Beberapa hari setelahnya Segara langsung menyiapkan segala untuk kepindahan kekasihnya, bahkan terlihat sekali jika lelaki itu sangat gerak cepat karena cemas. "Mas." "Hm?" lelaki berkaos hitam polos yang sedang memindahkan koper ke dalam bagasi mobil itu menoleh dengan kernyitan samar mendengar panggilan perempuan di sebelahnya, nampak raut ragu dari perempuan itu. "Aku beneran gak papa pindah ke apartemen kamu? Disana kan tempat mewah." Ujarnya membuat lelaki itu menghela napas perlahan. "Sini." Meskipun mengernyit bingung tapi Riska tetap mendekat penasaran, tanpa diduga sebuah kartu diserahkan ke tangannya. "Ini buat akses masuk, mulai sekarang jangan pikirin hal seperti itu lagi, milikku berarti juga milikmu." Wah, untuk sesaat Riska sampai tertegun mendengarnya, semua perempuan

