Dia kembali

1477 Kata
Sambungan pertama dilewatkan begitu saja tanpa ada jawaban dari Mota. Jasmine kembali menghubungi nomor Mota, tapi tetap tidak ada jawaban dari Mota. Jasmine merasa sangat kesal dengan Mota karena rasa penasaran yang besar dalam dirinya.  Jasmine kembali menghubungi nomor yang sama untuk kesekian kalinya. Mengumpat dalam hati betapa bencinya ia pada Mota yang sama sekali tidak mengangkat teleponnya panggilan yang dilakukan aktif. Kekesalan dalam diri Jasmine tidak membuatnya lupa kalau dia adalah seorang ibu yang berada di samping anaknya yang kapan saja bisa tidur dan mencotontohkan apa yang dia katakan. Karena itulah Jasmine memilih mengumpat di dalam hati saja. “Angkat Mota setan!” Rasa penasaran dalam diri Jasminesemakin menjadi-jadi ketika ia mendengar suara serak Mota khas baru bangun tidur. “Halo!” “Halo-halo mata lo!” “Apa, sih, Jas?” “Lo masih bisa tidur padahal yang lo kirim ke gue itu hidup dan mati gue.” “Emang apa yang gue kirim ke lo?!” “Lo sadar dulu anjir!” Jessie bergerak sedikit karena keributan yang ditimbulkan oleh Jasmine. “Hushh. Hushh. Hushh.” Ia mencoba menenangkan Jessie kembali. Kali ini ia tidak ingin putrinya itu menggangu sekali saja. “Ntar!” “Iye!” “Jangan matiin!” Jasmine berjalan menjauh dari tempat tidur menuju jendela besar dalam kamar nya. Ia membuka gorden yang menutup jendela itu untuk melihat keindahan bulan menenami malam kegundahannya. “Halo.” “Ha? Apaan?” “Apa yang lo kirim ke gue?” “Yang gue lihat Jere di jalan?” “Iya. Maksud lo apa?” “Iya, Jas. Gue tadi lihat Jere di dekat apartemen nya dulu.” “Lo nggak main-main kan? Nggak lucu kalau ini cuma joke.” “Ini masalah serius, Jas! Nggak mungkin gue main-main soal ini.” “Kapan?” “Tadi. Gue lupa pastinya jam berapa, tapi kayaknya jam tujuh, Jas.” “Kenapa dia harus balik, sih, Ta? Gue jadi takut!” “Tenang dulu, Jas. Belum tentu dia balik buat lo kan?” Jasmine tertampar dengan perkatappn Mota yang ada benarnya. Kenapa gue terlalu percaya diri banget? batin Jasmine bertanya. “Jas, are you okay?” “Yaya, i’m good.” “Pokoknya nggak usah dipikirin.” “Tapi kenapa lo kabarin gue?” “Sebenarnya gue nggak mau kabarin lo, tapi gue mikir nanti lo marah. Jadi gue ambil keputusan buat cerita, aja.” “Kalau lo nggak kasih tahu. Gue nggak bakal kepikiran.” “Maaf, deh. Lain kali gue nggak bakal cerita lagi.” “Eh! Jangan-jangan! Lo cerita, aja. Lo bener kok.” “Nggak jelas banget! Tadi salahin gue, sekarang suruh gue cerita.” “Setelah gue pikir-pikir bagus juga. Buat gue jaga-jaga kalau seandainya ketemu dia.” “Jaga-jaga apaan? Hati? Ingat lo udah punya, Kak Ari!” “Lo gila, Ta!” “Tapi ngomong-ngomong, Jas. Jere makin ganteng tahu. Gue ketemu dia pakai setelan jas.” “Pasti dia udah sukses lah sekarang. Lulusan Inggris, Ta.” “Lo mau tahu nggak apa yang gue pikirin waktu lihat dia tadi?” “Kalau yang macem-macem nggak usah bilang, deh!” “Oke, kalau gitu.” “Apaan emang?!” “Ha! Anjir! Tadi katanya nggak mau.” “Penasaran doang.” “Gue jatuh cinta sama dia dipandangan pertama gue.” “Seriusan?!” “Iya, serius.” “Ya udah ambil, aja.” “Lo yakin? Ntar lo marah lagi sama gue.” “Nggak mungkin gue marah sama lo. Gue udah punya Kak Ari.” “Oke.” “Oke, Ta. Gue udah ngantuk. Lo lanjut tidur sana.” “Iya, Jas. Nggak usah dipikirin, yak.” “Makasih, ya, Ta.” “Sama-sama." Jasmine menatap keluar jendela besar. Ia ingin sekali menghirup udara malam, tapi ia urungkan mengingat Jessie bersamanya. “Ma.” Jasmine membalikkan tubuh saat mendengar suara Jessie memangilnya. Ia memamerkan senyum manisnya pada gadis kecilnya. “Kenapa sayang?” Jasmine melangkah mendekati ranjang dengan Jessie yang sudah merubah posisinya menjadi duduk. “Jessie haus,” ucapnya lembut sambil mengusap mata. “Mama ambilkan, ya.” “Jessie mau ikut,” pinta Jessie. “Kamu di sini, aja, ya. Mama cuma sebentar kok.” Bibir Jessie membentuk lengkungan ke bawah yang menandakan kalau ia akan menangis sebentar lagi. “Mama cuma sebentar sayang,” bujuk Jasmine agar Jessie tidak ikut dengannya keluar dari kamar. Ia sangat takut bertemu dengan Junisa yang bisa saja mengeluarkan kata-kata kasar dan membuat putri kecilnya mendengar itu semua. “Mama bentar, aja, Nak.” Jasmine langsung berjalan cepat menuju pintu. “Mama...!” rengek Jessie hingga menangis histeris. Jasmine yang takut suara Jessie menggangu  ketenangan penghuni rumah. Berjalan cepat ke arah Jessie dan menggendongnya. “Ya udah kamu ikut, tapi stop nangisnya.” Seketika Jessie berhenti menangis mendengar tawaran yang diberikan oleh mama nya. Ia tersenyum sangat manis dengan mata yang masih berair. Rasa kesal Jasmine mendadak hilang melihat senyuman Jessie yang berharga untuknya. Jasmine ikut tersenyum melihat senyum Jessie tidak pernah luntur. “Kamu memang suka banget jahil.” “Kamu jadi minumnya?” Jessie mengangguk. Ia mengalungkan tangan di leher Jasmine sambil melihat ke depan sama dengan apa yang dilihat oleh Mamanya. Jasmine menggendong Jessie di sisi kanan nya. “Diam, ya. Nanti Oma sama Opa tidurnya terganggu.” Jessie mengangguk mengerti. ~~~ Pagi-pagi sekali Jasmine sudah bangun untuk membantu para asisten rumah mempersiapkan sarapan untuk semua penghuni rumah. Walaupun ia tidak memegang kompor, tapi Jasmine membantu memotong sayur atau hal-hal lain yang bisa ia lakukan. Kejadian dirinya yang terkena percikan minyak panas membuat Ari melarangnya untuk memasak. Sangat berlebihan bagi Jasmine mengingat dirinya ahli dalam memasak, tapi menghindari perdebatan lebih baik bagi Jasmine sehingga ia memilih untuk mengalah. Jasmine membawa dua piring nasi goreng dari dapur menuju meja makan yang terletak tidak jauh dari dapur. Senyuman tampak di wajah Jasmine ketika melihat papa mertuanya sudah duduk dengan pakaian rapi serba hitam di sana. “Pagi, Pa.” “Pagi, Nak. Kamu enggak siap-siap?” “Setelah ini pa,” balasnya masih dengan senyuman yang terukir di bibirnya. “Mama mana?” ia bertanya setelah sadar hanya ada dirinya dan Yudis di meja makan. “Mama kamu masih berdandan. Kamu udah bisa bersiap, Jas.” Jasmine mengangguk. “Iya, Pa.” Kakinya bergerak ingin menjauh dari meja makan, tapi panggilan dari Yudis menghentikan Jasmine kembali. “Kamu harus makan dulu! Di sana belum tentu kamu bisa makan!” tegasnya. “Iya, Pa. Jasmine mau lihat Jessie dulu sebentar.” Yudis melirik Jasmine sejenak. “Setelah itu kembali,” titahnya. Jasmine mengangguk pasti. Kemudian melangkah pergi meninggalkan Yudis menuju kamarnya dan Ari. “Jessie.” Suara lembut Jasmine membuat Jessie yang sudah bangun kembali berpura-pura tidur dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Tentu kegiatan yang sangat terlambat itu masih tertangkap oleh mata Jasmine. Senyuman lebar hadir di wajah Jasmine merasa sangat gemas dengan kelakuan putrinya. “Jessie masih tidur, ya?” Perlahan Jasmine mendekati tempat tidur sambil bersandiwara mengikuti permainan Jessie. “Kok tumben anak mama bangunnya lama.” Jasmine menarik selimut yang menutupi semua badan Jessie dan melihat putrinya tersenyum tipis masih dengan mata tertutup. Jasmine naik ke atas tempat tidur mulai menjalankan aksinya menyudahi sandiwara Jessie. Ia menciumin seluruh wajah Jessie sangat gemas sampai gelak tawa Jessie menggelegar memenuhi suasana hening kamar. “Udah Mama....” Jessie memohon di sela tawanya. “Ampun?” “Hahaha... ampun, Ma!” Rasa lelah mulai Jessie rasakan karena terlalu brutal bergerak. “Kenapa anak mama lama bangunnya?” Sambil mengatur napas. Jessie merapikan rambut yang menutupi wajahnya dibantu oleh Jasmine. “Jessie udah bangun dari tadi kan?” “Iyah...,” jawabnya dengan senyum yang sangat lucu. “Kamu mau ngerjain mama aja kan?” Jessie terkekeh. “Iyah....” “Udah pinter ngerjain mama ya. Siapa yang ajarin, hem?” Bukannya menjawab. Jessie malah naik ke pangkuan Jasmine dan memeluknya. Ia mengecup singkat kedua pipi Jasmine berpikir untuk menenangkan mamanya. Jasmine kembali memberi kecupan di kedua pipi gembul Jessie sebagai balasan untuk gadis kecil itu. “Sekarang kamu mandi, eyang udah nunggu kamu di meja makan.” “Jessie mau ketemu eyang, Ma.” “Iya, makanya kamu mandi dulu.” Jessie mengangguk semangat lalu menggenggam tangan Jasmine untuk memasuki kamar mandi bersama. Lima belas menit yang Jasmine perlukan untuk memandikan buah hatinya. Sekarang ia sedang memakaikan baju dress hitam pada Jessie. “Jessie mau janji sama mama?” “Janji.” Jasmine tertawa kecil. “Mama belum bilang janji apa, Nak.” Jessie ikut tertawa melihat tawa sang mama. “Mama mau mandi dulu. Kamu bisa janji duduk di sini sampai mama selesai mandi?” Jessie mengangguk cepat. “Beneran?” tanya Jasmine meyakinkan jawaban Jessie. “Iyah....” Jasmine menyisir lembut rambut lurus Jessie hingga ujungnya. “Yaudah, kalau gitu mama mandi dulu ya,” pamit Jasmine. “Iya, mama.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN