Congkel celengan

1965 Kata
Untuk pertama kalinya, Adrian dan Karin berada di meja makan bersama di pagi hari. Emang biasanya mereka bersama di meja makan pada malam hari? enggak juga, sih. Mereka duduk berdampingan dengan Bu Sukma duduk di depan mereka, untuk pertama kalinya juga Karin menyajikan masakannya untuk sang suami. masakan sederhana, hanya seporsi nasi goreng dengan nasi sisa semalam yang mertuanya masak wanita itu kesulitan menyiapkan sarapan pagi ini tetapi tekadnya yang kuat untuk tampak sebagai menantu yang baik membuatnya mampu melakukannya. "Ayo di makan sarapannya, Ma, maaf ya Karin nggak bisa nemenin Mama di rumah, Karin ada sidang pagi ini," kata Karin pada sang ibu mertua, seperti biasanya wanita itu selalu irit basa basi dan selalu mengatakan sesuatu langsung pada intinya apalagi jika sudah menyangkut urusan pekerjaan. "Mama juga nggak akan lama kok di sini, abis makan juga mama pulang, takut Papa kalian duluan sampe rumah," jawab Bu Sukma, Adrian hanya diam mendengarkan. Lelaki itu menjadi orang pertama yang menyuap nasi goreng buatan Karin lalu di susul oleh kedua wanita yang duduk di sebelah dan depannya, lelaki itu menahan eskpresi aneh wajahnya untuk menjaga perasaan Karin juga sang ibu. Suasana sarapan pagi itu begitu hening ketiga orang itu seolah sekuat tenaga menahan ekspresi yang tidak bisa mereka luahan. "Rin, kamu bikin nasi goreng pake yang Mama masak?" tanya Bu Sukma pada akhirnya, wanita itu tampak begitu pelan menyantap makanan di hadapannya. "Iya, Ma, maaf kalau Mama nggak suka masakan Karin," jawab Karin sambil melirik Adrian yang sedang menatapnya seolah membenarkan hal itu. "Nasi lembek gini kok di bikin nasi goreng, apa nggak susah kamu masaknya," kata Bu Sukma sambil tertawa kecil, Karin hanya diam dengan perasaan canggungnya. "Abis Karin bingung mau masak apa yang cepet," sahut Karin dengan senyum tipisnya. "Iya, jelas. kamu nggak punya waktu lebih buat ngurus suami karena kamu harus kerja. Mama nggak ngelarang kamu kerja, tapi coba deh kamu kurangin kerjaan kamu biar bisa lebih fokus ngurus suami, pantes aja Adrian lebih suka makan makanan yang simpel," kata Bu Sukma setengah mengomel, "kalau jadi Adrian juga mama lebih suka makan sama telor ceplok aja." "Ma, udah dong, Adrian juga nggak pernah mempermasalahkan Karin masak apa, sempet masak atau nggak," kata Adrian meminta agar sang ibu tidak terus mengomel. "Iya dan itu nggak bener, gimana rumah tangga kalian bisa berjalan baik kalau kalian terus saling cuek begitu!" sahut Bu Sukma, Karin hanya diam. "Ma, maaf, Karin berangkat dulu ya, takut terlambat ke persidangan," kata Karin saat ibu dan anak itu tengah bersitegang karena dirinya, Bu Sukma menatap sang menantu heran. Namun, wanita itu tidak bisa berkata apa apa saat dengan cepat Karin mencium punggung tangannya lalu beralih pada Adrian dan menyalaminya singkat, sebuah gerakan sandiwara yang tidak akan dia lakukan jika tidak ada sang ibu mertua di rumah itu. "Mama tuh cariin kamu istri biar bisa ngurus kamu, biar bisa cepat ngasih Mama cucu. Ini malah yang ada dia selalu lebih mentingin kerjaan!" omel Bu Sukma setelah Karin pergi, Adrian hanya tersenyum tipis menatap sang ibu. "Ma, dia itu istri, bukan pembantu jadi dia enggak perlu ngabisin seluruh waktunya buat ngurus aku. aku juga bukan anak kecil yang nggak bisa ngurus diri aku sendiri. dan jangan lupa juga, Karin itu menantu pilihan Mama," kata Adrian sembari menjauhkan piring berisi nasi goreng yang hanya sedikit berkurang itu menjauh dari hadapannya, Bu Sukma berdecak kecil mendengarnya. "Tapi seharusnya Karin itu bisa bagi waktu antara jadi pengacara dan jadi istri kamu!" kata Bu Sukma tidak ingin di salahkan dan sedari dulu memang seperti itu lah dirinya selalu mengharapkan orang lain menuruti kehendaknya. "Gimana dia bisa cepet ngasih Mama cucu coba kalo gini!" sambung Bu Sukma sambil menjauhkan piring dari hadapannya seperti apa yang Adrian lakukan tadi. "Kalau yang Mama mau cuma cucu, Adrian sama Karin bisa kok adopsi bayi malang di panti asuhan," jawab Adrian santai, Bu Sukma malah melotot mendengarnya. "Jangan sembarangan ngomong kamu Adrian. Kalau bisa segampang itu buat apa juga Mama jodohin kamu sama Karin, masalah anak itu bukan cuma punya bayi tapi juga penerus garis keturunan. Bukan juga karena istri kamu pengacara terus kamu pikir gampang adopsi anak, adopsi itu bukan cuma urusan administrasi tapi kita harus memikirkan semuanya, asal usul bayi itu, masalah nazab masalah kesehatan, keturunan!" jawab Bu Sukma panjang lebar dengan kekuatan super omelan seorang wanita. "Iya, Ma, iya. terus sekarang mau gimana? nanti juga kalau udah waktunya Adrian punya anak Adrian bakal punya anak," jawab Adrian santai seperti biasanya hingga yang Bu Sukma rasa sang putra tidak pernah menanggapi serius omongannya. "Kamu sama Karin kayaknya perlu ke dokter deh, kalian ikut program hamil di rumah sakit aja," kata Bu Sukma dengan wajah berbinar penuh semangat. Adrian terkesiap mendengar ide sang ibu, bagaimana mereka bisa ikut promil ke rumah sakit. nanti saat sang dokter menanyakan mereka akan menjawab belum pernah melakukan hubungan suami istri, begitu? "Nggak perlu lah, Ma. Kami juga belum terlalu lama nikah, progam itu kan buat udah nikah bertahun tahun," jawab Adrian cepat. "kamu ini kalau di bilangin orang tua selalu aja ngeyel!" omel Bu Sukma, wanita itu lalu menatap sang putra yang bangkit dari kursi yang sedari tadi ia duduki. "Mama mau Adrian anter ke rumah?" tanya Adrian untuk mengalihkan pembicaraan kalau tidak wanita yang sudah melahirkannya itu pasti akan terus membahas tentang program hamil di rumah sakit, "Adrian mau berangkat kerja." "Enggak di rumah, nggak di sini, mama selalu kesepian. Coba kalau Mama punya cucu pasti Mama nggak akan kesepian!" omel Bu Sukma sembari mengikuti sang putra. "Ya udah kalau gitu Mama sama Papa aja yang ikut program hamil di rumah sakit," kata Adrian dengan entengnya sebelum sebuah pekikan terdengar dari mulut lelaki itu, "aduh, Ma, sakit, Ma. Ampun jangan jewer lagi emang Adrian anak kecil apa!" "Masa bukan anak kecil nggak bisa bikin anak kecil!" "Mama!" *** "Ish ... susah banget, sih!" Bulu mata lentik itu mengerjap ngerjap beberapa kali dengan pandangan ke atas, gadis itu beberapa kali mendesis kesal saat jarum pentul yang ia pegang salah sasaran. Bukan hal yang mudah mengeluarkan sesuatu dari lubang kecil memanjang yang ada di atas wajahnya. "Ih, sempe pegel nggak keluar keluar!" omel gadis itu sembari mengocok ngocok benda yang ia pegang dengan tangan kiri lalu kembali mendongak dan memasukkan jarum yang dia pegang dengan tangan kanan ke lubangnya. "Yes, dikit lagi!" gumam Sishi saat ujung jarum pentul yang ia pegang mengenai sasaran, dengan penuh kehati-hatian gadis itu menarik keluar lipatan uang agar keluar dari lubang celengan berbentuk ayam miliknya. "Huh, akhirnya keluar juga," gumam Sishi sambil mengambil uang dadi lubang celengan yang baru ia congkel, gadis itu lalu mengusap peluh di keningnya apa yang ia lakukan tidaklah melelahkan tetapi memerlukan effort yang cukup tinggi. Gadis itu lalu tersenyum sambil membuka lipatan uang berwarna biru lalu menggosokkannya pada kakinya berharap bekas lipatan kecil khas uang dari celengan bisa menghilang, Sishi menghela napas karena lipatan itu tidak bisa hilang sepenuhnya tetapi ia merasa hal itu bukan masalah besar hingga ia memasukkan uang itu ke dalam saku celananya. Sishi kembali memasukkan celengannya yang hanya berisi beberapa uang sepuluh ribuan ke dalam lemari dan menguncinya, gadis itu tidak ingin celengan itu di utak-atik Naura, sang adik yang berbagi kamar dengannya sedangkan kedua adik laki lakinya juga berbagi kamar di kamar sebelah. "Bu, Sishi bikin gado gado, ya," kata Sishi begitu keluar dari kamar dan berpapasan dengan sang ibu yang baru keluar dari dapur rumah sederhana mereka. "Tumben kamu udah makan pengen gado gado," jawab Bu Eni karena memang sepulang sekolah tadi putri sulungnya itu langsung makan. "Bukan buat aku, Bu, buat temen aku," jawab Sishi sambil nyengir kuda, gadis itu takut ketahuan juga takut ibunya tidak memberi ijin. "Buat siapa? Mamanya Nando lagi?" tanya Bu Eni cepat. "Cie Kakak, ngasih gado gado terus buat calon mertua!" ledek Naura yang sedang menonton televisi sambil berbaring di atas ubin ruang tamu sekaligus ruang keluarga sekaligus ruang makan rumah mereka, Sishi melotot pada gadis kecil yang lalu tertawa geli ini, Bu Eni hanya tertawa melihat tingkah putri sulung dan putri ketiganya itu. "Bukan, Bu, bukan buat Mamanya Nando kok!" kata Sishi yang tidak ingin mereka semua menganggap hal itu benar. "Terus? buat siapa?" tanya Bu Eni sambil menatap wajah sang putri penuh selidik. "Buat Risma, Bu," jawab Sishi asal sebut nama teman sekolahnya, "jadi aku sama Dini lagi ngobrolin gado gado terus Risma penasaran, makanya aku mau ke rumahnya sambil bawa gado gado, itung itung promosi kan, Bu." Untung Sishi jago akting hingga sang ibu tidak curiga, "ya udah sana bikin." "Bu, masak apa?" Sishi mengulum senyum saat perhatian sang ibu teralih pada putra pertamanya yang baru pulang sekolah. Sishi segera membuat seporsi gado gado lalu berpamitan pada sang ibu, gadis itu sadar banyak dosa karena sering membohongi sang ibu tetapi jika tidak seperti itu ia tidak akan bisa berjuang meraih cita citanya. selain memang ingin beradu akting menjadi seorang aktris Sishi juga begitu ingin mendapatkan banyak uang dari profesi itu. Hatinya juga ikut teriris saat mendengar keluhan kedua orang taunya tentang kebutuhan rumah tangga, sebagai sulung dari empat bersaudara Sishi juga merasa turut ingin mengemban beban berat itu. Kali ini, Sishi tidak ingin merepotkan Dini dengan meminta gadis itu mengantarnya, dia lebih memilih untuk menaiki angkutan umum menuju kantor Adrian sambil menenteng kantong plastik berwarna putih berisi gado gado Sishi melenggang memasuki gedung perkantoran itu, hanya saja kali ini kantong plastik yang ia bawa benar benar hanya berisi gado gado. Menaiki lift bersama bebarapa orang lain, Sishi lalu keluar saat telah sampai di lantai di mana kantor Adrian berada dan karena hari ini bukan hari libur maka kantor itu lebih ramai dari saat terakhir kali mereka datang. "Maaf, mau ketemu siapa?" tanya seorang resepsionis di depan kantor itu. "Mau ketemu Om Adrian, Mbak," jawab Sishi, wanita di hadapannya menatap Sishi dan mengenali dirinya sebagai seseorang yang pernah berbuat onar dengan mengunci sang bos di kamar mandi. "Maaf, Pak Adriannya lagi rapat dan nggak bisa di ganggu," kata wanita itu dengan senyum ramahnya. "Sebentar aja nggak bisa Mbak? ada yang mau aku omongin penting," kata Sishi dengan nada memelasnya. "enggak bisa, rapat ini lebih penting," jawab wanita itu, ia tersenyum melihat Sishi mendengus kecewa. "Rapatnya masih lama Mbak? kira kira kapan selesainya?" tanya Sishi lagi, gadis itu memiliki niat untuk menunggu. "Lama, bisa sampe malem selesainya," jawab wanita itu ringan, Sishi hanya diam dengan wajah kecewa sambil memikirkan apa langkah yang harus ia ambil selanjutnya. Ingin menitipkan uang dan gado gado itu pada wanita di hadapannya tetapi dia tidak percaya melihat wanita itu terlihat tidak menyukainya. "Shi, kamu ngapain di sini?" tanya seorang lelaki yang berjalan sambil membawa beberapa kertas di tangannya. "Pak Krisna." Senyum Sishi mengembang saat melihat lelaki itu, "Pak, aku bisa nitip sesuatu sama Bapak?" "Nitip? Nitip apa? buat siapa?" Krisna memberondong Sishi dengan pertanyaan, lelaki itu mengerutkan keningnya menatap gadis itu. "Ini nitip gado gado buat Om Adrian," jawab Sishi sambil menunjuk kantong plastik yang di pegangnya, Krisna secara spontan memelototkan mata sambil menahan tawa mengingat kejadian beberapa hari yang lalu membuat wajah Sishi memerah menahan malu, ia tahu jika Krisna pasti mengetahui kejadian itu, "sebagai ucapan terima kasih." "Udah, nih cuma gado gado doang?" tanya Krisna sambil berusaha menahan tawanya membuat Sishi semakin malu di buatnya. "Iya. eh, enggak. ini sama uang, tolong bilangin sama Om Adrian terima kasih," kata Sishi sambil memberikan uang yang ia ambil dari saku celananya bersama kantong plastik berisi gado gado. "Iya," jawab Krisna meski dia tidak mengerti untuk apa gadis itu berterima kasih pada Adrian. "Terima kasih, Pak," ucap Sishi pada Krisna, gadis itu lalu bergegas pergi karena tidak ingin berlama lama bersama lelaki itu, dirinya benar benar malu. "Iya, sama sama," jawab Krisna sambil tertawa kecil mengingat apa yang terjadi pada Adrian karena bocah itu, "eh, Shi, tunggu!" Krisna memanggil gadis itu saat teringat sesuatu tetapi sayangnya Sishi sudah terlalu jauh. "Yah, padahal pengen tanya beli ramuan itu di mana!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN