Bab 14 - Pacar Bohongan

1700 Kata
Apakah Lika dan Arda berakhir bersama setelah peristiwa malam itu? Jawabannya tidak. Mereka sama-sama trauma dan merasa bersalah dengan segala yang terjadi. Baik Lika maupun Arda menganggap kalau malam itu mereka terkena karma yang langsung dibayar kontan. Setelah kejadian memalukan lebih dari lima tahun yang lalu, Arda pindah ke luar kota. Begitu juga dengan Lika yang juga pindah ke kota lain. Sampai saat ini, sedikit pun tidak ada komunikasi di antara mereka. Pada dasarnya hubungan Lika dan Arda itu bukan cinta, melainkan sebatas nafsu yang pada akhirnya membawa mereka pada jurang kehancuran. Itu sebabnya mereka tidak menikah dan lebih memilih berpisah, menjalani hidup masing-masing. Akibat kesalahan fatal yang mereka lakukan, mereka kehilangan segalanya dan terpaksa harus menjalani kehidupan di tempat baru. Baik Lika maupun Arda ... sama-sama merasa kalau hukuman yang mereka dapatkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan rasa sakit yang Elric rasakan. Sekarang, lebih dari lima tahun telah berlalu. Arda yang tak pernah mencari tahu kabar Lika, sedikitnya pernah mendengar kalau wanita itu sudah menikah dengan pria lain bahkan punya anak. Terus terang ia bersyukur dan mendoakan wanita itu agar hidup bahagia. Bukannya apa-apa, Arda pernah berada di titik yang tak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri. Maksudnya ... gara-gara Arda, pernikahan yang seharusnya Lika dan Elric laksanakan menjadi batal. Ini semua terjadi karena ia merayu Lika. Sejak awal Arda-lah yang menggoda calon istri temannya. Namun, lagi-lagi Arda bersyukur kalau Lika akhirnya telah menemukan kebahagiannya sendiri. Dengan begitu ia jadi lebih lega karena Lika telah melewati masa-masa kehancurannya dan kini sedang melanjutkan hidupnya dengan jauh lebih baik. Sedangkan Arda? Lima tahun lebih hidup dalam penyesalan, pria itu bertekad untuk mengubah hidupnya menjadi jauh lebih baik. Ia berjanji tidak akan menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain lagi. Sungguh, itulah yang Arda sesali sampai detik ini. Bisa-bisanya ia merayu Lika yang notabene adalah calon istri Elric. Setelah mencoba memperbaiki diri dan memastikan dirinya telah berubah total menjadi pribadi yang jauh lebih baik, tahun ini akhirnya Arda memberanikan diri kembali ke Jakarta. Ia tiba sekitar dua pekan sebelum pesta digelar. Pernah menjadi bagian dari mereka, membuat Arda tahu kalau dalam setahun setidaknya bisa sampai dua atau tiga kali mereka mengadakan pesta untuk bersenang-senang. Itu sebabnya Arda bertekad untuk datang ke pesta kali ini. Ia ingin menemui teman-temannya. Dulu, Arda terlalu malu sehingga belum sempat meminta maaf pada Elric dan semua teman-temannya. Untuk itu, di pesta yang ia yakini lengkap dihadiri oleh semuanya ... Arda akan meminta maaf se-besar-besarnya. Sekalipun mereka membencinya, tapi Arda tetap akan mencoba memperbaiki hubungan dengan mereka. Arda sadar mustahil bisa berteman seperti dulu lagi, tapi setidaknya ia sudah berani meminta maaf. Entah dimaafkan atau tidak, itu di luar kuasanya. Intinya Arda benar-benar mantap akan hadir di pesta tersebut. Untuk hadir di pesta, Arda merasa terlalu canggung untuk datang sendiri. Apalagi teman-temannya pasti datang bersama pasangan masing-masing. Itu sebabnya Arda memakai jasa pacar bohongan rekomendasi salah satu temannya. Namanya Ziva, baru bertemu sebentar saja ... Arda langsung merasa nyaman dengan wanita itu. Apa ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama? Atau efek Arda yang tak pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita sejak peristiwa memalukan itu? Entahlah, yang pasti sejak awal Arda sudah berencana ingin benar-benar mendekati Ziva. Dalam kata lain, Arda menjadikan status pura-pura pacaran mereka selayaknya batu loncatan saja. Selanjutnya, ia berharap bisa menjalin hubungan sungguhan dengan wanita itu. Terlepas dari kesalahan fatal Arda lima tahun yang lalu, bukankah pria itu tetap berhak menemukan kebahagiannya di masa sekarang? Sungguh, pria itu sudah bukan Arda yang dulu lagi. Namun, situasi menjadi tidak kondusif saat Arda diseret paksa oleh teman-teman yang sangat membencinya. Arda salah perhitungan. Ia mengira bisa meminta maaf dengan cara baik-baik, nyatanya Arda dikonfrontasi habis-habisan. Bahkan, Arda juga mendapatkan bonus bogem mentah dari teman-temannya itu. Anehnya, dalam keadaan babak belur, yang Arda pikirkan hanyalah Ziva. Ia khawatir Ziva ketakutan. Sampai kemudian, ia menyadari Ziva sudah menghilang entah ke mana. Ziva pasti terkejut dengan apa yang terjadi di pesta. Apa wanita itu sudah pulang? Jika iya, Arda berharap Ziva baik-baik saja. Mengingat Ziva adalah seorang selebgram, Arda langsung mengunjungi media sosial wanita itu. Selagi ada unggahan terbaru, Arda akan menganggap kalau pacar pura-puranya itu sungguh baik-baik saja. Sekarang, beberapa hari telah berlalu sejak pesta itu. Kondisi Arda pun sudah jauh lebih baik meski sisa-sisa babak belurnya masih terlihat. Namun yang pasti, Arda setiap hari berusaha menghubungi Ziva yang sayangnya tidak pernah direspons. Hal itu membuat Arda yakin kalau Ziva pasti sudah mengetahui aibnya lima tahun lalu. Makanya wanita itu memutuskan berhenti berurusan dengannya lagi. Sungguh, Arda sama sekali tidak tahu kalau Ziva adalah mantan istri Elric. “Dia pasti ilfil, tapi mau bagaimana? Aku nggak mau menyerah dulu,” batin pria itu. Ya, Arda masih belum menyerah sehingga tak pernah bosan untuk mengirimkan pesan atau menelepon Ziva secara berkala. Pokoknya sebelum Ziva memblokirnya, Arda akan terus berusaha. Sampai pada akhirnya, Arda langsung terkesiap saat panggilan yang ke sekian kali akhirnya dijawab oleh Ziva. Kabar baiknya, Ziva setuju untuk bertemu dengannya. Arda berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Saat panggilan telepon terputus, Arda segera bersiap-siap. Ia yakin tak lama lagi Ziva akan mengirimkan alamat tempat mereka ketemuan. “Gue pernah bilang, kan? Ziva itu mau jadi pacar pura-pura sekali doang, setelah itu dia nggak mau jadi pacar pura-pura lagi. Itu sebabnya dia mengabaikan chat maupun telepon dari lo, Ar,” ucap teman Arda. “Jangan salah, tadi dia jawab telepon gue dan bersedia diajak ketemu,” jawab Arda. “Lagian gue mau ketemu sama dia buat minta maaf, bukan buat ngajak lanjut pura-pura pacaran. Toh pestanya juga udah telanjur kacau,” sambung pria itu. “Serius? Dia mau diajak ketemu?” “Masa gue bohong?” balas Arda. Bersamaan dengan itu, ponsel Arda bergetar lantaran ada panggilan masuk. “Nih lihat, dia nelepon gue,” ucap Arda seraya menunjukkan layar ponselnya. Setelah itu, Arda segera menjawab telepon Ziva.... “Halo, Ziva?” sapa Arda, nada bicaranya kentara sangat hati-hati. “Maaf tadi aku tutup teleponnya sebelum kita bicara di mana ketemunya.” “Ah, itu bukan masalah. Toh sekarang bisa teleponan lagi,” balas Arda. “Terus jadinya kita ketemu di mana?” lanjut pria itu. Ziva kemudian menyebutkan tempat. Dengan penuh semangat, Arda mengatakan akan datang tanpa terlambat. Rencananya mereka akan bertemu menjelang sore ini. *** Menjelang sore, Arda sudah bersiaga di kafe yang menjadi tempat janjiannya dengan Ziva. Ia bukan sekadar datang tepat waktu, melainkan datang lebih awal, sengaja ia yang menunggu Ziva. Lima belas menit kemudian, Ziva akhirnya datang. Jujur, Arda sempat khawatir kalau Ziva berubah pikiran lalu memilih tidak datang menemuinya. Tapi nyatanya di sinilah wanita itu berdiri, Ziva sudah ada di hadapan Arda dan saat ini sedang menarik kursi tepat di hadapan pria itu. “Terima kasih udah datang,” ucap Arda yang tak bisa menyembunyikan raut wajah semringahnya. Ziva tersenyum tipis, lalu menyadari satu hal. “Wajah kamu kenapa?” tanyanya kemudian. “Kamu dikeroyok, ya?” lanjutnya, menebak. “Apa malam itu, kentara kalau aku mau dikeroyok?” Ziva mengangguk-angguk. “Se-jelas itu.” “Apa itu alasan kamu pergi duluan? Sumpah ya Ziva, aku khawatir kamu kenapa-kenapa. Aku merasa nggak bertanggung jawab karena bawa kamu ke sana tapi ending-nya kamu malah pulang sendiri. Kamu pasti takut banget.” “Aku takut, tapi itu hanya awalnya aja. Selanjutnya ... aku lebih ke arah kaget. Kaget banget malah.” “Apa kamu mendengar tentang aku di sana?” “Maksudnya gimana?” Ziva bertanya balik, seolah tak tahu maksud pembicaraan Arda. Padahal ia sangat paham itu berkaitan dengan masa lalu yang kelam. “Ini soal aibku lima tahun lalu. Aku harap kamu belum mendengarnya, dengan begitu aku bisa jelaskan sendiri sehingga kamu mengetahuinya secara langsung dari mulutku, bukan dari orang lain. Tapi kalau kamu udah mendengar semua itu ... aku nggak akan melakukan pembelaan apa pun. Aku memang se-kotor dan se-berengsek itu.” “Aku udah mendengarnya dan saat pertama tahu ... aku kaget banget. Dulu itu sampai masuk berita.” “Iya, dulu sampai rame banget. Aku agak beruntung karena identitasku berhasil ditutup rapat. Andai ketahuan, habislah aku,” kata Arda. “Kamu pasti jijik, kan, sama aku?” “Kalau jijik, apa aku bakal setuju diajak ketemu begini?” Ziva balik bertanya. Arda pun terdiam sejenak, tampak berpikir. “Ja-jadi?” tanya Arda kemudian. “Aku setuju kita ketemu bukan buat mengatakan kalau aku jijik. Juga, bukan mau membahas aib kamu lima tahun lalu. Kamu pikir aku peduli? Enggak. Itu masa lalu kamu. Memangnya aku berhak menghakimi?” Arda kembali terdiam, mencoba menerka-nerka apa maksud ucapan Ziva. “Aku sebenarnya mau tanya, tujuan kamu bawa aku ke pesta itu apa? Kamu ingin menunjukkan pada temanmu kalau kamu punya pacar, atau—” “Ya, itu tujuanku. Aku ingin menunjukkan pada mereka kalau aku nggak bersatu dengan perempuan yang seharusnya menikah dengan salah satu temanku lima tahun lalu. Selain itu, seperti yang udah aku katakan sama kamu kalau terlalu aneh untuk datang sendiri. Makanya aku sewa pacar bohongan.” Arda melanjutkan, “Sayangnya aku nggak memikirkan dampaknya. Gara-gara aku, kamu jadinya ikut terseret dalam kerumitan yang nggak kamu pahami.” “Aku paham, kok. Sedikitnya aku mengerti,” balas Ziva. Arda mengernyit. “Eh?” “Serius, aku paham. Makanya aku mau tanya lagi ... apa kamu butuh pacar pura-puranya buat ke pesta doang? Setelah pesta selesai, kamu nggak kepikiran punya pacar bohongan lagi. Begitu, kan?” “Ziva, sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan? Bisakah langsung aja?” tanya Arda, kelewat penasaran. “Intinya, kamu udah nggak butuh pacar bohongan lagi, kan?” Ziva memperjelas. Bisa dibilang Arda tak butuh pacar bohongan lagi. Namun, pria itu sudah berencana ingin mendekati Ziva dengan sungguh-sungguh. Arda tidak bohong kalau dirinya tertarik pada Ziva. “Tapi kita bisa tetap berteman, kan? Jujur ya Ziva, aku nyaman berada di dekat kamu.” “Kalau nyaman, tolong bantu aku.” Nada bicara Ziva benar-benar sangat serius. “Bantu apa?” Arda berjanji akan berusaha membantu wanita di hadapannya itu. Namun, Ziva perlu bantuan apa? “Sekarang ... giliran aku yang butuh pacar bohongan.” “Apa?!” Arda nyaris tak percaya dengan apa yang didengarnya. Ziva tidak salah bicara, kan? “Arda, kamu mau jadi pacar bohongan aku?” Hah?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN