“Lyn! Sadar woi! Jangan becanda lo!!” Liana memukul pelan pipi Olyn untuk membangunkannya.
“Putra, dia kenapa, nih?” panik Liana melihat asal ke arah lain seolah-olah melihat Putra.
Lokasi yang berada di taman kampus membuat orang penasaran mulai datang mengerumuni Liana dan Olyn yang tidak sadarkan diri.
“Lyn! Jangan buat malu gue! Orang udah pada datang i***t!” Liana menggerutu dengan volume suara kecil, berharap Olyn hanya becanda.
“Olyn.” Liana menyebut nama sahabatnya dengan suara parau menahan tangis.
“Baa....” Olyn mengejutkan semua orang disekitarnya termasuk Liana.
Liana yang mengetahui permainan Olyn hanya menatap garang sahabatnya yang sekarang sudah berdiri di hadapan nya yang masih setia jongkok.
“Udah bubar, yak. Dia lagi ultah jadi gue mau kerjain,” jelas Olyn tidak enak dengan para kerumunan.
Semua orang yang mengerumuni mereka, menyoraki Olyn yang tidak memiliki akhlak, lalu bubar begitu saja. Liana bangkit berdiri, tangan nya dengan cepat memukuli tubuh Olyn sangat bebas.
“Cye yang tadi mau nangis,” goda Olyn.
“Cih! Siapa yang nangis? Itu cuma akal-akalan gue, aja, biar lo bangun. Gue tahu kali mainan alay lo.” Liana menepuk-nepuk tangan nya yang kotor akibat menyentuh rumput yang basah. “Udah biasa gue sama mainan lo,” sambung Liana kembali melangkah pergi meninggalkan Olyn yang menyusulnya dari belakang sembari tertawa belum berniat berhenti.
~~~
Sekarang, Matahari sudah berganti menjadi rembulan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Olyn sedang keluar memenuhi tugasnya untuk membeli makan malam dirinya dan Liana yang sejak pulang kuliah masih berkutat dengan tugasnya. Hidup berdua dalam satu rumah di Jakarta dan jauh dari orang tua membuat Olyn dan Liana lebih sering makan terbang (makan di luar atau pindah-pindah.) dari pada masak sendiri. Keduanya memberikan alasan lebih praktis dari pada capek memasak.
“Putra, kamu pergi temenin Olyn sana! Jangan ganggu aku!” kesal Liana yang terus diganggu oleh Putra yang sejak tadi menarik selimutnya dan menggerakkan beberapa barang disekitarnya, membuat fokus Liana jadi berantakan.
Hingga teriakan Olyn yang memanggil Putra membuat Liana menghela napas lega. “Untung temen,” gerutu Liana merasa lega karena ia sudah bisa fokus pada tugasnya.
Namun, bagai tidak habisnya. Beberapa menit kemudian Liana kembali dengan ponsel Olyn yang terus berdering dan tertera nama Gerald di sana.
Liana menghela napas kasar, berbagai kemungkinan buruk mulai hadir dipikiran Liana ketika melihat nama itu.
“Tabahkan hamba, ya, Tuhan.” Liana berusaha menahan emosinya.
Liana menggeser ikon hijau pada layar tipis itu, lalu menghidupkan loudspeaker nya.
“Kenapa, Ge?”
“Olyn mana?”
“Lagi di dapur, kenapa?”
“Bilangin ke dia jangan lupa satu jam lagi gue jemput.”
“Iya-iya, ntar gue bilang, udah kan?”
“Oke, Li. Makasih honey.”
“Jijik gembel!!”
Setelah mengatakan itu Liana mematikan sambungan telepon sepihak. Melemparkan ponsel Olyn ke sembarang di atas tempat tidur.
“LYN! KATA GERALD SEJAM LAGI DIA JEMPUT!” teriak Liana memberitahu Olyn.
“Lah, iya, Li. Gue lupa kita janji dinner hari ini,” ujar Olyn yang tiba-tiba hadir, berlari menggapai ponsel miliknya.
Liana tersenyum manis menatap Olyn. “Kan udah Liana bilang, Olyn itu pe.ni.pu!” sindir Liana menekankan kata penipu.
“Jangan gitu, dong, Li. Gue beneran lupa kita ada janji.”
“Iya-iya udah enggak papa. Udah biasa juga Liana di PHP-in.”
Olyn mendekati Liana, lalu memeluknya. “Liana memang sahabat terbaik gue.”
“Jijik!”
Olyn cemberut mendengar balasan Liana, tapi tak lama tertawa melihat wajah cemberut Putra yang kesal karena Olyn hanya menyebut Liana sebagai sahabat terbaiknya dan tidak dengannya.
“Putra, juga terbaik kok.” Liana mengangguk mengerti dengan sikap Olyn yang tadinya cemberut tiba-tiba jadi tertawa.
“Apaan terbaik? Putra kan biasa aja.” Liana menggoda Putra dengan mata fokus pada buku.
Tiba-tiba kertas di hadapan Liana terbang begitu saja tanpa adanya angin. Sudah jelas bagi Liana siapa pelakunya.
“Udah-udah. Lo makan sana, gue mau ganti baju dulu.” Olyn mengalihkan topik sebelum perang dunia antaran manusia dan setan terjadi kembali.
“Makan sendiri again,” keluh Liana sambil beranjak pergi dari kasur nya.
“Putra ganteng ikut Liana ayuk. Jangan jadi setan c***l buruan.” Ajak Liana turun dari tempat tidur.
“Udah di luar kali, Li,” ujar Olyn sambil memilih baju.
“Ya, gue kan enggak tahu.” Setelah itu Liana pergi.
Itu memang sudah menjadi kebiasaan Liana maupun Olyn. Walaupun Putra itu hantu, tapi tetap saja mereka berdua takut dengan keberadaan Putra yang notabenernya adalah arwah pria. Karena itu salah satu dari mereka harus menjaga Putra disaat yang satu mandi. Kalau Olyn menjaga Putra dengan melihatnya, kalau Liana menjaga Putra dengan menyuruhnya memainkan remot TV dan mengganti channel, sehingga dia tahu bahwa Putra masih bersamanya.
Liana menikmati makan malam dengan seksama sambil menonton televisi yang sedari tadi berganti chanel karena Putra. Liana sudah terbiasa menonton seperti itu semenjak Putra hadir.
“Li, gue yang cuci piring nya atau lo?” tanya Olyn yang sudah cantik dengan dress maroon yang ia kenakan.
“Kamu aja boleh enggak?” tanya Liana balik pada Olyn dengan nada suara sangat lembut.
“Enak di elo, dong . Udah dibeliin juga.”
Liana tersenyum miring. “Liana mengenal Olyn dengan baik. Sok-sok baik pakai nanya padahal akhirnya gue juga. Langsung suruh, aja, gembel.” Olyn tertawa singkat, lalu mencium pipi kanan nya.
“Gue pergi,” pamit Olyn menatap Liana. “Putra jagain Liana, ya. Kalau kamu tinggalin, kamu enggak boleh tidur di kamar.” Olyn menujuk ke arah samping Liana tempat Putra berada.
“Dengerin tu,” lanjut Liana ikut melihat ke samping kanan nya setelah mengetahui keberadaan Putra.
(“Terus kamu siapa yang jagain?” tanya Putra.)
“Aku kan ada Gerald. Kamu tenang aja, ya,” balas Olyn menanggapi Putra.
“Dia nanya apa?” tanya Liana.
Olyn memberitahu apa yang ditanyakan Putra, lalu pamit dan pergi meninggalkan keduanya.
“Putra kamu jagain Olyn aja sana. Perasaan aku enggak enak!” perintah Liana.
Setelah mengatakan itu, Liana melangkahkan kaki menuju pintu keluar rumah dengan hati yang terus berdoa semoga yang dia inginkan terjadi dan yang tidak ia inginkan tidak terjadi.