Hari Yang Buruk!

1281 Kata
Tak hanya Tobias yang terkejut, bahkan Rendra juga ikut terkejut dengan kehadiran perempuan albino yang cantik yang menjatuhkan uang karetan dari amplop coklat yang dikeluarkan dari tas selempang pinknya. Sesaat napas dan jantungnya seakan berhenti. Tatapannya terkunci kepada perempuan yang wajahnya tiba – tiba memerah karena marah. Sangat kontras dengan rambutnya yang dibiarkan putih tergerai hingga bahu. “Kukembalikan uangmu. Sori – sori ya, harga diriku lebih mahal dari sembilan juta yang kamu kasih,” sembur gadis itu lalu meniup poninya sendiri. “Aku sudah bilang….” “Terserah kamu ya, uang itu mau kamu buang mau kamu lempar ke mulut buaya. Suka – suka deh pokoknya sudah kukembaliin,” potongnya.  Alea segera kembali ke kursinya, menyambar es kopi lalu menyeruputnya hingga tandas. “Dia siapa, Kak?” tanya si hitam manis berambut keriting yang bernama Mike. “Dia … orang asing yang nggak penting,” sahut Alea masih sambil melirik Tobias. Penasaran juga apakah uang itu bakal dibuang beneran atau malah dimasukkan tasnya. Ternyata uang itu dikumpulkan lalu dilemparkan ke temannya. Lelaki yang memiliki lesung pipit dan berkulit kuning langsat itu memamerkan setumpuk uang kepadanya. Lelaki itu sempat terkejut namun akhirnya mengambil uang itu lalu memasukkannya ke kantong kemeja.  Untung saja lelaki itu normal. Hanya Tobias yang tak normal karena benar - benar menolak uangnya sendiri. “Ayo Mike, kita keluar sekarang. Panas disini banyak setannya.” Alea segera berdiri dan melangkah cepat keluar café. Sesaat sebelum keluar café, ia memandang Tobias beberapa saat. Pandangan mereka beradu, rambut gadis itu melayang – layang terkena embusan blower yang ada di bawah pintu. Andai ia memakai rok pendek dan ada blower di bawahnya.... Setelah keluar, Alea segera masuk ke Fortunernya dan mengambil posisi kemudi karena tiba – tiba ia ingin menyetirnya. Mike yang sebelumnya sudah bersiap membuka pintu pun akhirnya berpindah ke posisi penumpang di depan. Memutar body depan mobil sambil geleng – gelang. Selama perjalanan, Alea tak henti – hentinya mengoceh soal betapa sialnya hari ini. Membuat konten yang ternyata salah tempat hingga dengan terpaksa makan makanan super tak enak dan dengan terpaksa mengunci mulutnya untuk tidak berkomentar buruk pada makanan itu karena sang pemilik janda beranak dua. Bertemu dengan Tobias adalah bagian terburuknya. Ia sendiri tak tahu mengapa sulit sekali berdamai dengan lelaki itu. Sejak awal lelaki itu memang membuatnya kesal, sudah begitu sombong pula. Astaga…. Alea menginjak gas lebih dalam, kecepatan yang bertambah dengan cepat membuat Mike berpegangan pada sabuk pengaman. “Kak, tenang. Nasi pecel masih enak, Kak. Jangan nekat,” serunya panik. “Kamu nggak percaya sama aku, Mike?” makinya dengan nada suara naik satu oktaf. Mike memandang Alea dengan tatapan seakan berkata, “Ini bukan soal kepercayaan. Ini soal adu nyawa. Kamu gila, Kak Alea….” Ia menggenggam erat sabuk pengamannya sambil berusaha untuk tidak menyumpah serapah bosnya. Tiba – tiba fortuner menukik ke samping kiri lalu berhenti tepat di depan gerobak es dawet. Dengan sigap, Alea melepas sabuk pengamannya lalu memesan segelas es dawet Banjarnegara. Gadis itu menenggak es dawet dengan cepat hingga hanya tersisa isiannya yang berwarna hijau. “Tambah lagi, Pak. Nggak usah isian.” Setelah mendapatkan esnya lagi, gadis itu kembali meneguknya dan kali ini ia menghabiskannya hingga tetes terakhir. “Kak Alea, kamu ngapain sih? PMS?” Mike membayar es dawet Alea sambil geleng - geleng kepala. “Kamu nggak lihat aku lagi kesel?” “Aku tahu, Kak. Tapi kesel karena apa?” Alea melirik dengan dua alis bertaut. Mike, cameramen sekaligus asistennya itu masih sangat polos dan lugu sampai tidak bisa membaca kejadian yang baru terjadi di café. Alea mendongak, memandang langit yang biru cerah namun hatinya tak secerah itu. Meskipun sebenarnya masih kesal, tapi ia bersukur bisa bertemu dengannya dan bisa mengembalikan uang yang sudah seminggu ia bawa kemana – mana itu. “Aku pulang dulu, Mike. Kamu naik ojol aja ya.” Alea segera masuk mobil tanpa menoleh lagi. Membuat Mike melongo dengan sikap Alea yang begitu tiba – tiba. Dari kaca spion, Alea bisa melihat Mike yang masih berdiri dengan mulut terbuka. Memang kasihan, tapi seharusnya Mike tahu kalau kondisi hati Alea kurang baik, ia akan melakukan hal – hal yang diluar nalar. Perempuan kalau lagi kesal larinya ke mall, belanja dan makan – makan enak untuk mengembalikan mood yang sudah ancur. Seperti itulah yang dilakukan Alea. Gadis itu ke GI atau Grand Indonesia mall ... sendirian. Menyusuri koridor sambil sesekali masuk ke sebuah outlet lalu keluar dengan membawa satu, dua, empat, sepuluh, lima belas paper bag dengan belanjaan yang bermacam –macam. Gadis itu bahkan mengganti pakaiannya agar penampilannya menjadi jauh lebih baik. Ia datang ke GI hanya dengan memakai T – shirt putih dan celana jins belel serta dilengkapi sneaker putih. Namun saat keluar dari sebuah toko dengan brand terkenal, outfitnya berubah menjadi dress dengan motif Gucci, high heels serta tas selempang yang ikutan berubah. Bahkan tak hanya itu, fashionnya dilengkapi dengan kacamata hitam yang menyempurnakan penampilannya. Ia kembali berjalan dengan lengan penuh dengan paper bag yang menggantung. Saat melewati sebuah toko jam tangan, ia menurunkan kacamata hitamnya lalu dengan langkah percaya diri ia masuk ke toko itu. “Selamat siang, Kak.” “Siang. Saya mau mencari jam tangan terbaik untuk pacar saya. Soal harga, tak masalah. Berapa puluh juta pun akan saya bayar.” Alea tertawa, merasa bangga karena bisa mengatakannya. Sebelum menjadi food vlogger ia hanya gadis biasa yang hanya menerima uang saku dari om-nya, tapi sekarang pendapatannya bahkan bisa lebih banyak dari sang om. Tentu saja ini sebuah pencapaian yang sangat tinggi. Sang waitress menunjukkan sebuah jam tangan yang meski terkesan sederhana tetapi jam itu menunjukkan level yang berbeda. Barang mahal memang beda hahahaha, begitu kata hati Alea. “Oke, saya ambil ini. Tolong kasih tempat yang paling bagus ya.” Alea tersenyum. Sambil menunggu jam tangan dikemas, ia memindai seluruh toko dengan pandangannya. Ia menunjuk sebuah jam sporty yang akhirnya ia beli untuk diberikan kepada Mike. Bagaimanapun juga, cowok itu selalu menderita setiap kali Alea kesal. Jadi hadiah ini akan menjadi permintaan maaf karena sudah seenaknya. Setelah puas berbelanja dan membelikan dua lelaki yang paling dekat dengannya. Alea akhirnya kembali ke parkiran dan melempar belanjaannya di jok belakang. Menyetir mobil dengan kecepatan sedang sambil mendengarkan musik RnB dengan kencang. Ikut menyanyi dengan suara parau. Hari berganti malam saat ia berkendara. Kota berhias lampu – lampu yang tampak indah.  Jalanan padat merayap. Lampu lalu lintas masih hijau dan Alea menginjak gas lebih dalam, ia ingin melewatinya sebelum lampu berubah merah. Lampu berubah kuning dan dengan cepat berubah merah, namun tiba – tiba mobil di depannya berhenti saat Alea belum sempat mengerem mobilnya. Tabrakan tak bisa terhindarkan. Body depan mobil Alea menabrak Marcedes Benz yang ada di depannya. “Oh my God, oh my God.” Alea menutup mulutnya dengan dua tangan. Sang sopir keluar dan segera meminta Alea untuk minggir. Mau tak mau Alea pun mengikuti perintah lelaki yang wajahnya ditutupi tangan karena silau terkena pantulan lampu mobil Alea. Setelah menepikan mobil, Alea keluar dengan tubuh gemetar. Ia bisa membayangkan berapa banyak uang yang harus ia keluarkan untuk mengganti kerugian pada mobil mewah itu. Atau justru lelaki itu tak terima lalu memenjarakannya. “Maafkan saya. Saya tidak sengaja. Seharusnya anda tidak berhenti dengan tiba – tiba. Meski saya salah, tapi tidak semua itu kesalahan saya. Saya akan bertanggung jawab, tapi kita harus membuat kesepakatan – kesepakatan karena saya tidak bisa menanggungnya seratus persen,” cerocos Alea yang panik. “Tenangkan dirimu. Apa kamu tidak apa – apa?” tanya lelaki itu. “Saya tidak apa – apa, hanya saja….” Alea berhenti bicara saat mendongak, memandang lelaki yang mobilnya baru saja ditabrak. “KAMU!” seru Alea sambil menunjuk lelaki itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN