BAB 40

1034 Kata
Ujian kenaikan kelas semakin dekat. Arsya pun dipaksa belajar oleh Reni, karena cowok itu pemalas dan sering keluar kelas. Kali ini Adimas ikut andil dalam belajar Arsya. Ia diminta Reni untuk belajar bersama putranya yang pemalas itu. Adimas pun menurut saja, toh, sekalian ia juga belajar. "Eh, Sya. Lo malah main PS! Belajar, dong!" suruh Adimas. "Entaran aja, De. Nanggung, nih." "Gak ada waktu tunda-tundaan, ya. Cepet, mana buku lo?" "Dikit lagi, nih, bentar aja ...." Adimas berkacak pinggang. Arsya memang susah diatur. Adimas pun menatap colokan PS di sana. Ia pun menarik kabel di colokan itu yang membuat PS Arsya langsung mati. "Mati lampu, ya?" "IYA! Gue yang matiin! Udah, sana ambil buku lo!" tegas Adimas, yang membuat Arsya mau tak mau menurut. Besok ujiannya adalah Bahasa Indonesiadan PKN. Menurut Arsya pelajaran itu tak perlu menghafal, karena bisa dikarang saja. "Apaan coba B.indo ini dihafal? Apanya yang dihafal?" sungut Arsya. "Oh, gitu. Kalau lo emang gak butuh menghafal. Gue tanya, nih, kata bakunya yang benar apa, bernafas atau bernapas?" "Ya bernafas, lah." "Tet not! Salah. Bakunya bernapas. Tuh, kan, lo aja gak tau. Masih ngomong gak perlu belajar?" "Hadeh, iya, deh, iya." Jika sudah mengurus Arsya, tingkat kebawelan Adimas meningkat. Persis seperti Emak-emak yang mengomeli anaknya. Ya, tak salah, sih, karena emang Adimas calon Emak-emak masa depan. Reni pun masuk ke kamar Arsya melihat putranya itu yang tampak belajar dengan Adimas. "Nah, tuh, kan, bagus belajar," ujar Reni. "Tante minta tolong ya, Dimas. Pokoknya Tante serahin ke kamu." "Iya, Tan." "Tante tau kamu jauh lebih pintar daripada anak Tante yang kerjaannya main mulu ini." "Duh, Ma. Kayak Arsya ga pernah belajar aja, deh. Lagian jangan nyinyirin sama anak tetangga, dong." "Iya, iya. Udah, lanjut sana belajarnya. Mama mau ke pasar, ya!" "Oke, Ma." "Oke, Tan." Jawab Arsya dan Adimas serentak. Reni pun berlalu dari situ. Sudah ada Adimas, jadi ia bisa lega. "Eh, De. Kemarin gue mimpi yang itu tuh lagi," ujar Arsya. "Mimpi apaan?" "Ya, pengantin yang mukanya samar-samar itu." "Iyalah, lo kagak tobat-tobat. Makanya mimpi itu terus menghantui lo. Coba aja lo udah tobat pasti tuh mimpi hilang." "Eh, tapi, kan, gue penasaran sama pengantin wanitanya. Kok gue mikirnya si Rara, ya?" ujar Arsya kepedean. "Gak usah GR lo. Udah lupa kalau Rara pernah nolak lo?" "Ya jangan diingetin lagilah, gue kan masih berusaha buat gapai hati dia." "Serrah lo. Eh, ini jadi kedelay belajarnya, kan. Ayo cepat lo hafal ini, entar gue tes!" ujar Adimas, enak saja Arsya ingin mengalihkan topik agar ia tak disuruh menghafal. "Iya-iya. Eh, tapi, ya. Kata Mama gue kemarin, pas liburan abis ujian entar, sepupu gue mau nginep di sini." "Sepupu?" "Iya. Masa lo gak inget, itu, si Lian." "Oh, ya, ya ingat." "Nah, katanya dia mau menghabiskan liburannya di sini. Gue sebenernya malas. Lo tau sendiri, kan, dia gimana? Nempel mulu kayak cicak!" "Sya ... udah, deh, gue tau lo ajak gue cerita biar mengulur waktu. Cepet hafal! Lima belas menit lagi gue tes, ya! Awas aja gak dapet." "Iya, ish, bawel banget lo." "Nah, sembari nunggu lo menghafal. Gue mau bikin minum dulu di dapur. Jangan main HP atau main PS, ya! Lima belas menit lagi gue balik!" ujar Adimas. "Iyaaa." Adimas lalu keluar dari kamar Arsya. Ia pun beranjak ke dapur, membuat jus untuk dirinya. Tak lupa untuk Arsya juga. Adimas mengambil buah alpukat yang masih segar, lalu diblendernya bersamaan es batu sampai larut menjadi jus, tak lupa ditambahkan s**u dan gula. Setelah itu, ia menuangkan ke dua gelas yang ia sediakan. Tak terasa ternyata proses membuat jus ini lama juga, butuh dua puluh menit sampai selesai semua. Ia sudah terlambat lima menit. Bagaimana dengan Arsya? Adimas segera menuju kamar cowok itu, semoga saja Arsya masih membaca bukunya. "Sya ... sorry gue telat lima me--" Adimas mendengkus pelan, karena Arsya malah tertidur dengan buku yang terletak di perutnya. Dasar Arsya kang molor. Ia jika membaca buku sendirian dipastikan mengantuk. Adimas meletakkan nampan yang berisi dua gelas jus itu di atas meja. Ia lalu menghampiri Arsya, ingin memukuk cowok itu, tetapi tangannya terhenti. Kenapa Adimas tak jadi melayangkan tangannya? Wajah Arsya yang sedang tertidur damai membuat Adimas tak berkutik. Cowok itu sangat tampan, tak ada cacat pun di wajahnya. Putih bersih, alis tebal, hidung mancung, bibir merah alami. Adimas menelan salivanya susah, apalagi rambut Arsya yang acak-acakan dan sedikit basah, karena cowok itu baru selesai mandi tadi. Bau shampo dan sabun yang dipakai Arsya sangat kencang. Cowok itu sangat wangi, walaupun belum memakai parfum. "Sya," panggil Adimas pelan, tak jadi menggunakan kekerasan. "Sya, bangun, Sya! Hadeh, jangan tidur, dong!" Adimas menoel-noel muka Arsya agar cowok itu terusik, tetapi bukan Arsya namanya kalau tidak susah dibangunkan. "Hadeh, gue pukul juga lo--" Adimas hendak melayangkan tangannya, tetapi tangan Arsya refleks menahan. Mata Arsya terbuka yang langsung menatap mata Adimas. Jarak muka mereka sangat dekat, sehingga membuat Adimas tak berkutik, hanya bisa menahan napasnya. Arsya juga sedikit kagum melihat muka Adimas yang dilihat secara dekat begini tampak sangat cantik. Bibir sexy Adimas sangatlah menggoda, inilah yang menbuktikannya cewek tulen. "Lo cantik, ya," ujar Arsya yang membuat pipi Adimas memerah. Buru-buru gadis itu menjauh dari Arsya. Cowok itu pun bangkit dari tidurnya. "Sorry, gue tadi ketiduran. Taulah, gue kan kagak bisa membaca sambil tiduran sendirian begini yang ada gue ngantuk." "Iya! Nih, minum dulu gue udah buatin jus," ucap Adimas mengambil nampannya tadi. "Wah, tumben lo baik." "Emang selama ini gue jahat gitu?" "Hahah, sans, Brader! Lo, kan, sohib terbaek gue," ucap Arsya memuji-muji yang membuat hidung Adimas kembang kempis. "Udah, deh, gue gak perlu pujian lo. Abis ini kembali belajar, gue tes loh!" "Iya, yang tadi gue juga udah hafal, kok." "Oh, ya? Mari kita buktikan aja nanti. Kalau lo gak dapat jawabannya, lo harus turutin apa yang gue mau." "Emang apa yang lo mau?" tanya Arsya mendekatkan wajahnya ke arah Adimas. Buru-buru gadis itu menggeser muka Arsya agar menjauh. "Apaan lo deket-deket gitu? Mau modus, hah?" "De, gue gak boong, lo ternyata cantik, ya." Pipi Adimas dibuat semakin memerah. Gadis itu memalingkan wajahnya agar tak dilihat oleh Arsya. "Hahaha, cie salting, ya, salting, ya? Ciieee." Arsya malah semakin menggoda Adimas yang sekarang bak kepiting rebus. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN