"Gimana ujian lo tadi?" tanya Adimas saat Arsya baru saja pulang.
"Hm, mayanlah. Gue bisa jawab semua, gak tau betul atau salah."
"Oh, oke."
"Yang penting kelar tepat waktu, lagian gue juga gak ngejar peringkat satu, yang penting nilai gue di atas KKM semua udah, tuh."
"Hm ya ya. Sekarang lanjut lagi, yok, belajarnya! Lo ujian MTK besok, kan?"
Arsya rasanya ingin menghilang saja, karena ia paling malas belajar MTK. Menghafal rumus dan sebagainya, belum lagi apa yang diajarkan berbeda dengan diujiankan, tingkat kesulitannya pasti bertambah.
"De, gue belajar entar malam aja, ya. Sekarang gue mau pergi dulu."
"Pergi ke mana?" tanya Adimas penuh selidik.
"Mau nongki sama pacar gue."
"Hufh, masih aja pacaran sama mereka, udah berapa kali gue bilang, lo harus putusin mereka abis itu tobat!"
Arsya hanya bisa cengengesan, ternyata memutuskan semua pacarnya itu susah, jika memutuskan satu-satu mungkin ia tak keberatan, tetapi menjalani hari tanpa adanya cewek sepertinya Arsya tak bisa. Sudah menjadi hobinya playboy seperti itu.
"Kali ini gue mau nongki sama mantan pertama gue. Lo pasti gak tau, karena gue gak pernah kasih tau," ujar Arsya.
Saat sepulang sekolah tadi, Arsya tak sengaja bertemu dengan Niri. Cowok itu dibuat bingung, karena Niri tampak usai menangis dengan mata sembab. Maka dari itu Arsya ingin menghibur cewek itu, beberapa kali mereka bertemu, tetapi ia selalu melihat Niri murung akhir-akhir ini.
"Hm, serrah lo. Jam tujuh malam udah kudu harus wajib berada di kamar ini, gue pantau, ya, awas aja lo lari!"
"Iya-iya siap, Bu Guru. Udah, ah, gue mau cabut dulu, bye!"
Arsya menarik jaketnya, lalu mengambil kunci motor di atas nakas, tak lupa memasukkan dompet di saku celananya.
"Hati-hati lo," ucap Adimas.
"Iya, siap."
Setelah itu Adimas pun ikut keluar dari kamar Arsya, ia kembali saja ke rumahnya dulu, lagi pula menunggu sampai jam tujuh cukup lama, apalagi sekarang masih jam empat sore.
Adimas bisa mandi dan melakukan hal lain dulu.
Arsya menaiki motornya dan mulai menjalankan meninggalkan rumah. Tujuannya adalah Rais'caffe, yang terletak di depan super market di Jalan Gola. Tak terlalu jauh dari sini.
Lima belas menit kemudian, Arsya sampai di kafe itu, ia berharap tidak terlambat, karena jarak rumahnya tak terlalu jauh dari sini. Namun, ternyata Arsya salah besar, karena Niri sudah duduk di pojokan sembari menunggu kedatangannya.
"Hei, Niri," sapa Arsya, cowok itu pun duduk di hadapan Niri.
"Gue kira gue gak telat, padahal gak macet dan gak jauh juga. Maaf, ya, lo udah lama nunggu?" tanya Arsya.
"Gak pa-pa. Rumah gue deket sini, di belakang Super Market itu."
"Oalah, pantesan. Rumah lo lebih dekat ternyata."
"Gue gak bisa lama-lama. Lo mau ngomong apa, ngajakin gue ketemuan di sini?"
Tentu tidak mudah bagi Niri untuk keluar rumah, apalagi Lulun selalu mengawasinya. Ia bisa keluar karena beralasan ingin membeli sesuatu di Super Market. Walaupun Lulun membatasi tidak boleh lebih dari tiga puluh menit ia keluar.
"Begini, Nir. Gue selalu lihat lo murung terus. Lo kenapa, sih? Lo ada masalah, ya?" tanya Arsya, biar bagaimanapun juga mereka dulu pernah dekat, tentu Arsya tak membiarkan salah satu mantannya itu bersedih tanpa diketahui sebabnya.
"Oh, cuma mau nanyain itu? Gak penting," ujar Niri.
"Gue pengen tau, siapa tau gue bisa bantu lo," ucap Arsya.
Niri menundukkan kepalanya. Bagaimana mungkin ia menceritakan semuanya pada Arsya? Walaupun mereka pernah dekat dan hanya Arsya yang menjadi temannya selama ini. Namun, tetap saja Niri berpikir dua kali untuk bercerita.
"Lain kali aja."
"Nir ... gue mohon. Kita teman, kan?" tanya Arsya memelas.
"Tapi ini bukan urusan lo Sya."
"Dulu juga lo sering cerita sama gue," ucap Arsya. "Masa sekarang lo gitu, sih, sama gue? Terbuka ajalah sama cowok ganteng," ucap Arsya kembali kepedean.
Niri jadi semakin bingung, apakah tidak apa-apa jika ia menceritakan pada Arsya? Walaupun ia pun membutuhkan teman curhat.
"Hufh, oke." Setelah menarik napas dalam, akhirnya Niri memutuskan untuk bercerita saja pada Arsya. Biar ia pun sedikit lega.
"Nah, gitu, dong. Gue janji gak akan ember."
"Iya. Hekhem ... jadi, gini, ... lo tau sendiri, kan, nyokap gue hobinya nikah gonta-ganti suami?" ujar Niri yang di-iyakan oleh Arsya.
Karena memang benar itu faktanya. Ibu Niri yang bernama Ica itu sudah lima kali ganti suami dan ayahnya Niri adalah yang kedua.
"Jadi, singkatnya Ibu menikah sama Om Ridho, Ayahnya Kak Lulun," ujar Rara yang membuat Arsya terkejut.
"Lulun? Kakak kelas kita? Beneran?"
"Iya."
"Hah, terus ... terus gimana?"
"Kak Lulun gak mau punya ibu tiri dan saudara tiri kayak gue," ujar Niri. "Tapi Ayahnya malah nikah dengan Ibu gue dengan cara selingkuh di belakang ibunya Lulun saat masih hidup."
"Jadi, maksud lo, Ibunya Lulun sudah ....?"
"Iya, meninggal tiga atau empat tahun yang lalu."
Arsya jadi kasihan dengan gadis yang tampak kuat itu, tetapi sangat rapuh di dalam ternyata.
"Nah, terus?"
"Menurut lo meninggal karena apa?"
"Kagak tau, mungkin sakit kali, ya?" ujar Arsya mencoba mebebak.
"Karena kematian Ibunya Lulun ada sangkutannya sama gue," ujar Niri yang membuat Arsya terkejut.
"Mak--maksud lo?"
"Ya bisa dibilang gue yang udah buat ibunya Kak Lulun meninggal."
"Lo apain?"
"Gue juga gak sengaja tahu."
"Ya tetep aja lo udah buat ibunya Lulun,--terus si Lulun ini udah tau kalau?"
"Udah, dong, kalau belum mah dia gak bakal sebenci itu sama gue," ujar Niri, yang memang benad apa yang dikatakannya.
Arsya jadi bingung ia akan berpihak pada siapa Lulun atau Niri, karena baginya kedua-duanya tampak salah. Arsya kasihan dengan Lulun, tetapi juga tidak tega dengan Niri yang selalu diperlakukan seperti mainan oleh Lulun.
"Terus, lo masih tinggal bersama Lulun?" tanya Arsya memastikan.
"Iya, kalau gak di mana gue berteduh, Sya."
"Jangan bilang lo selalu dihakimi oleh Kakak lo itu."
"Tiap hari, Sya. Tapi gue juga gak bisa membela diri gue, kan, yang pasti gue juga salah."
"Iya. Gue tau, tapi Lulun menurut gue juga gak boleh seenaknya. Bagaimanapun juga kalian udah jadi sodara sekarang, kan. Terus nyokap lo tau kalau lo dijahatin sama si Lulun?"
"Enggak ada yang tau, gue hanya pendem ssndiri aja."
"Kenapa? Nyokap lo harus taulah, kalau anaknya gak bahagia."
Niri terkekeh pelan. Lalu senyum palsu tergambar di wajahnya.
"Emangnya Ibu peduli sama gue?"
Menyelekit sekali, tetapi benar. Ia saja sudah tak dipedulikan.
"Emang lo berbuat apa sampai Ibunya Lulun bisa meninggal?"
"Gue waktu itu ...."