Tuntutan.

1115 Kata
Malam yang buruk untuk Jasmine. Kepulangan yang dimaksud Ari untuk ketenangan tidak seperti realita yang terjadi. Tanpa diketahui Ari, papa dan mamanya ikut pulang bersama Jasmine ke rumah dengan mengendarai mobil yang berbeda. Karena itu, sekarang Jasmine hanya bisa menunduk mendengar segala perkataan Junisa-Mama Ari yang menyesakkan hati. “Kamu enggak kasihan sama, Ari? Dua tahun kalian nikah cuma ngurus anak kamu, aja? Mama juga mau punya cucu, Jasmine!” tegasnya dengan suara yang cukup keras. “Cucu kandung!” lanjutnya. “Ma,udahlah. Kasihan, Jessie lagi tidur. Nanti dia terganggu,” bujuk Yudis-Papa Ari menyentuh tangan istrinya. “Dia juga harus ngerti, Pa. Dia itu sekarang istri Ari bukan istri orang lain! Harusnya dia rawat anak Ari juga. Lagian, ngapain coba pakai KB segala!” Mama Ari terus berucap tanpa memikirkan bagaimana perasaan Jasmine. “Udah-udah, Ma!” tegas Papa Ari dengan suara pelan untuk menghentikan sikap istrinya yang menurutnya sudah keterlaluan. “Kamu udah bisa tidur, Nak. Temani anakmu di kamar. Jangan dengerin kata mama,” ujar pria paruh baya itu pada menantu satu-satunya. Jasmine masih enggan bangkit dari duduknya ketika melihat tatapan datar Mama Ari padanya. Untuk mengangkat kepala saja, dia merasa sangat berat. “Nggak papa. Papa yang tanggung jawab,” lanjut mertua laki-laki Jasmine, seperti tahu kekhawatiran menantunya. “Kalau gitu aku ke kamar dulu, Pa, Ma.” Yudis memberikan senyum tipis sebelum Jasmine beranjak pergi. “Kamu nggak boleh gitu, Ma,” tegur Yudis pelan. Junisa menatap suaminya sinis. “Papa enggak mau punya cucu?!” “Mau, tapi kata-kata kamu tadi kelewatan.” “Sebelum Jasmine kamu hampir punya cucu. Kamu ingat apa yang kamu lakuin sama dia?! Kamu nggak ingat apa yang kamu bilang sama Ari waktu itu?! Anggap sekarang kamu lagi tebus itu, Ma.” “Nggak tahulah! Kamu sama aja kayak anak kamu!” Setelah mengutarakan kekesalannya, Junisa pergi begitu saja. Yudis hanya menghela napas dan pergi menyusul istrinya. ~~~ Di kamar, Jasmine kembali menangis mendengar semua yang mama mertuanya katakan. Jasmine memang membenarkan semua yang dikatakan oleh Junisa padanya, tapi ia tidak berpikir bahwa ibu mertua nya itu akan semarah itu. Sebelumnya Jasmine memang sudah sering ditegur atau diberi petuah oleh Junisa ketika mereka sedang bertelepon bersama Ari. Ari selalu menguatkannya. Mengatakan kalau ia tidak apa-apa sampai menunggu Jessie berumur tiga tahun. Terkadang, Jasmine juga diserang dengan pilihan yang tidak tahu bagaimana memutuskan. Ia sadar sudah membuat Ari menunggunya terlalu lama selama ini. Ari yang selalu mengalah membuatnya selalu berpikir bahwa menunggu sebentar lagi tidak apa-apa. Suara helaan napas lolos dari mulut Jasmine. Ia memasang wajah tanpa ekspresi menatap Jessie yang tertidur sangat pulas di tengah tempat tidur. Kedua kakinya melangkah mendekati tempat tidur untuk berbaring di samping Jessie. Saat-saat seperti ini hanya Jessie yang bisa membantunya keluar dari rasa tidak nyaman. “Mama harus ngapain, Nak?” “Apa mama kejam banget sama papa kamu?” Ia menggumamkan banyak pertanyaan sambil mengelus kepala putrinya lembut. Dengar bercerita sendiri akan membuatnya merasa lebih baik dari sebelumnya. Itu adalah salah satu cara Jasmine meringankan pikirannya dari berbagai masalah yang ada di kepalanya. Ponsel yang berada di tas nya berbunyi cukup lama menandakan adanya panggilan masuk untuknya. Jasmine dengan sigap bangun menggapai tas berwarna hitam yang berada di dekat kakinya. Jasmine kembali diserang dengan kegundahan apakah harus menceritakan keberadaan Junisa dan Yudis atau tidak pada Ari yang meneleponnya. Jarinya tergerak menggeser ikon hijau pada layar untuk menjawab telepon dari sang suami. “Halo sayang.” “Kalian udah sampai?” “Udah, aku baru taruh Jessie di tempat tidur.” “Yaudah, kalau gitu kamu mandi, terus langsung istirahat.” “Iya, kamu juga.” “Aku tutup teleponnya-“ “Kak!” “Hem? Kenapa?” “Itu ... mama dan papa tidur di rumah kita.” “Kamu serius?” “Iya, tadi pulang bareng aku.” “Mine ... kamu nggak papa? Aku pulang, aja, ya?” “Enggak-enggak. Emang aku kenapa? Yang tidur di sini orang tua kamu, bukan orang jahat.” “Aku cuma takut kamu diomelin mama.” “Mama baik kok. Kamu tenang, aja. Aku mau istirahat besok kita ketemu di sana, bye kak.” “Love you.” “Love you too.” Jasmine meletakkan ponsel di atas tasnya. Jamine merasa lega karena Ari tidak memaksakan diri untuk pulang. Ia melihat ke arah Jessie sebentar sebelum pergi ke kamar mandi melanjutkan ritual membersihkan diri sebelum tidur. Setengah jam berlalu. Jasmine sudah berada di samping Jessie yang masih tertidur pulas. Ia memeriksa semua akun sosial media sebelum rasa kantuk menyerangnya. “Jasmine.” Suara ketukan pintu bersamaan dengan namanya yang dipanggil membuat Jasmine mengalihkan pandangan ke arah pintu. Jasmine bangun. “Iya, Ma. Sebentar.” Ia melangkah untuk membukakan pintu. “Kenapa, Ma?” “Kenapa kamu nggak keluar? Memangnya kamu udah makan?” “Udah, Ma,” dusta Jasmine. Sejujurnya, sejak tadi Jasmine sudah menahan lapar. Namun, keberadaan Junisa membuat Jasmine tetap di dalam kamar untuk menghindari mama mertuanya. “Iya, Ma. Ini niatnya mau makan. Jasmine baru selesai mandi.” “Ayo bareng Mama dan Papa,” ajak Junisa yang menunjukkan perhatiannya pada Jasmine. Jasmine tersenyum. “Sebentar, Ma.” Jasmine kembali masuk ke dalam kamar untuk memastikan Jessie masih terlelap dengan nyaman, lalu kembali melangkah menuju pintu di mana Junisa menunggu dirinya. Tidak lupa Jasmine menutup pintu kamarnya sebelum pergi menuju ruang makan. “Maafin Mama soal tadi. Mama berharap kamu ngerti maksudnya Mama.” Sejak beberapa tahun lalu, Jasmine tahu Junisa orang yang baik, tapi kekurangannya yang belum memberi keturunan pada Ari hingga saat ini membuat ia selalu diteror oleh Junisa. Jasmine hanya mengangguk sambil tersenyum pada Junisa karena mereka sudah sampai di meja makan di mana ada Yudis, Papa Ari di sana. “Pa,” sapa Jasmine. “Jessie belum bangun?” “Belum, Pa. Tapi tadi dia udah makan, Pa,” jawab Jasmine paham arah pertanyaan Yudis merujuk tentang apa. Yudis tersenyum. “Sekarang kita yang makan.” Jasmine mengangguk. Ia bergantian mengambil piring Yudis dan Junisa mengambilkan makanan untuk keduanya. Setelah itu ia mengambil untuk dirinya sendiri. Makan malam itu terlihat berbeda karena yang mereka lakukan benar-benar hanya makan malam tanpa perbicangan apapun seperti sebelumnya. Selesai makan, Yudis dan Junisa langsung pamit ke kamar membersihkan diri. Begitu juga dengan Jasmine, selesai membantu Jumi membersihkan meja makan ia memilih ke kamar dan meninggal Jumi bersama Susi melanjutkan pekerjaan yang tersisa. Jasmine kembali mengambil ponsel yang terletak di atas nakas. Sebuah notifikasi pesan dari Mota beberapa menit lalu mengejutkan Jasmine karena isi pesan yang sama sekali tidak pernah terbayangkan oleh Jasmine datang begitu saja padanya. Ia membalas pesan Mota menanyakan kebenarannya, tapi Mota yang menjawab sangat lama membuat Jasmine tidak sabar dan langsung menelepon sahabatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN