“Lo apakan Ratu?” Raja tidak bisa menahan emosinya, dia meraih kerah kemeja Bian untuk ditariknya. Pikirannya terlalu kalut tidak mampu untuk berpikir jernih tentang siapa yang salah dalam kejadian yang menimpa Ratu. “Bang, Kak Bian nggak salah. Aku yang nelpon Kak Bian untuk datang ke sini. Aku nggak tau harus hubungi siapa.” Ratu berusaha mencegah pertengkaran mereka. Bian menghempaskan tangan Raja yang meremas kerah kemejanya. “Lo dengar apa yang dibilang Ratu!” Bian kesal. “Ratu, kenapa kamu mau dan bisa sampai hamil anak laki-laki kasar kayak dia?” protes Bian, merasa kalah dari Raja. Kalah waktu dan kalah karena keadaan. “Diam lo, keluar dari sini!” balas Raja, menatap tajam pada Bian. Tapi Bian sama sekali tidak berniat bangun dari sofa, lelaki itu malah tersenyum santai. “

