Leona berdiri di depan cermin yang ada di dalam kamarnya untuk memeriksa kembali penampilannya. Leona tersenyum begitu yakin penampilannya sudah sesuai dengan keinginannya. Leona terlihat lebih segar karena semalam tidurnya lebih lelap dari sebelumnya. Lelah karena lembur semalam mampu mengalihkan pikirannya dari suaminya.
Leona meraih tas kerjanya dan segera berjalankeluar dari kamarnya. Baru saja Leona akan mengambil sepatunya, bel rumahnya berbunyi.
“Siapa yang bertamu ke rumahku pagi-pagi begini?” gumam Leona.
Hanya ada dua orang yang mengetahui rumahnya, Esme dan Dave. Leona segera membuka pintu rumahnya.
Betapa terkejutnya Leona begitu melihat siapa yang ada di balik pintu rumahnya.
“Selamat pagi, Leona,” sapa laki-laki yang berdiri di depan pintu rumah Leona sambil tersenyum pada Leona.
Wajah tampan dengan postur badan tegap kekar bak model dalam balutan stelan jas berwarna biru dongker terlihat begitu berkarisma dan menawan namun tidak bagi Leona pada saat itu. Wajah yang selama ini begitu di puja oleh Leona menjadi wajah yang sangat di hindarinya. Secara nyata atau hanya hayalan. Leona sedang berusaha keras untuk itu.
“Andrew? Sedang apa kamu disini?” tanya Leona gugup. Entah bagaimana Andrew bisa menemukannya.
“Aku sedang menemui istriku, Leona Paramitha. Bisa aku masuk?” ucap Andrew.
Leona mempertimbangkan permintaan Andrew beberapa saat. Dia takut terlambat ke kantor tapi dia tidak mungkin meninggalkan Andrew begitu saja di depan rumahnya.
“Masuklah. Tapi aku tidak bisa lama. Aku harus pergi sebentar lagi.”
Leona membuka lebar pintu rumahnya. Andrew melangkah masuk ke dalam rumah Leona kemudian menutup pintu itu.
“Kamu tidak perlu menutup pintu itu, Andrew. Toh kita juga hanya sebentar bicara,” ucap Leona.
“Kenapa? Kamu takut aku melakukan hal jahat padamu? Atau kamu takut tetangga di sekitarmu mencurigai kita? Bukankah kita masih pasangan suami istri yang sah?” Andrew menatap ke arah Leona. Tubuhnya dengan perlahan semakin mendekati Leona sampai Leona memundurkan tubuhnya untuk menghindari Andrew.
“Langsung saja pada tujuanmu, Andrew. Apa yang mau kamu katakan padaku? Aku sedang terburu-buru sekarang,” ucap Leona dengan cepat. Tangannya meremas ujung rok spannya karena takut. Wajahnya dan wajah Andrew hanya berjarak sejengkal.
Andrew menatap Leona beberapa saat. Dengan jarak yang begitu dekat, mereka bisa saling merasakan deru napas yang saling menggebu di antara mereka.
Andrew lebih mendekatkan lagi wajahnya ke arah wajah Leona. Ingin sekali rasanya ia mengecup bibir itu kemudian melumatnya dengan rakus. Bibir yang selama tiga tahun ini menjadi candu baginya. Tidak ada yang bisa mengalahkan keseksian bibir itu di mata Andrew meskipun ia telah mencicipi puluhan bibir wanita cantik nan seksi diluar sana.
Namun begitu melihat Leona menutup paksa wajahnya dengan ekspresi ketakutan di depannya, Andrew mengurungkan niatnya. Andrew tersenyum tipis ke arah Leona kemudian menarik tubuhnya menjauh.
“Cabut kembali gugatan cerai itu, Leona. Kita bisa bicarakan semuanya dengan baik-baik,” ucap Andrew.
“Bicarakan dengan baik-baik? Tentu saja. Tapi aku akan tetap melanjutkan gugatang perceraian itu.”
“Kamu benar-benar keras kepala, Leona. Sifat itu memang sudah mendarah daging di tubuhmu. Emosi sesaat hanya akan membuatmu menyesal,”ucap Andrew.
Leona hanya terdiam mendengar ucapan Andrew. Dia tidak tahu harus menjawab apa lagi. Tidak ada yang ingin di perbaikinya dari pernikahan itu dan tidak ada yang ingin disesalinya kelak. Setidaknya itu yang menjadi prinsip Leona sekarang.
“Kenapa baru sekarang kamu memberontak, Leona? Bukankah selama bertahun-tahun pernikahan ini, kamu sudah sangat terbiasa dengan kebiasaanku bersama perempuan lain di luar? Dengan pernikahan ini, apa kurang meyakinkamu bahwa kamulah Nyonya Andrew yang sebenarnya.”
“Apa kamu pikir aku sudah cukup bahagia dengan mendapatkan titel itu? Kamu mengikatku dengan titel seorang Nyonya Andrew kemudian memajangku di rumah bagaikan piala yang berhasil kamu dapatkan. Kamu bermain sepuasmu dengan perempuan lain diluar sana sementara aku menunggumu pulang setiap malam hanya untuk memuaskan sisa nafsumu yang sudah hampir habis di kuras wanita lain?”
Andrew terdiam mendengar ucapan Leona.
“Aku bukan tidak keberatan dengan semua perselingkuhan yang terang-terangan kamu tunjukkan di depanku. Aku hanya ingin menghormati komitmen yang aku pilih sendiri. tapi ternyata aku salah. Tidak ada komitmen yang hanya di hormati oleh satu pihak dalam sebuah pernikahan. Begitu aku tahu perempuan lain mengandung anakmu, kamu bukan lagi sedang mengingkari komitmen kesetiaan dalam sebuah pernikahan, tapi juga prinsip yang kamu bangun sendiri,” ucap Leona sambil menatap tajam ke arah Andrew.
Tatapan mereka bertemu beebrapa saat namun dengan cepat Andrew mengalihkan tatapannya.
“Kamu melarangku tapi membiarkan wanita lain mendapatkannya. Aku juga menginginkan hal itu Andrew. Sangat menginginkannya namun kamu dengan tega memasukkan hal itu ke dalam syarat pra nikah kita dulu.” Leona mengepal tangannya, berusaha menahan gejolak amarah di dalam hatinya yang mulai membuncah.
“Sekarang kamu sudah mengerti alasannya kan? Sepertinya pembicaraan kita sudah clear. Aku harus pergi sekarang, Andrew. Aku berharap kamu segera menandatangani surat gugatan perceraian itu agar urusan ini segera selesai.”
Leona berjalan melewati Andrew ketika akan mengambil sepatu kerjanya. Namun dengan cepat Andrew menangkap tangan Leona dan menariknya hingga tubuh Leona terhampas ke arah tubuh Andrew.
Andrew menyambar bibir Leona dan dengan ganas melumatnya penuh nafsu. Andrew mendekap erat tubuh Leona hingga tak ada celah bagi Leona untuk lepas.
Dulu hal itu menjadi sebuah hal yang membahagiakan bagi Leona. Namun kali ini berbeda. Andrew yang biasa menyentuhnya dengan penuh kelembutan kini terasa seakan ingin membunuhnya. Leona berusaha memberontak namun tubuhnya yang kalah besar dengan Andrew membuat usahanya menjadi sia-sia.
“Lepaskan aku, Andrew! Setan apa yang sedang merasukimu! Sakit, Andrew!” ucap Leona terus meronta. Bibirnya yang sudah mengeluarkan cairan merah segar tidak membuat Andrew berhenti menggigit dan melumat bibir itu.
Tangan Andrew mulai menjalar ke bagian depan tubuh Leona. Dengan kuat di remasnya kedua gundukan padat nan kenyal milik Leona.
“Tolong lepaskan aku, Andrew!” Air mata Leona mulai mengalir dari pelupuk matanya.
“Kenapa? Aku masih berhak bukan? Aku masih suamimu yang sah, Leona. Ayo layani suamimu sekarang!”
Andrew membuka paksa kemeja putih yang sedang di kenakan oleh Leona sampai semua kancing kemeja itu terlepas. Leona bergegas mendorong tubuh Andrew namun dengan cepat Andrew berhasil menangkap tubuh Leona kembali. Dengan cepat di bukanya semua pakaian dalam bagian atas Leona dan tubuh bagian atas Leona akhirnya terekspos dengan jelas.
Andrew mendorong tubuh Leona ke arah sofa dan menghempaskannya ke atas sofa itu.
“Tidak, Andrew. Aku mohon!” ucap Leona dengan cepat berusaha menahan tubuh Andrew yang kini menindihnya.
“Kenapa? Bukankah tadi kamu bilang kamu menginginkan hal ini? Kamu menginginkan kehamilan itu kan? Aku akan mengabulkan permintaanmu itu sekarang. Persyaratan bahwa kamu tidak boleh hamil selama pernikahan kita, aku cabut kembali. Kamu bahagia kan sekarang?” ucap Andrew sambil menyeringai ke arah Leona.
“Tidak, Andrew. Jangan seperti ini!”
Andrew sama sekali tidak mendengarkan tangis dan ucapan memohonyang keluar bertubi-tubi dari bibir Leona. Dia sibuk menikmati tubuh Leona yang kini berada di bawah kuasanya.
Tiba-tiba sebuah tamparan keras mendarat di pipi Andrew, membuatnya tersadar dan berhenti dengan kegiatannya.
“b******k!” teriak Leona. Entah dari mana di dapatkannya tenaga sekuat itu.
“Kau menyamakan aku dengan perempuan murahan yang sering kau tiduri diluar sana? Pergi kau! Pergi dari rumahku!” Leona berusaha mendorong tubuh Andrew menjauh darinya.
Andrew menatap Leona yang menangis di depannya dengan nanar. Andrew tersadar kemudian berdiri dan menajuh dari Leona.
Leona bangkit dan duduk sambil menutupi tubuhnya dengan kemejanya yang sudah berantakan.
“Dengar Leona, aku tidak akan membiarkan perceraian ini terjadi. Sekali kamu masuk ke dalam kehidupanku, kamu tidak akan pernah bisa keluar!” Andrew memperbaiki penampilannya sekilas kemudian berjalan keluar dari rumah Leona.
Leona mendengar suara mobil Andrew yang begitu dikenalnya melaju pergi menjauh. Leona segera bangkit berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya. Ditatapnya tubuhnya yang begitu berantakan di depan cermin. Bibirnya yang terluka terasa pedih dan masih mengeluarkan sedikit darah.
Leona dengan cepat mengambil tisu dan menyeka darah yang ada di bibirnya. Leona tersadar dari lamunannya dan melihat ke arah jam yang ada di dinding kamarnya.
“Aku harus bergegas memperbaiki penampilanku. Aku bisa di pecat jika terlambat begitu semua investor itu berkumpul,” gumam Leona sambil bergegas mengganti pakaiannya.
Entah bagaimana Leona akan menghadapi hari ini dengan mood yang sudah dikacaukan oleh Andrew.