Merayu?

1254 Kata
“Halo.” “Halo? cuma halo?” “Iya, ada apa?” “Luar biasa, cucu durhaka!” Raja menerima telepon sang nenek tanpa menyebut nama neneknya, sebab saat ini dia masih bersama Ratu. “Maaf, saya sedang sibuk, Bu. Nanti saya hubungi lagi.” “Raja! Raja! Ya ampun anak ini!” Raja langsung memutus panggilan sepihak. “Eum, Pak. Kirim aja nomer rekening Bapak, lusa kalau gaji udah masuk, langsung saya transfer.” kalimat Ratu sebelum mereka turun dari taksi menuju gedung firma. “Gimana mau ngirim, nomer lo aja gue nggak punya.” protes Raja. “Oh iya Pak, tolong save nomer Bapak. Nanti saya chat.” Ratu menyerahkan ponselnya pada Raja. Lelaki itu meraihnya lalu mengetik nomernya di sana. “Udah gue save.” “Oke Pak—eh tapi-“ “Kenapa? mau protes?!” Raja langsung menyela. “Bapak cukup pede juga orangnya ya?” sindir Ratu. Sebab dengan beraninya lelaki itu menyimpan nomernya di ponsel Ratu dengan nama Raja Tampan. “Ini nota pembayarannya.” gantian Raja yang menyerahkan selembar kertas pada Ratu, dan berhasil membuat Ratu membulatkan matanya. “Kok, dua juta, Pak?!” “Gue minta cat yang terbaik.” “Tapi Pak…” lirih Ratu yang tidak mampu meneruskan kalimatnya. Gajinya sebagai pengacara magang di firma itu hanya sekitar empat jutaan. Pupus sudah harapan Ratu ingin mencari kos-kosan setelah gajian nanti. Sepertinya, dia harus mengurungkan niat itu. “Kenapa lagi?” Ratu menggeleng lemas. “Nggak apa-apa.” dia hanya bisa pasrah. * “Gue cuma mau ingatin lo aja Ra, please hati-hati. Lo tau nggak? pagi tadi lo sempat jadi bahan gosip, gue dengar ini waktu gue dan Nindy makan siang.” helaan napas berat terdengar dari Ratu. Sebelum pulang, Desy menyempatkan diri menyampaikan hal yang menurutnya penting, demi Ratu. “Kata Nindy, anak resepsionis ada yang ngeliat lo masuk bareng Pak Raja, terus Mas security juga ada yang lihat lo turun dari mobil Pak Raja.” Desy memperjelas. “Ceritanya panjang.” hanya dua kata yang mampu Ratu ucapkan, selain karena sedang banyak pekerjaan, Ratu juga sedang pusing memikirkan biaya perbaikan mobil Raja yang harganya cukup mahal itu, bagi Ratu. “Lo nggak perlu khawatir, Des. Gue nggak ada hubungan apapun dan nggak bakal ada urusan apapun sama dia. Percaya gue.” “Iya gue percaya, lagian kan baru kenal juga. Cuma lo tau kan? mulut-mulut si biang gosip pada nggak bisa direm, termasuk satpam di gedung ini yang mulutnya kayak emak-emak.” Ratu tertawa. “Udah deh, lo nggak usah ikut mikirin ya? eum… btw, kayaknya gue mau ngikutin saran lo deh.” “Saran yang mana?” “Pinjol,” sahut Ratu singkat. “Lo gila?! serius?” “Iya. Gue butuh banget.” “Butuh banyak ya buat perbaikan mobil si bos?” Ratu mengangguk. “Iya.” “Ya udah, tapi lo jangan kaget ya sama bunganya. Lo tau kan pinjol itu nyari keuntungan darimana?” Desy mengeluarkan ponselnya. “Iya, gue pinjem sebulan doang kok. Langsung gue balikin.” jika Ratu tidak memiliki rencana untuk pindah rumah, mungkin dia tidak perlu meminjam uang dari aplikasi seperti ini. Tapi, banyak keperluan mendesak, termasuk membayar perbaikan mobil Raja. “Ini nama aplikasinya.” “Makasih Des.” Desy mengangguk. “Gue duluan ya.” “Iya. hati-hati.” Ratu masih duduk di kursi kerjanya saat satu persatu staf meninggalkan ruangan termasuk Desy. Dia masih enggan untuk menginjakkan kaki di rumah, mengingat ada penghuni lain di sana selain dirinya. Sementara itu, di ruangan yang lainnya… “Nenek sayang, jangan ngambek. Ntar nggak cantik lagi.” Raja mencoba merayu sang nenek yang marah padanya karena sempat mengabaikan telepon. “Tadi aku lagi meeting, Nek.” “Terus? buat apa kamu nelpon nenek?” “Iya gitu. Harusnya aku dong yang nanya, ada apa nenek nelpon aku tadi?” “Gimana?” “Apanya yang gimana, Nek?” “Itu, cewek penghuni rumah nenek, cantik, kan? udah ketemu? udah kenalan, kan?” Raja mengesah. Ternyata neneknya mengajukan pertanyaan yang menurutnya tidak penting. “Udah,” sahut Raja malas. “Gimana? kamu suka nggak?” Raja terkekeh mendengar pertanyaan neneknya. “Maaf ya Nek, maaf banget. Aku tau dan paham kok, niat baik nenek untuk mencarikan aku jodoh. Tapi, dia terlalu kasar dan bar-bar, Nek. Enggak ada sisi baiknya sama sekali—“ “Masa sih? masa iya sikap Ratu seperti itu?” protes nenek tidak terima. “Mungkin, selama ini sikapnya baik karena… supaya dapat tumpangan gratis dari nenek?” lelaki itu tertawa mengejek. Dia mengambil sebuah remote berukuran kecil di atas mejanya untuk membuka gorden di ruangannya, pemandangan yang dilihatnya adalah Ratu yang masih duduk dengan tampang cemberut di kursi kerjanya. Gadis itu tampak murung, sedang fokus menatap layar ponsel. “Enggak gitu lho Raja, nggak mungkin dia kayak gitu. Dia emang baik, sopan, nggak kayak perempuan muda masa kini yang kebanyakan salah pergaulan selama hidup di kota besar. Dia juga yatim piatu, pokoknya nenek nggak mau tau… kamu harus pendekatan sama dia!” titah sang nenek penuh penekanan. “Baik? sopan? ya… ya. Mungkin cuma sama nenek aja.” “Memangnya apa yang membuat kamu bisa menilai dia seperti itu, Raja?” “Banyak.” “Banyak? apa kalian udah saling ngobrol?” “Sebentar Nek, nanti aku hubungi lagi—“ “Raja, kamu nggak mau, kan? dijodohin sama mami kamu? mami kamu yang suka memaksa itu?” Belum sempat dia menjawab pertanyaan neneknya, untuk kedua kalinya, Raja memutus panggilan sepihak karena dia melihat seseorang berjalan ke arah pintu ruangannya. “Permisi, Pak. Maaf mengganggu.” seorang wanita berparas cantik dengan rambut yang masih dikuncir tinggi, memasuki ruangannya. “Ya?” Raja kembali meletakkan ponselnya di atas meja. “Bapak udah mau pulang? Boleh saya ngomong sebentar, Pak?” “Apalagi? penting, nggak?” “Mungkin menurut Bapak nggak penting, tapi bagi saya, penting banget, Pak.” “Jangan bilang lo mau nego biaya perbaikan mobil gue, atau mungkin lo mau nyicil bayarnya?” Raja menerka yang sontak membuat Ratu terdiam. “Kok Pak Raja bisa tau?” Awalnya, Ratu memang berniat untuk mengajukan pinjaman online melalui aplikasi. Namun, Ratu mengurungkan niat karena dia tahu resikonya akan seperti apa. Maka gadis itu mencoba menempuh cara lain, mengeyampingkan rasa malu dan egonya, dia rela memelas pada Raja. Ratu sengaja menunggu semua orang di ruangannya pulang lebih dulu, agar bisa berbicara empat mata dengan lelaki itu. “Ratu… Ratu. lo itu terlalu gampang ditebak.” Ratu melirik ke kiri kan kanan, dia menyadari jika gorden di ruangan ini terbuka, lantas, Ratu mengambil remote di atas meja, menekan tombolnya agar kembali tertutup rapat. “Maksud lo apa? kenapa lo tutup semua?” tak hanya itu, Ratu juga berjalan ke arah pintu, menguncinya dari dalam. “Lo nggak niat merayu gue kan?” Raja melonggarkan dasi yang masih melingkar di lehernya. Ratu hanya tersenyum tipis, setelah mengunci pintu, dia kembali berjalan menuju meja kerja Raja. “Jangan gila, lo nggak liat di ruangan ini ada cctv?!” sungguh Raja tidak menyangka Ratu akan senekat ini. “Lo beneran nekat banget, mau apa-apain gue di sini?” entah mengapa tubuh Raja rasanya mulai panas dingin. “Emangnya ada ya, Pak? sejak kapan di ruangan ketua divisi ada cctv?” tanya Ratu tak percaya. “Tuh, lihat!” Raja mengarahkan wajahnya ke arah sudut kanan atas di ruangan itu dan Ratu mengikuti arah pandangnya. Kemudian mereka berdua saling tatap, Raja juga sudah berdiri meninggalkan kursinya. “Tapi kalau lo maksa… apa boleh buat?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN