Suasana dalam bus di sore hari sebagian dipadati oleh para pekerja kantoran yang keluarganya telah menunggu di rumah, sebagian lagi anak-anak sekolah yang baru selesai bimbel ataupun anak kuliahan yang lelah setelah seharian mengikuti kegiatan kampus. Begitu pula yang dilakukan oleh Tina dan Seli, mereka adalah mahasiswi tingkat pertama di salah satu perguruan tinggi di Jakarta Barat.
Tina yang jenuh dengan aktivitas kampus yang banyak membuat Tina memilih untuk bermain ke rumah Seli. Akhirnya dia menelepon ibunya untuk bermain ke rumah Seli dan setelah sang ibu mengizinkan akhirnya dia pun bermain di rumah Seli.
“Wah, sudah sore, kayaknya aku balik deh, soalnya lu tau ndiri ortu gue, dia enggak boleh pulang malam-malam,” ucap Tina yang mengambil tasnya.
“Om, Tante, Tina pamit pulang,” Tina yang pamit sambil salim tangan kedua tangan orang tua Seli.
“Udah mau magrib, om anter aja, nanti kamu kenapa-napa lagi di jalan,” ucap Ayah Seli yang khawatir dengan Tina.
“Nggak perlu Om, aku naik angkot aja,” Tina yang menolak dengan halus.
“Kamu yakin?” Ayah Tina memastikan kembali.
“Iya, Om,” ucap Tina.
“Ya, udah, kalau gitu, kamu hati-hati di jalan, ya, kalau udah di rumah telepon Seli,” ucap Ayah Tina yang khawatir, maklum saat ini marak kasus pembunuhan.
“Iya, Tin,” Seli menyahut.
Jam sudah malam, sekitar pukul 9 malam. Tina belum juga sampai ke rumah, kedua orang tua Tina curiga dengan belum sampainya sang putri, dia menelpon putrinya, tetapi tidak ada yang mengangkat.
“Halo, Seli, ya, Tina udah pulang belum?” tanya Mama Tina pada Seli melalui telepon.
“Tina? Tina udah pulang dari jam 5 tadi, tan,” Seli yang memberitahukannya.
“Dari jam 5, ya, kok dia belum sampai rumah, ya?” Mama Tina yang sangat khawatir karena seharusnya setengah jam kemudian dia sudah sampai ke rumah. Karena memang rumah Seli dengan rumah mereka tidak terlalu jauh.
“Oh, ya sudah, Sel, makasih, ya, “ Mama Tina yang langsung mematikan ponselnya.
Karena cemas takut anaknya terjadi apa-apa, akhirnya mereka menelepon kepolisian. Polisi yang mendapatkan berita tersebut langsung menuju rumah Tina.
Kedua orang tua Tina menunggu polisi datang dengan sangat cemas, 25 menit mereka menunggu polisi dan akhirnya polisi sampai juga di rumah Tina.
“Pak, tolong, anak saya hilang,” Mama Tina yang menghampiri polisi saat melihat polisi keluar dari mobilnya.
“Sabar bu, sabar, bisa di jelaskan kronologi kejadiannya,” ucap seorang polisi.
“Kita ngobrol di dalam, Pak,” ucap Papa Tina.
“Begini pak, anak saya yang pulang dari rumahnya dari jam 5, tapi sampai sekarang belum juga pulang, saya telepon ponsel anaknya tidak di angkat,” Mamanya Tina yang berusaha menjelaskannya dengan isak tangis.
“Mungkin anak ibu menginap di rumah saudaranya,” ucap polisi bertubuh gemuk itu.
“Kami sekeluarga tidak punya saudara di Jakarta!” ucap Mamanya dengan kesal.
“Saya takut anak saya kenapa-napa, pak,” Mamanya Tina yang teriak dengan isak tangis yang semakin menjadi.
“Anak saya kuliah di Universitas UDIDA, dan saat pulang kuliah dia bilang mau main ke rumah temannya di apartemen Taman Bunga, Blok Kura-kura, No 177, ” Papanya Tina menjelaskan.
“Baik, dengan pakaian apa dia terakhir pakai dan bisa bapak beri kami foto putri bapak?” tanya polisi gemuk itu.
“Oh, sebentar,” Papa Tina yang mengambil foto Tina yang terbingkai di ruang tamu.
“Ini fotonya, pak, dan dia terakhir pakai baju kemeja warna merah muda dan celana panjang jeans,” Papa Tina yang menjelaskan.
Saat mendengar penjelasan dari orang tua Tina, polisi langsung menelusuri rute dari rumah Tina, rumah Seli dan juga di kampus mereka, tapi tidak menemukan apapun.
Karena sudah tengah malam, dan tidak memungkinkan untuk pencarian akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali mencari di esok hari.
***
Poisi Tino yang menangani kasus Tina memulai pencarian di pagi hari. Dalam perjalanan, Tino melihat sebuah tas yang berada di pinggir tempat sampah, tas yang sama dengan tas yang Tina pakai terakhir kali.
“Berhenti,” ucap Tino pada anak buahnya.
Tino langsung keluar dari mobilnya, dia menghampiri dan mengambil tas tersebut. Karena dengan merek tas milik Tina, tidak ada orang yang mau membuang tas tersebut sembarangan apalagi dengan kondisi yang masih bagus.
Mereka menggeledah tas tersebut dan benar saja, itu tas milik Tina, tetapi yang membuat mereka bingung adalah jarak tas yang ditemukan dengan jarak antara kampus dan rumah Tina ataupun rumah Seli.
Jarak rumah Tina dan kampus adalah 1 KM, sedangkan jarak rumah Seli dan kampus hanya sekitar 700 M. Dan tas Tina ditemukan sejauh 5 KM.
Pencarian polisi fokus di daerah tempat tas Tina ditemukan, tetapi tidak ditemukan apapun bahkan sampai 1 bulan lamanya mereka mencari tidak adanya tambahan bukti apapun.
Di minggu ke-5, mereka menemukan sepatu Tina di sebuah lorong kali yang jaraknya sekitar 200 M tadi tas Tina ditemukan. Dan lagi-lagi tidak ada jejak apapun dari Sang Pelaku.
Kemungkinan dugaan bahwa Tina meninggal karena bunuh diri. Polisi langsung menelusuri kali tersebut sampai 3 minggu lamanya, untuk mendapatkan jenazah Tina, tetapi polisi tidak mendapatkan apapun. Sampai akhirnya polisi menghentikan pencarian.
Saat polisi sudah hampir menyerah. Di minggu ke-10, polisi mendapatkan telepon dari seorang kakek-kakek mengatakan bahwa ada sebuah kardus besar yang berada di sebuah selokan got dekat rumahnya dan dia melihat seorang mayat wanita, mendengar hal tersebut polisi langsung bergegas ke TKP.
Setibanya disana mereka langsung menggeledah, dan ternyata itu adalah jenazah Tina dengan keadaan tanpa berbusana.
Dengan penuh heran bagi polisi adalah mayat tersebut berjarak 2 KM dari tas Tina ditemukan, atau sekitar 7,2 KM dari rumah Tina.
Polisi langsung membawa jenazah untuk diperiksa forensik, tetapi karena tubuh korban sudah tidak membusuk cukup parah membuat Megawati dan Megasary yang melakukan forensik sangat susah untuk mengetahui penyebab pasti dari kematian Tina, tetapi mereka meyakini tidak adanya tanda-tanda bekas pemerkosaan maupun tanda-tanda kekerasan,membuat mereka meyakini kalau Tina meninggal karena bunuh diri.
Saat polisi memberitahu kepada keluarga Tina, kedua orang tuanya tidak menerima bahwa itu dinyatakan bahwa itu adalah bunuh diri. Mereka meyakini bahwa putrinya dibunuh, karena di sana tidak di temukan pakaian-pakaian milik Tina.
Orang tua dan teman mengatakan kalau dia adalah orang yang ceria, orang tua Tina meminta kasus ini diselidiki secara detail.
Polisi cukup kebingungan jika Tina dibunuh, tidak adanya tanda-tanda pelaku. Polisi mencoba melakukan pencarian dari CCTV yang terpasang di sebuah minimarket dekat Tina ditemukan.
Saat polisi mencari bukti-bukti ada seorang pedagang datang mendekati seorang polisi yang berada di TKP, “Pak, saya sewaktu beberapa minggu yang lalu, saya sempat melewati jalan ini. itu sekitar jam 3 pagi, waktu itu saya mau ke pasar dan ada sebuah mobil box hitam yang melewati jalan ini dan orang itu membuang sebuah kardus besar,” ucapnya.
Mendengar penjelasan dari saksi mata, polisi menanyai detail dari mobil box tersebut, tetapi sayang karena saat itu langit masih gelap, jadi pedagang tersebut tidak mengetahuinya.
Polisi kembali mencari dari data yang mereka dapatkan, tetapi tidak ditemukan apapun. Bahkan tidak adanya sebuah kardus yang seperti dikatakan oleh Sang Pedagang tadi.
Polisi akhirnya pun menutup kasus tersebut. kasus tersebut sebagai kasus bunuh diri.
***
Di suatu tempat, ada seseorang dengan memegang cangkir kopi sambil tersenyum menyaksikan berita tentang kematian dari Tina.
Setelah itu, dia mematikan televisi. Dia langsung keluar dari rumahnya, dia menuju ke sebuah pemakaman. Dengan pakaian kemeja hitam, dia datang ke sebuah makam dan itu adalah makam milih Vina Lestari.
“Aku mencintaimu, dengan kamu mati tidak ada yang dapat yang memiliki kamu, aku ataupun pria yang bernama Andre tersebut,” ucapnya di depan nisan.
“Apa kamu kini bersama kedua orang tuamu yang sombong itu?” tanyanya.
“Aku yang membuatmu berada di sini, tetapi kamu tahu kalau sih bandar narkoba itu yang membunuh orang tuamu? Dengan begitu aku tidak perlu mengotori tanganku dengan darah dari orang sombong seperti mereka,” ucap bisiknya di batu nisan.
“Tidurlah dengan tenang, aku akan selalu berkunjung disini,” katanya dan akhirnya dia meninggalkan pemakaman.
Flashback..
Hari dimana pemakaman Vina berlangsung, ada seseorang dengan memakai kacamata hitam ikut datang untuk melayat dan menyaksikan Vina dimakamkan. Dengan raut wajah yang sedih, dia seperti terpukul dengan kematian Vina. Setelah peti mati Vina yang sudah bersatu dengan tanah, dia memilih untuk pergi dengan menundukkan kepalanya. Dia memasuki mobil dan pergi meninggalkan pemakaman.
BERSAMBUNG
***