Part 4

517 Kata
Liana menarik nafas lalu menghembuskan nya perlahan. Kepala yang terus menunduk menjadi tanda betapa malu dirinya saat ini untuk menatap orang-orang di sekeliling yang sudah pasti sedang menertawakannya.  Putra yang masih setia bersama Liana sempat tertawa melihat kejadian memalukan beberapa menit lalu. Namun tak lama mahluk astral itu kembali mengganggu Liana untuk menghibur gadis itu. Ia sendiri bingung bagaimana menyuruh Liana untuk berdiri karena hal seperti sekarang tidak pernah terjadi sebelumnya. “Nggak papa, Nak?” Seorang Ibu mengawali tugas Putra. Ibu paruh baya yang baru keluar dari toko di mana Liana duduk di depan toko itu karena terjatuh. “Ibu bantu berdiri.” Wanita itu menyentuh lengan Liana karena menyentuh lengan Liana yang masih setia terduduk di lantai licin yang mengakibatkan dirinya terjatuh. “Bisa berdiri kan?” tanya Ibu itu melihat tidak ada pergerakan dari Liana. Perlahan Liana berdiri dibantu oleh ibu penolong nya, tapi masih enggan untuk menegakkan kepala. Tangan nya bergerak membersihkan celana nya yang sedikit basah. “Maaf, ya, Nak. Tadi nggak sengaja minyak makan Ibu jatuh di sini,” jelasnya. “Terus Ibu mau bersihkan pake air biar minyaknya tidak menempel.” Ibu itu menunjuk ke arah ember kecil berisi air penuh.  Liana mengangguk sambil memberikan senyuman manis. “Kalau gitu duluan, Bu. Soalnya sebentar lagi masuk kuliah.” “Baiklah. Hati-hati, Nak.” “Makasih, Bu.” Liana mulai melangkah sambil memegang b****g nya.  “Lo masih di sini nggak?” tanya Liana melihat asal ke arah lain. Liana berjalan meninggalkan Ibu itu yang masih menatapnya. Kepala nya masih setia menunduk dalam beberapa langkah sampai dirinya menabrak sebuah badan yang membuatnya refleks mengangkat kepala. "Maaf," ucapnya merasa bersalah. "Gue nggak pernah lihat orang jalan nunduk." Pria itu menyindir Liana dengan wajah datar. "Maaf sekali lagi." Liana buru-buru pergi tanpa menatap pria itu lagi. Di pagi hari saja ia sudah sial tiga kali, belum lagi siang sampai malam. Ia hanya menunggu apa lagi yang akan terjadi. Putra benar-benar bahagia sejak pagi. Sejak tadi bibir nya tidak berhenti mengeluarkan tawa yang sangat kencang. Membingungkan untuknya dengan kesialan Liana yang terus-menerus hadir di hidupnya tanpa bosan. Andai saja gadis manis itu bisa melihat Putra, sudah pasti tinjuan hebat akan dihadiahkan untuk pria itu. "Jangan berlari! Nanti jatuh, Liana..!" Teriak Putra refleks ketika Liana berlari kencang meninggalkannya walau ia tahu gadis itu tidak akan bisa mendengarnya. Hah! Hah! Hah! Liana berhenti di depan pintu masuk apartemen dengan napas tersengal-sengal. Bertepatan dengan itu mobil Gerald terparkir di hadapan nya. "Lo kenapa, Li?" tanya Olyn setelah keluar dari Rumah Sakit. Ekspresi bingung tampak di wajah sepasang sejoli itu. Liana yang masih mengatur napas hanya diam sambil mengangkat tangan ke depan memberi isyarat pada keduanya untuk menunggu penjelasan darinya. Gerald mengangguk, tapi tak lama tawa Olyn pecah. Ia mengelus punggung Liana memberinya semangat. "Yang tabah, Li." "Kenapa sayang?" tanya Gerald. Olyn menceritakan semua yang dijelaskan Putra dan seketika tawa Gerald menyusul seperti hinaan di telinga Liana. "Gue mau masuk, bye!" Langkah Liana kembali berhenti. "Lo jangan ikutin gue!" tunjuk Liana asal bermaksud berbicara dengan Putra. Ia pergi meninggalkan dua manusia dan satu hantu dengan tawa yang berkelanjutan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN