Leona bergegas masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya di depan rumah. Berulang kali di lihatnya jam yang ada di pergelangan tangannya dengan perasaan panik. Kedatangan Andrew tadi membuatnya harus mengganti semua pakaiannya dan mengulang riasan di wajahnya, membuatnya semakin kehilangan banyak waktu.
“Bisa dipercepat mobilnya pak? Saya sudah terlambat,” ucap Leona pada supir taksi yang sedang membawanya.
“Baik, Bu.”
Supir taksi itu segera menambah kcepatan mobilny menuju ke titik tujuan yang sudah di pesan oleh Leona.
Sekitar 20 menit kemudian taksi yang sedang di naiki Leona tiba di depan lokasi proyek yang menjadi tujuan Leona. Hari ini memang semua divisi dan direksi sedang ada agenda meninjau lokasi mega proyek yang sedang mereka kerjakan bersama para investor. Leona yang merupakan salah satu tenaga arsitek di wajibkan untuk turut serta ke lokasi proyek.
Leona bergegas berlari menuju ke kerumunan orang yang berada di dalam lokasi proyek itu sambil membawa gambar-gambar yang kemarin sudah diselesaikannya.
“Dari mana saja kamu, Leona? Kenapa baru datang jam segini?” ucap Adam, atasannya sambil berbisik. Dia langsung menemui Leona yang masih berada jauh dari kumpulan direksi. Dari ekspresi wajahnya sudah tergambar sedikit amarah dan kekhawatiran namun begitu melihat lebaran gambar yang ada di tangan Leona, wajahnya langsung berubah lega.
“Maaf pak, tadi ada tamu yang tibatiba datang ke rumah saya. Saya sudah ingin menyuruhnya pulang tapi-“
“Sudahlah. Berikan gambar-gambar itu. Saya harus memeriksanya terlebih dahulu sebelum nanti di tampilkan di depan direksi dan investor. Kamu beruntung investor utama kita belum datang. Kalau tidak, bukan kamu saja yang akan di berhentikan dari perusahaan ini tapi saya juga sudah pasti ikut kena imbasnya,” omel Adam sambil mengambil gambar-gambar itu dari tangan Leona dan memeriksanya dengan teliti.
“Maafkan saya, Pak. saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” ucap Leona memohon pada atasannya itu.
Adam terlihat bergitu serius memeriksa gambar-gambar yang di kerjakan oleh Leona sampai tidak menanggapi apa yang di katakan oleh Leona padanya.
“Bagus. Tidak salah saya merekrutmu secara instan. Ternyata kinerja kamu bisa diandalkan bahkan disaat genting seperti ini. Kamu ikuti kemanapun saya, terutama ketika saya menjelaskan gambar ini agar kamu bisa membantu saya jika saya bingung nanti.”
Leona berjalan mengikuti Adam dan berdiri di dekatnya. Semua orang tampak kikuk menunggu investor utama yang masih juga belum menampakkan wajahnya di lokasi proyek.
“Kenapa investor utama itu belum juga datang? Sungguh seorang pengusaha yang tidak profesional. Aku yakin jajaran direksi dan investor lainnya pasti sedang sangat kesal sekarang. Kenapa kaum dengan jumlah uang tak berseri selalu merasa dirinya eksklusif dan layak untuk selalu di tunggu?” batin Leona kesal.
Netra Leona tak sengaja tertuju pada seorang pria dengan setelan jas rapi di dekatnya.
“Dia juga ikut ke lapangan? Dari divisi apa dia sebenarnya?” gumam Leona sambil mengernyitkan keningnya.
Dengan perlahan namun pasti Leona melangkankan kakinya mendekati Dave, pria yang di lihatnya dari tadi.
“Kamu juga disini, Dave?” tanya Leona setengah berbisik begitu berada tepat di belakang Dave.
Dave spontan langsung melihat ke arah belakang, kemudian mengembangkan senyumnya begitu melihat kehadiran Leona di belakangnya.
“Ya, aku juga ikut melihat proyek ini, Leona. Aku tidak melihatmu dari tadi. Apa kamu dari tadi berada di belakangku?” tanya Dave yang ikut berbisik ke arah Leona.
Beberapa orang direksi yang berada di dekat Dave tampak bingung dan melihat ke arah Leona dengan tatapan aneh. Namun karena Dave memberikan respon yang hangat pada Leona, mereka menjadi segan untuk menegurnya.
“Aku datang terlambat. Tadi pagi ada orang yang menjengkelkan datang ke rumahku dan membuatku terlambat. Untungnya investor utama belum datang jadi acara peninjauan proyek ini belum di mulai.”
“Orang menjengkelkan? Siapa?” tanya Dave sampai tubuhnya hampir seluruhnya menghadap kearah Leona.
“Entahlah. Aku sedang malas membahasnya.”
“Baiklah kalau begitu.” Dave menganggukkan kepalanya sambil membalikkan kembali tubuhnya ke arah depan.
Tiba-tiba seorang perempuan cantik datang mendekati Dave.
“Pak Andrew dari PT Wicaksana Grup sudah datang, Pak,” ucapnya pada Dave sambil memberikan hormat.
“Baiklah,” jawab Dave.
Aku tercekat mendengar nama yang baru saja diucapkan oleh wanita tadi.
“Pak Andrew dari PT. Wicaksana grup? Jadi investor utama yang dari tadi ditunggu-tunggu itu Andrew?” Leona terbelalak begitu menyadari hal itu.
Leona menggigit bibir bawahnya dan melihat ke sekitarnya. Netranya mengintip dari balik tubuh Dave. Ternyata dugaannya benar. Investor utama yang sedang mereka tunggu-tunggu sejak tadi memang suaminya, Andrew.
“Apa yang harus aku lakukan? Dia pasti akan menggangguku jika dia tahu aku bekerja di perusahaan ini.”
Leona segera bersembunyi tepat di belakang Dave. Tubuhnya yang mungil dan ramping membuatnya bisa bersembunyi dengan baik dibelakang tubuh Dave yang kekar.
“Senang bertemu dengan anda, Pak Andrew,” ucap Dave begitu Andrew berada di depannya. Tangannya langsung mengulur ke depan untuk menjabat tangan Andrew.
“Maafkan saya terlambat, Pak Dave. Tadi ada urusan pribadi yang tidak dapat saya tinggalkan.” Andrew menyambut uluran tangan Dave dan menjabatnya dengan senyuman hangat.
“Tidak masalah, Pak Andrew.” Dave membalas senyuman Andrew.
“Saya mohon maaf sedalam-dalamnya atas keterlambatan ini, bapak dan ibu mitra sesama investor,” ucap Andrew sambil memberi hormat ke orang-orang yang berada di depannya.
“Baiklah. Bisa kita mulai acaranya?” tanya Dave.
“Silahkan.” Andrew mempersilahkan Dave untuk membuka acara itu.
Dave mengajak Andrew dan semua investor mulai berjalan menggitari bagian depan proyek yang sedang di garap. Begitu tubuh Dave berlalu, Leona segera membalikkan tubuhnya agar tidak terlihat oleh Andrew.
“Leona! Sudah saya katakan tadi jangan jauh dari saya. Sebentar lagi giliran kita untuk menjelaskann struktur bangunan proyek ini,” ucap Adam yang menangkap basah Leona sedang berdiri terdiam sambil menghadap ke lawan arah.
“Ba-baik, Pak.”
Leona mengikuti Adam dari belakang. Tiba saatnya giliran Adam untuk menjelaskan struktur proyek itu di depan direksi dan investor. Leona berusaha tetap bersembunyi di belakang orang lain namun tetap berada di dekat Adam.
Dave yang tersadar dan memperhatikan gerak gerik Leona tersenyum geli sambil sesekali menundukkan kepalanya untuk menutupi wajah sumringahnya.
“Apa yang sedang dilakukannya kali ini? Dia memang wanita paket lengkap. Cerdas, pekerja keras dan lucu,” batin Dave sambil menahan tawanya.
Leona sangat beruntung kali ini. adam berhasil menyelesaikan presentasinya tanpa sedikitpun melibatkan Leona. Jadi Leona tidak perlu tampil di depan umum, terutama di depan Andrew.
Leona bernapas lega. Bagian terpenting baginya di acara itu sudah terlewati. Dengan mengendap-endap dan terus bersembunyi di belakang orang lain, Leona berjalan mendekati Adam yang sudah selesai menjadi pusat perhatian.
“Permisi, Pak. Boleh saya izin ke kamar mandi sebentar?” bisik Leona.
“Silahkan Leona. Tugas kita sudah selesai.”
“Terima kasih, Pak.”
Leona dengan cepat berjalan menuju ke belakang bangunan itu untuk menghindari Andrew. Jantungnya serasa akan lepas. Leona berusaha mengatur kembali ritme napasnya yang sedari tadi tidak teratur.
Leona duduk di sebuah kursi yang berada di belakang gedung itu sambil menunggu acara itu selesai dan Andrew pergi dari sana.
Leona melihat ke sekitarnya, memandangi bangunan-bangunan megah yang sedang dibangun. Dulu Leona dan Andrew pernah membuat gambar gedung-gedung seperti ini saat mengerjakan tugas perkuliahan mereka.
Leona jatuh cinta pada kecerdasan Andrew, namun dia menjadi terlalu bodoh mengabaikan sifat Andrew yang playboy. Leona terlalu memaksakan semuanya sampai akhirnya takdir menghukumnya dengan begitu keras.
Bayangan kenangan masa lalu itu kembali tampil dalam pikirannya satu per satu. Hal yang paling di benci oleh orang yang sedang mengikhlaskan sebuah perpisahan adalah mengingat semua kenangan-kenangan manis yang dilalui bersama.
Waktu terus berlalu. Tanpa terasa Leona sudah satu jam berada di sana. Sebuah deringan telepon terdengar dari dalam tasnya membuatnya tersadar dan segera mengambil ponselnya.
“Dave?”
“Kamu dimana, Leona? Kata Pak Adam tadi kamu pergi ke kamar kecil. Kamu baik-baik saja, Leona?” tanya Dave dari dalam telepon.
“Aku baik-baik saja, Dave. Apa acaranya sudah selesai?”
“Baru saja selesai. Semua investor sudah pergi.”
“Syukurlah,” ucap Leona dengan polos.
“Maksudnya?”
“Oh tidak, aku hanya tidak enak jika acaranya belum selesai tapi aku masihberada di belakang.”
“Kamu dibelakang. Tunggu, aku akan kesana,” ucap Dave.
“Jangan, Dave. Biar aku yang kembali ke depan,” jawab Leona sambil berdiri dari tempat duduknya dan menutup panggilan teleponnya.