Semua pasang mata menatap Jasmine yang baru turun dari mobil bersama Jessie yang tertidur pulas dalam pelukannya. Ari yang saat itu berada di teras rumah langsung menghampiri Jasmine dan meminta Jessie dengan perlahan untuk berpindah dalam pelukannya.
“Aku aja nggak papa,” ujar Ari saat Jasmine menolak memberikan Jessie. “Ayo, masuk,” ajak Ari setelah Jessie sudah berada di gendongannya.
“Bapak pindahin mobil dulu, Mas,” pamit Jamal pada Ari dari dalam mobil.
“Iya, Pak. Nanti barang-barang Jessie letak di kamar, aja, ya, Pak.”
“Iya, Mas,” balas Jamal.
“Papa dan Mama mana?” tanya Ari saat mobil yang dikendarai Jamal sudah pergi dan ia tidak melihat keberadaan orang tuanya.
Jasmine melihat ke kanan dan ke kiri tidak menemukan mobil mertuanya. Bertepatan dengan itu, Jasmine menatap ke arah gerbang di mana mobil alphard hitam baru memasuki pekarangan rumah besar yang sudah dipenuhi oleh orang-orang yang akan mengantarkan Sandi ke tempat peristirahatan terakhirnya.
“Kita masuk duluan, aja, yuk.”
Jasmine menggeleng. “Aku berangkat sama mereka, Kak. Aku nggak enak kalau nggak tunggu mereka.” Ari mengalah dan ikut menunggu kedua orang tuanya yang akan turun dari mobil.
“Pa,” sapa Ari pada Yudis yang melihat ke arahnya.
Yudis hanya mengangguk-anggukkan kepala, lalu memperhatikan istrinya yang turun dari mobil. “Sudah?”
Junisa mengangguk, lalu mengapit lengan Yudis. “Ayo masuk,” ajak Yudis berjalan duluan pada anak dan menantunya.
Tangan kanan Ari yang bebas menggenggam tangan Jasmine bersama-sama masuk ke dalam rumah megah itu. Rasa takut menguasai Ari sekarang. Ia benar-benar takut Jasmine melihat Jere dan membuatnya kembali pada cinta lamanya. Ari juga takut saat Jere melihat Jasmine dan semua yang ia ucapkan malam tadi hilang dalam sekejap. Apalagi setelah melihat keberadaan Jessie.
“Kak.” Jasmine menatap Ari yang tidak bereaksi dengan panggilannya.
Jasmine lebih mendekat pada Ari. “Kak!” seru Jasmine lagi tepat di samping telinga Ari dengan volume suara kecil.
“Hem? Apa?” tanya Ari yang baru kembali dari lamunannya.
“Kakak kenapa, sih?”
Ari menggeleng. “Nggak papa. Aku letakin Jessie di kamar dulu. Kamu ikut Mama dan Papa, aja.” Jasmine mengangguk dan melangkah lebih dekat dengan kedua mertuanya.
Kedua kaki Ari melangkah lebih cepat menuju kamar saat melihat Jere keluar dari kamar mandi yang terletak tidak jauh dari kamar yang akan ditujunya. Mata Ari dan juga Jere sempat bertemu sebelum ia masuk ke dalam kamar. Ari melihat senyum tipis terbit di bibir Jere sebelum pintu tertutup.
“Ah! Kenapa dia harus di situ?!” Ari merasa kesal sampai menimbulkan suara yang membuat Jessie mengeluh karena terganggu.
Ari menepuk-nepuk pelan punggung Jessie menenangkannya sembari berjalan mendekati tempat tidur. Dengan perlahan Ari menidurkan di tengah-tengah tempat tidur untuk meminimalisir putri kecilnya itu jatuh.
“Hushh. Hushh. Hushh.” Ari bersuara menenangkan Jessie yang berputar ke kanan karena merasa terganggu setelah Ari meletakkannya.
Ari duduk di pinggiran tempat tidur setelah memastikan Jessie kembali tenang. Ia mengusap wajah kasar merasa beban yang dimilikinya sangat besar setelah kedatangan Jere di Indonesia. Walaupun Jere memilih merelakan Jasmine untuk Ari, tapi tetap saja pria itu merasa terganggu karena Jere adalah masa lalu Jasmine dan ayah biologis Jessie. Pembicaraannya tentang Jere semalam kembali mengganggu pikiran Ari.
“Lo yang kuat,” ucap Ari saat bertemu Jere pertama kalinya setelah beberapa tahun berlalu.
Jere tersenyum tipis. “Makasih.”
“Gue mau ngomong sama lo.”
“Soal janji?” tanya Jere memastikan arah pembicaraan Ari.
Ari mengangguk. “Gue udah nikah...,”
“Gue udah tahu.”
“Terus?”
“Terus apanya?”
“Lo okay?”
“Nggak lah. Lo udah janji sama gue Cuma buat jaga dia.”
“Gue nggak bisa lepasin dia.”
“Gue juga, tapi kalau dia bahagia gue bakal lepasin dia.”
Ari mengangguk. “Dia bahagia sama gue.”
“Okay.”
“Gitu aja?”
“Gue lagi berkabung. Tolong jadi saudara yang baik buat sekarang.” Setelah itu Jere pergi meninggalkan Ari dan rasa bingungnya.
“Semoga lo nggak main-main sama omongan lo,” harap Ari.
“Kak.” Mendengar suara Jasmine dengan sigap Ari berdiri menuju pintu untuk membukakan pintu karena takut suara Jasmine akan membangunkan Jessie.
“Kenapa?” tanya Ari saat ia membuka pintu dan terlihat Jasmine dengan wajah tanpa ekspresi menatapnya.
“Kenapa lama banget?”
“Ooo tadi Jessie sempat bangun.”
“Udah tidur lagi kan?”
Ari mengangguk. “Ayo keluar.” Ari menyentuh tangan Jasmine mendorongnya dengan pelan agar memberi akses jalan bagi Ari keluar dari kamar. Sebelum pintu tertutup rapat Jasmine dan Ari melirik ke dalam kamar untuk melihat Jessie.
“Anaknya Om Sandi yang mana, sih, Kak?” Takut lupa Jasmine kembali bertanya setelah mereka sampai di dekat keluarga yang sedang membacakan doa di dekat jenazah.
“Kamu belum ketemu dari tadi?”
“Belum.” Jawaban Jasmine membuat Ari semakin bingung dengan Jere.
“Itu yang pakai masker dan kaca mata hitam.” Ari berkata tanpa menunjuk pada Jere. Karena keberadaan Jere sangat jelas di sana karena berpenampilan berbeda dari yang lainnya.
“Sama doang nggak kelihatan wajahnya.” Ari tidak menanggapi keluhan Jasmine dan ikut duduk bersama keluarga yang lain membacakan doa untuk Almarhum Sandi. Rasa penasaran Jasmine terkubur bersama dengan doa-doa yang mereka panjatkan untuk Sandi.
~~~
Matahari sudah terganti menjadi bulan. Rumah Jere masih dipenuhi oleh sanak-sanak saudara termasuk keluarga Ari. Jarum jam yang menunjukkan pukul delapan membuat Jessie merengek karena waktu makan malamnya sudah terlewati.
“Kamu pulang aja sayang. Kasihan, Jessie.”
“Nggak enak sama yang lain, Kak,” bisik Jasmine.
“Nggak papa. Nanti perutnya sakit, Jasmine.” Ari memperingati dengan nada tegas.
“Kakak nggak mau kenalin aku sama, Lio?”
“Ha? Apa?” tanya Ari memastikan kembali apa yang diminta oleh Jasmine.
“Kak Lio nggak kenal sama aku. Kakak nggak mau kenalin?”
Mata Ari beralih menatap Jere yang sedang fokus memandangi ponselnya. “Dia lagi sibuk gitu.”
“Iya, sih,” gumam Jasmine kembali menelan rasa penasarannya. Tidak wajar bukan. Auami mu memiliki sepupu, tapi kau tidak mengenalinya sama sekali. Itu yang selalu ada dipikiran Jasmine.
“Kamu pulang sekaran, aja. Biar kita pamit sama dia sekalian kamu kenalan sama dia.”
“Tapi aku segan sama saudara yang lain, Kak.”
Ari memasang wajah datar menatap Jasmine. “Kamu nggak kasihan lihat Jessie nangis terus kayak gitu?”
“Mama,” rengek Jessi untuk kesekian kalinya.
“Iya-iya, Nak. Kita pulang sekarang,” ujar Jasmine mulai bergerak memperbaiki posisinya menggendong Jessie.
“Aku chat Pak Jamal dulu.”
“Iya, Kak,” jawab Jasmine sambil mengusap punggung Jessie.
Jere yang duduk tidak jauh dari mereka sesekali menatap iri kedekatan Jasmine dengan Ari dan tak kuasa melihat Jessie yang sedang merengek. Ambisinya untuk mengalahkan Ari menahan hasrat Jere untuk mendekati keduanya.