Agar dapat memastikan dengan jelas. Adimas pun pergi meghampiri seseorang yang tak sengaja ia lihat.
"Nah, tuh, dia." Semakin mendekati cowok itu, Adimas semakin yakin jika ia tak salah orang.
Adimas pun menepuk pundak cowok itu yang membuatnya langsung menoleh. Siapa lagi kalau bukan Arsya.
"Eh, De? Lo kok bisa di sini?" tanya Arsya kaget.
Adimas menunjuk ke arah Zahra yang masih sibuk dengan temannya. Arsya pun ber-oh-ria. Ia lalu tertawa, menertawakan Adimas karena pergi ke pesta dengan tampilan cowok tulen.
"Hahaa ... lo ganteng, Bro," ucap Arsya semakin mengencangkan tawanya. Adimas mendengkus pelan, sudah diduga jika cowok itu akan menertawakannya, belum lagi mengetahui jika Adimas datang ke pesta, padahal ia bilang sendiri jika tak suka ke pesta.
"Diem lo, ya."
"Tumben banget lo mau jalan sama Kakak lo itu."
"Ya dipaksa, kalo gak juga gue ogah. Lo sendiri sama siapa ke sini? Atau jangan-jangan lo tamu yang gak diundang? Lo cuma dateng buat numpang makan dan cuci mata doang? Wah, wah ...."
"Enak aja, tuh, congor ngomong. Kan tadi pagi gue udah bilang, kalau kakaknya pacar gue ulang tahun, nah makanya gue dateng."
"Oh, iya. Bisa kebetulan gitu, ya."
"Gue juga kaget, bisa kebetulan gitu."
Tiba-tiba seorang gadis muncul menggandeng lengan Arsya. "Beb, ayo makan dulu," ucapnya tak sengaja menatap ke arah Adimas.
"Loh, kamu bukannya ... aduh siapa, ya, namanya. Kita pernah ketemu di sekolah. Oh, iya. Kamu Adimas kerabatnya Arsya, kan?" ujar Sofia menghadap ke arah Adimas.
"Hehe, i--iya."
"Wah, jumpa lagi ya kita. Kamu sama siapa kemari?" tanya Sofia.
"Sama Kak---sama cewek gue," jawab Adimas yang membuat Arsya memelotot lebar.
"Ooo, gitu. Ya udah, jangan lupa makan, ya. Beb, kita makan dulu, yuk!" ajak Sofia menarik tangan Arsya.
Tatapan Arsya tampak meledek ke arah Adimas, mungkin karena ia tadi menyebut Zahra sebagai ceweknya. Aduh, pasti Arsya semakin puas menertawakannya nanti.
Zahra pun menghampiri Adimas yang berdiri melongo sendirian di situ.
"Dimas, lo ngapain di sini? Ayo balik lagi," ajak Zahra menarik Adimas kembali duduk di tempat teman-temannya itu.
"Kak, gue gak bisa lama-lama, ya."
"Iya, bentar lagi juga kita pulang."
"Oke."
Adimas pun hanya bisa pasrah, ketika Zahra mengajaknya bergabung dengan teman segengnya. Ternyata Adimas tahu maksud kakaknya itu membawanya. Agar bisa pamer ternyata, padahal tidak semua orang membawa pasangan kemari.
"Acara akan segera dimulai, diharapkan semua tamu yang datang mendekati pentas."
Zahra megajak Adimas melihat acara potong kue itu. Di sana tampak orang yang berulang tahun.
Berkali-kali Zahra memeluk lengan Adimas membuat jomlo yang melihat tampak iri---padahal biasa saja. Ya, biasalah Zahra memang seperti itu orangnya.
"Abis makan, kita pulang, kok, sabar, ya."
"Hm." Adimas hanya bergumam. Berharap mereka cepat-cepat pulang saja, karena Adimas sebenarnya sudah capek dan ingin segera berbaring di kasurnya.
Belum lagi maminya sudah cemas dan menyuruhnya pulang. Farah hanya tau ia berada di rumah Alex bukan melimpir ke acara seperti ini.
"Acara selanjutnya yaitu suapan kue pada orang tercinta."
Adimas paling malas acara seperti itu. Suapan kuelah, orang tersayanglah, bla-bla. Tidak penting bagi Adimas.
***
Razel sudah pulang dan Rara mendengar suara dari kamar sebelah, yakni kamar Razel. Rara belum tidur, karena ia terus memikirkan Razel.
Rara pun ingin pergi ke kamar cowok itu, tetapi ia takut malah mengganggu. Namun, sebelum bertemu Razel, ia tak akan bisa tidur. Rara pun akhirnya bangkit, lalu keluar dari kamarnya.
Kebetulan sekali, Razel pun baru keluar dari kamarnya lagi, padahal ia baru pulang. Razel terkejut, melihat Rara yang masih belum tidur.
"Ra, lo kok--" Belum selesai Razel bicara, Rara langsung memeluk cowok itu.
"Maaf udah buat Razel marah, maaf karena Rara bohongin Razel."
Razel pun tersenyum singkat. Ia yakin Rara tak bisa tidur karena terua memikirkan kemarahannya. Tangan Razel pun mengusap rambut panjang Rara yang tergerai.
"Gue gak marah, kok."
"Ah, Razel bohong. Tadi Razel marah, Rara takuuut."
Razel terkekeh pelan. "Ya makanya jangan bohong lagi, kan, gak baik boongin Kakak sendiri."
Rara terkekeh, karena Razel menyebut dirinya sendiri Kakak. Bukankan Razel anti dipanggil kakak? Sepertinya begitulah cara Razel menghiburnya.
"Oke, Rara janji gak akan boongin Kakak lagi," ucap Rara.
"Dah, ah, mau muntah gue dengernya kakak-kakak segala."
"Hahaha." Rara tertawa. Telunjuk Razel pun menyentuh dahi cewek itu.
"Tidur sana!"
"Iya."
"Ya udah, masuk kamar!" suruh Razel.
"Iya, ih, bawel!"
Rara pun masuk kembali ke kamarnya. Razel melanjutkan langkahnya ke dapur, karena tujuannya keluar kamar tadi adalah ingin mengambil minum.
Razel tiba-tiba teringat cewek yang ia temui siang tadi.
"Kalo gak salah namanya ... Farah. Ah, iya!" ujar Razel. Ia akan mengingat nama cewek itu.
Sayangnya Razel tidak tahu di mana tinggal gadis itu, asalnya di mana, sekolahnya, dan lain-lainnya. Pertemuan tadi sangat singkat, tetapi berkesan bagi Razel. Tuk pertama kalinya ia mendengar nasihat seseorang dan menakjubkannya ia mendengarkan nasihat orang yang baru ia kenal.
"Farah, kan, nama lo? Semoga kita ketemu lagi, ya. Gus berharap banget, loh, bisa ketemu lo lagi," ujar Razel.
Setelah selesai minum, Razel pun kembali ke kamarnya. Ia yakin Rara pasti juga sudah tertidur sekarang.
Namun, kenyataannya Rara belum tidur. Ia masih memandang langit-langit kamarnya. Ia kembali teringat rasa kecewa dan pikiran buruknya dulu saat Sinta tanpa kabar. Ia merasa sangat berdosa sudah suudzhon dengan mamanya sendiri.
Nyatanya Sinta sangat peduli dengannya, bukan? Ya, mana ada seorang Ibu yang tak peduli dengan anaknya.
Tiba-tiba Rara teringat dengan Arsya. Ia pernah mengatakan pada cowok itu, jika ia menolak Arsya karena alasan kebahagian pertamanya hancur. Namun sekarang Rara ingin meralat itu dan ingin memberikan Arsya kesempatan.
Akan tetapi, apakah Arsya masih memiliki perasaan yang sama? Apakah Rara juga korban dari ke-playboy-annya Arsya?
Jika benar, Rara memilih tak usah kenal dengan Arsya lagi.
"Eh, iya, btw ... bentar lagi ujian kenaikan kelas. Aku tidak boleh mikirin cowok dulu! Mending belajar," ujar Rara menarik selimutnya, lalu mencoba memejamkan mata untuk masuk ke lautan mimpi.
Ia pun menutup hari ini dengan senyuman manis, karena hari ini adalah kejutan. Ia bahagia orang tuanya kembali dan bahagia masalah kecil bersama Razel tadi pun sudah selesai. Bisakah Rara berharap jika setiap hari adalah hari indah seperti ini?
Rara ingin bahagia setiap hari!