menyiapkan pesanan Adrian, "sekolah belum bubar, Pak?" "Belum, paling sebentar lagi. Bapak jemput siapa? anaknya?" tanya pedangan Siomay itu membuat Adrian berpikir apakah dirinya sudah tampak setua itu? "Enggak, jemput keponakan," jawab Adrian asal, ia lalu menerima piring berisi seporsi siomay lalu memakannya sambil awas menatap pintu gerbang takut jika ia sampai melewatkan kepergian Sishi. Benar saja apa yang penjual siomay itu katakan, tidak lama kemudian rombongan anak anak sekolah menengah atas itu berhamburan keluar dari gerbang, Adrian mengawasi sambil mengunyah siomaynya, matanya mengawasi setiap murid wanita yang berjalan menuju halte hingga ia tidak menyadari Sishi yang duduk di boncengan Dini melintas di sampingnya. "Shi! itu Sishi kan!" pekik Adrian saat menyadari gadis yang baru saja berlalu adalah gadis yang di tunggunya. "Shi ... Sishi!" Adrian sampai bangun dari duduknya dan melambaikan tangan hingga menjadi perhatian beberapa murid lainnya. Gadis yang merasa namanya di panggil menoleh dan terkejut melihat seseorang yang sedang melambaikan tangan padanya hingga dia langsung menepuk bahu Dini meminta gadis itu menghentikan laju sepeda motornya, beruntung jalanan begitu ramai oleh kendaraan anak anak sekolah hingga Dini tidak bisa melajukan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. "Apa sih, Shi?" tanya Dini sambil menoleh menatap sang sahabat. "Itu, ada Om Adrian. dia manggil manggil aku, siapa tau mau ngajakin aku masuk managementnya," kata Sishi penuh semangat, Dini melihat ke arah yang Sishi tunjuk dan benar melihat seorang lelaki berdiri sambil memegangi piring siomay. "Oh iya, udah buruan sana!" kata Dini membuat Sishi langsung turun dari sepeda motor, "eh tapi, aku tungguin atau gimana?" "Udah kamu pulang duluan aja, aku ntar naik angkot," jawab Sishi sambil tersenyum girang. "Ya udah, good luck, ya!" Dini meninggalkan Sishi sambil tersenyum gembira, tentu saja gadis itu turut senang dan bersemangat melihat senyum di wajah sang sahabat. "Iya, bye, Dini!" Sishi melambaikan tangannya pada Dini lalu beralih menatap Adrian. Gadis itu tidak ingin membuat lelaki itu terlalu lama menunggu hingga dengan cepat melangkah kembali ke arah yang sudah ia tinggalkan tadi. Sishi menaiki trotoar dengan langkah begitu ringan dan berjalan mendekati Adrian, langkah ringan itu bahkan berubah menjadi lari kecil tanpa dia sadari karena dorongan semangat dalam hatinya. Gadis itu begitu yakin Adrian menemuinya karena ingin memberikan kesempatan pada gadis itu, itulah sebabnya ia tidak ingin Adrian menunggu. Langkah itu begitu ringan dengan tatapan penuh harap tertuju ke depan hingga tanpa sadar ujung sepatu gadis itu menginjak Lubang kecil pembatas sekat penutup gorong gorong yang di sulap menjadi tempat pejalan kaki di trotoar. "Aaaaaa ...." Brug .... Kejadian itu terjadi lagi, terulang kembali. "Sishi!" Gadis itu hampir saja terjatuh tersungkur, tertelungkup di atas trotoar jika saja tidak ada tubuh Adrian di hadapannya. "Oh ... Om Adrian, maaf!" Sishi segera berdiri setelah menyadari dirinya menabrak tubuh Adrian. "Maaf Om, Maaf!" Secepat kilat Sishi mengusapkan tangannya di wajah Adrian berusaha membersihkan bumbu siomay yang menyiprat ke wajah lelaki itu tetapi tindakannya malah membuat bumbu itu semakin rata mengenai wajah tampan lelaki yang tampak sangat marah itu. "Sishi!" "Maaf, Om ...." Hilang sudah semua Semangat Sishi yang tadi begitu membara. Sishi menatap Adrian yang berlumuran bumbu siomay di wajah dan dadanya dengan penuh penyesalan lalu menunduk takut. "Hiiiih ... anak ini!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN