POV AUTHOR
Bandar udara Internasional changi singapure, tempat ini memang tempat asal kelahiran Jane, tapi ini kedua kalinya ia menginjakkan kakinya ketanah singapure.
Patra meminta seseorang yang sangat dekatnya untuk menjemput mereka dibandara, seseorang itu seorang selebrite yang sangat tampan, berkharisma, perfect, wanita mana yang tidak tertarik pada pria yang satu ini , yang memiliki tubuh yang profesional dia Fattah Dejoha berusia 27 tahun dan sudah menikah dengan seorang wanita cantik ,selebrite Zurafarah berusia 32 tahun menikah berbeda usia 5 tahun lebih tua dari Joha , dan sudah dikarunia seorang anak perempuan dia Aisya Farhana.
Patra mengenal baik Joha, sangat dekat dengan Joha, kadang mereka selalu bertukar fikiran, pendapat, dan juga mencurahan isi hati, walaupun mereka pertama kali kenal dikantor, patra sebagai pemilik kantor, Joha sebagai selebrite ditempat stasiun tv patra, walaupun berbeda usia, tidak menutup kemungkinan mereka menjadi sangat dekat, Patra sudah dianggap uncle bagi Dejoha, mereka kenal sewaktu Patra ditinggal Glea, waktu itu Dejoha berumur 9 tahun, ia memeran kan sebuah film, saat itulah patra menjadi dekat dengan Dejoha hingga Dejoha dewasa, menjadi selebrite distasiun milik patra.
Patra dan Jane berjalan disampingi pengawal berjalan menyulusuri gedung bandara hingga tiba diruang tunggu.
" Uncle." Dejoha melambaikan tangan kearah Patra.
" Oh itu dia." Patra mengangkat tangan hingga menuju kearah Dejoha.
JANEANESTAPUTRI POV
Setibaku disingapure aku melangkah kan kaki menyulusuri bandara, aku berjalanan berdampingan dengan papaku, dan diawasi pengawal, aku seperti seorang anak presiden yang harus dijaga ketat, kadang kadang aku tersenyum sendiri , bagaimana tidak semua orang memandang kearah kami, bahkan aku dikira artis, wajahku memang cantik, juga tinggi aku tidak bisa menyalahkan mereka jika mereka menganggapku seorang artis, tibatiba seseorang pria memanggil papaku dengan sebutan Uncle serta melambaikan tangannya, kupandangi wajahnya ia sangat Tampan, gayanya keren sekali, matanya, alisnya, hidung mancungnya, bibir tipis kemerahmerahannya, kumis tipis, sedikit berjambang, rambutnya, tubuhnya yang tinggi juga kekar, berkulit kemerah jambu, All PERFECT hanya itu yang mampu kuucapkan dengan bersusah payah menelan air ludahku yang tersekat,
kuikuti langkah kaki papa hingga tiba didepannya.
" Heii lamakah kamu menunggu Uncle?." ucap papa bertanya padanya, sambil memeluknya
" enggak kok uncle, baru juga sampai, oh iya ini Putri yang uncle ceritakan?." dia membalas pelukkan papa, dan bertanya pada papaku, sambil melirikku.
" iya, aah sayang ini kenal kan teman papa." papaku melihat kearahku menyuruh ku untuk berkenalan dengan Temannya, aku terheran
'haah teman, ya Tuhan papaku berumur 50 tahun bagaimana bisa? berarti dia udah oom oom dong, kok bisa kayak masih muda gini, gak kelihatan Tua, papa aja tampan udah kelihatan kepala tiga' batinku
" Fattah Dejoha." dia mengenalkan dirinya sambil tersenyum, dia mengejutkanku dari lamunan.
" ooh ya , saya Janeanestaputri om". aku yang terkejut langsung menundukkan pandanganku, aku malu karena aku melamun sambil memandang wajahnya karena aku tidak percaya dia sudah berkepala tiga, kuangkat sedikit kepala ku untuk melihatnya kembali
Dia mengangkat alisnya heran, " om? kita hanya beda 7 tahun Jane, jangan pangil saya om lagi , abg aja." lalu dia ketawa
" Hahahaha, Jane Jane kenapa abg handsome ini kamu panggil om." papaku ketawa keras, mendengar ku sebut temannya om, bagaimana tidak papaku usianya 50 tahun berteman dengan pria berumur 27.
"Maaf bg." aku malu dengannya dan papa karena aku salah memprediksi.
" naaaah kan enak didengar, abg aja panggil papa kamu Uncle masa dikira seumuran". ucapnya lalu tersenyum kepadaku.
akupun merutuk diriku sendiri, bagaimana bisa aku lupa, papa dipanggil Uncle, malu banget lagi, sangkin terpesona aku sampai melakukan kesalahan.
" iya bg, pantesan papa awet muda, temanan sama anak muda." lirikku menyindir papa
tawa papa pecah membuatku melirik sekeliling.
" kamu bisa aja sayang, papa kelihatan muda karena ketampanan papa." bangga papa " Tidak ada tandingannya." bisik papa yang bisa aku, Bg Joha dan Bodyguard papa dengar.
" Mana coba lihat, papa sama abg mana yang lebih ganteng." memandingkan mereka " Hmm sebelas dua belas sih, tapi ini apa?." koreksiku menunjuk rambut papa yang sedikit ubanan.
" Nanti papa hitamkan biar dikira kembar sama Joha." ucap papa melirik bg Joha.
bg Joha hanya nyengir
" iya deh, ABG tua, ayok pulang, Jane gak sabar sampai rumah." ajakku
Ketika kami ingin beranjak pergi seseorang memanggil papaku.
" Heeii Patra". teriak seseorang
" Justin, dari mana?." tanya papa
" aku ngantar rekan bisnisku berangkat." ujar Justin
" ooh, oiya kenalin ini anakku." papa mengenalkanku kepada temannya.
" ooh yaa, cantik, panggil aja Uncle Justin." Uncle Justin mengulurkan tangan kearahku lalu tersenyum.
" Jane ncle." ku anggukkan kepala dan berjabat tangan dengan UncleJustin.
" Johaa makin-makin aja yaa". kata Uncle Justin sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat ku mengkedik ngerii, sedangkan bg Joha biasa aja dengan senyumnya. " biasa aja ncle."
lalu Uncle Justin meminta waktu berdua dengan papa, aku dan bg Joha hanya tinggal berdua, membuat canggung aja, bodyguard papa ntah kemana tadi permisi ketoilet gak balik-balik, ntah apa yang dibicarakan Uncle Justin dengan papa, apa lagi sikapnya bikin merinding, masa iya doyan jeruk sama jeruk, ku gelengkan kepala berkali-kali untuk menghilangkan pikiran negatifku.
" Kenapa Jane?" tanya bg Joha sambil mengkerutkan alis " pusing?". tanya lagi
" eeeh gak bg, oh iya bg, boleh tanya gak?". ku gelengkan kepala dan memberanikan menanyakan hal yang kupikirkan
" Apa?".serunya dengan wajah datar
"Hmm, itu Uncle Justin oke kan?" tanyaku, bg Joha langsung menatapku,
" Maksudnya?." tak mengerti ucapku,
" Gak belok kan? balasku bertanya, bg Joha terkejut lalu tawanya pecah,
" hahahahaha, ya gaklah, gak lihat tuu tinggi tegap mantap, kekar gitu dibilang belok, Jane Jane ada-ada aja." kekeh bg Joha, aku langsung diam sambil menunggu papa.
cukup lama menunggu akhirnya papa datang sendiri.
"Maaf yaa lama nunggu, ayo pulang, kasian Jane capek." ajak papa
" Gak papa Uncle, eeh uncle mau tau nggak?". tanya bg Joha sambil melirikku " Apa tuu? Papa menanyakan balik
" Ada yang bilang Teman Uncle belok". kekeh Bg Joha
" siapa Jane? Toni?." tanya papa lagi, melirik ku dan bodyguardnya
" yaa siapa lagi, mana mungkin bg Toni." kata bg Joha.
" Apaan sih bg, Jane kan malu, maaf ya pa, abisnya Uncle Justin main kedip-kedip mata dengan Bg Joha, kan ngeri pa." ucap ku berakhir tawa pecah ketiga pria disekitarku, siapa lagi kalau bukan papa, bg Joha dan bg Toni.
aku jadi kesel sendiri, " ayooo aaah buruan cape nii". ucapku mengajak pulang, dengan wajahku yang masih ngambek.