AUTHOR POV
Mereka berjalan menuju parkir mobil Joha, yang nyetir Bodyguard Patra, Joha duduk disamping bodyguard Patra, sedang kan Patra duduk dibelakang bersama Jane, mobil yang mereka naiki sudah jalan, menuju rumah Patra.
" Apa kabar anakmu Joha?" tanya Patra kepada Joha.
" Alhamdulillah, sehat uncle, udah mulai pinter." jawab Joha.
" syukurlah, kamu hari ini gak ada shuttingkan?." tanya patra takut merepotkan Joha
" kan aku jemput uncle sama tuan putri yang cantik, jadi aku harus kosongin jadwal dong." tawa Joha malah membuat Jane reflek menatapnya.
'kenapa pakai puji puji segala, udah nikah, udah punya anak, bikin kesal aja deh, kok bisa sudah nikah yaa, ooh iya tuu ada cincinnya , gila aku sampai gak lihat, huhfff santai Jane anggap saja aku hanya kagum, jangan sampai baper, bisa repot nii.' batin jane sambil melihat gerak gerik Joha.
" kamu bisa aja Jo, kita lunch bareng aja yaa, sekalian Jane pasti laperkan sayang?" tanya patra melihat kearah Jane.
" Hehe iya paa." untung gak ketahuan patra, kalau jane hanya memandang joha.
Merekapun sampai direstauran seafood, duduk lalu memesan makanan, setelah menunggu makanan yang dipesan sampai juga akhirnya, dan mereka pun melahap habis makanan yang mereka pesan,duduk santai hanya untuk menurunkan makanan sampai keperut, Patra membayarnya dan beranjak pergi dari Restauran tersebut.
Saat tiba dirumah Patra, koper milik Jane dibawa bodyguard untuk dibawa kelantai dua.
" Waaaah paa, keren banget rumah papa, lebih besar dari rumah Mama, mewah banget, mama ga cerita tuuh kalau papa kaya gini." ucap jane sambil melihat lihat isi rumah
" ini akan jadi rumah kamu, papa hanya ngontrak disini." canda patra
" enggak pa, ini rumah papa, Jane gak punya rumah, tapi Jane akan tinggal bareng papa." sambil memeluk patra
" Maafin papa ya sayang, seperti nya papa membuat kalian kesulitan." patra mengelus kepala jane
" pa, kita ga menginginkan itu, tapi takdir yang udah memisahkan kita, yang penting kita harus bersyukur dan ikhlas, karena pasti ada sebab dibalik semua ini." jane menongakkan kepalanya kearah patra
" papa bangga punya putri yang baik, cantik, dewasa, tangguh, makasih ya sayang sudah menerima papa." ucap patra memandang wajah putrinya
" off course pa, Love you." jane tersenyum memandang manik mata patra
"Love you too, gih sana naik atas mandi, beres beres baju kamu, karena rumah kita gak ada pembantu, pembantunya hanya beres beres rumah, pergi pagi sore pulang." patra melepaskan pelukkan putrinya serta mencium jidat putri kesayangannya
"Aman pah udah biasa sendiri kok." lepas tangan jane dari pinggang patra, berlalu pergi menaiki tangga, patra tersenyum senang melihat putrinya yang mandiri.
Flashback dibandara
Patra mengikuti kemana Justin membawanya pergi, hingga agak jauh dari ruang tunggu yang Jane dan Joha duduk.
" Pat, aku mau sampaikan sesuatu penting." ujar Justin
"soal apa?." balas Patra santai
" Ben datang kesini, tapi kamu ga ada, jadi yaudah kami hanya berbincang tentang properti itu, mungkinan sebulan lagi kita akan meluncur ke aussie bulan depan, gimana pendapatmu, menurut aku sih dipercepatkan lebih baik." Jelas Justin, Patra mencerna ucapan Justin.
" Aku temanin anakku diindo, aku sih setuju, tapi anakku gimana yaa, kamukan juga tahu bukan sebentar kita disana." ucap Patra masih ragu
" yaah Pat anakmu sudah gede bukan balita." kekeh Justin
" anakku ga tau apa-apa disini Tin, aku bimbanglah, kamu kan tahu sendiri rumahku gak ada orang." seru Patra
" Iya juga sih, bibi kan bisa nemenini dia." saran Justin
" Yaelah Tin kalau bibi bisa, buat apa aku pusingin kepala mikir." ucap Patra
" Hmmm gimana kalau si itu Joha." saran Justin
" Gilla kamu, anakku mau ku tinggalkan dengan seorang laki-laki bisa berabe." tolak Patra sedikit kesal
" itu juga aku tahu, maksud aku tu, anakmu titip dirumah Joha, kan ada istrinya." solusi Justin
" masa iya anakku dititip-titip, aku punya rumah kali Tin." tidak terima anaknya dititip
" aku udah kasi saran, terserah kamulah, atau bawa aja keaussie, pilih yang mana?" tawar Justin
" yaudah titip." pasrah Justin " tapi aku coba ngomos sama Joha dulu deh."
" semoga Joha mau yaa".
flashback again
Patra duduk bersandar disoffa memikirkan saran dari Justin, ia akan mencoba meminta bantuan Joha, dari pada pusing lebih baik Patra memilih Mandi untuk menyegarkan pikiran.
sedangan Joha duduk didepan teras halaman depan rumah Patra ditemani Toni.
selesai Patra mandi ia mencari Joha, ternyata Joha sedang ngobrol bersama Toni
" Heii, uncle gabung yaa." seru Patra
" hehe gabung aja kali ncle." balaas Joha
" Ton, kalau mau pulang-pulang aja, bersih-bersih tadikan habis dari perjalanan Jauh." suruh Patra kepada Toni
" iya pak, saya permisi pak." ucap Toni berlalu pergi, hanya dibalas anggukkan Patra.
Patra dan Joha duduk didepan teras rumahnya berbincang bincang masalah kerjaan, ada suatu hal yang masih belum bisa patra dapatkan jawaban, bagaimana dengan Jane, jika ia harus pergi ke Australia untuk perjalanan bisnis, pikirannya kolot, karena kalau dipikir meninggalkan jane sendiri dirumahnya akan lebih berbahaya, karena Jane tidak tahu apa apa disingapure, kalau dititip kan dengan Ruilla, katanya Ruilla sering pergi keluar kota untuk perjalanan bisnisnya.
" Joha, uncle butuh kamu bantu uncle." pinta patra
" butuh bantuan Joha? apa uncle?." jawab Joha
" uncle akan keaustralia selama setengah tahun, uncle ada kerja sama dengan rekan uncle diaustralia untuk membangun cabang perusahan disana, paling cepat setengah tahun, paling lama ga sampai setahun kok, uncle ga bisa ninggalin Jane sendiri, apalagi dia gak tau apaapa disingapure ini, uncle bingung mau gimana." jelas patra
" Tenang uncle, kan ada Joha, nanti joha ngomong sama farah, joha akan jaga Jane kok." jawab joha meyakinkan patra
"thanks." patra menepuk pundak joha sambil tersenyum.
" pokonya Uncle percayakan sama kamu, soal kebutuhan tenang aja, Uncle ga mungkin ngerepotin kamu, tugas kamu hanya menjaganya." ucap Patra
" Tenang aja ncle, Joha jamin anak uncle baik-baik aja." ucap Joha membuat Patra sedikit banyak lebih tenang, karena Joha bersedia menjaga Putrinya
" Uncle lega, uncle udah pusing dari tadi mikirin ini." keluh Patra
" Jangan pusing ncle, serahin aja, Joha pasti bantuin Uncle kok." ucap Joha
" Tapi kamu jangan kasi tahu Jane dulu yaa, biar Uncle aja nanti, tunggu waktu yang tepat, kasihan dia baru juga dateng mau ditinggal lagi." jelas Patra
" iya iya uncle ini cerewet sekali rupanya." ujar Joha membuat mereka berdua tertawa.
sedangkan dari kejauhan ada yang mendengarkan pembicaraan mereka, sangkin keasikkan ngobrol mereka tidak menyadarinnya.