Rendra Menggila

1225 Kata
Dalam perjalanan pulang, Alea berkali – kali mendecak kesal karena lagi – lagi merusak mobil. Kali ini bahkan lebih buruk lagi karena mobil yang ia rusak milik Matias, om sekaligus cinta pertamanya. Belum apa – apa sudah merusak, Om Matias mana mau sama perempuan kayak aku, rutuknya dalam hati. “Ish, kesal ya. Punya Alphard tapi nabrak mobil orang nggak mau tanggung jawab. Tuh orang kalau bukan maling pasti koruptor,” racaunya. “Sabar, Alea.” Rendra melirik Alea dengan satu bibir terangkat. Bukan karena senang dengan kejadian itu, tetapi marahnya Alea tampak sangat lucu dan menggemaskan. Tingkahnya masih sama seperti saat ia masih kecil dulu, yang mudah marah dan kesal pada banyak hal. Rendra merasa beruntung karena sepertinya Alea sudah melupakannya, sekaligus merasa sedih karena hal yang sama. Sementara ia masih mengingat setiap hal yang pernah dilakukan bersamanya. Usia mereka terpaut enam tahun dan sudah bertahun – tahun mereka tak bertemu. Alea menghilang tanpa jejak, sungguh sebuah kejutan karena mereka bertemu di Jakarta bahkan bisa berhubungan lagi, setelah terakhir Rendra tahu mereka tinggal di Makassar. “Seharusnya aku mengingat nomer platnya terus menghubungi polisi. Ah, tapi kalau ketemu polisi nakal, percuma juga. Ih, kesal – kesal – kesal!” Alea berbicara sendiri dan disanggah sendiri. “Memangnya ada polisi nakal?” tanya Rendra dengan nada suara yang sangat rendah. “ADA! Kalau nggak ada, nggak bakal ada kata oknum polisi kan. Bahkan polisi pembunuh juga ada” Nada suara Alea naik satu oktaf. “Asal tahu saja ya, Kak. Aku kenal dua orang oknum polisi … Aku jadi lebih kesal lagi kalau mengingat mereka berdua.” Alea bersedekap, dua alisnya bertaut. Raut wajah Rendra berubah kecut, sepertinya ia tahu dua polisi yang disebut Alea. Salah satunya pasti dirinya sendiri. Saat itu ia baru diterima di Akademi Polisi. Masih segar di ingatannya, bagaimana Alea menangis sambil memeluknya saat hendak berangkat. Ada hubungan spesial diantara mereka berdua, hanya saja hubungan itu seakan terputus saat ia mulai sibuk dengan sekolahnya dan Alea juga sibuk dengan kehidupannya sendiri. Beberapa tahun lalu, akhirnya ia memutuskan untuk berhenti dari profesi yang selama ini selalu ia banggakan dan bergabung dengan Tobias yang saat itu baru merintis usahanya. Ia tak banyak tahu tentang dunia IT, tetapi Tobias justru memberinya modal untuk membangun usaha di bidang jasa keamanan atau security. Dengan berbekal ilmu yang ia dapat dari sekolah dan bertugas di kepolisian, Rendra mampu mengelola bisnisnya dengan baik hingga kini memiliki puluhan anak buah. Saat Tobias menggunakan semua anak buahnya untuk mengamankan perusahaannya dan perusahaan papa serta rumahnya, untuk mempermudah semuanya, usaha Rendra di akuisisi perusahaan Tobias dan kini ia berakhir menjadi bawahan Tobias. Rendra tak mempermasalahkan hal demikian. Ia tak memiliki obsesi apapun kecuali untuk menyatukan puzzle kehidupannya, yang tak menuntut banyak uang. Salah satu puzzle sudah ia temukan dan sepertinya sebuah kesalahan sudah ia perbuat. Alea sangat ceroboh. Baru beberapa minggu bertemu, ia harus menghabiskan ratusan juta yang ia tabung selama ini. Bahkan ia masih harus mencicil kekurangannya dan kini ia harus menanggung kerusakan mobil yang dibuat gadis itu. Sampai rumah Alea, gadis itu menawarkannya untuk singgah. Rendra segera menerima tawaran itu dan mereka pun masuk rumah bersama. Begitu pintu rumah dibuka, Rendra terkejut dengan lampu – lampu yang dibiarkan menyala. Ataukah ini lampu yang menyimpan daya? Ia penasaran tetapi tak enak hati jika harus menanyakannya. Takut kalau pertanyaan itu menyinggung perasaan Alea.  Hati Rendra sekecil itu jika berurusan dengan Elea. Ia takut melukai hatinya lalu kehilangan jejaknya lagi. “Kak Rendra mau minum apa?” “Tidak perlu repot – repot.” “Kak Rendra mau kopi, nggak? Omku beberapa waktu lalu membawa kopi lampung asli. Aku bikinin ya.” Tanpa menunggu persetujuan, Alea segera melenggang ke dapur membuat Rendra tersenyum dengan tingkahnya yang mudah sekali berubah. Selama Alea membuat kopi, ia memandang ke sekeliling ruangan. Rumah ini merupakan perumahan tipe 56, dengan tiga kamar serta satu kamar mandi. Bahkan ia bisa melihat Alea sedang meracik kopi di dapur, karena ruangan dibuat terbuka. Ada foto Alea dan Matias, seseorang yang dulu cukup dekat dengan papanya. Matias sudah seperti omnya sendiri, namun tiba – tiba hilang kontak sesaat setelah papanya masuk penjara. Papa Rendra dituduh telah melakukan pembunuhan dan dihukum selama dua puluh tahun, namun terakhir kabar yang ia dengar. Papanya akan dibebaskan tahun depan setelah beberapa kali mendapat grasi. Sebuah kabar yang sangat menyenangkan, karena ia sudah sangat merindukan papanya. Sebenarnya ia tahu papanya tidak melakukan pembunuhan itu. Papanya dijebak musuhnya dan tak bisa berkelit sehingga dijebloskan ke penjara. Rendra ingin menyatukan satu puzzle itu. Alea keluar dengan membawa secangkir kopi dengan asap tipis yang tampak membumbung dari cangkir keramik berwarna putih tersebut. “Kopi ini istimewa. Aku sudah level pro kalau urusan menyeduh kopi.” Alea tertawa membanggakan dirinya sendiri. “Berarti enak ya.” “Coba aja. Jangan kaget kalau setelah minum kopi buatanku, Kak Rendra bakal ketagihan.” Sekali lagi Alea tertawa terbahak – bahak. Rendra tersenyum lalu mengangkat cangkir dan menyesap kopi yang masih panas. Rasa pahit dan sedikit manis itu memang terasa sangat enak. “Kamu ngopi?” tanya Rendra, penasaran bagaimana gadis itu bisa membuat kopi yang pas di lidahnya. “Omku setiap hari ngopi. Aku sih lebih suka kopi di café – café atau kalau nggak, kopi sachetan buatku lebih enak.” Alea mengedikkan bahu.  Rendra meletakkan cangkirnya sambil mengangguk. Senang sekali bisa berbincang dengan gadis kecil yang kini telah beranjak dewasa. Meski demikian, baginya Alea tetap seperti anak kecil seperti bertahun – tahun yang lalu. *** Sepeninggal Rendra, Alea membongkar lemari yang berisi koleksi tasnya. Meski suka mengenakan tas selempang atau ransel, ia memiliki beberapa koleksi tas branded yang hanya sesekali ia beli. Tiba – tiba ia mengingat soal lelang pakaian artis dan ia berpikir kalau itu pasti berhasil. Ia pun meraih gawai lalu membuat pengumuman kalau ia menjual barang – barang pribadinya untuk … sesaat ia berpikir, matanya berputar sejalan dengan otaknya yang sedang bekerja, setelah beberapa saat ia kembali mengetik di gawainya. Ia membuat sebuah lelang untuk amal, meskipun sebenarnya uang hasil lelang akan ia pakai untuk membayar biaya perbaikan mobil Matias. “Ini bukan lelang amal tapi bisa disebut amal juga. Maafkan aku teman – teman, aku janji bulan depan aku akan membuat give away dengan hadiah besar untuk kalian,” kata Alea, membenarkan dirinya sendiri. *** Rendra sedang rebahan di kamarnya sambil memegang gawai. Menonton video Alea yang telah diunggah beberapa menit yang lalu, video yang mereka ambil di Bogor. Senyum tak bisa lepas dari bibirnya. Alea sangat terampil dalam pekerjaannya dan videonya pun di edit dengan sangat baik. Tiba – tiba saja ia membuka Insta***m dan membuka akun Alea. Matanya melebar saat melihat postingan soal penjualan barang pribadi untuk amal. Sesaat Rendra terdiam, berpikir hingga satu kesimpulan ia dapatkan. Ia pun membeli semua barang yang dijual Alea lalu ia menghubungi Tobias melalui sambungan telepon. “Halo.” “Maaf Bos mengganggu malam – malam.” “Apa yang kamu butuhkan sekarang, Ren?” Tobias selalu tahu ada hal penting sampai Rendra menghubunginya malam – malam seperti sekarang. “Aku mau pinjam uangmu.” Rendra meringis, tapi keuangannya memburuk sejak tabrakan kala itu. “Berapa?” Rendra meminta Tobias mentransfer sejumlah uang ke rekening Alea. Tobias terkejut setelah tahu kalau Rendra mengirim jutaan rupiah ke gadis itu. Ia tak tahu mengapa Rendra sampai berani berhutang puluhan juta ke Alea. Duh seperti apa lanjutannya ya … ikuti terus…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN