bc

Ku kira Kau adalah RUMAH

book_age18+
2
IKUTI
1K
BACA
family
HE
kickass heroine
bxg
serious
brilliant
city
office/work place
affair
like
intro-logo
Uraian

Cerita dimulai di Jakarta, sepuluh tahun setelah pernikahan Arya Wibowo dan Naya Saraswati. Arya berusia tiga puluh enam tahun, seorang arsitek spesialis renovasi rumah bergaya Belanda yang nilainya miliaran. Namanya sudah mapan di kalangan pengusaha dan kolektor properti. Ia memiliki rumah bergaya kolonial di kawasan yang tenang, studio kerja yang penuh maket, dan satu anak laki-laki berusia tujuh tahun bernama Bima. Dari luar, hidup Arya terlihat sempurna. Uang tidak pernah menjadi masalah. Reputasinya bersih. Ia dikenal sebagai suami yang bertanggung jawab dan ayah yang hadir di setiap acara sekolah anaknya. Namun di dalam rumah itu, kehadiran Arya sudah lama menyusut menjadi peran. Ia adalah Ayah saat Bima membutuhkan bantuan PR. Ia adalah Pak saat Naya membutuhkan tanda tangan atau keputusan renovasi kecil. Di luar rumah, ia adalah arsitek yang disegani. Di dalam rumah, ia merasa seperti furnitur mahal yang tidak pernah dipakai. Naya berusia tiga puluh empat tahun dan bekerja sebagai kurator di sebuah galeri seni independen. Ia cerdas, tajam, dan memiliki selera yang kuat. Setelah Bima lahir, kariernya sempat melambat. Ia memilih mengurangi pameran luar kota demi menjaga rutinitas anak. Lama-lama ia terbiasa dengan posisi itu. Ia terbiasa menjadi orang yang mengatur jadwal makan, jadwal les, dan jadwal perbaikan rumah. Ia terbiasa menunggu Arya pulang larut malam dengan bau debu proyek dan kelelahan yang tidak pernah diceritakan. Selama bertahun-tahun ia meyakinkan dirinya bahwa keheningan itu adalah harga dari kestabilan. Rumah yang tidak berisik berarti rumah yang aman. Sampai suatu hari ia menyadari bahwa aman tidak sama dengan hidup. Ia merasa seperti sedang menjaga museum dari pernikahan mereka sendiri. Semua benda ada di tempatnya, tetapi tidak ada yang bernapas. Retakan pertama muncul dari kejenuhan Arya yang tidak ia mengerti. Proyek demi proyek membuatnya sering lembur di lapangan. Ia mulai mencari tempat untuk bernapas yang tidak menuntutnya menjadi siapa-siapa. Di situlah ia bertemu dengan seorang konsultan interior yang lebih muda, yang memandangnya bukan sebagai Ayah atau Pak, tetapi sebagai laki-laki. Hubungan itu dimulai tanpa rencana besar. Tidak ada cinta yang digambarkan seperti dalam novel romantis. Yang ada adalah kelelahan, kebingungan, dan pelarian yang kotor. Perselingkuhan itu berlangsung selama beberapa bulan. Arya tidak pandai berbohong. Ia hanya pandai diam. Dan diam itu menjadi semakin berat sampai suatu malam ia pulang ke rumah dengan wajah yang tidak bisa lagi ia sembunyikan. Klimaks cerita terjadi ketika Arya akhirnya berhenti melarikan diri dan meminta pertemuan yang jujur. Ia datang ke galeri tempat Naya bekerja setelah jam tutup. Ia tidak membawa kontrak, tidak membawa janji kosong, tidak membawa rencana pindah rumah. Ia hanya duduk dan mengatakan bahwa ia sudah menghancurkan kepercayaan dan tidak berhak meminta apa pun. Ia mengatakan bahwa ia siap pergi jika itu yang terbaik untuk Naya dan Bima. Ia juga mengatakan bahwa jika Naya memilih untuk tetap, ia akan menghabiskan sisa hidupnya untuk memperbaiki apa yang bisa diperbaiki, tanpa menuntut maaf. Pada saat yang sama, Naya berada di titik kelelahan terakhir. Ia sudah terlalu lama menjadi orang yang kuat. Ia mengakui bahwa ia tidak tahu apakah ia masih bisa mencintai Arya, tetapi ia tahu bahwa ia tidak ingin Bima tumbuh dengan cerita bahwa ibunya memilih kebencian daripada kejujuran. Keputusan yang ia ambil bukan keputusan untuk memaafkan. Keputusan itu adalah keputusan untuk tidak lagi hidup dalam kebohongan yang sopan. Ending cerita tidak menutup dengan pelukan dan rumah yang kembali hangat seperti semula. Endingnya adalah keputusan untuk merenovasi. Naya memilih membuka gembok, tetapi dengan syarat. Arya tidak kembali sebagai suami yang dulu. Ia kembali sebagai dua orang asing yang sepakat mencoba membangun kembali dari fondasi yang retak. Mereka sepakat tinggal serumah untuk Bima, dengan batas yang jelas, dengan terapi, dan dengan waktu yang tidak dijanjikan. Rumah kolonial itu tidak langsung dipenuhi tawa. Dindingnya masih berbekas retakan. Tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada tukang yang datang, ada debu, dan ada rencana. Arya kembali menggambar denah. Kali ini bukan untuk klien. Kali ini untuk rumahnya sendiri. Naya kembali ke galeri dengan jadwal yang lebih teratur dan dengan izin untuk tidak selalu menjadi ibu yang sempurna. Bima kembali menjadi anak yang berani bertanya kapan Papa akan makan malam di rumah. Jawabannya tidak pasti. Tetapi pertanyaannya kembali ada. Itu adalah gambar terakhir yang tertinggal. Sebuah rumah yang masih dalam proses, dua orang dewasa yang masih belajar, dan satu anak yang akhirnya tidak perlu lagi bertanya apakah orang tuanya sudah tidak sayang-sayangan. Karena untuk pertama kalinya, mereka ada di ruangan yang sama tanpa berpura-pura.

chap-preview
Pratinjau gratis
Gembok Baru
Gembok perak itu berkilau terlalu baru untuk rumah setua ini. Menggantung arogan di pintu kayu jati yang udah 10 tahun jadi saksi semua berantem, pelukan, dan sarapan pagi yang tenang. Arya berdiri di teras, memutar kunci lamanya sampai pergelangan tangannya patah semangat. Kunci itu udah 10 tahun nemenin dia. Kunci yang dulu bisa buka semua pintu di rumah ini, dari pintu depan sampe laci obat. Sekarang cuma jadi besi mati yang nggak berguna. Angin sore bawa bau masakan ayam goreng dari rumah sebelah. Dulu sore-sore kayak gini bau dapur Naya. Bau bawang putih ditumis. "Naya?" Suaranya serak. Kayak orang belum minum 2 hari dan habis teriak. Empat menit kemudian pintu dibuka dari dalam. Nggak ada suara langkah. Tiba-tiba aja kebuka. Naya berdiri di ambang pintu. Rambut diikat asal pakai karet gelang kuning bekas bungkus sayur di kulkas. Kaosnya kebesaran, kaos Arya yang udah belel. Mata bengkak tapi kering. Kayak udah nangis seminggu nonstop lalu air matanya habis, tinggal ampas sama pedihnya doang. "Ganti gemboknya," katanya datar. Nada yang biasa dia pakai buat bilang `gas habis` atau `s**u Bima habis`. Rutin. Dingin. Nggak ada emosi. "Sejak kapan?" Arya nelen ludah. Tenggorokannya perih kayak habis nelan pecahan beling. "Tiga hari lalu." Naya nyender ke kusen pintu. Nggak ngajak masuk. "Hari kamu ketahuan. Pukul 21.17 malam. Aku inget karena pas itu Bima lagi sikat gigi di kamar mandi, nyanyi lagu Baby Shark." Detail. Naya selalu inget detail yang nyakitin dan spesifik. Arya mengangguk pelan. Tangannya masih ngepal kunci lama yang sekarang jadi sampah besi. "Boleh masuk?" Naya minggir tanpa bicara. Nggak ngangguk, nggak geleng. Jalan ke meja kecil dekat pintu masuk. Ngambil satu kunci dari laci paling atas. Suara kuncinya ditaruh di meja kayu keras banget. _Tuk_. Menggema. "Satu aja. Buat kamu. Kunci studio. Jangan hilang. Hilang, kamu tidur di teras sama kucing." Di ruang tamu, Bima tidur di sofa panjang. Buku mewarnai kebuka di d**a, ketindih pipinya yang basah iler. Krayon merah masih di tangan kanannya. Gambarnya belum selesai. Setengah rumah, atapnya merah, temboknya dicoret-coret hitam nggak karuan kayak luka. Naya jalan pelan, nggendong Bima. Badannya kecil dan anget. Aroma sampo apel anak-anak nempel di baju Naya, kecampur bau keringetnya. "Dia nanya kamu tidur di mana," bisik Naya. Nggak liat ke Arya. Matanya ke Bima terus. "Kamu jawab apa?" Arya bisik balik. Takut Bima bangun dan liat Papanya berdiri kayak orang asing. "Papa banyak kerjaan di studio. Harus lembur. Proyek besar dari Singapura." Naya akhirnya nengok. Matanya kosong, tapi di dasarnya ada bara. "Itu bohong paling sopan yang bisa aku kasih ke anak 7 tahun yang tiap malam nanya kenapa Papanya nggak baca buku cerita sebelum tidur lagi." Malam itu Arya tidur di studio. Kasurnya tipis, sprei motif bunga matahari yang dulu dibeli Naya buat tamu yang nggak pernah dateng. Dinginnya nusuk tulang selimut. Lampu studio remang, 5 watt. Ia menatap langit-langit triplek yang ada noda rembesan air dan menghitung semua alasan yang bisa ia pakai buat bela diri di sidang pengadilan rumah tangga. `Khilaf. Lagi capek banget. Naya terlalu sibuk sama galeri. Dia duluan yang dingin sama aku`. Tidak ada yang masuk akal. Semuanya terdengar kayak alesan standar tukang selingkuh di podcast kriminal YouTube. Pukul 01.14 pagi dia haus. Ke dapur ambil air putih dari dispenser. Lewat kamar utama. Pintu kamar kebuka dikit, cahayanya remang dari lampu tidur. Ngintip dari celah pintu. Naya duduk di lantai kamar Bima. Punggungnya nyender ke kaki kasur Bima. Di pangkuannya ada gembok cadangan. Gembok perak yang sama dengan yang di depan. Dia muter-muter gembok itu di antara jari-jarinya. Kayak lagi komat-kamit doa atau ngitung dosa. "Sepuluh tahun aku nggak pernah megang kunci rumah ini," gumamnya pelan. Suaranya ke lantai, bukan ke siapa-siapa. "Semua kamu yang pegang. Kunci gerbang. Kunci brankas. Kunci mobil. Kunci hidup aku. Sekarang rasanya... kayak megang bara api. Mau dilepas takut rumah kebakar, tetangga liat, gosip. Mau dipegang terus, tanganku gosong duluan sampe tulang. Aku harus apa, Arya? Kasih tau aku harus apa." Nama Arya disebut pelan banget, tapi jelas. Arya mundur kayak kesetrum 220 volt. Balik ke studio. d**a sesek nggak bisa napas. Dia duduk di lantai studio yang dingin sampai subuh, nggak tidur. Tiga minggu berlalu seperti itu. Arya jadi tamu permanen di rumahnya sendiri. Statusnya nggak jelas: suami, mantan, atau tahanan rumah. Dia nyuci piring, tapi cuma piring bekas dia. Gelas kopinya. Sendoknya. Tidak berani buka kulkas. Takut salah ambil yogurt stroberi Bima yang disusun rapi sama Naya di rak kedua. Tidak berani nyalain TV. Tidak berani sentuh Bima kalau anak itu lagi diem main lego. Takut Bima nanya, "Papa kok nggak tidur di kamar sama Mama?" dan dia nggak punya jawaban selain diem. Sampai malam Bima demam 39,2 Celcius. Ponsel Arya bergetar jam 11.03 malam. Layarnya nyala terang di meja: _Naya Calling_. Ia angkat sebelum dering kedua. Jantungnya copot ke perut, terus naik ke tenggorokan. "RS Mitra. IGD. Ruang mawar." Suara Naya pecah, panik, tinggi, nyaris jerit. Bukan marah. "Cepet. Bima panas banget." Tut. Mati. Dua puluh tujuh menit kemudian ia udah di IGD. Parkir mobilnya miring ngasal di depan UGD. Bau alkohol, karbol, sama pesing nyampur jadi satu di hidung. Dia lari ke resepsionis. "Anak saya, Bima Pratama. Demam tinggi. Istri saya udah di dalam." Dia nemuin Naya di kursi tunggu IGD. Menggendong Bima yang lemes, bibirnya kering pecah-pecah, matanya merem setengah. Arya langsung ambil alih. "Sini, Pa yang gendong." Isi formulir pake tangan gemetar sampe tulisannya jelek. Tanda tangan di 4 lembar persetujuan tindakan medis. Bayar DP pake kartu kredit yang limitnya tinggal 2 juta. Duduk di kursi plastik biru yang dingin sampe subuh. Bima di pangkuannya, selang infus nancep di tangan kecilnya yang di-plester. Pukul 04.41 pagi Bima ketidur lagi. Napasnya udah teratur, nggak ngos-ngosan. Naya duduk di kursi seberang Arya. Mukanya kuyu, rambutnya lepek. Lipstik nggak ada, bedak luntur. Untuk sedetik, topeng "Ibu kuat dan tegar" yang dia pake 3 minggu ini jatuh berantakan. Dagunya gemetar. Matanya berkaca-kaca penuh air. "Kamu masih takut ya, kalau dia kenapa-kenapa." Bukan pertanyaan. Pernyataan fakta. Arya mengangguk. Tenggorokannya sakit kayak disayat silet karatan. Air matanya jatoh satu, panas di pipi. "Aku... maaf, Na." Kata itu keluar hancur, patah-patah, nggak sempurna. "Jangan sekarang." Naya cepet-cepet ngusap air matanya kasar pake punggung tangan. Dia noleh ke jendela IGD. Di luar masih gelap, gerimis rintik-rintik. "Aku nggak kuat denger kata itu di sini. Di depan anak kita yang lagi sakit. Di tempat bau obat ini. Bukan tempatnya. Bukan waktunya." Pulang dari RS pukul 06.00 pagi, naik taksi online karena mobil ditinggal. Tidak ada yang berubah di rumah. Gembok perak itu tetap menggantung arogan di pintu. Kunci cadangan tetap satu. Arya tetap nggak berani buka kulkas buat ambil minum. Tapi malam itu, pukul 11.00 malam, Naya lewat depan studio. Dia berhenti sedetik. Nggak nengok. Terus jalan lagi ke kamarnya. Pintu studio malam itu nggak dikunci dari luar. Arya tahu. Dia denger langkah Naya. Dia duduk di ambang pintu studionya sampai pukul 03.00 pagi. Nggak masuk kamar utama. Nggak berani. Dia cuma denger suara AC kamar Naya dengung. Denger suara Bima batuk sekali dari kamarnya, terus lanjut tidur lagi. Sesak. d**a panas. Tapi untuk pertama kalinya setelah sebulan, rumah itu nggak sepenuhnya sunyi dan mati. Ada suara napas.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
760.2K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
990.9K
bc

A Warrior's Second Chance

read
366.3K
bc

Not just, the Beta

read
351.8K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook