11. Digelar orang asing

1040 Kata
POV JANEANESTAPUTRI Kulangkahkan kakiku satu persatu menaiki tangga, tak henti-henti aku mengagumi setiap ruangan yang didesign mewah ini, kepandangi satiap pintu ruangan, kucari kamar yang cocok untuk kutempati, lantai dua ini ada empat kamar, kubuka satu persatu, setiap kamar kupandangi, ada satu kamar yang dikunci, ku yakin itu kamar papa, dua kamar seperti kamar hotel, kurasa itu kamar tamu, yang satunya lagi kamar yang luar biasa lebih luas dari dua kamar yang kuliat, Setelah selesai mengemasi pakaian dalam lemari, lalu aku mandi, selesai mandi aku membuka pintu kamarku dan menuruni tangga, kucari dimana papa berada, 'papa kemana ya' batinku. ku berjalan keluar rumah, ternyata papa sama abg joha didepan teras, aku tak langsung mendekati mereka, karena mereka lagi asik ngobrol, aku hanya berdiri didepan pintu, obrolan mereka sangat jelas telingaku dengar, papa ingin pergi keluar negeri. 'what? papa ingin keaustralia selama setengah tahun, lama banget aku gimana dong?' batinku terusku dengar pembicaraan mereka, sampai aku melebarkan mataku 'Gila ya bg Joha, masa aku tinggal dirumahnya, enggak ada cara lain apa papa sampai minta bantuan pria itu.' batinku enggak bisa kek gini dong, ku tajamkan pendengarku, kudengar hingga selesai, geram ku aku terus berjalan menghampiri mereka hingga sampai didepan tempat mereka " Pa, gak bisa gitu dong, masa papa gak ngomong sama Jane dulu, papa langsung mutusin tanpa pendapat Jane." aku menyelonong datang membuat mereka terkejut akan keberadaanku " Jane bukan gitu sayang, papa hanya khawatir kamu sendirian." jelas papa tampak wajah papa yang masih terkejut "pa, gak ada cara lain apa? papa kan bisa minta tolong bibi buat nginap pa, bukannya papa biarin Jane tinggal dengan orang asing pa." aku mencoba bernegosiasi dengan papa bg joha langsung menatap lekat wajahku , kutahu dia sadar aku bilang dia orang asing "sayang,bukan papa gak mikirin kamu, papa udah mikirin banyak kali, bibi gak bisa suaminya sakit struk jadi dia gak bisa malam malam meninggalkan suaminya, jadi itu alasannya kenapa papa gak memperkerjakan bibi tinggal dirumah." jelas papa memelas " Yaudah pa, kalau itu udah keputusan papa, Jane akan nurut, Jane tahu Jane gak bisa hidup sendiri ditempat ini, Jane ga tau apaapa, maaf ya pa." aku pun mengalah karena gak ada lagi cara lain. ku berikan senyum terbaikku untuk papa agar papa tenang " Iya maaf papa harus ninggalin kamu, papa janji papa akan selesaikan proyek papa secepat mungkin." ucap papa menyakinkanku " siaap bos, yaudah Jane masuk dulu ya pa." aku mengangkat sebelah tanganku, membuat tanda hormat untuk komandan, hingga aku pun memutuskan untuk masuk kedalam rumah, aku tak bisa membantah, kasihan juga papa, aku harus jadi anak yang pengertian, meski aku tidak bisa menerima keputusan papa bulat-bulat, aku yakin semua pasti baik-baik saja. papa dan bg Joha masih mengobrol ntah apa yang mereka bicarakan, 'aku harus siapin mental untuk tinggal bareng dengan Abg Joha dan juga istrinya, aduh memikirnya saja aku belum siap, aku belum pernah tinggal dirumah orang , selama itu lagi, kayaknya sebelum pergi aku harus mencoba akrab sama abg biar aku gak canggung minta apa aja untuk keperluanku, tapi gimana deketnya, aku selama ini belum pernah deket banget sama cowok, mikir Jane mikir, coba sok akrab aja kali, nanti aja coba ngomong sama abg, semoga gak canggung deh.' batinku. Hari sudah mulai gelap, aku memutuskan untuk masak untuk makan malam, tapi dikulkas tidak ada yang bisa dimasak, sedangkan papa dan abg asik ngobrol sambil nonton tv, aku langsung menghampiri mereka. " Pa, gak ada bahan makanan ya?." tanya ku, papa langsung melirikku " Kita makan diluar aja sayang." balaas papa yang asik nonton tv " Jane malas makan diluar pa, beli bahan aja bisa sekalian buat besok, papakan harus kerja besok, masa iya Jane kelaparan nanti." ucapku memaksa papa untuk menurutiku " Besok sih bibi datang, dia biasa belanja, tapi kalau kamu mau pergi ga apa-apa sih." terang papa " yaudah, Abg temanin Jane yaa." ajakku keabg Joha membuat nya langsung menatapku, netraku dengan nya bertemu, untuk menghilangkan rasa canggung ku naikkan kedua alis yang mengisyaratkan heran, tiba-tiba bg Joha ketawa melihat wajahku, papa yang asik nonton tv mendengar abg ketawa hanya menggelengkan kepala. " Ayook." ucapnya meraih kunci mobil, papa menyodorkan sebuah kartu, aku langsung mengambil Kartu ATM yang papa berikan. " Passwordnya pa." tanyaku " 25****." jawab papa " makasih paa." dibalas anggukkan papa. aku langsung beranjak mengikuti langkah kaki bg Joha. hingga kami sudah masuk kedalam mobil, aku merasa canggung duduk disebelahnya, selama diperjalanan tidak ada yang memulai percakapan, hanya suara kendaraan yang saling bersautan melaju yang berbeda arah sampai tiba disupermarket, aku turun mengikutinya yang masuk kesupermarker, aku langsung menjadi bahan-bahan seperti daging, ayam, ikan, sayur, kubeli juga telur, indomie, dll dari kejauhan abg memperhatikan ku, setelah selesai dengan ritual belanjaku dengan belanjaanku yang sekeranjang karena penuh dengan cemilanku aku langsung mendekati abg. " mau stock untuk sebulan atau mau buat syukuran." sindir Bg Joha " buat jadi panjangan." balas ku datar, aku langsung berlalu kekasir karena ngambek " wkwkw, hiddih ngambek dia, bercanda lo." kekeh bg Joha lalu membujukku dia mengikutiku menuju kasir setelah selesai ia membantuku membawa belanjaan kedalam mobil. " Udah jangan ngambek, kalau ngambek gitu Jelek tau." ucap bg Joha membujukku " Biarin, lagian abg nyeselin." balasku datar "yaudah, maafin abg yaa." liriknya kearahku sambil tersenyum " iya dimaafin." kujawab membalas senyumannya, setelah itu tidak ada lagi suara hanya deru mobil, hingga mobil masuk keperkarangan rumahku, kami keluar dari mobil dan menenteng belanjaan, aku langsung kedapur untuk membuat makan malam. satu jam sudah cukup buat ku menyelesaikan ritual masak, makanan sudah tersaji dimeja makan, sudah kutata serapi-rapinya, senyumku mengembang sukses membuat makan malam untuk keluarga. " paa, sudah siap, ayoo makan." ajakku papa dan bg Joha mendengar ajakkan ku langsung tegak berdiri menuju ruang makan. "waaah, mantap nii, makin betah papa makan dirumah." kekeh papa, melihat meja makan penuh dan tertata Rapi, senyumku merekah, karena sukses membuat papa makan masakanku, aku bersyukur karena aku selalu membantu mama ketika masak jadi aku sudah terbiasa melakukan nya, membuatku ingat kenangan bersama mama. " Enak." ucap bg Joha, menyadarkanku dari kesedihan karena mengingat mama, " Masakan Jane memang enak banget Jo, makanya sering-sering datang biar Jane masak lagi yang enak-enak." jawab papa kebg Joha, membuat ku malu hingga senyumku merekah. " Pasti dong Uncle." balasnya sambil tersenyum melirikku. aku mencoba untuk tidak canggung, batinku masih berkata-kata ' apa maksud dari sikap bg Joga perlihatkan, membuatku tidak habis pikir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN