Jeni

616 Kata
Jere mengelilingi rumah besar yang sekarang bertambah sepi setelah kepergian papanya. Sejak dua hari kepergian Sandi sampai tadi siang Jere masih merasakan keramaian karena sanak saudara tetap tinggal bersamanya untuk menghibur, sekarang tersisa dirinya dan para pekerja yang menemani. Kepergian Sandi benar-benar menyesakkan hati Jere yang meninggalkannya beberapa tahun lalu karena sebuah keinginan untuk bebas dari keinginan Papa yang selalu mengaturnya. Jere rindu Papa. Setetes air mata Jere jatuh saat ia menatap foto kebersamaannya dengan Sandi yang kembali dipajang tadi pagi oleh para pesuruhnya. “Harusnya Papa tunggu Jere pulang.” “Bos.” Jere menghapus jejak air mata di pipinya setelah mendengar seseorang memanggil namanya. Jere membalikkan tubuh menghadap salah satu pria berbadan tegap yang dibalut dengan setelan berwarna hitam. “Mobil udah siap,” lanjutnya menatap Jere. “Kita pergi sekarang.” Jere berjalan lebih dulu dan membiarkan pria itu mengikutinya dari belakang. Kaki Jere terhenti di depan pintu utama rumah, tepat di depan seorang wanita. “Jere titip rumah sementara, ya, Buk.” Ia berpesan pada salah satu asisten rumah tangga yang sudah bekerja dengan keluarganya sejak kecil sama seperti Jamal. “Iya, Mas. Baik-baik, ya.” Jere menyentuh bahu wanita berumur empat puluh tahun itu sambil memamerkan senyumnya. “Jere cuma beberapa hari di apartemen, Bu Nini. Jere bukan ke Inggris, lagi.” Wanita yang disapa Nini itu tertawa kecil mendengar ucapan Jere. “Ya sudah. Hati-hati.” “Iya, Buk.” Jere melangkah mendekati mobil dengan pintu yang sudah dibukakan oleh salah satu pesuruhnya. Ia melambaikan tangan pada Nini yang juga melambaikan tangan padanya sebelum mobil bergerak jauh meninggalkan rumah. “Kita mampir ke alamat yang gue kirim, Jo.” Pria seumuran Jere yang menyetir mobil mengangguk sambil memperhatikan layar kecil melihat alamat yang dimaksud Jere. “Oke, Bos.” “Lo udah makan?” “Udah, Bos.” “Pak Ucup gimana?” Kali ini Jere bertanya pada pria berumur pertengahan tiga puluh yang duduk di samping pengemudi. “Udah, Bos. Tadi makan sama-sama, Jo.” Jere hanya mengangguk-anggukkan kepala menanggapi jawaban pria yang dia panggil Ucup. Jere meletakkan kepala di jok, lalu memejamkan mata. Mencoba mencari kedamaian dalam tidur sesaatnya. Tiga puluh menit diperjalanan Jere habiskan sepenuhnya untuk memejamkan mata. Hingga saat ini, kedua bola mata nya terfokus pada wanita yang sedang menggendong seorang balita sambil menyirami beberapa bunga di taman kecil di depan rumah tingkat dua minimalis tanpa pagar. “Apa rumah ini masih dijaga?” Jere bertanya tanpa mengalihkan tatapannya. “Masih, Bos. Satu mobil yang ada di belakang kita selalu menjaga rumah itu,” jawab Ucup. Jere mengangguk. “Jaga dengan ketat. Jangan sampai dia kenapa-kenapa atau hilang, lagi.” “Iya, Bos.” Jere membuka pintu mobil yang berada di sisinya berniat keluar. Ucup dan Joe ikut bergegas membuka pintu mobil masing-masing untuk mengawal Jere. “Kalian tunggu di sini, aja. Dia nggak bakal jahatin aku.” “Yakin, Bos?” Jere menatap Ucup seksama. “Kalau kalian berdua ikut. Dia bakal takut,” terang Jere pada keduanya. Setelah itu Jere keluar dari mobil meninggalkan Ucup dan Joe yang terus memperhatikan Jere dari dalam mobil. Jere mengatur mimir wajah nya mempersiapkan diri memanggil wanita yang sekarang membelakangi dirinya. “Kak.” Wanita itu berbalik menatap Jere. “Siapa, ya?” “Kak Jen, ini aku, Jere.” “Jere?” Jere mengangguk. “Sepupunya, Arison.” Mimik wajah wanita itu mendadak  berubah setelah Jere menyebutkan nama sepupunya itu. Ia menatap Jere sebentar, lalu meletakkan selang air di rerumputan. “Apa sebelumnya kita pernah kenal?” “Nggak, Kak. Tapi aku tahu Kakak.” “Terus?” “Aku mau minta tolong sama Kakak.” “Minta tolong apa?” “Ini tentang, Ari.”    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN