BAB 41

1020 Kata
Sekarang adalah hari pertama Arsya ujian kenaikan kelasnya. Pagi-pagi sekali Reni sendiri yang mengantarkan putranya itu ke sekolah agar tidak terlambat. Arsya merungut kesal. Mamanya malah mengantarkannya kepagian. Yang benar saja, Reni mengantarkan Arsya jam enam subuh! Arsya menjadi orang pertama yang datang ke sekolah, bahkan satpam pun belum ada. Ialah yang membuka gerbangn Namun, Arsya tak sendiri di sini, ada Adimas yang memang menemainya. Daritadi Adimas menertawakan Arsya, karena dipaksa bangun pagi-pagi. "Eh, gue nemenin lo di sini cuma sampai jam setengah tujuh, ye! Abis itu gue mau pulang. Mau olahraga dan ngerjain pekerjaan rumah," ujar Adimas. "Ya." "Dih, jutek amat, Mas." Arsya memutar bola matanya malas. Mana ia belum sarapan. Lebih baik ia ke kantin saja, menunggu ibu-ibu kantin yang buka pertama kaki. Ternyata sudah ada ibu kantin yang datang dan baru membuka kantinnya. "Loh, Dek Arsya, ya? Tumben atuh datangnya cepet." "Karena ujian, Bu." "Wah, rajin pisan euy." Adimas berbisik ke telinga Arsya. "Cieee, rajin," ujarnya terkikik. "Diem lo." "Ya udah sarapan sana, lo kan tadi minum susuu doang." "Bu, pesen mie ayamnya satu," ujar Arsya. "Heh, masih pagi-pagi buta gini lo mau makan mie ayam. Gak ada! Gak boleh. Bu, pesen nasi goreng aja makan sini dua," ujar Adimas meralat pesanan Arsya. "Siap, Dek!" Mood Arsya benar-benar hancur pagi ini, belum lagi matanya yang mengantuk, akibat begadang semalam. Jika begini, yang ada ia malah tak konsentrasi ujian. "Sya, bedanya kalimat aktif dan pasif apa?" "Perasaan lo nanya itu terus, deh, dari kemarin." "Eh, iya. Ya udah, pancasila yang pertama apa?" "Anak TK juga tau kali!" jawab Arsya masih kesal. "Hahaha, masih kesel, ya? Jangan gitu dong, Sya. Kan itu tandanya Tante Reni peduli sama lo, takut lo telat." "Iya-iya, gue tau. Mending lo diem, deh, sampai mood gue baik lagi." "Oke, kalau gitu." Tak lama kemudian dua nasi goreng pun disajikan oleh Bu Kantin itu. Arsya dan Adimas langsung melahapnya. Jam pun sudah menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit. Sebentar lagi pasti banyak murid yang datang. Saatnya Adimas pulang. Mereka pun sudah selesai sarapan dan membayarnya. Arsya berjalan ke kelasnya. Diikuti Adimas tentu saja. "Sya, udah hampir jam setengah tujuh, gue balik, ya," ucap Adimas. Arsya tak menjawab. Adimas pun beranjak pergi saja, karena ia takut jika cowok itu masih badmood. Namun, tangan Arsya langsung menahan tangan Adimas. "Makasih ya, De," ujar Arsya tersenyum tulus yang membuat Adimas tercengang. Tadi sahabatnya itu marah-marah tak jelas, kenapa sekarang malah manis-manis seperti itu? Arsya baru sadar, tak sepatutnya ia marah dengan sahabatnya itu yang sudah mau menemaninya di sekolah sepagi buta ini. Padahal ia tahu, jika Adimas banyak kerjaan juga. Arsya merasa bersalah karena akibat badmoodnya malah nerimbas ke Adimas. "Ya, sama-sama," jawab Adimas. "Gue anterin ke gerbang, ya," ucap Arsya. "Kagak usah, gue udah dua kali ke sini, jadi udah hafal kok, gak usah khawatir." "Oh, oke. Hati-hati, De." "Iya. Lo semangat belajarnya!" ucap Adimas memberikan semangat, yang membuat Arsya tersenyum singkat. "Oke!" Adimas pun melangkah pergi meninggalkan Arsya. Arsya menghela napas pelan. "Lihat, Ma! Belum ada orang di kelas Arsya," ujarnya kesal. Arsya pun memilih berjalan-jalan dulu sebelum bel berbunyi, masih ada waktu empat puluh menit lagi sebelum ujian dimulai. Arsya sampai di taman belakang sekolah. Matanya tak sengaja melirik ke sana yang tampak seseorang tak asing baginya. Oh, apakah cewek itu Rara? Buru-buru Arsya menghampirinya dan ternyata benar. Itu adalah Rara. "Hai, Rara," sapa Arsya ramah. Seketika badmoodnya hilang begitu saja karena bertemu Rara pagi ini. Tak ada ruginya juga datang cepat, buktinya bisa modus dulu, batin Arsya. "Eh, Arsya. Selamat pagi," sapa Rara. "Pagi ... lo belajar, ya?" tanya Arysa dengan basa-basi yang sudah ada jawabannya. Sudah tentu Rara sedang belajar karena membaca buku. Emangnya Rara tampak sedang mencuci piring? "Iya, nih. Arsya gimana? Udah belajar?" "Udah, dong, kemarin gue belajar semalaman." "Wah, bagus, Arsya." Arsya pun tersenyum bangga. Setelah ini, Rara pasti akan kagum padanya. Padahal Rara biasa saja. Toh, Rara saja sudah belajar dari lama. "Oh, ya. Sya, aku mau tanya." "Tanya apa?" Arsya jadi waswas jika Rara mengetesnya seperti yang dilakukan Adimas. Ia jadi takut jika tidak bisa menjawab pertanyaan gadis itu nanti. Di mana diletakkan muka Arsya? Image-nya pun akan hancur. "Salah ga sih mencintai saudara sendiri? Saudara tiri, sih." "Ya--sal--enggak juga, sih. Cinta kan gak ada yang tau, tapi kadang cinta pada orang yang salah itu yang gak tepat," jawab Arsya. "Andai, bukan keluarga. Sebaiknya mereka jadian atau gimana?" "Balik ke diri lo sendiri aja, sih, kalau lo juga merasakan perasaan yang sama. Why not?" Arsya jadi curiga, kenapa Rara menanyakan hal itu. Oh, apakah Rara menyukai saudara tirinya sendiri? Oh, tidak. Berarti tidak ada harapan lagi untuk Arsya, dong? "Oh, gitu. Oke, terima kasih Arsya udah menjawab, ya." "Sama-sama. Lo udah mau buka hati ya?" tanya Arsya. Rara kembali menunduk terpaku pada bukunya saja. Kenapa Arsya tiba-tiba menanyakan itu? Ia kan jadi malu. "Eng--Sya ... kamu udah sarapan?" tanya Rara mengalihkan pembicaraan. Jelas sekali Arsya tahu gadis itu sengaja. "Udah," jawab Arsya sejujurnya. "Oh, oke. Aku sarapan dulu ya, bye," ucapnya pergi dari situ meninggalkan Arsya. "Gak pa-pa, Ra, gue bakal nungguin lo kok dan berusaha menggapai lo. Gue yakin lo udah mulai buka hati, kan? Gue pastiin gue yang bakal menangin hati lo," ujar Arsya. Ia pun pergi dari taman itu. Arsya akan kembali ke kelasnya saja. Pasti sudah ramai, karena sudah pukul tujuh pagi. Pukul 07.15 WIB. Ujian pun dimulai. Kertas ujian dan soal pun sudah dibagikan. Arsya berdoa terlebih dahulu sebelum mulai mengerjakannya. Ia harus yakin pasti bisa. Apa gunanya kemarin ia belajar jika tidak ada hasilnya, bukan? "Please, kali ini soal-nya jangan susah-susah," ujar Arsya. Ia akan berusaha mengerjakan sendiri tanpa menunggu jawaban atau mencontek jawaban pacar-pacarnya di kelas ini yang sebenarnya mau-mau saja jika Arsya meminta jawabannya. "Bismillah. De ... doain gue! Kalau gue dapet nilai tinggi, gue traktir lo dan bawa lo main ke pantai," ujar Arsya malah mengucapkan Nazar. Ia pun memulai membaca soal yang terasa mudah. Berkat belajar memang menguntungkan. Maka dari itu, jangan lupa belajar sebelum ujian. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN