Winda mundur selangkah, pegangan tangannya pada handle pintu terlepas begitu saja saat melihat seseorang yang begitu dia kenal tergantung terbalik. Kepala di bawah, kaki di atas. Tangan bian yang menjuntai ke bawah sengaja dikaitkan dengan rantai. Mulutnya ditutup lakban. Aroma pesing tercium sangat kuat. "Biaaaan!" Winda luruh ke lantai dia menatap tak percaya ke orang yang menatapnya dengan pandangan memelas. "Kamu kenapa bisa begini!" Winda menangis. dia tak menyangka ada pria yang dia cintai ada di sana dalam keadaan mengenaskan. Bian juga begitu. Dokter muda itu menitikan air mata saat bertemu Winda. Setidaknya dia tak sendirian di kamar pengap ini. Bian kembali menggoyangkan tanggannya sehingga rantau besi beradu dan menyebabkan suara gemerincing, persis yang didengar oleh wanita i

