BAB 2

1759 Kata
Pagi ini, Celine yang tiba di kantor baru hendak dia duduk tiba-tiba Megawati datang dengan membawa kopi untuknya.  “Ini, hasil otopsi dari Vina sudah keluar,” ucapnya sambil menyodorkan map yang berisi hasil otopsi.  “Dari tubuh Vina tidak ada luka lebam ataupun apapun, kemungkinan besar dia bunuh diri,” ucap Megawati sambil menyeruput kopi miliknya.  “Begitu, kenapa?” Celine yang mendengar penjelasan Megawati cukup terganggu dengan pandangan yang Celine liat. Sebab dari jendela kaca, Celine menatap heran sesosok wanita yang berdiri di balik pohon lebih dari 3 jam memperhatikan kantor polisi dengan wajah yang cemas. Celine yang masih menatap wanita itu sambil kakinya melangkah keluar. “Hei, Celine, kamu dengar aku nggak?!” Ucap Megawati yang kesal merasa ucapannya tak di dengar. “Aku keluar bentar,” teriak Celine pada Megawati di kantor polisi. Dia berinisiatif untuk mencoba menghampiri wanita itu, tetapi karena dia takut wanita itu kabur di saat Celine menghampirinya, Celine mengambil jalan lurus dan lalu dia akan menemuinya dari belakang.  “Maaf, Mbak,” kata sopan Celine yang cukup mengejutkan wanita itu. “Tenang-tenang, ada yang bisa saya bantu,” ucap Celine menenangkan wanita itu yang terlihat seperti ketakutan. “Be..begini.. saya sebetulnya melihat wanita yang meninggal di mobil kemarin bertemu dengan seorang pria,” ucapnya. “Maaf,” Celine yang terheran. “Iya, saya tahu, saya pemilik minimarket yang dia datangi. Dia adalah pemilik cafe yang ada di ujung jalan itu,’kan? Saya melihat dia bertemu dengan seorang pria,” ucap wanita tersebut. Mendengar kata-kata wanita tersebut cukup meyakinkan membuat Vina mengajaknya untuk mengobrol di kantor polisi, untung saja wanita yang bernama Kia itu menyetujuinya. “Kata anda, Vina bertemu dengan seorang pria? bisa kamu jelaskan bagaimana ciri-cirinya?” tanya Celine dengan heran.  “Dari fisiknya dia berambut panjang dan… Oia, aku ingat dia memiliki tato naga di lengan kanannya,” ucap Kia yang mengingat kejadian hari itu. “Kamu yakin?” Celine yang menanyakan kembali kebenarannya.  “Iya, saya sangat yakin, soalnya hari itu saya sedang membuang sampah dan saat saya hendak memanggilnya karena dia sudah keburu pria itu menghampirinya,” jelas Kia. Tika yang ikut mendengarkan terdiam seakan berpikir,” rambut panjang dan bertato naga?!” tanyanya dengan curiga. “Pria itu memiliki tinggi sekira-kira segini?” kata Tika yang menunjukkan tinggi dari tangannya. Di jawab anggukkan oleh Kia. “Terus dia bertubuh kurus?” tanyanya kembali. “Iya, betul-betul” jawab angguk Kia membetulkan pernyataan Tika. Tika dan Celine saling bertatapan seakan mengetahui jawaban dari siapa sosok pria tersebut. “Baiklah, Mbak Kia, terima kasih atas informasinya,” ucap terima kasih Tika. “Sama-sama, Mbak,” kata Kia lalu meninggalkan kantor polisi. “Dia bertemu dengan Thomas!” Celine mengucap kata dengan kesal. “Tunggu-tunggu, bukannya Vina pernah cerita kalau Thomas itu nggak terima kalau dia putus dengan Vina,” kata Tika. “Jangan-jangan Thomas yang membunuhnya,” Tika yang berasumsi. “Kita tidak bisa menuduhnya dengan tanpa bukti, Tik,” ucap Celine. “Hei, sekarang itu lagi booming kasus pembunuhan karena cinta, cinta di tolaklah, putus cintalah,” katanya Tika kembali. “Iya, tapi kita nggak bisa menuduh begitu saja. Kita mencari Thomas dimana?” tanya Celine. “Hmmm...” “Sebentar, bukannya seminggu yang lalu kita menangkap anak buah Thomas. Kita harus kembali mengorek keberadan Thomas dari dia,” ungkap Celine. “Bukannya dia bilang dia tidak tahu?” Tika yang menatap Celine. “Ayolah, Tik, mana mungkin seorang kaki tangan tidak mengetahui bosnya,” kata Celine meyakinkan. “Kalau gitu, suruh Dio mengintrogasinya kembali,” suruhnya. Sekitar 1 jam lamanya Dio mengintrogasi Beni, pria yang menjadi anak buah Thomas yang tertangkap karena kasus narkoba. Dalam introgasi Dio, Celine dan Tika tidak mendapatkan jawaban yang mereka inginkan. Beni bahkan rela untuk di bunuh daripada memberitahu keberadaan Thomas. Thomas, adalah seorang bandar narkoba yang memiliki banyak anak buah dan begitu banyak jaringannya. Bisa dibilang Thomas sangat dekat dengan petinggi-petinggi negara dari kepolisian, Menteri, dan beberapa mantan pejabat negara. “Kemana kita dapat menemukan si b******k itu!” Celine yang mengumpat dengan kesal. “Bagaimana kita pergi ke daerah rumah lama Thomas, siapa tahu tetangganya mengetahuinya,” Tika memberi saran.  “Aku sudah menyelidikinya, dan mereka tidak mengetahuinya,” ucap Celine menghela nafas panjangnya.  “Bahkan aku sampai menanyai keberadaannya pada Rika, mantan Thomas dan hasilnya nihil,” ucapnya kembali. Pihak kepolisian bahkan sudah meminta bantuan ke berbagai kepolisian yang ada di Indonesia, tidak hanya itu, bahkan mereka meminta bantuan polisi dari negara-negara tetangga untuk menangkap pria yang bernama Thomas Wijaya tersebut. Tak terasa sudah hampir sebulan kasus Vina belum menemui titik terangnya. *** Di siang hari kepolisian mendapatkan sebuah panggilan dari seorang pria,” Halo, polisi, saya mau melapor kalau rumah tetangga saya mencurigakan, pintu pagar rumahnya terbuka lebar dari kemarin dan suara TVnya menyala, sedangkan kami menggedor rumahnya tidak ada yang menjawab,” jelas seorang Pria dari telepon itu.  “Baik, Bisa dijelaskan alamatnya?” tanya Bimo seorang polisi yang sedang bertugas saat itu. “Di daerah Bintaro Jl. Kemangi no 27, tepatnya di belakang Sekolah Pelangi,” ucap pria itu.  “Baik, saya menuju kesana,” Anto mengakhiri teleponnya.  Sampai di TKP, sudah banyak warga yang berkumpul di depan rumah yang mencurigakan tersebut. Polisi Bimo langsung masuk ke rumah tersebut dan ternyata tidak di kunci. Betapa kagetnya dia saat melihat sepasang suami istri yang sudah tergeletak tak bernyawa di depan televisi dengan mulut yang berbusa. Bimo dan Anto masuk ke rumah itu, dengan sangat hati-hati dia melihat sekeliling lokasi kejadian. Dan dugaan sementara bahwa mereka meninggal karena keracunan makanan, terbukti dengan adanya sepiring roti yang berada di meja yang tidak jauh dari jenazah tergeletak. Polisi Bimo dan timnya menggeledah TKP untuk mencari-cari bukti yang ada, tak sengaja Bimo melihat foto keluarga dari sepasang suami istri itu. Dia melihat putri mereka, dia mengenali wanita tersebut, wanita tersebut adalah Vina. “Komandan, dari saksi tetangga mengatakan bahwa kemarin  ada seorang pria yang datang ke rumah ini,” ucap Anto anak buah Bimo. “Seorang pria? Dimana dia?” tanya Bimo . “Disana,” Bimo yang mengikuti Anto pergi ke arah tempat saksi mata itu berdiri.  “Maaf, kata anak buah saya, anda melihat seorang pria yang datang kesini kemarin?” tanya Bimo memastikan pada Pria tanggung yang berusia sekitar 27 tahun. “Iya, betul, kebetulan saya pada saat itu saya sedang melintas jalan ini,” ucapnya. Bimo mendengarkan sambil menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Saat hendak kembali masuk ke rumah, dia melihat CCTV yang berada di atap dekat pagar.  Bimo langsung menelepon Celine yang sedang menangani kasus Vina untuk menceritakan bahwa kedua orang tua Vina telah meninggal.  “Celine, cepat kamu datang ke rumah Vina sekarang. Kedua orang tua Vina ditemukan telah meninggal,” ucap Bimo di dalam telepon. Celine yang mendapatkan telepon tanpa berpikir panjang langsung ke kediaman Vina. Sampai di sana Bimo langsung menjelaskan kejadian yang ada. Untuk saja, di depan rumah Vina terdapat CCTV. Celine, Tika dan Bimo langsung melihat layar CCTV yang berada di ruangan sebelah kamar orang tua Vina. Mereka memperhatikan dengan sangat jeli dan benar apa yang dikatakan oleh tetangga  dengan rekaman CCTV. “THOMAS!” ucap Celine dan Tika bersamaan. Mereka langsung mengenali sosok pria yang baru keluar dari rumah tersebut. Pria selama ini dicari oleh Celine dan Tika selama sebulan ini.  Untung saja plat nomor polisi dari mobil Thomas terekam jelas oleh kamera CCTV sehingga mereka sedikit lebih mudah mencari keberadaan Thomas. Mereka sangat yakin kalau memang Thomas yang membunuh kedua orang tua Vina dengan membawa roti untuk dimakan oleh kedua orang tua Vina. Tidak butuh waktu lama, Celine dan Tika pergi ke tempat dimana saat ini mobil itu berada.  Mobil yang di kendarai oleh Thomas berada di sebuah kawasan perumahan elit di daerah Jakarta Barat. Celine dan Tika langsung pergi ke rumah tersebut, sedangkan Bimo membawa jenazah dari kedua orang tua Vina ke rumah sakit. Celine dan Tika yang memakan pakaian biasa dan mobil pribadi sampai ke rumah mewah bernomor 08 tersebut. Mobil yang sama dengan mobil yang dipakai Thomas ke rumah orang tua Vina terparkir di depan rumah. Celine mengetuk pintu rumah tersebut, yang keluar pembantu dari rumah tersebut. “Maaf, apakah ini rumah Thomas?” tanya Celine. “Iya, betul,” ucap pembantu rumah tersebut. “Apakah bisa bertemu dengannya?” tanyanya. “Maaf, apakah sudah ada janji?” tanya Sang Pembantu. “Hmm.. belum, tapi saya dan Thomas saling kenal. Bisakan sampaikan pada Thomas bahwa saya menunggunya di depan,” ungkap Celine pada pembantu itu dengan penuh harap. “Sebentar, saya akan sampaikan kepada Pak Thomas,” ungkapnya lalu meninggalkan mereka, tidak luput Sang Pembantu menutup pagar rumah itu. Celine dan Tika menunggu di depan pagar. Untung mereka tidak menyerah untuk menunggu seorang Thomas keluar. Hampir 1 jam akhirnya pembantu tersebut keluar.  “Kalian dibolehkan masuk,” ucap pembantu itu disambut dengan senyuman dari Celine dan Tika.  “Kalian apa kabar?” Thomas yang menyambut kedatangan Celine dan Tika.  Dengan kompromi  yang sangat pelik di antara keduanya, akhirnya Thomas pun mau di wawancarai dan di bawa ke kantor polisi. Mereka tidak mau menggerebek rumah Thomas, karena dia di rumah Thomas pasti memiliki banyak pengawal yang menjaganya. Celine dan Tika tidak mau sampai mengganggu ketenangan warga setempat, Celine tidak mau adanya adu tembakan di antara polisi dan mereka. Dan dia juga tahu sifat Thomas. Thomas merasa bahwa dia bukan seorang penjahat. Itu yang dia amati saat dia masih berpacaran dengan Vina. Setelah sampai di kantor polisi, Thomas langsung di introgasi. “Thomas, kamu semalam pergi ke rumah Vina?!” tanya Celine. “Iya, aku hanya berkunjung kesana untuk berbelasungkawa, yang kutahu dia sudah meninggal, aku sangat terpukul dengan meninggalnya dia. Seandainya dia masih bersamaku, mungkin ini tidak akan terjadi, tetapi karena si tua bangka Andi dan Leny membuat aku dan dia harus berpisah, ” ucap Thomas dengan santai. “Kamu tahu, bahwa orang tua Vina sudah meninggal, mereka meninggal setelah hari dimana kamu meninggalkan rumah mereka,” ucap Celine. “Meninggal?” Thomas yang seperti kaget dengan apa yang dikatakan Celine. “Orang yang sombong seperti mereka bisa mati juga?!” tanya Thomas dengan heran dan sinis. “Kalau mereka mati baguslah,” ungkapnya kembali. Itu adalah sebuah kata yang membuat Celine cukup terhentak. Dengan kata-kata dia membuat Celine semakin yakin kalau memang Thomas lah yang membunuhnya. “Sepertinya ada orang yang tidak suka juga dengan orang tua sombong itu,” ungkap Thomas. “Bukan kamu yang membunuh mereka?” tanya Celine. “Aku membunuh mereka?” kata Thomas dengan tertawa menyindir. “Memang aku sempat berniat untuk membunuh mereka, tetapi aku tahu kalau mereka orang yang sangat disayangi Vina,“ ucapnya kembali. 2 jam Thomas di introgasi dan saat merasa cukup akhirnya introgasi itu selesai, tetapi Thomas tidak dikeluarkan begitu saja, sampai mereka mendapatkan bukti bahwa Thomas lah pelakunya. Megawati dan Megasary yang sudah menunggu Celine, “Mereka meninggal karena keracunan makanan, racun yang ada di tubuh mereka sama dengan racun yang terdapat di roti tersebut,” ucap Megasary. “Dan, dari sidik jari yang ada di kotak makanan, selain terdapat sidik jari kedua orang tua Vina, juga terdapat sidik jari Thomas,” ucap Megawati menambahkan. Tidak butuh waktu lama dan dengan bukti yang ada itulah membuat Thomas akhirnya di masukkan di dalam penjara. Di dalam pengadilan, Thomas akhirnya mengakui kalau dia yang membunuh orang tua Vina karena sakit hati lantaran orang tua Vina tidak setuju dengan hubungan mereka karena pekerjaan Thomas sebagai bandar narkoba. Di dalam pengadilan juga, Thomas dengan yakinnya kalau dia tidak membunuh Vina, walau dia pernah bertemu dengannya, tetapi itu hanya pertemuan perpisahan dengan dirinya dan Vina. Sesuai dengan KUHP ( Kitab Undang-undang Hukum Pidana ) pasal 340, akhirnya pengadilan menjatuhkan Thomas 20 tahun penjara. Walau pihak kepolisian belum dapat menemukan bahwa yang membunuh Vina, setidaknya dugaan awal menjadi landasan jika Thomas jugalah yang membunuh Vina karena lantaran sakit hati sebab hubungan mereka harus putus.  Celine dan Tika paham betul jika Thomas sangat mencintai Vina dan perpisahan mereka membuat luka yang mendalam untuk Thomas. BERSAMBUNG ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN