Jasmine mulai menyalim satu-persatu sanak saudara Ari untuk berpamitan. Walaupun Junisa terkesan jahat pada Jasmine, tapi Jasmine bersyukur sampai sekarang seluruh keluarga Ari tetap menyambutnya baik dengan masa lalu yang dibawa oleh Jasmine.
Yudis mengelus lembut kepala Jessie yang masih merengek tanpa henti dipelukan Jasmine. “Kamu hati-hati.”
“Iya, Pa. Jasmine pulang duluan, Ma.” Junisa mengangguk. Menyentuh tangan menantunya sebentar.
“Ari antar mereka dulu,” pamit Ari dan merangkul bahu Jasmine. Keduanya melangkah meninggalkan ruang tamu menuju pintu utama rumah Jere.
“Kabarin aku kalau udah sampai rumah.” Jasmine mengangguk.
Di depan pintu rumah Jasmine kembali tersenyum pada beberapa saudara yang tidak ia kenali dan Jere yang duduk bersama dengan sepupu dari Papanya.
“Pulang, Ri?” tegur Jere yang masih memakai masker dan kaca mata hitam tanpa melepasnya sejak tadi.
“Nggak. Dia doang,” jawab Ari datar.
Jasmine mengerutkna dahi ketika mendengar suara Jere yang ia kenali sebagai Lio. Kayak pernah dengar suaranya.
Jamal menghampiri Jasmine dan Ari setelah menutup pintu bagasi. “Udah selesai, Mas.”
Jere berdiri dan terus melihat Jessie yang terus menatapnya. “Aku, Jasmine.”
“Hai.”
Sombong amat! Gerutu Jasmine dalam hati.
“Sorry. Aku batuk jadi nggak enak ngomong kebanyakan. Sebenarnya aku juga ganteng, tapi karena mata sembab aku pilih pakai kaca mata.”
Ooo... jadi itu alasan dia pakai masker dan kaca mata.
“Iya, nggak papa, Kak.”
Jere hanya mengangguk. Sejenak menatap mata yang sangat ia rindukan bertahun-tahun. “Kalian hati-hati, ya.”
Ari hanya menatap interaksi antar Jere dan Jasmine yang membuat dirinya takut, kesal dan bingung secara bersamaan. Sekilas ia melihat Jere memang bersikap biasa saja pada Jasmine, tapi sikapnya yang seperti itu membuat Ari semakin tidak tenang.
Jere mengelus kepala Jessie lembut. “Kapan-kapan main sama, Om.”
“Iya, Om.” Jasmine menjawab Ari mewakili Jessie yang masih diam menatap Jere tanpa henti.
“Udah, yuk.”
“Pulang dulu, Kak,” pamit Jasmine menatap Jere dan sepupu yang bersamanya.
Ari dan Jasmine mulai melangkahkan kaki mendekati mobil yang terparkir di depan mereka. Jere mengikuti langkah keduanya dari belakang untuk mengantarkan Jasmine.
Jamal membantu membukakan pintu untuk Jasmine. Ari meletakkan tangan di langit-langit mobil agar tidak mengenai kepala Jasmine.
“Sampai rumah kabarin aku, ya.”
“Iya, Kak.”
“Hati-hati, Pak,” pesan Ari.
Jasmine menatap Jere sebentar sebelum mobil yang mereka naiki pergi. Hal yang sama juga Jere lakukan. Ia hanya menatap mobil hitam itu dengan tatapan datar walau hati sedang berteriak menahan pilu dan rindu.
“Gue masuk duluan.”
“Kayaknya Jasmine emang bahagia sama lo.” Langkah kaki Ari berhenti.
“Gue udah bilang sebelumnya sama lo,” balas Ari tanpa menatap Jere dan langsung melanjutkan langkah kaki nya memasuki rumah.
~~~
“Gue ke kamar dulu, Kak.” Jere pergi setelah berpamitan dengan kakak sepupu yang sejak tadi bersamanya.
Langkah kaki nya begitu lamban seperti tidak memiliki tujuan. Setelah beberapa tahun tidak bertemu kerinduan yang ia tahan semakin mematikan untuk Jere karena tidak bisa langsung mengobati kerinduannya.
Jere berhenti di taman yang berdekatan dengan kamar nya. Jere mendudukkan diri di bangku yang ada di taman. Menatap ponselnya yang bergetar menunjukkan nama Lion sebagai pemanggil.
“Halo.”
“Kita dapat.”
“Ada fotonya?”
“Ada, Kak. Dia baru sampai di Indonesia minggu lalu.”
"Bukannya dia udah nikah?"
"Iya, dia ke Indo sama suami dan anaknya. Gue nggak tahu pastinya buat apa. Cuma buat jaga-jaga kita harus cepat bujuk dia."
“Indo? Kok lo bisa tahu?”
“Aku ada suruh orang buat jaga-jaga di dekat rumah nya.”
“Good. Gue tahu lo bisa diandalin.”
“Yoi, Bro.”
“Kirim alamat dan fotonya. Gue mau mastiin itu dia atau nggak.”
“Gue kirim sekarang, Kak.”
“Hem.”
Tak lama, Jere membuka pesan dari Lion. Sebuah senyum terbit di bibir Jere melihat wajah seorang wanita yang selama ini ia cari-cari keberadaannya.
“Akhirnya.”
“Iya, Kak. Lo harus tahan sebentar lagi.”
“Lo harus di sini secepatnya.”
“Lusa gue berangkat.”
“Oke. Kabarin gue.”
“Iya, Bos.”
“Baik-baik lo di sana.”
“Siap bosku.”
Jere mematikan sambungan telepon. Ia mencari alamat yang dikirim Lion padanya melalui maps. Ingin tahu keberadaan wanita yang membuat kepala nya pusing sejak satu tahun lalu.