Pamit

945 Kata

Nomor yang tertera pada layar ponsel membuat Jere menghembuskan napas kasar saat Jamal menunjukkannya pada Jere. “Baru jam empat, Pak,” keluh Jere dengan wajah memelas. “Mama nya udah telepon.” “Ya udah angkat, aja, Pak. Pulangnya nanti.” “Mas Jere udah tahu apa artinya.” “Angkat dulu, Pak.” Jamal menuruti perkataan Jere untuk menerima panggilan dari Jasmine. “Halo, Mbak.” “ Di mana, Pak?” “Lagi di taman, Mbak.” “Jessie udah makan?” “Udah, Mbak.” “Kenapa belum pulang, Pak?” “Bapak takut, Jessie akan menanyakan Mas Ari kalau cepat-cepat pulang ke rumah. Maaf, Bapak ambil tindakan sendiri, Mbak.” “Nggak papa, Pak. Kayaknya lebih bagus seperti itu. Jasmine juga bingung harus menjawab apa lagi kalau Jessie bertanya tentang Ari.” “Jessie mana, Pak?” “Lagi main sama Lion, Mbak.”

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN