"Em ... Om, boleh nggak aku pinjem duit Om dulu? buat ongkos pulang."
Pernahkah kalian menonton film kartun yang menampakan mata seekor kucing yang sedang meminta makan pada pemiliknya? Begitulah mata Sishi saat menatap Adrian saat ini, berbinar penuh harap.
Adrian berdecak kesal lalu tanpa berkata kata lelaki itu mengeluarkan dompet dari saku celananya, lelaki tampan itu mengulurkan uang pecahan lima puluh ribuan pada Sishi.
"Boleh, Om?" tanya Sishi saking gembiranya gadis itu langsung melonjak bangun dari duduknya dan berdiri di samping Adrian yang mengerutkan kening melihat tingkahnya.
"Tapi itu kebanyakan, Om," ujar Sishi sambil menatap uang berwarna biru yang masih ada di tangan lelaki itu.
"Sekalian buat beli minum, minuman kamu abis kan!" jawab Adrian sambil melirik botol kosong yang masih Sishi pegang dengan tangan kirinya.
"Wah, makasih ya Om," kata Sishi seraya mengambil uang yang Adrian berikan, gadis itu memang merasa begitu haus karena air minum yang tersisa sedikit tadi tidak cukup menghilangkan rasa dahaganya.
"Aku tau sebenernya Om itu orang baik, cuma agak nyebelin aja," sambung Sishi dengan kata terakhir yang ia ucapkan dalam hati sambil memasukkan uang yang Adrian berikan ke dalam saku kemejanya tanpa dia sadari Adrian sudah berjalan menjauh, "Om besok aku ganti uangnya, ya."
Sishi melangkah keluar dari pagar taman tanpa lagi menatap ke arah mana
Adrian pergi, gadis itu sudah tidak lagi memikirkannya karena merasa masalah dan segala kesalahpahaman antara dirinya dan Adrian sudah selesai. Gadis itu lebih dulu mendatangi penjual minuman di pinggir jalan dan membeli sebotol air mineral dingin sebelum memasuki angkot yang akan mengantarkan dirinya pulang.
Kali ini Sishi benar benar memerhatikan angkot yang akan dia naiki dan memastikan jurusannya benar, tidak asal seperti tadi.
Gadis itu menaiki angkot yang ada di urutan paling depan di antara angkot lain yang sedang menunggu penumpang agar cepat berangkat, karena bangku belakang sudah penuh maka gadis itu naik di kursi depan, tepat di sebelah sang sopir dengan satu gadis lain di dekat pintu. armada berwarna biru telur asin itu segara berjalan tidak lama setelah semua kursinya penuh Sishi tidak menyadari jika di tepi jalan lain Adrian masih menatapnya di dalam mobil.
Lelaki itu menaruh sikunya di pintu sambil mengelus dagunya yang sedikit terasa kasar karena bulu yang kemarin dia cukur sudah mulai tumbuh, seharusnya ia langsung pergi setelah memasuki mobil tetapi entah bisikan dari mana yang datang membuat Adrian begitu penasaran apakah Sishi akan naik angkot yang salah lagi. Lelaki itu merasa jika Sishi salah naik angkot lagi lalu terjadi sesuatu padanya maka itu juga menjadi tanggung jawabnya karena Sishi sampai pergi sejauh ini dari rumahnya karena menghindari dirinya tadi.
Tanpa banyak pikir atau bisa di bilang tanpa sadar Adrian menjalankan mobilnya mengikuti angkot yang Sishi naiki, entah kurang kerjaan atau memang pekerjaannya yang terlalu santai hingga Adrian bisa begitu lama meninggalkan kantornya hari ini.
lelaki itu terus sama membuntuti angkot tanpa Sishi sadari karena gadis itu sibuk bermain ponsel di tambah posisi duduknya yang di depan membuat gadis itu tidak menatap ke belakang lagi pula dia juga sama sekali tidak terpikirkan jika Adrian masih terus mengikutinya.
Hingga setelah cukup jauh jarak yang mereka tempuh, Sishi meminta sang sopir angkot menepikan mobilnya di depan sebuah gang, Adrian tidak lagi menginjak pedal gas untuk mengikuti angkot itu lagi saat melihat kali ini yang menuruni angkot itu adalah Sishi, lelaki itu melihat Sishi menyapa seseorang yang baru keluar dari gang hal itu membuatnya yakin kalau memang Sishi tidak salah jurusan.
Adrian tersenyum miring melihat Sishi melangkah dengan riang memasuki gang.
"Adrian Dewananda, kurang kerjaan banget sih ngikutin anak orang!" gerutu Adrian merutuki tingkahnya sendiri lalu kembali menjalankan mobilnya mencari tempat yang tepat untuknya memutar arah untuk kembali ke kantornya.
***
Pukul delapan malam, Adrian baru sampai di rumahnya waktu yang dia rasa terlalu sore tetapi bertahan di kantor pun bukan pilihan yang tepat karena semua staffnya sudah pulang, ingin pergi clubing seperti biasa tapi sepertinya tubuhnya lebih memerlukan istirahat.
Lelaki itu membuka pintu rumahnya lalu memasuki rumah yang selalu terasa sepi itu baginya rumah hanyalah tempat beristirahat sejenak lalu pergi lagi setelah rasa kantuknya hilang tidak ada sesuatu apapun yang menjadi alasannya untuk tinggal di rumah walau sejenak.
Sesaat sebelum menutup kembali pintu yang baru dia masuki Adrian mendengar suara mobil sang istri berhenti, wanita itu juga baru pulang bekerja Adrian batal menutup pintu kembali dan membiarkan pintu itu terbuka agar Karin bisa masuk, Adrian lebih memilih membaca pesan yang baru masuk ke ponselnya sambil berjalan lambat menuju ruang tengah lalu langsung ke kamarnya, pada saat yang sama Karin juga masuk dengan ponsel berada di telinganya sepasang suami istri itu hanya saling melempar senyum sekilas lalu kembali melangkah menuju kamar masing masing.
"Gimana kalian bisa cepat punya anak kalau kalian sibuk banget begini! jam segini baru pada pulang!" suara seorang wanita terdengar lantang membuat keduanya berdiri mematung berdampingan dengan jarak sekitar satu meter.
Adrian dan Karin saling pandang dengan tatapan kaget penuh tanda tanya lalu dalam hitungan yang sama keduanya memutar badan ke arah sumber suara.
"Mama?"
Keduanya hampir terpekik kaget saat melihat Bu Sukma duduk sambil melipat kedua tangan di d**a menatap tajam anak dan menantunya itu, sandaran sofa yang wanita itu duduki cukup tinggi hingga membuatnya tidak terlihat dari belakang. Wajar saja Adrian dan Karin tidak melihatnya.
"Kenapa kalian? ngeliat Mama kayak ngeliat hantu?" tanya Bu Sukma heran, Adrian dan Karin tersenyum canggung lalu dengan cepat saling mendekat agar Bu Sukma tidak menyadari mereka tengah berjalan menuju kamar yang berbeda.
"Kita kaget lah, Ma. tiba tiba Mama ngomong gitu, kita kira nggak ada orang!" jawab Adrian sedikit kesal karena sang ibu telah mengejutkannya.
"I—iya, Ma. Mama udah lama datengnya?" tanya karin yang langsung mendekat dan mencium punggung tangan sang ibu mertua lalu duduk di sebelahnya, entah bagaimana dengan seseorang yang sedang di teleponnya tadi dia sudah tidak peduli.
"Dari jam lima, Mama kira kalian udah pulang," jawab Bu Sukma datar.
"Kok Mama nggak telpon, kalau Mama telpon kan Karin usahain pulang cepet," kata Karin dengan nada manja, wanita itu memang pintar mencuri hati sang ibu mertua, pantas saja Bu Sukma begitu menyayanginya.
"Mama sengaja pengen ngasih kejutan, sekalian biar Mama tau bagaimana kehidupan kalian sebenarnya kalau nggak ada Mama," kata Bu Sukma tegas, Karin dan Adrian saling tatap dengan perasaan berdebar debar, "ternyata bener kan kalian masih sama sama sibuk banget, pantes Karin nggak hamil hamil!"
"Ma, kok Mama bisa masuk, sih?" tanya Adrian sembari duduk di sofa lain lelaki itu ingin mengalihkan perhatian sang ibu dari pembicaraan tentang kehamilan Karin yang tidak mungkin terjadi.
"Yan, kamu tuh nggak usah ngalihin pembicaraan, lagi pula gitu aja pake kamu tanyain. Kamu kan beli rumah ini atas bantuan Mama, ya, Mama pasti punya kunci cadangannya lah!" jawab Bu Sukma sambil menatap sang putra, "kalian kan pernah janji sama Mama mau ngurangin kesibukan biar bisa cepat punya momongan, gimana, sih?"
"Ma, Mama nggak usah parno gitu deh, walaupun kami berdua sibuk tapi kan misi pembuatan anak tetap berkualitas dan nomer satu kok, iya kan Rin?" kata Adrian sambil menatap Karin meminta sang istri mengiyakannya.
"Em, iya, Ma, bener," jawab Karin agak gugup.
"Lagian kamu, tuh, Yan. Sama istri sendiri kok manggilnya gitu enggak ada mesra mesranya! mbok, ya, manggilnya sayang atau cinta atau bebi gitu loh!" sembur Bu Sukma pada sang putra, Adrian menghela napas pelan lelaki itu hapal betul sifat sang ibu yang selalu otoriter sejak dahulu.
"Malu kali, Ma. masa panggilan kayak gitu di umbar umbar!" jawab Adrian santai, sang ibu malah menatapnya dengan mata memicing seolah merasa apa yang Adrian katakan tidak mencerminkan dirinya yang hidup di dunia entertainment sejak dulu.
"Ma, Papa mana? Mama ke sini sendiri?" tanya Karin untuk mengalihkan perhatian Bu Sukma.
"Justru itu, justru karena Papa kamu Mama ke sini. Mama mau nginep di sini," jawab Bu Sukma yang spontan membuat Adrian dan Karin sama sama membolakan matanya.
"Hah?" pekik Adrian kaget membuat Bu Sukma menatapnya, begitu juga dengan Karin yang merasa lelaki itu selalu bersikap berlebihan sejak tadi, Karin memberi kode agar Adrian diam, "Mama berantem sama Papa?"
"Sembarangan! emang sejak dulu, sejak kamu kecil kamu pernah liat Mama sama Papa berantem?" tanya Bu Sukma pada sang putra, Adrian menggeleng cepat, lelaki itu tahu jika hubungan ibu amdan ayahnya memang selalu harmonis bukan hanya karena mereka saling cinta tetapi juga karena sang ayah yang selalu mengalah pada istrinya, bisa di bilang ayah Adrian adalah ketua ISTI atau Ikatan Suami Takut Istri.
"Papa kalian lagi tugas keluar kota. makanya Mama ke sini mau nginep di sini, Mama takut di rumah sendirian," kata Bu Sukma membuat Adrian dan Karin saling pandang, "kamar tamu itu bisa di pake kan? Mama dari tadi sibuk masak makanya belum sempet liat kamar tamu."
Adrian dan Karin kembali saling tatap menyadari kamar yang Bu Sukma maksud adalah kamar yang Karin tempati.
"Bisa dong, Ma, bisa banget. tapi nanti biar Mas Adrian beresin dulu. Mama udah masak? harusnya Mama nggak perlu repot repot biar aja Karin yang masak," kata Karin dengan lembut, Adrian mencibirkan bibirnya mendengar apa yang wanita itu katakan.
"Enggak apa apa daripada Mama nggak ada kerjaan, Mama juga tau kulkas kalian pasti kosong makanya Mama bawa bahan masakan dari rumah!" kata Bu Sukma dengan nada menyindir dan membuat sang menantu merasa malu karena ketahuan tidak pernah memasak, Adrian menahan senyum melihat wajah Karin.
"Iya, Ma, karena Mas Adrian juga sukanya makan yang simpel simpel jadi aku nggak nyetok terlalu banyak bahan masakan," kata Karin membela diri, Adrian mendelik padanya padahal sekalipun wanita itu tidak pernah memasak untuknya.
"Masa sih? padahal waktu di rumah Mama Adrian seneng banget makan masakan rumah," jawab Bu Sukma.
"Itu pasti karena masakan Mama enak, sekarang Mama ajarin aku masak ya. Mama tulisin resep biar aku bisa masakin Mas Adrian," rayu Karin sambil mengajak sang ibu mertua dapur.
"Mama kasih resep makanan kesukaan Adrian, ya," kata Bu Sukma sambil berjalan menuju dapur, Karin yang berjalan di belakangnya mengetik sebuah pesan.
[Aku alihin perhatian Mama, kamu pindahin barang barang aku yang dia atas meja rias ke kamar kamu]
[ambilin juga baju kerja buat besok]
Adrian segera bergegas ke kamar Karin untuk melakukan apa yang wanita itu minta, akhirnya untuk kesekian kalinya mereka harus bekerja sama untuk bersandiwara.
***
Setelah makan malam sambil mendengarkan berbagai wajangan dari Bu Sukma tentang berumah tangga bahkan tentang cara agar cepat mendapatkan momongan Adrian dan Karin memasuki kamar yang sama untuk pertama kalinya di rumah itu, biasanya mereka tidur satu kamar saat menginap di rumah orang tua Karin itupun mereka tidak tidur satu ranjang melainkan Adrian mengalah tidur di sofa.
Begitupun malam ini.
"Selamat malam Karin, selamat berjuang jadi menantu yang baik besok pagi!" kata Adrian sambil mengambil bantal dan guling dari ranjang tempat Karin berbaring untuk ia bawa ke sofa.
Karin hanya memutar bola mata sebal lalu memejamkan matanya, Adrian berusaha terlelap di sofa tetapi tidak juga bisa lelaki itu menatap langit langit kamarnya yang menghitam karena lampu yang sudah ia padamkan.
Lelaki itu mengingat beberapa projek pekerjaan, beberapa pertemuan dengan klien yang sudah dan akan dia lakukan bahkan ingatan itu sedikit menyerempet ke tempat yang tidak seharusnya. ke taman kota pinggir tempat ngetem angkutan kota, ke tempat duduk yang terbuat dari semen itu dan ke pada seseorang yang duduk di sebelahnya tadi.
kalian pernah dengar saat kita memikirkan seseorang berarti seseorang itu sedang teringat pada kita? mungkin ada benarnya juga, karena pada saat ingatan Adrian menyerempet pada Sishi saat itu Sishi sedang memikirkan Adrian juga. Gadis itu memikirkan bagaimana caranya untuk mengembalikan uang Adrian yang dia pakai tadi siang.
Entah pukul berapa Adrian baru bisa benar benar memejamkan matanya tetapi rasanya baru saja ia terlelap dirinya harus terbangun karena mendengar suara alarm ponsel Karin, Adrian membuka matanya dan melihat wanita itu begitu nyenyak seolah tidak mendengar bunyi alarm itu.
"Karin!" panggil Adrian, tetapi sama seperti bunyi alarm itu suara Adrian juga sama sekali tidak Karin dengar.
"Karin, kalau gini malah Mama yang kebangun denger suara alarm kamu!" gerutu Adrian sembari melangkah meninggalkan sofa untuk membangunkan Karin.
"Karin bangun!" Adrian menepuk pipi sang istri dengan satu tangan dan tangan lainnya mematikan alarm.
"Karin bangun!" panggil Adrian lebih kencang.
"Iya ... iya, aku mau bikin sarapan!" racau Karin sambil bangun dari rebahannya seperti orang ngelindur wanita itu baru tersadar saat mendengar tawa Adrian.
"Adrian, apa apaan sih kamu!" omel Karin sambil menatap sengit lelaki yang telah membuatnya terkejut itu.
"Aku bangun gara gara alarm kamu, malah kamunya nggak denger!" kata Adrian datar.
"Oh iya, ada Mama. aku mau nyiapin sarapan!" kata Karin sembari menuruni ranjang, Adrian memanfaatkan kesempatan itu untuk menaiki ranjangnya dan kembali tidur.
"Kok kamu tidur lagi?" tanya Karin melihat Adrian berbaring di ranjangnya.
"Ya aku mau ngapain? udah sana sebagai istri yang baik kamu bangunin aku setelah sarapan siap," jawab Adrian santai lelaki itu bahkan tidak membuka mata yang baru ia pejamkan.
Karin berjalan keluar kamar sambil menjejakan kakinya kesal.