Ada Apa Dengan Alea Dan Rendra?

1168 Kata
Tobias curiga kalau ada mata – mata atau justru Sophia atau ibunya akan datang untuk memastikan bahwa papanya sudah meninggal. Ia pun keluar rumahnya dengan langkah lebar menuju jalan dimana masih banyak mobil pelayat yang terparkir disana. Di depan pagar, ia melihat Alea dengan dua tangan terentang sementara beberapa meter di depannya ada alphard hitam yang kecepatannya tidak menurun meskipun ada orang yang jelas – jelas di tengah jalan. Pengemudi Alphard membanting setir ke kanan untuk menghindari Alea sementara Tobias berdiri di sisi kiri jalan. Secara spontan Tobias berlari lalu menarik Alea ke pinggir karena kalau tidak, gadis itu akan ditabrak. Alea jatuh dalam pelukan Tobias, matanya melebar dan napasnya berhenti sesaat karena terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Tobias melihat nomer plat alphard dan ia yakin kalau orang yang ada dalam mobil tersebut ada hubungannya dengan Sophia. Alea segera berlari mengejar alphard yang tentu saja sudah melaju kencang bahkan telah membelok menuju jalan raya. Tobias menggeleng – geleng saat melihat gadis bar – bar itu berlari seperti orang gila. Mengejar alphard yang melaju kencang sambil berteriak meminta pengemudi menghentikan mobilnya. “Bodoh,” gumam Tobias sambil menggeleng – geleng. *** Alea kesal karena di saat tabungannya sudah sangat tipis, kejadian semacam ini harus terjadi. Adsense yang ia dapat bisa mencapai ratusan juta, itu kalau beruntung. Kalau tidak, setidaknya ia mendapat puluhan juta dan membeli spion baru bukan jadi masalah. Masalahnya, gajian masih kurang dua puluh hari lagi, ia tidak meminta ijin Matias saat memakai mobilnya dan uangnya sudah sangat menipis. Ia tak tahu berapa banyak uang yang harus ia bayar untuk kerusakan mobil Matias. “SIAAAL!” teriaknya sambil mengepalkan kedua tangan dan diangkatnya tinggi – tinggi. Alea mendesis, mukanya ditekuk dan ia kembali berteriak sambil menyumpah serapah pada pengemudi gila yang tak menghentikan mobilnya sekalipun ia sudah berdiri sambil merentangkan kedua tangan. Menunduk sambil memejamkan mata dengan erat. Tangannya terkepal erat hingga urat – uratnya mencuat. Mukanya memerah, begitu tampak dari kulitnya yang tak berwarna. *** Rendra masih di halaman saat kejadian itu terjadi. Spontan ia berlari mendekati Tobias dan Alea saat Alphard melaju dengan kencang. Alea berlari mengejar Alphard itu saat ia berada di belakang Tobias. Melihatnya begitu kesal sampai berteriak histeris. “Bodoh,” kata Tobias membuat Rendra kesal dengan hinaann yang keluar dari mulut bosnya. Meski demikian, ia tak ingin memiliki masalah apapun terutama untuk saat ini, dimana Tobias masih merasa kehilangan serta memiliki kecurigaan atas meninggalnya Herdy, papa Tobias. “Apa yang terjadi?” tanya Rendra sambil berdiri di samping Tobias. “Seharusnya kamu lebih tahu,” kata Tobias dengan nada begitu sinis. Rendra menyikapinya dengan tersenyum sambil garuk – garuk kepala, sementara matanya tertuju pada Alea yang berjalan dengan langkah lemah mendekatinya. “Seharusnya kamu jangan menarikku. Kalau tidak, sekarang aku sudah mendapat uang ganti rugi dari pengemudinya,” seru Alea begitu jarak mereka cukup dekat. “Kamu hampir mati tertabrak, seharusnya kamu berterima kasih karena sudah menyelamatkanmu.” Tobias membuang napas berat karena kesal. “Kamu pikir aku bodoh? Aku sudah tahu ada dua kemungkinan.” “Tiga,” ralat Tobias namun Alea terlalu emosi hingga tak mendengarkan ucapan Tobias. “Satu dia bakal melewatiku atau dia berhenti di depanku.” “Tiga, kamu mati terlindas bannya,” ucapan Tobias sontak membuat mata Alea membelalak lebar, bahkan Rendra melirik lelaki itu dengan bibir terkatup rapat. Alea mencebik dengan dua tangan kembali terkepal. Ia berjalan cepat mendekati mobil dan memeriksa kerusakan pada spion kanan mobilnya. Mengambil kaca spion yang putus dan berada di dekat bannya, ia menggenggamnya begitu erat. “Aku akan meminta salah satu anak buahku membawa mobilmu ke bengkel,” kata Rendra yang kini jongkok di samping Alea. Alea masih memandang spionnya dengan pikiran penuh dengan rencana – rencana hingga tak mengindahkan ucapan Rendra. “Apa aku bilang saja kalau mobilnya kubawa dan ditabrak orang tak bertanggung jawab … nggak – nggak, Om Matias bakal khawatir,” ucap Alea sambil sedikit menelengkan kepala. “Apa aku bawa ke bengkel? Tapi bayar pakai apa?” Kali ini Alea merintih. “Aku bisa jual barang – barangku. Toh ini nggak terlalu mahal … Tapi apa besok bisa jadi? Gimana kalau Om Matias pulang sebelum mobilnya di garasi.” Sekali lagi ia merintih. Alea berdiri lalu mendekatkan spion itu seakan spion bisa menempel dengan sendirinya kalau disatukan. “Alea.” Rendra menyentuh pundak Alea, seketika gadis itu menoleh dengan mata membulat. Tubuhnya condong mundur dengan tubuh yang menegang. “Kak Rendra.” Ketegangan sedetik itu menghilang dan Alea kembali tenang. “Aku punya kenalan yang bisa benerin mobilmu dengan cepat. Paling lambat esok pagi, aku yakin mobil ini kembali ke rumahmu seperti sedia kala.” Kata – kata Rendra membuat senyum Alea melebar namun sesaat kemudian senyum itu menghilang. Dengan apa ia membayar montir itu? Seharusnya ia menurut kata Matias untuk menabung. Ia memang sempat menabung tapi tabungannya lenyap hanya karena sebuah kekesalan. “Selalu Tobias,” desisnya. Rendra mengangkat satu alis, tak percaya kalau Alea mengatakan hal demikian. “Apa maksudmu?” “Bukan apa – apa, Kak.” Alea terkekeh, tak enak karena keceplosan. “Soal uang kamu tak perlu khawatir. Kamu bisa bayar kalau sudah punya uang,” kata Rendra. Sebenarnya itu sebuah berita baik, tapi Rendra terlalu baik sampai berani mengatakan hal demikian. Mana ada montir yang mau memperbaiki mobil rusak dengan dihutang. Alea mengibaskan tangan dan tersenyum getir, “Aku mau pulang aja, Kak. Kapan – kapan ayo kita cari makan yang enak,” ucapnya. “Aku serius ALea. Montir itu masih saudaraan sama aku. Makanya kamu tidak perlu khawatir soal pembayaran.” Rendra semakin mendekati Alea, sedikit menunduk di samping telinga gadis itu, “Aku sering nyicil beberapa kali pas mobilku rusak parah,” imbuhnya. “Oh ya?” Alea menoleh, sontak bibirnya menyentuh ringan pipi pria itu, membuatnya segera menyondongkan badan ke belakang agar jarak mereka lebih jauh. Mata Rendra membulat dan ia segera berdiri tegak sambil menghela napas berat. Meski sempat terkejut namun senyum kembali merekah. “Karena itu, biarin anak buahku membawa mobilmu. Aku bisa mengantarmu pulang.” Sebuah tawaran yang sangat menyenangkan. Rendra seperti seorang guardian karena selalu datang saat dibutuhkan. Tidak seperti seseorang di masa lalunya yang justru menghilang saat ia sangat membutuhkannya. “Baiklah kalau begitu. Terima kasih ya, Kak Rendra. Kakak baiiiiik banget. Nanti kalau honorku cair, aku janji bakal bayar perbaikan mobil Omku plus aku bakal traktir makanan apapun yang kakak mau.” Keceriaan kembali terpancar di wajahnya. “Aku anggap kamu setuju ya,” kata Rendra yang segera dijawab dengan anggukan kepala Alea. “Aku akan mengantarmu setelah pemakaman selesai. Kamu nggak papa kan?” “Aku nggak masalah. Kak Rendra bisa mengurus semuanya dulu sebelum ngantar aku.” “Atau kamu bawa mobilku?” “Jangan – jangan!” jawab Alea cepat, tak ingin kalau ada masalah lain yang berhubungan dengan mobil. Dua mobil ia rusak sudah lebih dari cukup. Rendra mengajak Alea kembali ke rumah Tobias untuk mengambil mobilnya. Tak lupa menyerahkan kunci mobilnya kepada salah satu anak buahnya yang berjaga di depan. Alea akhirnya mengikuti semua prosesi pemakaman bahkan ikut serta ke makam. Setelah acara pemakaman selesai dan semua orang telah meninggalkan makam. Rendra meminta ijin kepada Tobias untuk mengantar Alea pulang. Alea dan Rendra berjalan bersama keluar dari tempat makam, sementara itu Tobias berdiri di dekat pusara papanya sambil melihat punggung dua orang itu semakin menjauh. Bagaimana perasaan Tobias saat melihat kebersamaan Alea dan Rendra? Ikuti lanjutannya ya…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN