Part 3

1618 Kata
Olyn menatap nanar Liana, satu tamparan dari Olyn mendarat di pipi kiri Liana yang sudah menangis senggugukan. “Kenapa lo jadi kayak gini, Li?” tanya Olyn sambil mendorong Liana. “Kenapa lo rebut Gerald dari gue? Salah gue apa sama lo?” emosi Olyn semakin memuncak tapi Liana terus menenangkannya dengan mengatakan kalau semua yang dia pikirkan tidak benar. Olyn menggeleng-gelengkan kepala. “Lo jahat, Li!” ucap Olyn lagi mengutarakan isi hatinya yang terasa sangat sakit. “Lyn, lo dengerin gue dulu.” Olyn kembali menampar Liana di depan banyak orang yang sedang makan di restoran itu. Liana menatap Olyn dengan mata yang sudah berair. “Lyn, lo kenapa tampar gue terus?”  “Enggak nyangka gue kalau lo setega itu. Kita udah temenan dari lama b*****t!!” isakan tangis akhirnya terdengar dari Olyn. Lah mimpi kampret, sungut Liana dalam mimpinya. Liana kembali memulai mimpinya, mengatur mimpi yang sangat bahagia untuknya. Sehun berdiri di samping nya menggunakan setelan jas hitam menghadap pendeta yang akan memberkati pernikahan mereka berdua, mengucapkan janji pernikahan bersama dan berakhir dengan ciuman singkat di depan semua tamu undangan. Liana sangat menikmati mimpinya kali ini. Dalam hati Liana berdoa kalau yang sedang ia rasakan itu bukanlah mimpi semata. “WOI GEMBEL BANGUN!!” suara teriakan Olyn menggangu mimpi Liana. Liana berusaha menghiraukan panggilan Olyn dan terus melanjutlkan mimpinya, tapi siapa sangka Olyn dengan kekesalannya memukul dahi Liana yang membuat gadis itu kesakitan dan langsung bangkit berdiri sambil mengelus dahi nya yang memerah. “SAKIT OLYN...!” Liana kembali membalas teriakan Olyn tidak kalah keras. Memberi tatapan menusuk pada sahabat tercintanya. “Bodo amat! Siapa suruh tidur di sini? Senyum-senyum sendiri lagi!” “Ganggu, aja, sih!” masih dengan rasa kesalnya Liana menggerakkan kaki meninggalkan Olyn. Namun, baru dua langkah kaki Liana bergerak, Olyn suda menarik baju Liana menahannya untuk pergi. “Kenapa, sih?!” “Pasti lo yang suruh dia datang nemenin gue?” Olyn bertanya sambil menunjuk sofa di depan televisi di mana Putra sedang duduk santai sambil tertawa menyaksikan kedua sahabat bertengkar. “Iya! Lo tahu enggak? Waktu gue suruh Putra pergi, gue punya dua harapan buat lo sama dia.” Liana mengarahkan telunjuk ke arah sofa yang ditunjuk oleh Olyn tadi dengan maksud menunjuk Putra. “Harapan pertama yang gue inginin berharap dikabulin, Putra datang ke sana jagain lo terus dan lo merasa terganggu, terus milih pulang. Harapan kedua yang enggak gue inginin berharap dikabulin, Putra enggak nurutin lo buat jagain gue dan tetap stay sama lo sampai pulang. Sekarang, gue bersyukur kedua harapan gue itu dikabulin.” Olyn mengambil bantal sofa sebagai alat untuk memukul Liana, tapi belum sempat Olyn menghadiahkan pukulan Liana sudah menghilang dari hadapannya berlari menuju kamar. *__* “Pagi honey,” sapa Gerald pada Liana yang baru keluar dari kamar. Membuat Liana menjambaknya cukup keras. “Panggil lagi coba,” suruh Liana menguji Gerald. “Olyn bantu aku,” adu Gerald dengan volume yang sedikit mengeras, memancing hadirnya sang kekasih yang masih berada di dalam kamar. “Li, udah kali. Lama-lama Gerald botak karena lo.” Liana melepas tangan nya dari rambut Gerald demi sahabat tercintanya. “Maapin gue kak.” Liana memeluk sekejap Gerald yang sudah ia anggap sebagai kakak. “Iya-iya gue maapin,” balas Gerald dengan wajah songongnya. Olyn tertawa kecil melihat kepura-puraan Liana yang meminta maaf dan Gerald yang sok keren. “Beb obatin, sakit banget.” Olyn mendekat lalu mencium kedua pipi Gerald bergantian. Liana yang melihat pun memutar bola mata malas. “Udah, deh. Gue duluan aja ke kampusnya.” Liana pergi meninggalkan Olyn dan Gerald yang masih setia dengan kemesraan mereka. “Nai bareng aja!” teriak Olyn yang baru menyadari kepergian Liana. “ENGGAK BUTUH!” “Put minta tolong jagain dia, ya,” mohon Gerald yang meyakini Putra masih bersama mereka. “Udah pergi belum dia?” tanya Gerald pada Olyn.  “Barusan. Udah, yuk berangkat.” Olyn masuk ke dalam mobil bersama Gerald. “Memang kampret mereka. Harus banget ciuman selalu di depan gue,” gerutu Liana sepanjang jalan. “Yaampun ... kapan punya pacarnya, Liana? Masa seumur hidup mau ngejomblo terus.” “Apa sih yang salah sama lo, Li?” ia bertanya pada diri sendiri. Langkah Liana berhenti ketika merasa tas nya ditarik. Liana melihat ke samping kanan, kiri dan belakang untuk mencari keberadaan si pelaku, tapi tidak menemukan seorang pun berada di dekatnya. “Jangan nakutin, deh. Putra!!” panggil Liana dengan nada membentak. “Enggak lucu!!” Tiba-tiba, Liana merasakan hembusan angin pada telinga nya. Helaan napas lolos dari mulut Liana setelah mengetahui pelakunya adalah Putra. Tanpa Liana sadari kelakuannya sejak tadi membuat orang yang melintas menatap aneh ke arahnya. Bahkan, sebagian dari mereka ada yang menganggap Liana tidak waras karena berbicara sendiri. Menyadari itu, Liana menutup wajah nya karena merasa sangat malu, berlari cepat agar segera sampai kampus. “Sekali lagi, kalau kamu mau ikutin aku wajib pegang telinga aku, ya! Aku kan udah sering bilang. Biar aku tahu itu kamu.” Hembusan angin kembali terasa di telinga Liana sebagai isyarat Putra menjawab iya pada perintah Liana. “Liana.” Ia membalikkan tubuh ke belakang ketika merasa dirinya dipanggil. Ia melihat Olyn baru turun dari mobil Gerald. Melambaikan tangan pada kekasihnya, lalu berlari pelan ke arah Liana. “Cowok lo kok enggak turun? Biasanya nganterin sampai duduk di kelas,” sindir Liana dengan wajah murung. “Gue suruh pergi. Kan mau bareng sahabat gue yang cantik.” Liana memandang sinis Olyn. “Gue bukannya terharu malah jijik, Lyn.”  Olyn tertawa. “Dodol lo. Udah ayuk masuk.” Liana berjalan duluan  meninggalkan Olyn dan Putra yang mengikutinya. Sambil berjalan Olyn dan Putra berbicara mengenai Liana yang tadi iri dan mengeluh dengan keadaannya yang ingin sekali merasakan bagaimana menjalin hubungan. Mendengar cerita Putra membuat Olyn semakin tidak enak hati pada Liana dan memutuskan untuk menceritakannya pada Gerald sepulang kuliah. ~ Saat ini Liana dalam suasana hati yang tidak baik. Bagaimana tidak, hari ini dia kembali terlambat untuk mengumpulkan tugas yang diberikan oleh Profesor Mark dan berakhir dengan Profesor Mark tidak menerima tugasnya yang sudah dirinya kerjakan semalaman. Rasa kesalnya semakin meningkat ketika seorang pria tiba-tiba merangkulnya seolah-olah mereka sudah akrab sejak lama. Liana yang tidak biasa menerima hubungan fisik seperti itu membuat dirinya sangat tidak nyaman sampai berkeringat dingin. Plak! Satu tamparan Liana persembahkan bagi pria tinggi di hadapannya itu. Ia memegang pipi kanannya yang terasa sakit. Reaksi Liana saat ini tidak pernah terpikirkan olehnya. “Sorry, Li. Gue Josua temannya Gerald.” “Sorry juga kak tadi gue terkejut. Btw, ada apa kak?” “Gue cuma mau kenalan aja sama lo.” “Gue lagi buru-buru nemuin dosen kak. Maaf, ya.” Setelah menolak secara terang-terangan, Liana bergegas pergi meninggalkan pria itu menuju perpustakaan menemui Olyn untuk meminta penjelasannya. Emang pasangan kurang ajar, ucap Liana dalam hati. Liana memasuki perpustakaan dan berjalan menghampiri Olyn yang sedang duduk disalah satu meja dengan buku di tangan nya. “Lo kan yang suruh Gerald nyuruh itu cowok deketin gue?” Olyn yang terkejut dengan keberadaan Liana yang tiba-tiba menjatuhkan buku nya dan mencuri perhatian beberapa orang yang duduk tidak jauh dari mereka. “Sorry,” ucap Olyn meminta maaf sambil menatap mereka satu persatu. “Lo kenapa anjir? Buat malu gue, aja.” “Yang buat malu itu elo! Ngapain? Buat apa lo suruh mereka dekati gue?” Olyn hanya memberi senyumnya pada Liana, lalu meminta untuk duduk telebih dahulu. Liana menghela napas. Menuruti permintaan Olyn untuk duduk di samping nya. “Gue enggak suka, Lyn. Lo harusnya udah ngerti gue.” Suara Liana terdengan sangat lirih membuat Olyn sedikit merasa bersalah. “Li, gue cuma mau bantuin lo. Sampai kapan lo nutup diri kayak gini? lo juga perlu membangun hubungan, seenggaknya punya temen cowok selain Gerald dan Putra.” “Gue tahu niat baik lo, tapi gue belum siap. Gue juga enggak mau kayak gini terus, Lyn. Biar gue sendiri yang coba dengan cara gue.” Kali ini suara Liana sedikit memelan. Olyn menggenggam tangan Liana dan mengelusnya. “Oke, terserah lo kalau gitu. Tapi kalau waktunya udah tepat, lo bisa minta bantuan gue, oke?” Liana mengangguk sebagai jawaban. “Yaudah kita pulang, yuk.” Liana kembali mengangguk kali ini dihiasi dengan senyuman. Olyn merangkul Liana ketika mereka keluar dari perpustakaan dan memutuskan untuk berjalan kembali ke apartemen. Olyn terkejut ketika seseorang mencium pipi kanan nya. Menyadari itu adalah perbuatan Gerald, Olyn terus mengumpat dalam hati mengingat Liana yang ada bersamanya. “Kamu ngapain, sih, Ge?”  “Aku kan mau jemput kamu.” Gerald menarik tangan Olyn pelan untuk mengikutinya. Olyn menatap Liana sendu dan menunggu reaksi Liana yang juga melihatnya. “Gue fine. Kalian pergi, aja.” “Maaf, ya, Li.” Liana mengangguk pelan sebagai jawaban untuk Olyn. Sepeninggal Olyn dan Gerald. “Put, kamu ikut mereka sana. Jagain, Olyn. Aku pengen sendiri hari ini.” Putra memegang telinga Liana sebagai jawaban ia menuruti Liana, tapi kenyataannya Putra sama sekali tidak pergi. Ia memilih menjaga Liana sesuai permintaan Olyn. “Liana, malu-maluin!!” teriak Liana dalam hati. “Miris banget hidup lo, Li!!” Liana jalan menunduk sambil mengeluarkan berbagai umpatan. Setelah itu Liana berjalan pulang ditemani oleh Putra di samping nya. Liana sangat jarang ikut bersama Olyn dan Gerald karena terkadang mereka suka melupakan Liana yang bersama mereka. Saat itu terjadi mood Liana pasti akan hancur seharian. Sejak pertama kuliah sampai sekarang, Liana selalu bersyukur karena rumah mereka berada tidak jauh dari Universitas. Hal itu sangat membantu Liana ketika merasa sangat kesal dengan Olyn dan tak ingin bersamanya. Waktu yang dipakai berjalan kaki hanya membutuhkan 15 menit dari sekolah ke Universitas begitu juga sebaliknya. Dugh! Semua orang disekitar terkejut ketika melihat apa yang terjadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN