“Ratu!” suara yang tidak asing di pendengaran Ratu, membuatnya menoleh ketika dia baru saja keluar dari lift dan berjalan di lobi. “Kak, Kak Bian.” sedikit terbata Ratu menjawab, sebab itu adalah Bian. Lelaki yang amat ingin dia hindari, tapi selalu muncul di hadapannya tanpa diminta. “Kamu pulang bawa motor?” “Iya Kak.” “Oh, kita mampir ngobrol dulu ya? ngopi, mau nggak?” Di tengah-tengah lobi mereka mengobrol, sempat menjadi pusat perhatian dari dua orang pegawai di resepsionis. “Maaf Kak, aku nggak bisa.” tolak Ratu. “Kenapa? hape kamu lagi bermasalah? aku hubungi masih juga nggak bisa.” Ratu cepat-cepat menyimpan ponselnya di dalam tas sebelum Bian melihat keadaan ponselnya baik-baik saja. “Iya nih, masih. Kak, maaf ya, aku buru-buru. Aku duluan ya.” jika dulu Ratu sanga

