BAB 43

1643 Kata
Niri malah kembali mengingat masa lalunya--saat semuanya baik-baik saja. Niri tinggal bersama ibunya berdua saja. Walaupun ibunya itu memiliki banyak suami, tetapi anak Ica tetap hanya Niri saja. Kebanyakan suami Ica adalah yang sudah tua, kakek-kakek berdompet tebal. Terpenting baginya adalah uang. Ya, begitulah Ica, demi kepuasan diri sendiri. Saat itu, Niri menunggu Ica yang katanya akan menjemput di halte itu saat Niri pulang sekolah. Namun, hujan pun turun. Niri tetap kekeh menunggu ibunya itu sampai datang, padahal bus atau angkot sudah daritadi lewat. Saat itu tak sengaja ia bertemu dengan Lulun yang juga sedang menunggu jemputan. "Kamu nunggu siapa?" tanya Lulun. "Nunggu Ibuku." "Hari hujan, udah hampir sore. Mau ikut denganku aja? Nanti diantarkan supirku, kok, ke rumahmu." Namun, karena Niri tak mudah percaya dengan orang, ia pun menolak halus. Merasa kasihan, Lulun pun tak tega meninggalkan anak kecil itu sendirian di halte, apalagi sudah tidak ada oranh selain mereka. "Pak, tunggu sebentar lagi, ya," ujar Lulun pada supir pribadinya. Lulun lalu duduk di sebelah Niri yang diam mengayun-ayunkan kakinya. "Nama kamu siapa?" "Niri, Kak." "Salam kenal, ya, aku Lulun." Lulun mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Lalu diberikan kepada Niri, tetapi gadis kecil itu menggeleng merasa segan. "Ambil aja, gak pa-pa," ucap Lulun memberikan sebungkus roti itu kepada Niri. "Gak usah, Kak, aku gak lapar." "Yah ... pasti kamu gak mau, karena rotinya cuma satu, kan? Tenang, aku ada dua ... nih, lihat! Nah, kita makan bareng, yuk, kalau kamu gak mau, aku juga gamau makan." Lulun pun memberikan sebungkus roti itu kembali yang diterima oleh Niri walau ragu-ragu. "Gak apa-apa. Makan aja, enak, loh." "Makasih, Kak." "Sama-sama." Lulun tersenyum manis. Sudah lama ia menginginkan berteman dengan yang lebih kecil darinya, agar bisa merasakan rasanya punya adik. Lulun selalu meminta kepada mamanya untuk beradik, tetapi Lili selalu tertawa dan mengatakan 'kamu saja udah cukup untuk Mama.' Tak terasa sudah setengah jam berlalu, tetapi Ibu Niri belum juga datang, bahkan sepertinya tidak akan datang. "Niri, udah ayo. Sini diantarkan sama supirku aja." Niri sebenarnya tidak ada pilihan lain, karena sepertinya Ica lupa. Daripada ia di sini sendirian, lebih baik ikut bersama Lulun saja. "Maaf ngerepotin." "Gak ngerepotin, kok, tenang aja," ucap Lulun senang, merangkul pundak Niri masuk ke mobilnya. "Alamat rumah kamu di mana?" tanya Lulun. "Jln Cempaka, Kak." "Oh, oke. Pak, kita ke sana, ya." "Baik, Non." "Terima kasih, Kak," ujar Niri tak henti-hentinya berterima kasih daritadi yang membuat Lulun terkekeh. "Iya, sama-sama, Adek. Aku senang, kok, bantu kamu." Setelah lama di perjalanan akhirnya mobil itu berhenti di depan rumah Niri. "Mau mampir, Kak?" "Gak usah, deh, lain kali aja." "Oke, makasih banyak, Kak, Pak," ucap Niri kepada Lulun dan supirnya. "Iya." Tampak anaknya turun dari mobil, buru-buru Ica menghampiri mobil itu. Lulun membuka kaca mobilnya setengah. "Wah, terima kasih ya, Nak, sudah mau mengantarkan anak Ibu." "Sama-sama, Bu." "Kapan-kapan pasti Ibu balas kebaikanmu." "Nggak usah, Bu, terima kasih. Tapi kalau Ibu mau main-main ke rumahku boleh banget. Di Komplek Permata Indah nomor tiga belas." "Wah, baik, Nak. Sekali lagi terima kasih." "Sama-sama, Bu. Bye Niri!" ucap Lulun melambaikan tangannya yang dibalas oleh Niri. Setelah mobil itu pergi, Ica segera menyuruh Niri masuk. "Wah, hebat kamu Niri, bisa deket sama anak orang kaya. Bagus-bagus," puji Ica. Ia sedikit terkejut mendengar anak tadi tinggal di perumahan elite. "Tapi aku temenan sama Kak Lulun bukan karena dia orang kaya, Bu, tapi karena Kak Lulun baik, mau nemenin aku." "Halah, kamu bodoh banget, sih, orang kaya begitu manfaatin uangnya! Jangan didiemin aja." "Tapi kenapa Ibu tadi gak jemput aku? Padahal aku udah nunggu lama." "Aduh, anak kecil gak akan ngerti. Kan kamu bisa pulang juga, kan, udah deh gak usah manja." Ica pun segera masuk ke kamarnya. Niri pun berjalan gontai masuk ke kamarnya. Semakin lama ia semakin tak dipedulikan oleh ibu kandungnya itu. Percuma selama ini Ica bersuami banyak, tetapi tak kaya-kaya juga, karena uang yang didapatkan hanya untuk kesenangan pribadinya. Pergi ke diskotik, mabuk-mabukan, bersenang-senang hura-hura bersama teman-temannya. Sedangkan Niri tak diberikan apa-apa, sepatunya yang sudah rusak saja disuruh pakai lem saja. Apa salahnya Ica membelikan sepasang sepatu murah untuk Niri? Setelah itu, di sekolah Niri sering bertemu dengan Lulun. Mereka pun bertambah akrab. Lulun selalu membawa bekal lebih agar bisa ia makan berdua dengan Niri. Hal membahagiakan bagi Lulun adalah Niri dan ibunya bertamu ke rumah. Akhirnya Lulun punya teman bermain di rumah. Namun, tujuan Ica bukanlah itu. Sesaat ia mengetahui Ibu Lulun sakit-sakitan. Ica jadi punya maksud lain. Ia sering ke rumah itu dengan alasan membezuk Lili dan menemani Niri untuk bertemu Lulun. Namun, di sisi lain, Ica pun menggoda Dani. Memang Lili lebih tua sepuluh tahun dari Dani, mereka dulu menikah karena perjodohan. Dani yang mudah tergoda pun menyukai Ica, yang memiliki kecantikan dan sexy daripada Lili. Mereka sering pergi berdua tanpa sepengetahuan Lili. Namun, ternyata Lulun curiga karena ia sering mendengar papanya itu telponan dengan Ica. Lulun mencritakan pada mamanya dan Lili pun berkata jika ia tahu, bahwa suaminya sudah selingkuh. Namun, Lili hanya bisa pasrah, karena ia yakin hidupnya sudah tak lama lagi, karena penyakitnya semakin parah. Walaupun tahu papanya selingkuh dengan ibu sahabatnya itu, Lulun tetap tidak membenci Niri, karena Lili berkata ini bukan salahnya Niri, tetaplah berteman dengannya karena Niri pun kesepian seperti Lulun. Mereka masih tetap akrab satu sama lain. Lalu, sampailah kejadian ketika Ica dan Lili berbicara berdua. Lili memakai kursi roda, karena ia tak kuat jalan lagi. Ica mengaku bahwa ia mencintai Dani dan ia mengatakan jika Dani yang menggodanya duluan, padahal sebaliknya. Mendengar itu tentu hati Lili sakit. Ia pun mengatakan ini pada Ica. "Kalau kau hanya mengincar harta suamiku, berarti percuma. Karena harta ini adalah milikku, bukan suamiku. Dari awalnya, akulah yang kaya dan pemilik perusahaan itu, nanti kekayaan ini akan diwariskan kepada anakku, Lulun." Mendengar itu Ica pun panas, ia pun kesal dengan sengaja mendorong kursi roda Lili ke arah tangga. Lili syok, karena ia tak bisa menghentikan kursi roda itu, alhasil ia pun terjatuh dari tangga berguling-guling sampai bawah dengan kepala yang berdarah. Melihat itu Ica pun syok, ia segera memanggil Niri. Anaknya itu yang tadi berada di dapur, karena disuruh Ica membuat minuman pun segera berlari ke tempat ibunya. Ia pun terkejut menatap Lili yang sudah tergeletak dengan banyak darah yang berceceran di lantai. Melihat anaknya itu sudah datang, buru-buru Ica kabur dari situ. Niri pun segera menghampiri Lili dengan tangis yang pecah. "Tante ... bangun, Tante." Niri pun tak tahu harus berbuat apa ia kembali berlari ke atas untuk menelepon Ambulans, karena telepon rumah ada di lantai dua. Namun, saat tidak tepat pun datang. Lulun yang baru saja pulang dari Super Market melihat mamanya tak sadarkan diri di lantai dan di lantai dua tampak Niri yang berlari. Pikir Lulun adalah, Niri yang melakukan itu semua dan berusaha kabur. "NIRI APA YANG KAMU LAKUKAN!" teriak Lulun marah, ia pun menghampiri mamanya dan berteriak ketakutan, karena mamanya tak sadarkan diri. Niri tak bisa menyanggah saat itu, ia pun segera menelepon ambulans, setelah itu tak lama kemudian ambulans pun datang segera membawa Lili ke rumah sakit. Akan tetapi kondisi Lili sangatlah kritis, mendengar itu Lulun pun ikut pingsan, karena mentalnya tak kuat. Hanya Niri yang masih kuat dan menunggu masa kritisnya Lili. Kabar baik pun datang dokter mengatakan jika Lili sadarkan diri dan kebetulan hanya Niri yang ada di sana, ia pun menghampiri Lili. "Sayang ... kamu punya HP?" tanya Lili tertatih, kondisinya sangat melemah. "Punya, Tan." Niri pun mengeluarkan HP jadulnya yang saat itu hanya bisa menelepon, tetapi masih bisa merekam kamera. Lili pun menyuruh Niri merekam dirinya dengan kamera belakang HP tersebut. Banyak pesan yang ditinggalkan oleh Lili pada Lulun, tetapi video itu hanya berdurasi satu menit lima puluh detik. "Nak, simpan rekaman itu jangan sampai hilang dan berikan kepada Lulun, ya, kalau bisa pindahin ke flashdisk dan semacamnya," ucap Lili berusaha kuat di depan Niri, padahal badannya terasa remuk semua dan kepalanya terasa memberat. "Baik, Tan." "Ini bukan salah kamu, jangan salahkan diri sendiri," ucap Lili. "Iya, Tan, maafkan ibuku," ujar Niri yang yakin ini perbuatan ibunya. "Iya." Malam itu, Lili masih membuka mata. Ia pun masih bertemu dengan Lulun dan bercerita banyak dengan putrinya itu. "Lulun mau tidur di samping Mama." "Ayo sini, Sayang." Sampai Lulun pun tidur di pangkuan mamanya malam itu. Berkali-kali Lili mencium anaknya itu sebelum tertidur. Ternyata malam itu adalah malam terakhir Lili melihat anaknya. Paginya Lili mengembuskan napas terakhirnya dalam pangkuan Lulun. Lulun sangat histeris tak menerima kepergian mamanya. Ia pun pingsan berkali-kali sampai Lili dimakamkan. Sejak itu, mental Lulun pun melemah. Dan nulai saat itulah, Lulun membenci Niri dan sangat dendam dengan gadis itu, ia masih mengira jika Nirilah yang sengaja membunuh mamanya. Niri berkali-kali ingin memberikan rekaman itu pada Lulun, tetapi Niri mendekat saja Lulun langsunh melempari Niri benda-benda yang ada di sekitarnya. Tiga bulan kemudian, Dani malah menikah dengan Ica. Hal itu semakin membuat Lulun benci sebencinya dengan Niri. Ya, itulah penyebabnya kenapa sampai sekarang Lulun masih membenci Niri. "Ya gitu, deh, ceritanya," ujar Niri menceritakan semuanya pada Arsya. "Tapi, kan, bukan salah lo. itu semua salah ibu lo, Nir. Ibu lo yang laknat!" kesal Arsya. "Ya gimana, Sya. Mau diberitahu berapa kali pun Kak Lulun gak akan percaya, karena dia nganggepnya aku yang bunuh mamanya." "Terus, rekamananya masih ada?" "Masih, gue udah copykan banyak rekaman itu agar tidak hilang." "Hufh, oke. Gue akan bantuin lo untuk ngomobg dengan lulun." "Silakan, sih, Sya. Tapi gue gak yakin berhasil." "Gue akan berusaha. Lo harus percaya. Kebenaran harus ditegakkan, Nir. Yang gak salah gak boleh dipersalahkan." "Terima kasih banyak, Sya." "Iya." "Gue lega bisa cerita sama lo. Ya udah, gue balik ya, nanti Kak Lulun marah." "Oke. Kuat ya, Nir. Semangat." "Siap, Sya. Thanks." Lalu, jika begini. Menurut kalian siapakah yang patut dikasihani? Apakah Lulun jahat? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN